Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com

    CiTIzen Journalism

    Selamat datang anggota komunitas TokohIndonesia.com. Silakan posting berbagai tulisan bermutu Anda di sini.

    • Home
      Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
    • Categories
      Categories Displays a list of categories from this blog.
    • Tags
      Tags Displays a list of tags that have been used in the blog.
    • Bloggers
      Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
    • Login

    Untuk Apa BLT

    Posted by on in Sosbud
    • Font size: Larger Smaller
    • Hits: 2332
    • 1 Comment
    • Subscribe to this entry
    • Print
    • PDF

    Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Kompensasi jangan sampai membunuh kreativitas masyarakat, sehingga menjadi lamban, malas dan sekedar pelumas untuk meredam jeritan rakyat. BLT harus diubah kembali menjadi BBM (Bahan Bakar Masyarakat), sebagai energi membangkitkan kreativitas dengan memberikan pelatihan-pelatihan.

    Kemurahan hati pemerintah untuk memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang kemudian bermetamorfosa menjadi bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) senilai Rp 25,56 triliun sebagai kompensasi atas kehendak pemerintah menaikkan BBM (Bahan Bakar Minyak) di kisaran 1500-2000 per liter,sungguh sangat mulia.

    Bisa dibayangkan, 18.5 juta jiwa harus mengantri yang dikalikan satu jam saja, tapi kenyataannya lebih. Ada berapa waktu yang terbuang, ada berapa juta kalori energi masyarakat yang tertimbun dari seharusnya sudah terbakar saat ke luar untuk bekerja, akhirnya menjadi lemak yang mengendap saat mengantri, sehingga membuat tambah malas dan lamban.

    Sebagian masyarakat menginginkan bantuan ini, agar digunakan untuk membangun infrastruktur, ada juga yang mengatakan agar bantuan ini digunakan untuk program-program yang pro rakyat bahkan memberikan beasiswa bagi yang kurang mampu, penambahan beras miskin, semuanya sangat baik. Dan jika dimungkinkan akan lebih baik lagi jika bertanya kepada masyarakat sebaiknya untuk apa BLT itu dipergunakan. Namun, jika dilemparkan kepada masyarakat untuk mengambil keputusan, bisa terjadi perdebatan panjang, takutnya kompensasipun tidak jadi mengalir. Nah, loo, koq malah repot!

    Terlepas dari pro dan kontra menaikkan harga BBM. Bonus yang disediakan pemerintah kepada masyarakat terutama masyarakat yang kurang mampu, kompensasi BBM merupakan pelumas yang sangat efektif untuk menyerap sekaligus meredam kebisingan jeritan masyarakat, agar ‘suhu’ gejolak kenaikan harga BBM dapat dinetralisir. Dengan harapan kesejahteraan masyarakat tidak terabaikan akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang sering mengiringi.

    Yang menjadi pertanyaan seberapa efektifkah kompensasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dengan dana triliunan rupiah bisa terkonversi kembali menjadi energi efektif, terpakai. Hal inilah yang harus menjadi pemikiran bersama, bantuan langsung sementara masyarakat jangan sampai menjadi pembunuh kreativitas masyarakat yang menghabiskan waktu untuk mengantri berjam-jam.

    agar bantuan tidak mubajir, harus di sesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat yang lebih dibutuhkan, lapangan pekerjaan tapi tidak sekedar padat karya.

    Rencana, ada sembilan bulan ke depan sejak kompensasi program BLSM (baca: bukan balsem) digulirkan pada April. Masyarakat sebanyak 18,5 juta rumah tangga yang diperkirakan menerima bantuan, diharapkan selalu kehadirannya untuk mengantri menerima bantuan sebesar Rp. 150 ribu setiap bulannya. Bisa dibayangkan, 18.5 juta jiwa harus mengantri yang dikalikan satu jam saja, tapi kenyataannya lebih. Ada berapa waktu yang terbuang, ada berapa juta kalori energi masyarakat yang tertimbun dari seharusnya sudah terbakar saat ke luar untuk bekerja, akhirnya menjadi lemak yang mengendap saat mengantri, sehingga membuat tambah malas dan lamban.

    Kehendak pemerintah untuk menyenangkan hati rakyatnya dengan memberikan bantuan langsung sementara kepada masyarakat, jangan tanggung-tanggung, BLSM seyogyanya diantar langsung kepada penerima. Bukannya kenapa, untuk menghindari saling dorong-mendorong, sikut-menyikut, berdesak-desakan atau mungkin ada kerusuhan sehingga menimbulkan korban, seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, saat mengantri.

    Menciptakan lapangan pekerjaan tidak harus selalu membangun infrastruktur. Lapangan pekerjaan akan tercipta sendiri, jika masyarakat dibekali dengan ketrampilan (skill) yang memadai

    Terlepas dari itu semua, jika pemerintah harus memberikan bantuan ini, seharusnya bantuan ini diperuntukkan kembali sebagai ‘bahan bakar’ untuk membangkitkan gairah, menumbuhkan kreativitas masyarakat. Selain itu, agar bantuan tidak mubajir, harus di sesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat yang lebih dibutuhkan, lapangan pekerjaan tapi tidak sekedar padat karya. Banyak kasus, memberikan asal diberikan tapi efektifitas dari bantuan tidak jelas, asal ada saja penyalurannya, target penggunaan anggaran tercapai tanpa melakukan pemetaan atau suvei sesuai dengan kebutuhan.

    Sebagai gambaran, program pembangunan fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) dan air bersih. Seperti di daerah penulis, masih saja ada bantuan untuk membangunnya yang sebenarnya bukan lagi prioritas. Padahal air tidak begitu sulit, cukup hanya menggali 1-2 meter, air sudah ketemu dan setiap keluarga sudah memiliki kamar mandi masing-masing di setiap rumah. Sehingga fasilitas MCK yang sudah terlanjur dibangun, hanya menjadi onggokan bangunan yang sia-sia.

    Menciptakan lapangan pekerjaan tidak harus selalu membangun infrastruktur. Lapangan pekerjaan akan tercipta sendiri, jika masyarakat dibekali dengan ketrampilan (skill) yang memadai. Hal ini menjadi lebih prioritas yang jika mendapatkan perhatian, kompensasi BLT, akan benar-benar diubah kembali menjadi bahan bakar masyarakat, dikelola untuk menumbuhkan kreativitas bukan untuk menimbun lemak.

    Peluang besar kemungkinan terciptanya lapangan pekerjaan di kelompok bawah jika masyarakat diberikan pelatihan ketrampilan, ekonomi masyarakat kecil akan bangkit. Ibu-ibu rumah tangga misalnya diberi pelatihan ketrampilan untuk menjahit, laki-laki diberi ketrampilan mengelas dan yang lainnya, sebagai bibit permulaan untuk menumbuhkan industri rakyat khususnya di pedesaan. Sehingga pemerintah kelak tidak sulit lagi merayu masyarakat saat ingin menaikkan harga BBM. Jakarta, 12 Maret 2012

    0
    Trackback URL for this blog entry.

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Tokoh Monitor

    ForumPWI.com - Forum Penulis dan Wartawan Indonesia

    Kategori

    Tulisan Terpopuler

    Helium Music Manager Media Monkey Zune Software Manajemen File Audio
    Tiga Software Terbaik Pengganti iTunes
    Software


    Jumlah koleksi file audio termasuk MP3 dari hari ke hari semakin banyak. Sudah saatnya menggunakan software manajemen file-file audio yang lebih canggih selain iTunes.

    Canggihnya Si Robot Hijau
    Gadget

    Sedikitnya ada delapan kelebihan Android yang cukup menonjol dan kurang atau tidak dimiliki oleh sistem operasi ponsel lainnya seperti Windows Mobile dan iPhone.

    Penyelesaian Masalah Perbatasan
    Hankam
    Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Masalah daerah perbatasan tidak selalu harus dengan pendekatan militer, namun yang diperlukan pendekatan ekonomi sosial di wilayah perbatasan. Serta adanya pengawasan...
    Generasi Ngeles
    Sosbud
    Sebuah pertanyaan mengapa persoalan di negeri seolah tidak mau surut. Persoalan terus beranak pinak di tengah terpaan berbagai isu. Persoalan belum tuntas ditutupi dengan persoalan baru tanpa solusi...
    Dunia Patah Hati, Sebuah Novel dan Perenungan
    Prosa
    Terkadang aku rindu untuk merasakan sebuah kesedihan. kesedihan terkadang membuat kita terpisah dari realitas dunia dan masuk ke dalam dunia yang lain. ketika di dunia itu, aku merasa sangat  i...

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us