WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Gitarku Kekasihku

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Gitarku Kekasihku
Dewa Budjana | e-ti | rilisindonesia.com

Tanpa pendidikan formal di bidang musik, I Dewa Gede Budjana terkenal sebagai gitaris yang handal memainkan berbagai genre musik terutama rock dan jazz. Gitaris utama band Gigi ini sering menjadi produser, music scoring, aranjer, pembuat jingle, dan session guitarist bagi banyak kelompok dan rekaman album.

Musisi, gitaris band Gigi
Lihat Curriculum Vitae (CV) Dewa Budjana

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Dewa Budjana

QR Code Halaman Biografi Dewa Budjana
Bio Lain
Click to view full article
Marie Muhammad
Click to view full article
Joko Widodo
Click to view full article
Edie Haryoto
Click to view full article
Komaruddin Hidayat
Click to view full article
Richard Susilo
Click to view full article
Iis Dahlia
Click to view full article
Mahfud MD
BERITA TERBARU

Pria kelahiran Waikabubak 30 Agustus 1963 ini mulai tertarik memainkan gitar setelah menyaksikan seorang kuli bangunan yang tinggal di depan rumahnya di Klungkung, Bali tengah asyik memetik senar-senar alat musik petik itu. Iramanya yang melodius seketika membius telinga Budjana yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Budjana tergerak untuk menguasai instrumen gitar dimulai dengan belajar dari kuli bangunan itu. Saking semangatnya belajar gitar, ia nekat mencuri uang neneknya untuk membeli sebuah gitar seharga 10 ribu rupiah.

Setelah itu putra almarhum IDN Astawa ini tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa melatih jari-jemarinya mempraktekkan kunci-kunci nada. Pada 1976, setelah lulus SD, Budjana hijrah ke Surabaya dan meneruskan sekolahnya di Kota Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
itu. Di kota yang banyak melahirkan musisi berbakat itu, Budjana kerap menyaksikan berbagai pertunjukkan musik. Dari situ ia banyak mengenal musisi-musisi lokal.

Karena sebelumnya ia hanya belajar bermain gitar secara otodidak, Budjana pun menyadari kalau permainannya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kemudian ia mulai mendalami gitar klasik.

Saat Budjana duduk di bangku kelas 1 SMP, pergaulannya di dunia musik semakin meluas. Menginjak usia remaja, Budjana bahkan telah memiliki sebuah gitar listrik, Aria Pro II. Ia semakin serius mendalami musik sambil bertukar pengalaman dengan rekan sebayanya yang juga memiliki minat yang sama. Salah satunya adalah Arie Ayunir, teman sekolahnya di SMA 2 Surabaya yang sekarang dikenal sebagai drummer band Potret. Keduanya kemudian membentuk band bernama Squirrel di tahun 1984.

Awalnya mereka hanya tampil di berbagai acara yang diadakan sekolah. Perlahan-lahan mereka mulai melangkah ke panggung musik tingkat nasional. Salah satunya lewat Light Music Contest di tahun 1984, sebuah kontes yang diselenggarakan oleh Yamaha Music. Di masa itu, ajang tersebut terbilang cukup bergengsi terutama di kalangan anak-anak band seperti EMS Bandung, asuhan almarhum Pendiri Elfas Singer, Komponis
Pendiri Elfas Singer, Komponis
Elfa Secioria
, Gold Fingers band dari Jakarta yang digawangi duet kakak-beradik Mahesh dan Suresh Hotwani. Budjana juga tak mau ketinggalan memamerkan bakatnya di atas panggung. Dengan mengusung bendera Squirrel Band, serta bermodalkan sebuah gitar yang dimodifikasi dengan desain kreasi sendiri, Budjana menggebrak ajang tersebut dengan gaya bermusiknya yang eksperimental. Berkat penampilannya yang terbilang unik itu, Budjana berhasil memukau penonton, hingga akhirnya Squirrel dinobatkan sebagai juara pertama.

Seiring berkembangnya dunia musik Indonesia yang mulai banyak dipengaruhi dunia Barat, kiblat musik Budjana pun mulai berubah. Ia tak hanya sebatas memainkan instrumen pop dan rock melainkan mulai merambah ke musik Lihat Daftar Tokoh Jazz
Lihat Daftar Tokoh Jazz
jazz
. Awal perkenalannya dengan Lihat Daftar Tokoh Jazz
Lihat Daftar Tokoh Jazz
jazz
terjadi saat ia memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta pada tahun 1985. Di ibukota, ia bertemu dengan Musisi jazz
Musisi jazz
Jack Lesmana
, legenda Lihat Daftar Tokoh Jazz
Lihat Daftar Tokoh Jazz
jazz
tanah air. Dari ayah musisi Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
itulah Budjana banyak menimba filosofi permainan musik jazz.

Budjana tertarik memainkan gitar setelah menyaksikan seorang kuli bangunan yang tinggal di depan rumahnya, tengah asyik memetik senar-senar alat musik petik itu. Iramanya yang melodius seketika membius telinga Budjana yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Budjana tergerak untuk menguasai instrumen gitar dimulai dengan belajar dari kuli bangunan itu.

Pertemuannya dengan Jack berbuah manis, selain bertambah pengalaman baru, karirnya di dunia musik pun mulai menunjukkan kemajuan saat putra Jack, Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
mengajaknya masuk dunia rekaman sebagai session player. Beberapa tahun setelah itu, ia bergabung dengan Baron membentuk Spirit Band.

Bersama Spirit, ia menghasilkan dua album, yaitu Spirit dan Mentari. Tahun 1993, Budjana hengkang dari Spirit. Setelah itu, banyak musisi yang tertarik menggunakan kepiawaiannya dalam memetik gitar. Sebut saja Jimmy Manopo Band, Produser, komponis, konduktor, penata musik, dan bassist
Produser, komponis, konduktor, penata musik, dan bassist
Erwin Gutawa
, Elfa's Big Band hingga Twilite Orchestra. Masih di tahun yang sama, suami Putu Borrawati ini juga bergabung dengan Java Jazz yang dipunggawai Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
. Kolaborasi keduanya kemudian menghasilkan album Bulan di Atas Asia. Tak lama berselang, ia mendapat kehormatan untuk mengikuti North Sea Jazz Festival, sebuah perhelatan akbar musisi jazz dunia di Den Haag, Belanda.

Baru kemudian di tahun 1994, ayah dua anak ini mendirikan sebuah band bernama Gigi dengan formasi awal Baron sebagai gitaris, Thomas sebagai bassist, Armand sebagai vokalist dan Ronald sebagai drummer. Bersama Gigi, belasan album sudah dihasilkan diantaranya Angan, Dunia, 3/4, 2x2, Kilas Balik, Baik, Semua Umur dan lain sebagainya. Selain itu, Gigi juga pernah merilis album relijius yang biasanya diluncurkan di bulan Ramadhan, seperti album Raihlah Kemenangan yang rilis tahun 2004. Meski satu-satunya personil Gigi yang non-muslim, Budjana tetap menunjukkan profesionalismenya. Selain itu ia juga ingin menyampaikan pesan bahwa tak selamanya perbedaan itu harus disikapi dengan permusuhan. Yang terpenting adalah menumbuhkan sikap saling menghormati dan bertoleransi.

Pada Desember 2007, Budjana menghelat dua hajatan besar dalam karirnya dengan menggelar konser tunggal di Gedung Kesenian Jakarta, yang kemudian disusul perilisan buku semi biografinya yang berjudul Gitarku: Hidupku, Kekasihku yang memuat perjalanan hidupnya dan juga beberapa ilmunya saat memainkan dawai gitar.

Dalam buku Gitarku: Hidupku, Kekasihku, Budjana mengungkapkan pendalamannya tentang gitar. "Gitar itu sakral. Dia teman seperjalananku mencari kepuasan lahir dan batin dalam musik. Lewat gitarku, aku berkarya…Gitarku adalah titian yang menghubungkan aku dengan dua dunia, yaitu dunia tempatku berakar dengan dunia tempatku mengejawantahkan mimpi-mimpiku….Dan lewat gitarkulah aku menunjukan kepada dunia kekayaan budaya dan musik negeriku…"

Di sela-sela padatnya jadwal manggung bersama band Gigi, Budjana masih sempat membuat proyek solo dengan menelurkan 4 album yakni Nusa Damai, Gitarku, Samsara, dan Home yang rilis dalam kurun waktu tahun 1997 hingga 2005. Selain itu, penganut Hindu yang taat ini juga menelurkan album rohani bertitel, Nyanyian Darma pada 1998.

Dengan segudang karya-karyanya itu, nama Budjana sebagai gitaris makin tersohor. Kepiawaiannya memetik gitar membuat banyak generasi muda ingin menimba ilmu padanya. Kian hari jumlah orang yang ingin belajar gitar pada Budjana semakin banyak saja. Karena merasa kewalahan, Juli 2008 Budjana akhirnya berinisiatif mendirikan sebuah sekolah gitar dan bass bernama Guitar School of Indonesia (GSI). Ia juga mengajak serta tiga rekannya sesama gitaris dan bassist, yakni Andra Ramadhan, Bernard Larso, dan Arya Setiadi. Akhirnya dengan dana patungan dari keempat musisi itu serta ditambah seorang investor asal Surabaya, GSI secara resmi berdiri pada 12 Januari 2009.

Sekolah yang berlokasi di bilangan Arteri Pondok Indah Jakarta Selatan itu memiliki tenaga pengajar profesional lulusan dalam dan luar negeri, yang sebagian besar diantaranya merupakan lulusan Guitar Institute of Techology, Amerika Serikat. Selain itu, sejumlah musisi andalan dalam negeri juga turut terlibat. Untuk gitar selain sang penggagas, Budjana dan Andra, juga ada Coki Bollemeyer. Adapun bass ada Rindra R. Noor, Dika Satjadibrata, serta Ivanka.

Di sekolah tersebut siswa dapat memilih jenis musik mana yang mau dipelajari mulai dari jazz, rock, blues, funk, funsion, bahkan heavy metal tersedia di GSI. Bagi musisi muda berbakat namun mengalami keterbatasan dalam hal finansial, sekolah ini juga menawarkan program beasiswa.

GSI mendapat sambutan yang cukup antusias dari masyarakat yang berminat mendalami musik. Di bulan pertamanya saja sudah puluhan orang yang mendaftar. Mereka datang dari berbagai latar belakang usia dan domisili mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Padang.

"Ini adalah salah satu bentuk kontribusi kami kepada dunia musik yang telah membesarkan nama kami," ujar Budjana pada konferensi pers grand launching sekolah itu pada 5 Maret 2009 seperti dikutip dari situs tempointeraktif.com. Dengan hadirnya sekolah itu, ia berharap, bisa membantu perkembangan musik di Indonesia dan menghasilkan para musisi muda berkualitas. eti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 17 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Filsuf Masa Depan Islam Radikal Memang Ada

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Jual Buku Sutiyoso Sang Pemimpin

Buku Pilihan

thumb

Tahukah kamu jika dulu komputer sebesar kulkas? Temukan sejarah penciptaan personal computer dalam buku ini. Juga fakta-fakta lain yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Buku seri penemuan yang dikemas dalam format novel grafis ini pasti membuatmu tertarik untuk membacanya.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: