WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Presenter Cerdas dan Berani

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Presenter Cerdas dan Berani
Ira Koesno | e-ti | wordpress.com

Gayanya yang khas, lugas dan kritis saat menjadi presenter berita di stasiun televisi SCTV melambungkan namanya. Peraih dua gelar master dari universitas di Inggris ini kemudian mundur dari dunia pertelevisian karena ingin mengembangkan usahanya sendiri. Namun pada tahun 2010, ia pulang kandang ke dunia yang membesarkan namanya dengan memandu talkshow bertajuk Satu Jam Lebih Dekat yang disiarkan TV One.

 

Presenter dan Presdir Ira Koesno Communications
Lihat Curriculum Vitae (CV) Ira Koesno

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Ira Koesno

QR Code Halaman Biografi Ira Koesno
Bio Lain
Click to view full article
Imran
Click to view full article
Gilbert Lumoindong
Click to view full article
Hatta Ali
Click to view full article
Muhammad Qodari
Click to view full article
Achmad Rifai
Click to view full article
Eka Budianta
Click to view full article
AA Baramuli

Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, sarjana akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sempat bekerja sebagai akuntan di Auditor KPMG Hanadi Sujandro, sebuah perusahaan akuntan publik. Ia bertanggung jawab melakukan audit pos neraca, verifikasi, konfirmasi, dan stock opname. Satu tahun berkarir sebagai akuntan, bungsu dari dua bersaudara ini mencoba alih profesi. Sekitar Februari 1996, ia melamar ke SCTV, yang saat itu membutuhkan reporter dan presenter.

Tanpa harus melewati proses panjang yang melelahkan, ia langsung diterima. Bungsu dari dua bersaudara pasangan Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami ini beruntung karena menjalani profesi yang sesuai dengan minat dan bakatnya. "Saya punya dua dunia yang saya senangi, pertama finansial dan yang kedua tulis menulis. Setelah mencoba menjadi akuntan, saya ingin mencoba jadi Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
," tutur pemilik nama lengkap Dwi Noviratri Martoatmodjo ini. Yang ada dalam pikirannya saat itu, Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
adalah pekerjaan menyenangkan dan penuh tantangan.

Sebagai seorang jurnalis senior, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
kelahiran Jakarta 30 November 1969 ini telah melalui sejumlah peristiwa. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
, hingga pengalaman yang sulit ia lupakan yakni ketika ia mewawancarai mantan Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja pada tahun 1998.

Ira bersama jajaran lainnya dipanggil oleh salah seorang pemegang saham SCTV dan keluarga Cendana. Pangkal masalahnya adalah istilah "cabut gigi" yang pada waktu itu dilontarkan sang narasumber, Sarwono. Istilah itu merujuk pada arti yang meminta Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
(Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
kala itu) untuk mundur. Pada waktu itu, kebebasan berbicara dan berpendapat di Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
masih terbelenggu.

Ira pun sejak awal menyadari sensitivitas dari istilah itu. Oleh karena itu, ia meminta Sarwono agar tidak menggunakan istilah 'cabut gigi' dan hanya berpatokan pada skenario yang telah disiapkan redaksi Liputan 6. "Tapi ia malah mengancam tidak mau tampil jika tidak diperbolehkan melontarkan istilah tersebut," kenang Ira. Pemanggilan itu berujung pada permintaan agar Ira tidak siaran dulu selama beberapa hari.

Peristiwa kurang menyenangkan yang menimpanya pada waktu itu tak lantas mengurangi kekritisannya. Di era reformasi, saat pers sudah terbebas dari belenggu kekuasaan pemerintah Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
, Ira semakin leluasa melontarkan pertanyaan pedas namun cerdas pada narasumbernya.

Di stasiun televisi SCTV yang berjasa membesarkan namanya, peraih dua gelar master, yakni Master of arts bidang film dan produksi televisi (2000) dari Universitas Bristol, serta Master of arts bidang jurnalistik internasional (2001) dari Universitas Westminster ini mulai diberi kepercayaan untuk melebarkan sayapnya di dunia jurnalisme. Ia tidak lagi hanya membawakan program berita, tapi juga didaulat menjadi Asisten Produser Liputan 6 siang dan Produser investigasi "SIGI".

Sebagai seorang jurnalis senior, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
kelahiran Jakarta 30 November 1969 ini telah melalui sejumlah peristiwa. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
, hingga pengalaman yang sulit ia lupakan yakni ketika ia mewawancarai mantan Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja.

"Debat Presiden 2004" merupakan acara terakhir yang dipandunya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mundur dari dunia pertelevisian di tahun 2004 karena ingin mengembangkan usahanya di bidang jasa strategi komunikasi terpadu, bernama Ira Koesno Communications (IKComm).

IKComm bergerak di bidang jasa media dan PR (Public Relation) konsultan, pelatihan media dan PR, kampanye publik, menajemen isu, dan hubungan dengan pemerintah. Didukung tenaga profesional yang kaya pengalaman di bidang komunikasi dan goverment relations, ia optimistis IKComm mampu menjaga komitmen dan memberikan hasil terbaik bagi klien. "Saya sibuk mengurus perusahaan. Untuk mengembangkan usaha butuh konsentrasi penuh. Perusahaan tidak akan besar jika ditangani setengah-setengah," ujarnya. Berhubung usaha yang didirikannya masih berskala kecil menengah, Ira belum bisa meninggalkannya sepenuhnya. "Saya perlu waktu sampai usaha ini bisa jalan stabil. Meski sudah ada tim, tapi masih perlu pendamping," terangnya.

Langkahnya sebagai wirausahawan tentu terasa lebih ringan karena ia memulai di bidang yang sudah dikenalnya. Dalam perkembangan selanjutnya, berhubung usahanya tersebut sudah bisa ditinggal karena telah ada anak buah yang andal dan dapat dipercaya untuk mengurusinya, ia pun ingin kembali ke dunia televisi. Jika dulu ia lebih dikenal sebagai presenter berita, di tahun 2010 ia menerima tawaran untuk memandu talkshow bertajuk Satu Jam Lebih Dekat yang disiarkan TV One. Walaupun namanya telah dikenal masyarakat sebagai jurnalis dengan segudang pengalaman, namun karena lama tak muncul, ia pun mengaku harus memulai dari awal lagi dan banyak belajar.

Nama besarnya sebagai seorang presenter rupanya belumlah pudar. Sejumlah tawaran terus berdatangan namun ditolaknya. Ira memang dikenal sebagai sosok idealis yang tak sembarangan menerima tawaran begitu saja. Ia kemudian lebih memilih untuk bergabung dengan TV One, televisi pimpinan Karni Ilyas, mantan atasannya ketika masih bekerja di SCTV. Setelah itu, manajemen stasiun televisi yang mempunyai motto Terdepan Mengabarkan itu menyodorkan sejumlah program untuk dipilihnya. Setelah dipelajari, ternyata Satu Jam Lebih Dekat yang lebih cocok.

Program bincang-bincang yang dulu sempat dibawakan mantan anchor SCTV lainnya, Indy Rahmawati, ini menghadirkan banyak tokoh nasional. Menurut Ira, setiap tokoh punya karakter berbeda-beda. Perbedaan itulah yang menjadikan program itu memiliki daya tarik tersendiri.

Pengalamannya mewawancarai sejumlah tokoh dengan berbagai latar belakang dan ciri khasnya masing-masing membuat Ira sangat paham bagaimana cara "menghidupkan" sebuah program. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mengangkat kekuatan (daya tarik) yang dimiliki sang tokoh. "Saya harus mampu mengeluarkan kekuatan mereka. Jika kekuatannya tidak muncul, berarti saya gagal. Saya harus banyak berlatih kembali," tambahnya. Namun Ira menegaskan, kembali ke televisi bukan berarti dia kembali ke jurnalistik.

Sebab menurutnya, jurnalistik membutuhkan komitmen tinggi dan tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat. Bukan hanya itu, menjadi seorang jurnalis harus panggilan jiwa. Seseorang tidak bisa menjadi seorang jurnalis yang baik kalau tidak berasal dari panggilan jiwa. Karena untuk menjadi seorang Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
banyak hal yang harus dikorbankan, di antaranya harta dan siap bekerja 24 jam. "Kita tidak bisa mencari kekayaan dari jurnalis. Kalau mencari uang jangan jadi jurnalis, nanti akan menghamba pada uang," pesan Ira bijak. Prinsip inilah yang telah ia tanamkan semenjak pertama kali menjadi wartawan. e-ti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 11 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Digemari Di Tahun 70 An Bela Wiranto Soal Ham

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 43

Tokoh Monitor

Jual Buku Sutiyoso Sang Pemimpin

Buku Pilihan

thumb

Cara santai memahami SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi. Buku ini memberikan panduan praktis pajak dan mudah. paling mudah. dapat dipahami awam (bahkan pelajar dan mahasiswa). dan bentuknya KOMIK.

Note: Berhubung stok lama, bagian pinggir buku menguning.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: