WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Panglima Angkatan Laut ke-4

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Panglima Angkatan Laut ke-4
R.E. Martadinata | Tokoh.ID | repro

Salah satu pendiri Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) ini sudah dipercaya menjadi Pejabat Kepala Staf ALRI pada usia 38 tahun. Selama bertugas, ia banyak berkecimpung di dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah Angkatan Laut (SAL) di Kalibakung, Tegal dan Kepala Pendidikan dan Latihan di Sarangan, Magetan. Ia pernah menjadi Wakil Kepala Staf AL Daerah Aceh, Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya, Komandan KRI Hang Tuah, dan Dubes RI untuk Pakistan. Jabatannya sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut dicopot karena sikapnya yang mengutuk keras pemberontakan G30S/PKI.

Panglima Angkatan Laut ke-4, Pahlawan Nasional
Lihat Curriculum Vitae (CV) R.E. Martadinata

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) R.E. Martadinata

QR Code Halaman Biografi R.E. Martadinata
Bio Lain
Click to view full article
Marie Muhammad
Click to view full article
Ashadi Siregar
Click to view full article
Nuku Muhammad Amiruddin
Click to view full article
Umar Kayam
Click to view full article
Dedi Soedharma
Click to view full article
Sutiyoso
Click to view full article
Muchtar Asri
BERITA TERBARU

Raden Eddy Martadinata lahir di Bandung pada 29 Maret 1921 dari pasangan Raden Ruchijat Martadinata, seorang pegawai Departement van Oorlog (Departemen Perang) Hindia Belanda dan Nyi Raden Sukaeni. Pendidikan umum ditempuhnya sampai AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Sesudah itu, ia meneruskan pendidikan dengan masuk pendidikan tinggi Zeevaart Technische School Jakarta pada tahun 1942 tetapi tidak sampai tamat karena Pemerintah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang pada Maret 1942.

Setelah itu, R.E. Martadinata bekerja sebagai penerjemah pada Kantor Besar Jawatan Kereta Api di Bandung. Pada awal tahun 1943, R.E. Martadinata memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) yang dibuka oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk para pemuda pribumi untuk mengatasi kurangnya tenaga-tenaga pelaut pada masa itu. Karena R.E. Martadinata sudah pernah mengikuti pendidikan di Sekolah Teknik Pelayaran pada zaman Belanda, maka ia dimasukkan ke tingkat crash progam selama enam bulan.

R.E. Martadinata berhasil lulus dengan nilai terbaik dan dengan bekal kemampuan berbahasa Jepang, Martadinata diangkat menjadi Guru SPT Jakarta. Jabatan sebagai guru dipegang R.E. Martadinata sejak Agustus 1943 sampai September 1944. Guru-guru lain diantaranya M. Pardi dan Adam yang kelak akan menjadi tokoh-tokoh pembina Angkatan Laut Rl. Masih dalam lingkungan SPT, R.E. Martadinata juga diberi kepercayaan untuk menjadi nakhoda memimpin kapal latih Dai-28 Sakura Maru pada 1 November 1944.

Pada 23 Agustus 1943, R.E. Martadinata menikah dengan Sutiyarsih. Mereka dikaruniai tujuh orang anak, tiga laki-laki dan empat Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yakni Suhaemi, Siti Hadijah, Yudiarti, Irzansyah, Mariam, Kuntandi Vittorio (lahir di Italia), dan Rasita Riyanti.

Sebagai pemuda yang cinta Tanah Air, R.E. Martadinata bersama dengan para pemuda lulusan SPT, para pelaut dari Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya, bergabung dan membentuk “Barisan Banteng Laut”. Barisan ini dipimpin R.E. Martadinata yang bermarkas di Penjaringan Jakarta. Sesudah kemerdekaan diproklamasikan, mereka melucuti senjata tentara Jepang, merebut kapal-kapal milik Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya, menguasai pelabuhan penting dan menduduki gedung-gedung dan kantor milik pendudukan Jepang.

Pada 10 September 1945, R.E. Martadinata bersama M. Pardi, Adam dan lain-lain, membentuk Badan Keamanan Rakyat Laut Pusat (cikal bakal TNI AL), dipimpin M. Pardi yang bermarkas di Jl. Pendiri dan Ketua Budi Utomo
Pendiri dan Ketua Budi Utomo
Budi Utomo
Jakarta Pusat. R.E. Martadinata bersama dengan Adam menjadi anggota staf pimpinan didukung oleh Darjaatmaka, R. Surjadi dan Oentoro Koesmardjo. Beberapa waktu kemudian, Martadinata juga dipercaya menjadi wakil komandan BKR-Laut Jawa Barat.

Pemerintah kemudian mengumumkan pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945. BKR dilebur menjadi TKR dan BKR-laut pun berubah menjadi TKR-Laut. Pada akhir tahun 1945, markas TKR-Laut Pusat dipindahkan dari Jakarta ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
. Nama TKR kemudian diubah lagi menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) dan TKR-Laut pun berganti nama menjadi TRI-Laut. Pada Februari 1946 berganti lagi menjadi ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Markas TRI-Laut berganti nama menjadi Markas Besar Umum (MBU) ALRI.

Dalam struktur organisasi ALRI, Mayor R.E. Martadinata diangkat menjadi Kepala Staf Operasi V (Bagian Perencana). Setelah itu, R.E. Martadinata dipindahkan untuk memimpin pendidikan Latihan Opsir Kalibakung, Tegal pada Maret 1947. Pendidikan ini lebih bersifat pendidikan upgrading bagi perwira-perwira ALRI.

Setelah Agresi Militer I Belanda berakhir, R.E. Martadinata ditarik ke MBU ALRI di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
lalu tidak lama kemudian ia diperintahkan untuk membuka Sekolah Basic Special Operatun (BSO) di Sarangan. Sebanyak 30 orang siswa (sebelumnya merupakan siswa Kalibakung) berhasil menyelesaikan pendidikan pada Oktober 1948.

Saat Agresi Militer II Belanda berlangsung, R.E. Martadinata bertugas di daerah Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
. Sejak 1 Desember 1948, R.E. Martadinata mendampingi KSAL R. Soebijakto membentuk Angkatan Laut Daerah Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
(ALDA) untuk mengorganisir armada penyelundup, Training Station Serang Jaya dan kebutuhan logistik. Sesudah bertugas selama kurang lebih sepuluh bulan di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
, bulan Oktober 1949, R.E. Martadinata kembali ke Jawa.

Sesuai dengan persetujuan KMB (Konferensi Meja Bundar), Belanda menyerahkan dua korvet kepada pemerintah RI dan R.E. Martadinata menjadi salah satu komandan kapal HMS Morotai yang kemudian diganti namanya menjadi KRI Hang Tuah. Saat memimpin kapal perang inilah, R.E. Martadinata pernah ikut menumpas pemberontakan Andi Aziz di Makassar.

Saat kembali dari Puncak menuju Jakarta, R.E. Martadinata mengambil alih kemudi pesawat. Tetapi naas, helikopter yang dikemudikannya menabrak lereng gunung di desa Waringgul, Riung Gunung, antara Cimacan dan Puncak Pass, Jawa Barat. Semua penumpang helikopter naas itu tewas.

Sesudah Pengakuan Kedaulatan Indonesia, tepatnya pada tahun 1950, R.E. Martadinata diangkat menjadi Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya. Jabatan ini tidak lama dipangkunya, sebab tiga bulan kemudian ia ditarik menjadi Staf Operasi Angkatan Laut di Jakarta. Penugasan ini hanya sebagai persiapan untuk memegang jabatan sebagai komandan kapal perang Tjerk Hiddes yang baru dibeli dari Belanda. Kapal ini kemudian diberi nama KRI Gajah Mada. Jabatan sebagai komandan KRI Gajah Mada mulai dipangku R.E. Martadinata bulan Februari 1951.

Pada tahun 1953, Martadinata mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pada United States Navy Post Graduate School di Amerika Serikat. Sepulang dari negeri “Paman Sam”, dia diperbantukan pada Departemen Luar Negeri. R.E. Martadinata bersama beberapa perwira lain termasuk Yos Sudarso kemudian mendapat tugas khusus selama tiga tahun di Italia. Mereka bertugas mengawasi pembuatan kapal-kapal yang dipesan oleh ALRI dari negara tersebut. Sepulang dari sana, ia diangkat menjadi Hakim Perwira pada Pengadilan Tentara di Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Akhir tahun 1958, Martadinata ditugaskan ke Yugoslavia untuk mengawasi pembuatan kapal-kapal perang yang dipesan ALRI dari negara tersebut. Saat kembali ke Tanah Air, ia menghadapi pergolakan yang sedang terjadi dalam tubuh ALRI. Sebagian anggota tidak puas terhadap kebijaksanaan pimpinan diantaranya Letnan Kolonel Yos Sudarso, Letnan Kolonel Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Ali Sadikin
, dan Letnan Kolonel R. Suhadi. Latar belakang pergolakan itu adalah kebijaksanaan pimpinan Angkatan Laut yang kurang memberikan perhatian kepada para pelaut bekas pejuang kemerdekaan. Pergolakan itu memuncak pada tahun 1959 dan menjurus ke arah timbulnya bentrokan bersenjata.

Golongan yang tidak dapat menerima kebijaksanaan pimpinan, menuntut supaya Kepala Staf Angkatan Laut diganti. Melihat keadaan tersebut, pemerintah memberhentikan Laksamana Madya Soebijakto dan mengangkat Kolonel R.E. Martadinata (atas saran Soebijakto), yang dalam pertentangan itu bersikap netral, menjadi Pejabat Kepala Staf ALRI. Setelah menjadi Kepala Staf, terhitung 17 Mei 1959, R.E. Martadinata yang saat itu masih berusia 38 tahun berusaha sekuat tenaga mendamaikan kembali golongan-golongan yang tadinya berlawanan sehingga ALRI tetap utuh dan bersatu.

Konflik di dalam tubuh ALRI kembali terjadi pada tahun 1965. Konflik ini dikenal dengan nama Gerakan Perwira Progresif Revolusioner (GPPR) yang menyatakan tidak puas dengan kepemimpinan R.E. Martadinata sebagai Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
/Panglima Angkatan Laut. Gerakan ini kemudian dianggap sebagai pelanggaran militer sehingga kurang lebih 150 perwira yang terlibat dalam gerakan tersebut dimana termasuk diantaranya J.E. Habibie (Mantan Dubes RI di Belanda) dan Pongky Soepardjo (Mantan Dubes RI di Finlandia) dikeluarkan dari dinas Angkatan Laut. Keputusan ini tidak lepas dari saran Letnan Jenderal Men/Pangad 1962
Men/Pangad 1962
Ahmad Yani
yang ketika itu menjabat sebagai Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
/Panglima Angkatan Darat.

Masih di tahun yang sama, terjadi pemberontakan G30S/PKI. R.E. Martadinata mengutuk keras pemberontakan tersebut dan menyatakan ALRI bekerjasama dengan Angkatan Darat untuk menumpas G30S/PKI. Sikap R.E. Martadinata yang mengutuk PKI ternyata tidak disenangi oleh Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
sehingga pada Februari 1966, ia diberhentikan dari jabatan Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
/Panglima Angkatan Laut dan digantikan oleh Laksamana Muda Mulyadi. Sesudah pemerintah Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
berdiri, R.E. Martadinata diangkat menjadi Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI untuk Pakistan terhitung mulai September 1966. Tetapi jabatan ini tidak lama dipangkunya.

Pada saat peringatan HUT ABRI yang ke-21 pada 5 Oktober 1966, ia datang ke Jakarta untuk menerima kenaikan pangkat menjadi Laksamana di Istana Negara. Pada 6 Oktober 1966, R.E. Martadinata mengajak koleganya dari Pakistan, Kolonel Laut Syed Mazhar Ahmed dan istrinya Begum Salma serta isteri Deputy Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan Magda Elizabeth Mari Rauf ke Puncak menggunakan helikopter jenis Alloute A IV 422 yang dipiloti Letnan Laut Charles Willy Kairupan. Saat kembali dari Puncak menuju Jakarta, R.E. Martadinata mengambil alih kemudi pesawat. Tetapi naas, helikopter yang dikemudikannya menabrak lereng gunung di desa Waringgul, Riung Gunung, antara Cimacan dan Puncak Pass, Jawa Barat. Semua penumpang helikopter naas itu tewas.

Jenazah Laksamana Raden Eddy Martadinata dimakamkan di Taman Makam Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Kalibata, Jakarta dengan inspektur upacara Jenderal TNI Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
. Atas jasa-jasanya kepada negara, Laksamana Raden Eddy Martadinata dianugerahi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Nasional berdasarkan SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
No.220 Tahun 1966, tgl 7 Okt 1966. Untuk mengenang jasa-jasanya, dibuat sebuah monumen berupa pesawat helikopter yang berada di dekat Masjid Atta’awun, Puncak, Bogor. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia. Bio TokohIndonesia.com | cid, red (berbagai sumber)

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 19 Feb 2016  -  Pembaharuan terakhir 20 Feb 2016
Si Mice Yang Konyol Visi 4 Misi Dan 4 Strategi

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi

Buku Pilihan

thumb

Buku ini dirancang khusus sebagai panduan perjalanan praktis bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Singapura.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: