WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Gambar QR sudah tersimpan sebelumnya.

Pimpin Pasukan Urung Melawan Penjajah

Pimpin Pasukan Urung Melawan Penjajah
Kiras Bangun | rpr

Pahlawan kebanggaan tanah Karo ini menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatra Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda.

Pemimpin Urung Tanah Karo
Lihat Curriculum Vitae (CV) Kiras Bangun

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Kiras Bangun

Kiras Bangun adalah putra pasangan Tanda Bangun dan Ibu Beru Ginting. Ia dilahirkan di Kampung Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1852. Ayahnya memiliki 3 orang istri. Kiras Bangun lima bersaudara, satu perempuan dan empat laki-laki.

Kiras Bangun tak pernah mengenyam pendidikan formal, karena pada waktu itu sekolah belum dikenal di Tanah Karo. Kiras Bangun diangkat menjadi Ketua Adat Karo Lima Senina dan kemudian menjadi Penghulu Lima Senina di Batu Karang.

Berkat kewibawaan dan kemampuannya dalam menyelesaikan suatu masalah, Kiras Bangun sering ditunjuk menjadi juru damai antar urung (satu kelompok kampung/kumpulan kampung). Pihak-pihak yang bersengketa pun menerimanya sebagai pendamai. Ia juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang arif, tegas dan berwibawa. Dengan kepribadian tersebut, ia dapat mempersatukan sejumlah pimpinan atau raja Telu Kuru, Si Empat Teran, Si Lima Senina Perbesi dengan Kuala, Sepuluh Pitu dan Juhar. Tak heran jika Kepala Kampung mengakuinya sebagai primus inter pares (yang pertama diantara yang sama).

Pada tahun 1901, Belanda membuka markasnya di Kabanjahe. Kuatnya pengaruh ketokohan Kiras Bangun tak luput dari perhatian pemerintah kolonial Belanda sehingga mengajak Kiras Bangun untuk bekerjasama dengan imbalan jabatan, uang dan senjata, namun tawaran itu ditolak Kiras Bangun. Setahun kemudian Belanda kembali menawarkan kerjasama padanya, kali ini dengan mengirimkan pendeta Protestan. Kiras Bangun masih tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda, sang pendeta pun diusirnya.

Penolakan dan pengusiran yang dilakukannya itu membuat Belanda marah. Untuk menghadapi Belanda, rakyat bersepakat untuk membangun benteng pertahanan berupa parit. Kiras Bangun ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi perlawanan untuk menyerbu Kabanjahe berdasarkan hasil musyawarah. Belanda pun berhasil diusir keluar dari Kabanjahe setelah tiga bulan menguasai wilayah itu.

Kerjasama yang digalang dari lintas suku dan agama itu menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Sembisa/Urung.

Setelah peristiwa itu, Kiras Bangun kemudian menggalang kekuatan dengan Aceh. Kerjasama lintas agama pun digalangnya seperti dengan para pejuang Aceh di Tanah Alas, Gayo Lues, Singkil dan Aceh Selatan. Dalam perjuangan menentang Belanda, Kiras Bangun yang memiliki nama lain Gara Mata ini dibantu para tokoh dari Aceh Tenggara dan Aceh Selatan. Gara Mata mengadakan pertemuan urung di Tiga Jeraya sehingga mampu mengerahkan ribuan orang mengangkat sumpah setia melawan Belanda. Kerjasama yang digalang dari lintas suku dan agama itu menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Sembisa/Urung.

Pertemuan urung yang dilakukan pada tahun 1903 itu menghasilkan beberapa kesepakatan penting:

  • Mengusir Belanda sebab mengubah cara tata krama kehidupan rakyat Karo
  • Kalau Belanda datang semua rakyat Karo akan melawan
  • Untuk menghimpun tenaga pasukan yang kuat

Setahun kemudian, terjadi pertempuran antara pasukan Urung dengan Belanda. Korban jiwa pun berjatuhan, sebanyak 20 orang pasukan Urung tewas di Sulalapi, sementara dari kubu Gara Mata sebanyak 10 orang tewas di Lingga, dan 30 orang tewas di Lingga Julu.

Ketika terjadi pertempuran di Batu Karang, Belanda yang saat itu sudah menduduki Kabanjahe diultimatum oleh Kiras Bangun. Tapi ultimatum tersebut tidak ditanggapi dan pertempuran pun kembali terjadi. Karena peralatan yang tidak seimbang maka pasukan Kiras Bangun menerapkan strategi menyerang, melarikan diri lalu berbaur dengan penduduk setempat.

Ketidakseimbangan kekuatan menimbulkan korban jiwa paling banyak dari kubu Kiras Bangun yaitu sebanyak 30 orang tewas sementara korban dari pihak Belanda hanya berjumlah 3 orang. Pasukan Kiras Bangun pun mundur ke Negeri yang terletak 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal, kemudian menuju Lenggamanik.

Walaupun dalam kondisi terpencar, namun keesokan harinya pasukan Urung Gara Mata dapat dikoordinasikan kembali dengan berkumpul di Kuala. Belanda terus melakukan pengejaran, pasukan Kiras Bangun yang terdesak bergerak menuju Liren, Kua Gamber Kemawa, Panah dan Lampetandal sebagai basis pertahanan.

Setelah Belanda berhasil menguasai wilayah Batu Karang, sebanyak 200 tentara melakukan pengejaran terhadap tokoh-tokoh Urung, yaitu Kiras Bangun dan Urung yang dikalahkan sebanyak 15 orang supaya membayar kerugian kepada Belanda.

Dengan taktik perang gerilya, Kiras Bangun kemudian menggerakkan perlawanan dari Aceh Tenggara dan Dairi pada tahun 1905. Sementara Belanda menerapkan strategi tipu muslihat oportuniteit beginsel (prinsip oportunitas atau memanfaatkan situasi). Kiras Bangun yang keluar dari tempat persembunyiannya di Dairi kemudian ditangkap dan dibuang di Riung kemudian dilepaskan pada tahun 1909.

Meski sudah dibebaskan antara tahun 1909-1919, Kiras Bangun masih tetap dalam pengawasan oleh pasukan Marsose Belanda. Dibantu kedua anaknya, Kiras Bangun memimpin gerakan bawah tanah antara tahun 1919-1926 sampai perlawanan di Tanah Karo pun meletus. Anak Kiras Bangun yang ikut membantu perjuangan sang ayah itu dibuang ke Cipinang.

Prinsip Kiras Bangun yang anti-Belanda secara konsisten tetap dipertahankannya melalui bidang kemanusiaan antara tahun 1926-1942. Kiras Bangun meninggal dunia pada 22 Oktober 1942 di Batu Karang. Perjuangan Kiras Bangun memberikan nilai keteladanan dimana ia dapat menyatukan suku-suku bangsa yang berbeda adat istiadat maupun agama untuk melawan penjajah. Atas jasa-jasanya kepada negara, Kiras Bangun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 082/TK/Tahun 2005, tanggal 7 November 2005. Kiras Bangun ditetapkan menjadi pahlawan nasional setelah melalui penelitian dari 13 tim ahli, di antaranya pakar sejarah Anhar Gonggong dan Taufik Abdullah. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 25 Sep 2013  -  Pembaharuan terakhir 25 Sep 2013

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Tito Karnavian

Tokoh Monitor

Jual Buku Biografi Hukum Romli Atmasasmita

Buku Pilihan

thumb

Bagi yang senang berlibur dan berjalan-jalan di Bandung, buku ini sangat cocok untuk dijadikan guide.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: