WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Berperan Lahirkan UU Kewarganegaraan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Berperan Lahirkan UU Kewarganegaraan
DR. Saharjo, SH | Tokoh.ID | Depsos

Ahli hukum penggagas pohon beringin digunakan sebagai lambang Kehakiman dan Kejaksaan ini berperan besar atas lahirnya dua UU Kewarganegaraan (1947 dan 1958) dan UU Pemilihan Umum (1953). Dia pernah dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Kehakiman, Menteri Kehakiman dalam kabinet Kerja I, II, dan III dan Wakil Perdana Menteri Bidang Dalam Negeri.

Ahli Hukum, Menteri Kehakiman dalam kabinet Kerja I, II, III
Lihat Curriculum Vitae (CV) DR. Saharjo

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) DR. Saharjo

QR Code Halaman Biografi DR. Saharjo, SH
Bio Lain
Click to view full article
Bigman Sirait
Click to view full article
Utomo Dananjaya
Click to view full article
Era Soekamto
Click to view full article
Tan Hong Boen
Click to view full article
Hasto Kristiyanto
Click to view full article
Butet Kartaredjasa
Click to view full article
Nova Riyanti Yusuf

Ketika Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, salah satu yang harus dibenahi adalah perangkat hukumnya. Hukum merupakan “aturan main” (rules of the game) yang membuat kehidupan masyarakat menjadi teratur.

Pada saat itulah, seorang ahli hukum bernama Saharjo, SH ambil bagian demi tersedianya perangkat hukum. Ahli hukum kelahiran Solo, 26 Juni 1909 ini berupaya keras untuk melakukan pembenahan besar-besaran.

Awalnya Saharjo memiliki keinginan untuk menjadi dokter dengan belajar di STOVIA. Namun sebelum ia sempat menyelesaikan pendidikan dokter, dia memutuskan untuk pindah ke AMS (Sekolah Menengah Atas) bagian B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam). Setelah menyelesaikan pendidikan di AMS, dia bekerja sebagai guru di Perguruan Rakyat yang merupakan perguruan nasional.

Perguruan Rakyat banyak mendapat tekanan dari pemerintah Belanda. Namun, tekanan yang datang tetap dihadapi dengan semangat juang tinggi dari para pengajar, tak terkecuali Saharjo. Memasuki tahun kelima menjadi guru, Saharjo bertemu dengan seorang gadis bernama Siti Nuraini yang kelak menjadi istrinya.

Selain mengajar, Saharjo juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam bidang politik. Ia tercatat pernah menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo), bahkan berkat keaktifan dan kepandaiannya, Saharjo diangkat menjadi anggota pengurus besar. Di sela-sela padatnya kegiatan sebagai guru dan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
partai, Saharjo masih sempat meluangkan waktu untuk belajar. Ia melihat bahwa bidang hukum memerlukan penanganan khusus, untuk itu ia memutuskan untuk mendalami Ilmu Hukum. Gelar sarjana hukum pun berhasil disandangnya pada tahun 1941. Sejak menyandang gelar tersebut, ia mulai mengalihkan perhatian pada pembangunan hukum di Indonesia.

Setamat dari Rechts Hooge School dengan gelar Meester in de rechten, Saharjo bekerja di Departement Van Justicia Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu pendudukan Jepang, Saharjo juga pernah memegang jabatan wakil Hooki Kyokoyu atau Kepala Kantor Kehakiman. Saharjo juga sempat menjadi hakim di Pengadilan Negeri Purwakarta, tetapi hanya bertahan delapan bulan karena ia kembali ditarik ke Kantor Kehakiman di Jakarta.

Pohon beringin, pemasyarakatan, dan narapidana adalah tiga ide cemerlang Saharjo saat bekerja di Departemen Kehakiman.

Perlahan namun pasti, karier Saharjo di Depkeh terus menanjak. Pada tahun 1948, pria yang pandai memainkan biola dan bernyanyi ini dipercaya menduduki jabatan Kepala Bagian Hukum Tata Negara. Selama sepuluh tahun, Saharjo memangku jabatan ini dengan beberapa hasil kerja yang fenomenal yakni dua UU Kewarganegaraan (1947 dan 1958) dan UU Pemilihan Umum (1953).

Sementara itu, Undang-undang yang dibuat pemerintah kolonial Belanda harus diganti dan diubah karena dianggap sudah tak layak lagi diterapkan dan tidak sesuai dengan alam kemerdekaan serta kepribadian bangsa Indonesia. Pada tahun 1962 disarankan agar beberapa bagian dari undang-undang kolonial tidak dipakai lagi sebab tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Selain itu, diusulkan pula agar Dewi Yustisia yang digunakan sebagai lambang kehakiman pada zaman Belanda diganti dengan gambar pohon beringin karena dianggap lebih sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Pohon beringin melambangkan perlindungan rakyat yang mendambakan keadilan hukum. Lambang pohon beringin diterima oleh para peserta Seminar Hukum Nasional pada tahun 1963. Dilukis oleh pelukis Derachman, Lambang Pengayoman berupa pohon beringin resmi ditetapkan sebagai lambang Kehakiman dan Kejaksaan.

Tak hanya mengganti lambang kehakiman, berbagai istilah yang memiliki konotasi kurang mendidik pun turut diganti. Anak seorang Abdi Dalam Keraton Susuhunan Solo ini juga mengusulkan agar istilah penjara diganti dengan pemasyarakatan, dan orang hukuman menjadi narapidana. Alasannya, di dalam lembaga pemasyarakatan, narapidana tidak disiksa untuk menebus dosa-dosanya tetapi dididik untuk mengatasi kelemahan dan kesalahannya. Dengan demikian diharapkan ia dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna setelah menjalani masa hukuman di penjara. Ide Saharjo ini diterima melalui Konferensi Kepenjaraan pada 27 April 1964, di Bandung.

Setelah menjabat sebagai Kepala Bagian Hukum Tata Negara di Departemen Kehakiman, Saharjo dipercaya menjabat beberapa posisi penting seperti Sekretaris Jenderal Departemen Kehakiman, Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Kehakiman dalam kabinet Kerja I, II, dan III dan kemudian diangkat menjadi Wakil Perdana Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Bidang Dalam Negeri. Saat menjadi pejabat pemerintah, Saharjo dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Buktinya, dia sempat menolak diberi rumah dinas meski pada akhirnya, rumah dinas itu memang diterima Saharjo dengan pertimbangan keluarga.

DR. Saharjo, SH meninggal dunia pada 13 November 1963 dan dikebumikan di Taman Makam Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasanya kepada negara, DR. Saharjo, SH diberi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 245 Tahun 1963, tanggal 29 November 1963. Atas jasa-jasanya pula, Fakultas Hukum Universitas Indonesia menganugerahi Saharjo gelar Doktor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Namanya juga sudah diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya sebagai nama jalan yang menghubungkan wilayah Manggarai, Jakarta Selatan dengan Pancoran, Jakarta Selatan. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 03 May 2017  -  Pembaharuan terakhir 04 May 2017
Pendidik Di Bidang Mode Nasionalis Sejati Dari Sulawesi

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Saya Indonesia Saya Pancasila

Tokoh Monitor

Jual Buku Sutiyoso Sang Pemimpin

Buku Pilihan

thumb

Buku ini merangkum kisah-kisah seru orang-orang yang paling dimusuhi rakyat sepakbola dalam sejarah Piala Dunia. Maradona, sebagai pemain, pernah dibenci habis oleh mereka yang setia kepada fair play karena sukses mencetak gol dengan tangannya tanpa ketahuan wasit.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: