Dengan suara soprano yang lantang dan aksi panggungnya yang kreatif, penyanyi yang pernah dijuluki sebagai Singa Panggung Asia oleh majalah Asia Week (1975) ini berhasil memikat para penggemarnya. Di masa jayanya di tahun 70-an, ibunda penyanyi Denada ini menjadi penyanyi dengan bayaran termahal dan sempat membintangi belasan film layar lebar.
- biografi tokoh indonesia emilia contessa
- emilia contessa kegagalan cinta
- EMILIA CONTESSA JUDUL LAGU KEHANCURAN
- biografi emilia contessa
- anak rio tambunan
- emillia contessa kristen
- Memori Lagenda - Emillia Contessa
- biografi emila
- biodata emilia contesa
- emilia contessa kristen
Perempuan kelahiran Banyuwangi, 23 September 1957 ini sejak kecil sudah senang menyanyi. Beruntungnya, putri dari pasangan Hasan Ali dan Anna Susiani ini mendapat dukungan penuh dari orangtua, terutama sang bunda yang tak lelah mengasah bakat menyanyi Emilia, sapaan akrab Emilia Contessa.
Kebetulan, di depan rumahnya ada sekumpulan anak-anak muda yang membentuk sebuah band. Melalui band kampung ini, Emilia kecil pun terus berlatih menyanyi. Usianya ketika itu baru genap 5 tahun. Dengan dukungan ibunya, Emilia terus mengembangkan bakatnya di bidang tarik suara. Saking totalnya, ia rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya asalkan putri tercintanya diberi kesempatan menyumbangkan suara.
Peluang untuk menjadi penyanyi ternama mulai menghampiri Emilia yang saat itu menggunakan nama panggung Emilia Hasan setelah sang ibu bertemu dengan band KKO di Karangteko. Emilia kemudian diberikan kesempatan untuk tampil dalam band bentukan KKO yang bernama Varia Nada. Kesempatan emas itu dimanfaatkannya dengan baik. Dengan modal suara merdunya, nama Emilia mulai dikenal di sekitar kawasan Banyuwangi dan sebagian kota Surabaya.
Saat masih berusia belasan tahun, Emilia bahkan mencoba peruntungannya hingga ke Singapura dengan menjadi penyanyi di restoran Peking. Pada tahun 1970, ia diundang oleh pencari bakat Lee Kuan Yew dari Philips Singapura untuk masuk dapur rekaman. Satu tahun berada di Singapura, Emilia yang waktu itu ditemani ibunya, kembali ke Indonesia.
Jalan untuk menjadi penyanyi professional baru benar-benar terbuka lebar bagi Emilia pada tahun 1986. Ketika itu, ia menyabet gelar Juara Umum Pop Singer yang dilangsungkan di Surabaya. Emilia kemudian muncul pertama kali di layar kaca atas ajakan Chris Pattikawa yang ketika itu memimpin acara Hiburan Malam di TVRI. Sejak itu, ia mengisi hampir semua acara musik di TVRI seperti Aneka Ria. Ia dinobatkan sebagai Ratu Kamera Ria selama dua tahun berturut-turut (1972-1973) dan memperoleh dua piringan emas dari Remaco. Masyarakat Banyuwangi pun tak mau ketinggalan mengapresiasi bakat seninya dengan menobatkan Emilia sebagai Putri Blambangan, gelar untuk mereka yang berhasil membawa nama harum bagi Banyuwangi.
Jalan untuk menjadi penyanyi professional baru benar-benar terbuka lebar bagi Emilia pada tahun 1986. Ketika itu, ia menyabet gelar Juara Umum Pop Singer yang dilangsungkan di Surabaya. Emilia kemudian muncul pertama kali di layar kaca atas ajakan Chris Pattikawa yang ketika itu memimpin acara Hiburan Malam di TVRI. Sejak itu, ia mengisi hampir semua acara musik di TVRI seperti Aneka Ria. Ia dinobatkan sebagai Ratu Kamera Ria selama dua tahun berturut-turut (1972-1973) dan memperoleh dua piringan emas dari Remaco.
Seiring popularitasnya yang kian meroket, Emilia pun mengganti nama panggungnya menjadi Emilia Contessa agar terdengar lebih komersil. Bersama Bob Tutupoly dan Titiek Puspa, ia pernah mengadakan lawatan ke berbagai kota besar di Eropa dan Amerika.
Emilia merupakan salah satu dari sedikit penyanyi wanita di zaman itu yang memiliki suara soprano yang sangat powerful. Emilia juga memiliki aksi panggung yang sukar ditandingi penyanyi lainnya. Meski tergolong pendatang baru, Emilia mampu bersaing dengan biduan-biduan top di masa itu seperti Lilies Suryani, Titiek Sandora, Henny Purwonegoro dan Titiek Puspa. Bahkan di tahun 1975, majalah Asia Week pernah memberinya julukan sebagai Singa Panggung Asia.
Pertengahan tahun 70-an menjadi masa keemasan bagi Emilia. Rekaman-rekaman kasetnya pun mulai bermunculan. Ia sering membawakan lagu-lagu ciptaan A. Riyanto yang banyak menjadi hits, antara lain Angin November, Flamboyan, Biarlah Sendiri, Bunga Mawar, Melati, Rindu, Bunga Anggrek, Penasaran, Kehancuran, Layu Sebelum Berkembang, Angin Malam, Mungkinkah, dan masih banyak lagi. Selain album lagu pop Indonesia, Emilia juga membawakan lagu Tapanuli.
Ketika itu, Emilia menjadi penyanyi dengan bayaran tertinggi bahkan melampaui honor Benyamin Sueb yang saat itu masih berkisar tiga hingga lima ribu rupiah. Sebagai penyanyi klub malam Tropicana, bayaran Emilia mencapai Rp 200.000 sebulan termasuk sebuah rumah. Sedangkan kebanyakan penyanyi lokal lainnya yang menyanyi di klub malam cuma mendapat bayaran sekitar Rp 50.000. Pada pertengahan 1972, ia menerima Rp 75.000 untuk sekali tampil. Tahun 1974, melalui ibunya yang bertindak sebagai manager, Emilia mematok bayaran Rp 250.000 sampai Rp 500.000 untuk satu show di luar kota.
Meski demikian, penyanyi yang pernah dinobatkan sebagai Ratu Foto Model oleh Persatuan wartawan Indonesia di tahun 1972 ini tidak pernah menduduki posisi tertinggi di dunia seni suara, walaupun sebenarnya ia cukup terkenal. Dalam angket siaran ABRI (TV dan Radio), Emilia hanya mampu berada di posisi ketiga, dua tingkat di bawah Titiek Sandhora.
Meski demikian, beberapa kalangan mengakui kelebihan Emilia dalam memikat publik. Ia tak pernah malu untuk sedikit berakting ketika tampil membawakan sebuah lagu. Selain agar bisa lebih menghayati bait demi bait lirik yang dibawakannya, emosi penonton pun jadi ikut tergiring untuk menikmati lagu itu lebih dalam.
Tak hanya piawai bernyanyi, Emilia juga memiliki bakat di dunia seni peran. Belasan film layar lebar telah dibintanginya, diantaranya Ratapan Anak Tiri, Tetesan Air Mata Ibu, Senja di Pantai Losari, dan Akhir Sebuah Impian. Dalam film Akhir Sebuah Impian, ia beradu akting dengan penyanyi Broery Marantika. Film yang dirilis pada awal 70-an ini sukses menjadi box office dan mendapat sambutan yang hangat dari penonton, tak hanya di Indonesia tapi hingga ke Malaysia dan Singapura.
Pada tahun 1976, Emilia menikah dengan Rio Tambunan, seorang pegawai negeri Pemda DKI. Dari perkawinannya dengan pria berdarah Batak itu, ia dikaruniai dua orang anak, yakni Denada Elizabeth Anggia Ayu yang belakangan mengikuti jejak ibunya di dunia hiburan, dan Enrico Wendri Rizky atau yang lebih dikenal sebagai Rico Tambunan. Sejak menikah dan menjadi ibu rumah tangga, ia seakan menghilang dari blantika musik dan dunia panggung yang digelutinya. Sayang, pernikahan yang dibangun dengan perbedaan keyakinan ini berakhir dengan perceraian.
wanita yang pernah dikabarkan dekat dengan aktor Mark Sungkar ini kemudian menikah lagi dengan Abdullah Surkaty dan dikaruniai seorang anak bernama Muhammad Surkaty. Nasib perkawinan keduanya ini juga berakhir di tengah jalan.
Ibu tiga anak ini kemudian menikah untuk ketiga kalinya dengan seorang duda dua anak, Ussama Muhammad Al Hadar. Dari perkawinannya dengan pria keturunan Arab ini, Emilia kembali mendapat momongan seorang anak lelaki yaitu Kaisar Hadi Haggy Al-Hadar. Pada tahun 2011, cobaan kembali menimpa rumah tangganya setelah sang suami mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Untungnya, karena masih saling mencintai, pasangan ini memutuskan untuk rujuk.
Kini, walaupun tak lagi menelurkan album baru di pasaran, nama Emilia Contessa tetap diingat para penggemarnya. Tak sedikit pula yang masih mengharapkan Emilia untuk setidaknya membuat show nostalgia. Karena tingginya permintaan, sebuah label rekaman bernama Life Records menerbitkan dan memasarkan kembali lagu-lagu terbaik milik Emilia yang antara lain berlabel Edisi Platinum Emilia Contessa, Koleksi Unggul Emilia Contessa, serta Memori Legenda Emilia Contessa.
Pada tahun 2010, nama Emilia Contessa kembali ramai dibicarakan, bukan karena karya terbarunya tapi soal posisinya sebagai calon bupati periode 2010-2015 dalam Pilkada Kabupaten Banyuwangi. Sayang impiannya untuk memimpin kota kelahirannya itu gagal setelah dalam pilkada tersebut perolehan suaranya jeblok dan hanya berhasil menempati urutan ketiga. eti | muli, red
Update Data & Sponsorship
Dukungan Anda, Semangat Kami
(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.
Update Konten/Saran
Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:
- Menambah (Daftar) Tokoh
- Memperbaharui CV atau Biografi
- Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
- Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
- Menambah Galeri Foto
- Menambah Video
- Menjadi Member
- Memasang Banner/Iklan
- Memberi Dukungan Dana
- Memberi Saran
Contoh Penggunaan
Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:
Rumah Presiden SBY
Rumah Presiden Soekarno
Rumah Megawati Soekarnoputri
Silakan menghubungi kami di:
- Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
- Email:
- Atau gunakan FORM KONTAK ini
Sponsorship
Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.
Sponsor Bronze ![]() | Sponsor Silver ![]() |
Sponsor Gold ![]() | |


Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia: 






























Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.