Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Video Update Data & Sponsorship Intermezzo Komentar

    Menyerbu Belanda Habis-Habisan

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    Menyerbu Belanda Habis-Habisan
    Sultan Agung | TokohIndonesia.com | rpr
    Raja Kerajaan Mataram
    Lihat CV

    Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

    Tutup CV

    Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinannya mencapai zaman keemasan. Hampir seluruh pulau Jawa dari Pasuruan sampai Cirebon berhasil dikuasai. Di bawah kepemimpinannya pula, Belanda di Jakarta beberapa kali diserbu habis-habisan.

    QR Code Halaman Biografi Sultan Agung
    • biografi tokoh indonesia sultan agung
    • mencari foto pahlawan sultan agung
    • sejarah sultan agung kerajaan mataram
    • urutan jabatan kerajaan mataram sultan agung
    • skripsi puncak kejayaan mataram islam zaman sultan agung
    • biodata sultan agung
    • vidio pahlawan menyerang belanda
    • album pahlawan bangsa 2004 sultan agung hanyokrokusumo
    • foto sultan agung
    • gambar pahlawan sultan agung
    • perjuangan sultan agung
    • riwayat hidup sultan agung
    • sejarah sultan agung
    • pulau jawa dan VOC 1745
    • makalah kedudukan pulau jawa dan VOC pada tahun1975
    • kedudukan pulau jawa dan voc
    • kedudukan pulau jawa dan voc pada tahun 1745-1992
    • keduduka pulau jawa dan VOC pada tahun 1745-1992
    • makalah kedudukan jawa dan voc
    • sejarah kehidupan sultan agung wikipedia
    • sejarah kehidupan sultan agung
    • makalah Kedudukan pulau Jawa dan VOC 1745 – 1992
    • pahlawan sultan agung
    • kliping pahlawan pada masa belanda
    • gambar pahlawan pada masa belanda
    • tokoh-tokoh perjuangan belanda minimal 4

    Sultan Agung Hanyokrokusumo lahir di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Yogyakarta
    tahun 1591. Pada tahun 1613 saat berusia dua puluh dua tahun, putera panembahan Seda Krapyak ini diangkat menjadi raja Kerajaan Raja Kerajaan Mataram
    Raja Kerajaan Mataram
    Mataram
    . Ia merupakan raja ketiga Kerajaan Raja Kerajaan Mataram
    Raja Kerajaan Mataram
    Mataram
    Islam. Sultan Agung yang juga merupakan cucu Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya) terkenal tangkas, cerdas dan taat menjalankan agama Islam. Sang kakek yang dilahirkan pada tahun 1591 merupakan penegak Dinasti Raja Kerajaan Mataram
    Raja Kerajaan Mataram
    Mataram
    .

    Sultan Agung adalah seorang raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Hampir seluruh pulau Jawa dari Pasuruan sampai Cirebon berhasil ditempatkan di bawah kekuasaan Mataram. Begitu pula dengan daerah pesisir, seperti Surabaya juga berhasil ditaklukannya agar kelak tidak membahayakan kedudukan Kerajaan Mataram. Hubungan baik ia bina dengan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia terutama dalam hal perdagangan.

    Utusan khusus Kongsi Dagang Hindia Timur Jauh (VOC=Verenigde Oost Indische Compagnie) Dr. H de Haen yang pernah bertemu Sultan Agung menulis: "Pangeran Ingalaga ini adalah seorang yang berada pada puncak kehidupannya, berusia sekitar 20 atau 30 tahun, berbadan bagus. Sejauh penglihatan kami, sedikit lebih hitam dari rata-rata orang Jawa, hidung kecil dan tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam bahasa, dan lamban bila berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan tampak cerdas."

    Ditambahkannya lagi, "Pakaian tidak berbeda dengan pakaian orang-orang Jawa lainnya, dengan kopiah dari kain linen di kepala, dengan kain di badannya yang dilukis dan dibuat di negaranya, berwarna putih-biru, dengan keris di badan bagian depan dan ikat pinggang dari emas yang disebut sabuk. Pada jari-jarinya terlihat cincin dengan banyak intan gemerlapan".

    Gambaran yang indah itu perlu dijelaskan. Kopiah dari kain linen hampir dapat dipastikan adalah kuluk putih (fez tanpa rumbai-rumbai), yang sejak masuknya agama Islam dipakai oleh mereka yang taat beribadah. Kain yang dilukiskan itu adalah kain Desainer
    Lihat Daftar Desainer
    Lihat Daftar Desainer
    desainer
    batik dengan warna putih-biru. Keris masih dipakai di depan dan berbeda dalam perkembangan selanjutnya dimana keris ditaruh di belakang.

    Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kompeni Belanda sudah menguasai beberapa daerah di Indonesia, antara lain Jakarta dan terus berusaha memperluas daerah kekuasannya hingga ke Indonesia bagian timur. Selain VOC, masih ada Kerajaan Banten yang tidak tunduk kepada Mataram. Keadaan itu merupakan bahaya untuk keutuhan dan kebesaran Mataram. Untuk menghadapi bahaya tersebut, langkah pertama untuk menyatukan seluruh Jawa adalah dengan menaklukan sejumlah daerah di Jawa Timur. Oleh karena itu, Lasem ditundukkan pada tahun 1616. Pasuruan, menyusul setahun berikutnya. Kemudian Tuban pada tahun 1619, Madura pada tahun 1624, dan Surabaya pada tahun 1625.

    Dengan keberhasilannya menguasai kerajaan-kerajaan pesisir Jawa Timur, intervensi kekuasaan asing untuk sementara dapat dicegah. Untuk menjaga agar para raja pesisir tidak memberontak, dilakukan politik domestifikasi. Seperti saat penaklukan wilayah Madura, pangeran Prasena yang dikhawatirkan akan memperkuat diri, diharuskan tinggal di Keraton Mataram oleh Sultan Agung. Di Keraton, Prasena mendapat perlakuan baik dan dikawinkan dengan putri Keraton yang bernama Ratu Ibu. Baru setelah menunjukkan kesetiaan kepada raja, Prasena diperbolehkan memerintah Madura dan diberi gelar Pangeran Cakraningrat I.

    Dengan strategi itu, terbina hubungan yang baik dengan berbagai daerah yang telah ditundukkan. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukan itu tidak merasa menjadi "wilayah bawahan" Mataram, melainkan merasa menjadi mitra yang diperhitungkan bahkan terbina hubungan kekeluargaan yang baik. Lewat upaya itu, sebagian wilayah di Pulau Jawa dapat dibina dan disatukan.

    Untuk menghancurkan kedua musuhnya di Jawa Barat, Sultan Agung menawarkan kerjasama dengan VOC untuk menghancurkan Banten. Dalam rencana Sultan Agung, setelah Banten hancur, barulah kemudian VOC diperangi. Namun tawaran kerjasama itu ditolak oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pada masa itu. Coen tampaknya mengetahui bila kerajaan Banten sudah dapat dihancurkan, kongsi dagang itu akan menjadi sasaran Sultan Agung berikutnya. Karena itu, VOC tetap memelihara pertentangan dengan kerajaan itu dan memainkan pengaruhnya di setiap pergantian raja. Raja yang pro VOC akan didukungnya dengan membayar imbalan berupa penyerahan sebagian tanah kerajaan kepada pemerintahan kolonial Belanda.

    Mendapat penolakan itu, Sultan Agung tidak langsung berputus asa. Ia memperbesar angkatan perang Mataram dan rencana untuk menyerang Belanda di Jakarta pun disusun. Sultan Agung merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda. Serangan pertama dilancarkan pada tahun 1628. Sultan Agung mengerahkan sebuah armada yang terdiri atas 59 buah kapal dan pasukan darat berjumlah kurang lebih 20.000 orang. Pasukan tersebut menempuh jalan yang sangat jauh dari Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Yogyakarta
    ke Jakarta.

    Mereka menyerang benteng Belanda dengan persenjataan tombak dan pedang. Beberapa orang panglima perang turut memimpin antara lain Baurekso dan Tumenggung Suro Agul-agul. Untuk membendung serangan hebat itu, VOC mengerahkan 2.866 serdadu. Dalam pertempuran yang berlangsung siang dan malam itu, Belanda dengan meriam-meriamnya berhasil melawan pasukan Mataram. Serangan pertama itu pun berakhir dengan kegagalan.

    Untuk kedua kalinya, pada tahun 1629 pasukan Mataram bergerak lagi melalui jalan darat ke Batavia dengan persiapan yang lebih baik. Pasukan-pasukan berkuda dilengkapi dengan gajah-gajah yang mengangkut meriam. Di beberapa tempat seperti Tegal dan Cirebon didirikan gudang-gudang untuk menyimpan bahan makanan. Kota Batavia dikepung dengan ketat. Meriam-meriam Mataram menghujani benteng-benteng Belanda. Pasukan Mataram berhasil merebut Benteng Hollandia tetapi pasukan Sultan Agung tidak berhasil mempertahankan benteng karena pada waktu itu berjangkit wabah penyakit sehingga banyak pasukan Mataram yang terserang wabah dan meninggal dunia. Selain itu, Belanda dapat pula mengetahui tempat-tempat penyimpanan bahan makanan pasukan Mataram, lalu membakarnya. Serangan yang kedua ini pun mengalami kegagalan.

    Sesudah serangan yang kedua itu, Sultan Agung tidak dapat lagi mengerahkan pasukan untuk menyerang Belanda. Namun, Raja itu tetap tidak mau berdamai dengan Belanda. Ia menutup kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa. Pelabuhan Jepara menjadi satu-satunya bandar yang terbuka bagi dunia dalam perdagangan beras. Ia kembali ke Mataram dan memperkuat pertahanan dalam negeri serta memajukan kemakmuran rakyat. Penutupan kota-kota pelabuhan, seperti Surabaya, Tuban, dan Gresik, menjadikan kerajaan Mataram meninggalkan sifat "agromaritim" (hidup dari hasil pertanian dan perdagangan lewat laut).

    Kerajaan itu menjadi kerajaan pedalaman yang hidup dari pertanian. Mataram menjadi terpencil karena tidak ada relasi dengan kekuatan-kekuatan lain, selain dengan Belanda. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 setelah berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan. Hingga akhir hayatnya, ia tetap tidak mau berdamai dengan VOC meskipun ada tawaran untuk itu. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, sebelah selatan Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Yogyakarta
    . Penggantinya, Sunan Mangkurat I sepeninggal ayahnya segera mengadakan perdamaian dengan Belanda yang menjadikannya bulan-bulanan politik divide et impera ("adu domba", membagi dan menguasai) Belanda.

    Atas jasa-jasanya kepada negara, Sultan Agung dianugerahi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional
    Lihat Daftar Pahlawan Nasional
    pahlawan
    Nasional berdasarkan SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
    Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
    Presiden RI
    No. 106/TK/Tahun 1975, tanggal 3 November 1975. e-ti

    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 28 Sep 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    Suku Karo di Sumatera Utara menamai anak-anak mereka berdasarkan benda apa yang pertama dilihat saat anaknya lahir. Ada yang diberi nama "Kursi" karena benda itu yang ada di depannya. Diberi nama "Surat" karena sang ayah bekerja sebagai tenaga administrasi di Kecamatan, yang setiap hari surat-menyurat. Diberi nama "Timbul" karena lahir bertepatan dengan matahari timbul (baca: terbit). Meskipun sekilas terdengar lucu, semua nama itu mengandung harapan orangtua pada anaknya.

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Jejak rekam Letjen TNI Moeldoko terbilang cemerlang. Dia pernah ikut satuan teritorial, tempur, operasi di dalam dan luar negeri, berkecimpung di lembaga pendidikan termasuk

    Click to view full article

    Dosen senior FEUI yang dikenal sebagai ekonom, peneliti dan konsultan ini pernah menjadi staf khusus Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Keuangan dan berperan di G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional,

    Click to view full article

    Setelah 10 tahun memimpin BTN, Iqbal Latanro didapuk menjadi Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    Utama PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) Persero.

    Click to view full article

    Bernyanyi bagi Harvey Malaihollo tak sekadar profesi tapi bagian dari hidup. Ketika hati gembira atau sedih, ia akan tetap bernyanyi.


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us