-
-
BIOGRAFI
-
Benteng Jagaraga menjadi saksi sejarah perjuangan Patih dari kerajaan Buleleng Bali ini. Ia berperang melawan Belanda hingga titik darah penghabisan.
- biografi tokoh indonesia i gusti ketut jelantik
- pahlawan i gusti ketut jelantik
- tokoh perlawanan bali
- cerpen bali tahun 1760
- nama benteng di bali
- perlawanan jelantik dari bali
- kata kata patih bali
- deskripsi pahlawan bali
- siapakah patih jelantik
- ketut gusti jelantik
- nama asal dari gusti patih jelantik
- raja buleleng mendirikan benteng pertahanan yang terkenal dengan nama
- bigrafi singkat i gusti ketut jelantik
- foto benteng jagaraga di bali
- tokoh perang di bali
- biografi raja buleleng
- biografi pahlawan i gusti ketut jelantik
- riwayat hidup raja buleleng
- drama tentang perlawanan patih jelantik dari bali
- biografi gusti gde jelantik
- biografi pahlawan raja buleleng
- perlawanan patih jelantik di bali
- foto-foto tokoh pahlawan zaman kekuasaan eropa
- biografi i gusti ketut jelantik
- biografi gusti ketut djelanti
- sejarah i gusti ketut jelantik
Kapan I Gusti Ketut Jelantik lahir tidak diketahui dengan pasti. Yang jelas, pada tahun 1828 ia diangkat sebagai Patih Agung Kerajaan Buleleng, Bali. Ia merupakan keturunan darah Dinasti Perang Puputan Jagaraga. Sebagai Patih Agung, ia membina kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain di Bali. Berkaitan dengan itu, ia juga dipaksa berhadapan dengan pihak Belanda yang ingin menguasai Bali umumnya dan Buleleng khususnya.
Dalam suatu perundingan, pihak Belanda menuntut agar Raja Buleleng mengganti kerugian atas kapal-kapal Belanda yang dirampasnya. Sebagai dalih, Belanda menuntut agar raja-raja Bali menghapus hukum "Tawan Karang". Karena menurut hukum Tawan Karang, kapal yang terdampar di pantai disita oleh penduduk pantai tempat kapal itu terdampar dan menjadi milik raja Bali.
Belanda merasa dirugikan sebab beberapa kapal dagang mereka sudah dikenakan Tawan Karang. Kapal yang dimaksud adalah kapal dagang Belanda yang terdampar di daerah Prancak (wilayah Jebarana) pada tahun 1844 yang merupakan wilayah hukum (juridiksi) Kerajaan Buleleng. Selain itu, Belanda juga menuntut agar Raja Buleleng mengakui kekuasaan Belanda di Hindia Belanda.
Mendengar tuntutan itu, Patih I Gusti Ketut Jelantik menjadi sangat marah. Ia tidak mau tunduk terhadap tekanan Belanda itu. Dengan menepukkan tinju ke dadanya ia pun berkata: "Apapun tidak akan bisa terjadi. Selama aku hidup, tidak akan mengakui kekuasaan Nederland di kerajaan ini. Bila aku mati, raja boleh berbuat apa saja yang dikehendaki. Tetapi dengan cara begini orang tidak bisa dibentuk oleh sehelai kertas saja hendak menguasai negara lain. Keris ini harus sepadan berbicara dulu". Kata-kata patih itu ditulis oleh Mard Johansen Lane, seorang pengusaha dan diplomat berkebangsaan Denmark yang menjadi penengah antara raja-raja Bali dan Belanda.
Pada tahun 1843 Belanda berhasil memaksa beberapa raja, antara lain raja Buleleng menandatangani perjanjian penghapusan Tawan Karang. Namun, Raja Buleleng tidak mau menaati perjanjian itu sepenuh hati.
Pada tahun 1845 sebuah kapal Belanda terdampar di pantai Sangsit yang merupakan wilayah Kerajaan Buleleng. Belanda menuntut agar kapal itu dibebaskan. Ketut Jelantik menolak. Bahkan ia menghina utusan Belanda dan menantangnya untuk berperang. Akibatnya, pada bulan Juni 1846 pasukan Belanda menyerang Buleleng. Pertempuran sengit pun terjadi. Pertempuran tersebut tidak berjalan seimbang karena tentara Belanda berjumlah 1.700 orang dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern. Istana Buleleng pun mereka duduki. Buleleng akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 29 Juni 1846. Buleleng terpaksa mengakui kedaulatan Belanda, begitu pula Karangasem. Akan tetapi, Buleleng tetap saja memperlihatkan sikap bermusuhan.
Raja Bali dan Ketut Jelantik menyingkir ke Jagaraga dan membangun benteng-benteng pertahanan di tempat itu. Patih Jelantik menyadari bahwa kekuatan serdadu Belanda terutama terletak dalam kelengkapan persenjataan, seperti senapan dan perlengkapan yang memadai. Untuk menghadapi kelebihan pihak lawan itu, Patih Jelantik memilih sistem pertahanan "Supit Udang" (makara wyuda). Patih itu menyadari bahwa daerah pantai sulit dipertahankan karena dengan mudah dapat dijangkau oleh peluru meriam Belanda. Oleh karena itu, Benteng Jagaraga dipandang sebagai pertahanan yang baik karena wilayah itu tidak dapat dicapai oleh peluru meriam dan mortir dari pantai.
Untuk menghindari gempuran yang lebih hebat lagi, Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem bersiaga penuh menghadapi serangan Belanda. Buleleng tetap menolak mengadakan perjanjian dengan Belanda. Isi perjanjian itu antara lain: 1). Daerah Buleleng merupakan bagian dari Hindia Belanda; 2). Raja Buleleng tidak akan mengadakan hubungan dengan orang Eropa lainnya; 3). Hak Tawan Karang dihapuskan; 4). Buleleng harus mengganti kerugian perang.
Pembangunan benteng di Jagaraga itu wujud nyata penolakan perjanjian itu. Di samping itu, kapal Belanda yang terdampar di Pantai Kusumba dan Badung juga diperlakukan sebagaimana mestinya sesuai hak Tawan Karang. Untuk mengantisipasi penyerbuan Belanda di Jagaraga, pasukan disiagakan. Pembangunan benteng itu menyebabkan Gubernur Jenderal Belanda mengerahkan kekuatan besar-besaran di bawah pimpinan Jenderal van der Wijk sekaligus menuntut agar Patih Jelantik menyerahkan diri.
Buleleng mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan lainnya. Dewa Agung Putra sebagai Susuhunan raja-raja Bali memberi bantuan laskar sebanyak 1.650 orang yang terdiri dari prajurit gabungan Klungkung-Gianyar lengkap dengan persenjataannya di bawah pimpinan I Dewa Ketut Agung. Laskar Kerajaan Mengwi berjumlah 600 orang, Kerajaan Karangasem mengirim 1.200 orang di bawah pimpinan I Made Jungutan dan Gde Padang. Menjelang akhir tahun 1846 di Ibu Kota Jagaraga telah berkumpul laskar 7.000-8.000 orang lengkap dengan persenjataannya. Laskar-laskar itu digabung dengan laskar Buleleng yang dipimpin oleh Ida Bagus Tamu dan I Nengah Raos sehingga merupakan laskar dalam jumlah besar.
Pada bulan Juni 1848 Belanda kembali mengirim pasukannya ke Bali. Raja Buleleng diultimatum agar menyerahkan Ketut Jelantik dan membongkar benteng-benteng di Jagaraga. Ultimatum itu tidak diindahkan oleh Ketut Jelantik. Pasukan Belanda langsung menyerang Jagaraga. Kekuatan pertahanan dan kegigihan para prajurit Buleleng membuat Belanda tidak mampu merebut Benteng Jagaraga. Serangan itu pun gagal. Bahkan, pihak Belanda kehilangan 14 perwira dan 242 prajuritnya. Pertempuran sengit itu dikenal sebagai Perang Jagaraga I. Raja Buleleng I Gusti Ngurah Karangasem dan patihnya I Gusti Ketut Jelantik yang mundur ke desa Jagaraga dan menyusun pasukan baru ternyata berhasil menahan serbuan Belanda.
Masih pada tahun 1848, pertempuran kedua dengan Belanda kembali meletus. Untuk kedua kalinya, tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal van der Wijk juga tak mampu menahan gempuran dahsyat pasukan Buleleng yang dipimpin oleh Patih Ketut Jelantik. Tentara Belanda pun mundur ke arah pantai.
Kemenangan Buleleng itu disusul dengan peperangan ketiga pada tanggal 31 Maret 1849. Tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Michels melancarkan tembakan meriam di atas kapal. Pertempuran sengit berkobar di Jagaraga selama dua hari. Prajurit Bali mempertahankan Jagaraga sekuat tenaga. Karena Belanda sudah mengetahui kekuatan Benteng Jagaraga maka pada 16 April 1849 Benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. I Gusti Ketut Jelantik pun harus mundur ke Pegunungan Batur Kintamani.
Selanjutnya, Ketut Jelantik pergi ke Karangasem mencari bantuan. Ternyata istana Karangasem juga sudah diduduki Belanda. Ketut Jelantik akhirnya bertahan di perbukitan Bale Pundak, sementara Belanda terus memburunya. Ia akhirnya gugur dalam pertempuran di tempat itu pada akhir April 1849.
Atas jasa-jasanya kepada negara, I Gusti Ketut Jelantik dianugerahi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993. e-ti | tl
Update Data & Sponsorship
Dukungan Anda, Semangat Kami
(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.
Update Konten/Saran
Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:
- Menambah (Daftar) Tokoh
- Memperbaharui CV atau Biografi
- Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
- Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
- Menambah Galeri Foto
- Menambah Video
- Menjadi Member
- Memasang Banner/Iklan
- Memberi Dukungan Dana
- Memberi Saran
Contoh Penggunaan
Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:
Rumah Presiden SBY
Rumah Presiden Soekarno
Rumah Megawati Soekarnoputri
Silakan menghubungi kami di:
- Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
- Email:
- Atau gunakan FORM KONTAK ini
Sponsorship
Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.
Sponsor Bronze ![]() | Sponsor Silver ![]() |
Sponsor Gold ![]() | |


Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia: 



































Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.