WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pangeran yang Ditakuti Belanda

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pangeran yang Ditakuti Belanda
KGPAA Mangkunegoro I | Tokoh.ID | repro

Bapak pendiri dinasti Mangkunagaran ini meninggalkan istana pada usia 16 tahun karena tidak betah dengan keadaan keraton yang tidak berdaulat bahkan patgulipat dengan penjajah Belanda. Selama 16 tahun ia memimpin pemberontakan melawan penjajah Belanda yang kemudian menjuluki dia, Pangeran Sambernyawa.

Pendiri Dinasti Mangkunagaran, Pahlawan Nasional
Lihat Curriculum Vitae (CV) KGPAA Mangkunegoro I

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) KGPAA Mangkunegoro I

QR Code Halaman Biografi KGPAA Mangkunegoro I
Bio Lain
Click to view full article
Eko Supriyanto
Click to view full article
Dwi Ria Latifa
Click to view full article
Sultan Hasanuddin
Click to view full article
Dr. Moewardi
Click to view full article
BM Diah
Click to view full article
Haji Bokir bin Djiun
Click to view full article
Mugiyono Kasido

Raden Mas Said yang kemudian bergelar Mangkunegoro I lahir di Kartasura pada 7 April 1725. Ayahnya, Pangeran Aryo Mangkunegoro, dibuang Belanda ke Sri Lanka dengan tuduhan terlibat dalam rencana pemberontakan melawan Belanda. Peristiwa itu menumbuhkan rasa benci Raden Mas Said terhadap Belanda. Ia juga merupakan cucu dari Raja Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
, Mangkurat IV. Setelah sang kakek wafat, tahta Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
diduduki oleh Paku Buwono II (PB II) yang memerintah antara tahun 1726-1749.

Pada tahun 1741, Raden Mas Said bergabung dengan Sunan Kuning yang sedang memimpin perlawanan terhadap Belanda. Pada waktu Sunan Kuning memindahkan pusat perlawanannya ke Jawa Timur, Raden Mas Said tetap bertahan di Jawa Tengah. Untuk menumpas perlawanan itu, Belanda mengerahkan pasukan di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi. Perlawanan itu dapat ditumpas, tetapi Raden Mas Said tidak tertangkap.

Sementara itu, di bawah kepemimpinan PB II, kerajaan Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
bersikap sangat lunak dalam menghadapi Belanda. Hal ini dibuktikan dengan penyerahan wilayah pantai utara pulau Jawa kepada Kompeni pada tahun 1743. Penyerahan itu menimbulkan ketidakpuasan di kalangan para pangeran. Ketidakpuasan semakin bertambah dengan adanya benteng kompeni di Kartasura dan serdadu Belanda yang ditempatkan di dalam istana. 

Paku Buwono II (Raja Mataram) berjanji akan menghadiahkan daerah Maospati kepada Mangkubumi. Karena dihasut Belanda, janji itu dilanggarnya. Akibatnya, pada bulan Mei 1746, Mangkubumi memutuskan hengkang dari istana dan membangun kekuatan untuk melawan PB II. Mangkubumi bergabung dengan Raden Mas Said. Para bupati pesisir pun ikut mendukungnya.

Pada tahun 1749, Raden Mas Said yang tadinya ditugaskan untuk menangkap Mangkubumi justru membantu pangeran itu melawan PB II. Selama sembilan tahun mereka berjuang bersama-sama menentang Belanda. Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor de Clerx dapat dihancurkan pada tahun 1751. Raden Mas Said kemudian bertahan di daerah Sukawati yang terletak di bagian timur Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Surakarta
(sekitar kota Sragen).

Berkali-kali mereka mengadakan serangan mendadak sehingga sangat merugikan pasukan Belanda. Dalam pertempuran pada 12 Desember 1751, pasukan Raden Mas Said berhasil menguasai daerah Pacitan, Ponorogo, dan Madiun. Mengetahui kenyataan itu, pemerintah Belanda mulai ketakutan. Bahkan Belanda menawarkan perundingan hingga dua kali kepada Pangeran Sambernyawa itu (julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan Raden Mas Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya). Namun, tawaran itu ditolak Raden Mas Said.

Belanda akhirnya berhasil mengajak Pangeran Mangkubumi untuk berunding. Pada 13 Februari 1755, Paku Bowono III, Pangeran Mangkubumi, dan Belanda mengadakan perundingan. Perundingan itu kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Giyanti yang berisi kesepakatan untuk membagi kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Surakarta
di bawah PB III dan Kesultanan Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
di bawah Mangkubumi dengan gelar Hamengku Buwono I. Sementara itu, perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan Raden Mas Said.

Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan Raden Mas Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya

Setelah selama enam belas tahun mengadakan perlawanan terhadap Belanda, lama-kelamaan Raden Mas Said menyadari bahwa perang yang berlarut-larut akan tambah menyengsarakan rakyat. Karena itulah ia memenuhi ajakan Paku Buwono III untuk berunding dengan Belanda demi mengakhiri perang.

Perjanjian antara VOC, PB III dan Raden Mas Said yang ditandatangani pada 24 Februari 1757 itu kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Salatiga. Perjanjian itu menetapkan bahwa Kasunanan Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Surakarta
dibagi dua menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran. Raden Mas Said diangkat sebagai kepala daerah Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I yang memperoleh sebagian wilayah Kasunanan Surakarta, yakni daerah Mangkunegaran.

Ia kemudian membentuk pasukan elite yang terdiri dari 18 pemuda, 2 diantaranya menonjol yakni Jayawiguna dan Jayautama. Pasukan itu memiliki semangat korps (L’Esprit de Coprs) yang sangat kuat dengan semboyan Tiji-Tibeh (mati siji mati kabeh) yang berarti mati satu mati semua. Dua orang pemimpin spiritual membimbing mereka, yaitu Kyai Adirasa dan Kyai Adisana.

Pasukan mereka kian hari kian bertambah besar. Di dalam pasukan dicetuskan sebuah prasetya yang dikenal sebagai Tri darma yaitu mulat sarira hangsara wani (kenalilah dirimu dan bersikaplah gagah berani), rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), dan melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan).

Mangkunegoro I wafat pada 28 Desember 1795 di Kartasura dan dimakamkan di Astana Mangadeg, sebuah makam kerabat keraton yang terletak 40 km dari kota Solo.

Atas jasa-jasanya kepada negara, KGPAA Mangkunegoro I dianugerahi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Nasional berdasarkan SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
No. 048/TK/Tahun 1988, tanggal 17 Agustus 1988. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 10 May 2017  -  Pembaharuan terakhir 10 May 2017
Sukses Dengan Falsafah Kuda Senandung Nostalgia Connie Francis

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Ahok-Djarot

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Buku ini mengupas rahasia sukses medical representaive dengan bahasa lapangan praktis yang dipakai sehari-hari, tanpa teori yang berbelit belit, berupaya mengetengahkan hal hal penting yang harus diketahui oleh para praktisi pemasaran dan pengenalan di bidang produk farmasi.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: