|
Pencarian Terakhir
budayawan (96) Soekarno (55) soeharto (40) prabowo (14) Ki Hajar Dewantara (35) Kwik Kian Gie (17) Jero Wacik (26) Asep Sunandar (18) joko widodo (16) ali sadikin (22) Yohanes Surya (17) taufik kiemas (25) bob sadino (19) jokowi (17) ganjar pranowo (23) jusuf kalla (25) megawati (12) GITA WIRJAWAN (16) sutiyoso (22) surya paloh (17)
Pencarian Populer
Jassin (1) budayawan (96) chairil anwar (7) Idham Chalid (2) Presiden (3) president (1) presidenT RI (1) presiden ri (2) H. Probosutejo (1) probosutejo (2) tangkilisan (3) haryono umar (1) emirsyah satar (8) yunita leisar (1) keuangan (1) akbar tanjung (6) fahri hamzah (4) muhammad sobary (2) sobary (1) ISLAM (1) kristen (3) rachmat yasin (1) rahmat yasin (1) MUHAMAD SOBARY (1) marpaung (1) Arifin Tasrif (2) Soekarno (55) teramalem (1) naomi susan (2) siti hardiyanti (1) said salahudin (1) lieo nam kiong (1) |
|
Selamat datang anggota komunitas TokohIndonesia.com. Silakan posting berbagai tulisan bermutu Anda di sini.
Oleh Bantu Hotsan Simanullang | Perbedaan hadir untuk saling melengkapi bukan untuk saling meniadakan.
Muncul pertanyaan manakah di antaranya yang lebih utama? Seandainya mata mengatakan saya lebih utama daripada kepala dan lidah mengatakan saya lebih penting dari mulut. Dan ketika hati mengatakan saya lebih penting dari jantung dan seterusnya setiap organ tubuh saling mengklaim dirinya lebih penting.
Sebagai bagian anggota tubuh tidak ada yang bisa mengatakan bahwa salah satu diantaranya mengklaim yang paling penting. Tidak ada yang dikhususkan untuk menjadikannya lebih berarti dari yang lainnya karena telah menjadi bagian dari satu tubuh dengan peranan masing-masing. Bahkan jantung dan hati sekalipun yang memiliki peranan vital untuk memberikan kehidupan kepada seluruh organ-organ tubuh tidak dapat mengklaim dirinya lebih utama dari yang lain. Jika demikian halnya maka sesungguhnya hati dan jantung yang memberi kehidupan tubuh itu menjadi mati dan tidak berguna sama sekali tanpa kehadiran organ tubuh lainnya.
Pernyataan di atas hanyalah sebuah gambaran betapa perbedaan itu hadir untuk saling melengkapi bukan untuk saling meniadakan tapi perbedaan itu adalah hidup. Sebagai negara kepulauan tidak bisa diingkari keberagaman menjadi salah satu ciri khas Indonesia, baik etnis, budaya, bahasa dan agama. Dan kebhinnekaan itu telah diikat dalam satu ideologi negara, Pancasila.
Meski demikian masih terjadi perbedaan persepsi dalam memandang kemajemukan sebagai satu kesatuan dari NKRI. Perbedaan itu masih disikapi sebagai hambatan bukan kekuatan. Tiadanya persamaan persepsi ini telah menimbulkan dis-orientasi dengan hilangnya rasa kebersamaan. Namun berubah menjadi ajang pembenaran diri yang tidak jarang berujung pada konflik terjadinya kekerasan, pemaksaan kehendak.
Bukan untuk mengungkit-ungkit yang sudah terjadi dan berharap tidak akan terjadi lagi. Tidak ada yang menginginkan terjadinya kekerasan antara pemeluk agama, penutupuan rumah ibadah dan tindak kekerasan lainnya. Bahkan para tokoh-tokoh lintas agama tidak setuju dengan tindakan tersebut. Begitu juga dengan sebagian besar masyarakat tidak setuju dengan cara-cara seperti itu karena sejatinya masyarakat Indonesia jauh dari adat kebiadaban.
Tidak adanya konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila membuat gairah toleransi di tengah masyarakat kian memudar. Hilangnya roh Pancasila karena tidak lagi menjadi landasan setiap gerak semangat bermasyarakat dalam berorganisasi namun hanya menjadi slogan semata.
Adanya keraguan, dualisme untuk menjadikan Pancasila secara utuh menjadikan arah dan tujuan perjalanan negeri kian terombang-ambing. Adanya kebimbangan ini kian membuat tidak menentu dan menebar kegelisahan dan mengundang tanda tanya, akankah keutuhan NKRI ini selamanya.
Hal ini tentunya tidak akan terjadi seandainya masyarakat, kelompok atau golongan mampu melepaskan atribut masing-masing dan mengedepankan persaudaraan tiada batas antara sesama anak negeri dengan menyatukan persepsi bahwa Pancasila adalah landasan dan untuk tidak sekali-sekali membatasi geraknya.
Semestinyalah kita bersyukur karena memiliki pemimpin Indonesia sekaliber Sukarno yang memiliki visi yang jauh tentang Indonesia yang merangkum seluruh aspek nilai kehidupan masyarakat untuk membuat sebuah pijakan untuk menjadikan Indonesia ini tetap satu keutuhan yang tidak terpisahkan yang kemudian lahirnya Pancasila. Dengan harapan dapat membawa masyarakat yang pluralis tetap fokus pada satu tujuan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta, 2 Juni 2012
Jumlah koleksi file audio termasuk MP3 dari hari ke hari semakin banyak. Sudah saatnya menggunakan software manajemen file-file audio yang lebih canggih selain iTunes.
Sedikitnya ada delapan kelebihan Android yang cukup menonjol dan kurang atau tidak dimiliki oleh sistem operasi ponsel lainnya seperti Windows Mobile dan iPhone.
Oleh Bantu Hotsan Simanullang | Perbedaan hadir untuk saling melengkapi bukan untuk saling meniadakan.
Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.