Jakarta Mencari Pemimpin
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang |Pilkada DKI Jakarta tidak hanya sekadar mencari pemimpin untuk bisa mengatasi macet dan banjir. Namun juga dapat melahirkan pemimpin model di tengah krisis kemimpinan saat ini. Membawa perubahaan bukan hanya sekadar menyelesaikan persoalan kini, tapi juga solusi di masa mendatang. Masyarakat lebih menginginkan pemimpin apa adanya, melayani dengan sepenuh hati. Berkorban demi kepentingan masyarakat melebihi kebutuhannya sendiri. Amanah terhadap konstitusi negara dan berani mengambil kebijakan yang tidak populis demi tegaknya keadilan bagi rakyatnya.

Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia:
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Jika rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah, kepada siapa lagi masyarakat harus percaya?
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Kompensasi jangan sampai membunuh kreativitas masyarakat, sehingga menjadi lamban, malas dan sekedar pelumas untuk meredam jeritan rakyat. BLT harus diubah kembali menjadi BBM (Bahan Bakar Masyarakat), sebagai energi membangkitkan kreativitas dengan memberikan pelatihan-pelatihan.
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Perlu mengukur seberapa besarkan pengaruh kenaikan BBM yang proporsional terhadap perubahan harga kebutuhan masyarakat tanpa membebani biaya operasional industri sehingga harga kebutuhan masyarakat tetap stabil, tidak mengambang.
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Dalam konteks Keindonesiaan sesamaku Indonesia adalah mereka yang dapat menjalankan empat pilar kebangsaan. Kekerasan, intimidasi dengan turunannya sangat mungkin dihindari jika tidak ada konflik kepentingan dengan terus mengedepankan persaudaraan tiada batas.
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang | Keterbatasan KPK dalam personil memberantas korupsi. Dengan teknologi informasi masyarakat turut pro aktif dalam tindak pengegahan korupsi (TPK).
Oleh: Bantu Hotsan Simanullang
Indonesia saat ini sedang mendapatkan sinyal yang kuat dan berada dalam frekuensi gelombang yang tepat untuk bangkit dari setiap permasalahan yang dihadapi negeri. Indonesia membutuhkan letupan-letupan lebih banyak untuk menimbulkan percikan bunga-bunga api untuk membakar dan membangkitkan semangat anak negeri yang telah lama tertidur pulas dari buaian mimpi.
Ikatkan keadilan disetiap ujung permasalahan. Berhentilah menjadi bangsa penggerutu dan mengutuki. Kejarlah perdamaian.
Berbicara tentang korupsi tidak akan ada habisnya. Tidak perlu heran, korupsi sudah menjadi tradisi atau budaya yang akan sulit dihapus. Karena telah menjadi semacam sifat genetik dalam diri manusia itu sendiri dan akan terus berulang. Kita memerlukan peredam untuk mematahkan gerakan masif tindakan korupsi agar efeknya tidak meluas dan peredam yang ampuh ada pada diri kita sendiri.
Tidak ada sebuah keharusan untuk membatasi jumlah partai yang ada saat ini. Karena UUD 1945 sangat menjamin hal tersebut. Dalam pasal 28E menyebutkan, setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Di dalam kesetaraan, ada pengakuan terhadap hak orang lain, bukan memberangus. Di dalam kesetaraan memandang hormat satu sama lain, bukan merendahkan. Di dalam kesetaraan ada keinginan saling membesarkan, bukan mengucilkan apalagi mengkerengkeng, di dalam kesetaraan ada kehangatan kasih persaudaraan, bukan membenci.
Egoisme bisa membuat mata menjadi buta dan tidak mendengar. Hatipun jadinya terpedaya untuk tidak berkata jujur dan membuat keputusan yang kadang tidak masuk akal.
Sebenarnya ini adalah tulisan lama yang pernah saya posting (22 April 2009) disebuah komunitas dengan judul yang sama. Tapi karena saya agak sedikit concern pada permasalahan ini, saya posting kembali nih di sini, mudah-mudahan aja ada yang membaca. Bukan bermaksud menggarami laut, soalnya laut sudah asin, hehehe. Ada pola pikir bahwa untuk mengatasi persoalan besar itu, diperlukan ide-ide besar, sehingga kita mengabaikan ada solusi-solusi untuk jangka pendek yang bisa dilakukan tetapi ternyata begitu efektif untuk penyelesaian persoalan di masa yang akan datang. Nih, begini ceritanya. Simak ya...hmmm.
Sebuah pertanyaan mengapa persoalan di negeri seolah tidak mau surut. Persoalan terus beranak pinak di tengah terpaan berbagai isu. Persoalan belum tuntas ditutupi dengan persoalan baru tanpa solusi yang berarti. Masalah bangsa ini sebenarnya tanggung jawab siapa?
