gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Menggugah untuk Peduli Tari

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

<< CURRICULUM VITAE
Menggugah untuk Peduli Tari
Irawati Kusumorasri | Tokohindonesia.com | solopos.com
Pekerjaan Utama:
Penari, Guru Tari

Lihat CV

"Like" untuk melihat CV Lengkap



Tutup CV

Irawati Kusumorasri merupakan sosok seniman wanita yang peduli terhadap seni tari Jawa dan belasan karya tari telah dihasilkannya. Dalam misi kebudayaan, ia juga kerap berkunjung ke berbagai negara. Memiliki banyak pengalaman dalam dunia tari, lewat sanggar tari Semarak Chandra Kirana Art Center yang didirikannya, ia berbagi ilmu untuk menjaga kelestarian kesenian khususnya tari Jawa dan seni lainnya. Sebab baginya, memiliki pengetahuan dan meneruskannya kepada orang lain, merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dilakukan.

 

I N D E K S
Hapus highlights

Tag: Guru, penari, tari, UNS, ISI

Misinya membentuk sanggar tari tak sekadar menjadikan anak-anak penari, tetapi memengaruhi banyak orang mencintai kesenian. "Saya ingin mereka mau memelihara kesenian sesuai dengan bidang masing-masing." Maka, demi mewujudkan impiannya melahirkan generasi penerus pelestari kesenian, Ira merekrut anak-anak dan remaja belajar seni tari dan kesenian lainnya di sanggar. Meski biaya kursusnya murah, tak banyak orangtua yang membawa anaknya bergabung.

Kesenian tak akan hidup jika tidak dipentaskan dan didukung masyarakatnya. Maka, harus ada pelaku seni yang menggelar pementasan, termasuk memublikasikannya. Dengan terus dipentaskan, kesenian akan mendapat tempat di hati masyarakat, sehingga bisa lestari.

Berangkat dari pemahaman itulah, Irawati Kusumorasri Penari, Guru Tari Irawati Kusumorasri selama 13 tahun terakhir membagikan ilmu tarinya kepada anak-anak di Kota Solo, Jawa Tengah, dan sekitarnya lewat sanggar tari Semarak Chandra Kirana Art Center. Hingga kini, sudah sekitar 1.000 anak yang pernah belajar di sanggarnya.

Pada saat didirikan tahun 1998, Semarak Chandra Kirana Art Center hanya wadah pembelajaran seni tari Jawa. Dalam perkembangannya, sanggar ini memberikan pelatihan beragam seni tradisi seperti karawitan, membatik, serta melukis wayang dan topeng. "Dengan sanggar tari ini saya tak mengambil untung. Ini sanggar paling murah, biayanya Rp 20.000 per bulan," kata Ira, panggilannya.

Misinya membentuk sanggar tari tak sekadar menjadikan anak-anak penari, tetapi memengaruhi banyak orang mencintai kesenian. "Saya ingin mereka mau memelihara kesenian sesuai dengan bidang masing-masing." Maka, demi mewujudkan impiannya melahirkan generasi penerus pelestari kesenian, Ira merekrut anak-anak dan remaja belajar seni tari dan kesenian lainnya di sanggar. Meski biaya kursusnya murah, tak banyak orangtua yang membawa anaknya bergabung.

Kalaupun ada anak yang mau belajar menari Jawa, mayoritas datang dari keluarga tak mampu. Ira lalu menerapkan sistem "subsidi" di sanggar. Mereka yang kurang mampu mendapat keringanan biaya kursus, bahkan digratiskan. Langkah ini diambilnya, agar anak-anak yang telah belajar tari tak berhenti. "Kebanyakan murid saya yang berasal dari keluarga tak mampu justru berbakat dan serius menggeluti seni. Saya sedih jika mereka sampai berhenti kursus hanya gara-gara biaya," ujar Ira yang selama tiga tahun terakhir tak menaikkan tarif kursus, meski antara pemasukan dan kebutuhan operasional latihan tak seimbang.

Misinya membentuk sanggar tari tak sekadar menjadikan anak-anak penari, tetapi memengaruhi banyak orang mencintai kesenian. "Saya ingin mereka mau memelihara kesenian sesuai dengan bidang masing-masing." Maka, demi mewujudkan impiannya melahirkan generasi penerus pelestari kesenian, Ira merekrut anak-anak dan remaja belajar seni tari dan kesenian lainnya di sanggar. Meski biaya kursusnya murah, tak banyak orangtua yang membawa anaknya bergabung.

Dominasi perempuan

Kini, murid di sanggarnya berjumlah sekitar 100 orang, dan 99 persen di antaranya perempuan. "Sulit mendapatkan murid laki-laki yang mau belajar menari Jawa. Tari Jawa dipandang sebagai tari lembut, jadi jarang ada orangtua yang mau anak laki-lakinya kursus tari Jawa," ujarnya.

Untuk melatih para murid di sanggar, Ira dibantu lima guru yang berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Semangat Ira memelihara kesenian, terutama tari Jawa, mendapat dukungan teman-temannya. Jadilah sistem honor guru di sanggar pun diselesaikan secara kekeluargaan. "Hasil pembayaran dibagi lima, buat para guru. Uang itu lebih sebagai pengganti biaya transpor ketimbang honor. Ternyata mereka punya dedikasi tinggi dalam melatih anak-anak," ujarnya.

Ira tak pernah mengambil uang dari pembayaran biaya kursus murid untuk dirinya. Hal yang sama dia lakukan saat anak-anak didik Semarak Chandra Kirana Art Center pentas dan menerima honor yang nilainya di bawah Rp 5 juta. Sesekali Ira mengambil uang hasil pentas, jika sanggar memperoleh tawaran dengan bayaran hingga belasan atau puluhan juta rupiah. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia menggunakan uang hasil penjualan batik yang dia buat sendiri, dan gaji sebagai pengajar di Akademi Seni Mangkunegaran.

Sejak lima tahun

Ira adalah penari Jawa klasik di Pura Mangkunegaran, Solo. Dia belajar tari tradisi Jawa sejak berusia lima tahun. Bahkan sejak duduk di bangku SMP, ia sering tampil menari bagi turis yang berkunjung ke Pura Mangkunegaran. " Sejak dulu saya punya uang saku dari hasil menari," ujar Ira yang merasa Pendopo Pura Mangkunegaran adalah tempat menari yang paling berkesan sepanjang hidupnya.

Kemampuan menarinya semakin meningkat saat kuliah di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Demikian pula ketika ia bergabung dengan Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS, hingga menguasai tari bedoyo. Ira lalu terlibat dalam berbagai misi kebudayaan ke banyak negara, seperti Jepang, Kamboja, dan Belanda.

"Kenyang" dengan berbagai pengalaman menari, Ira lalu berbagi ilmu sekaligus melestarikan seni Jawa lewat Semarak Chandra Kirana Art Center. "Murid awal sanggar ini adalah anak-anak teman saya. Jumlahnya ketika itu sekitar 25 anak." Kini, setiap empat bulan ia merekrut calon murid lewat tes, melalui berbagai kegiatan bekerja sama dengan mal atau hotel. Cara ini efektif untuk menjaring lebih banyak murid sekaligus mempromosikan tari Jawa.

Pengalaman menari, membuat Ira pada 2006 dan 2007 dipercaya Kementerian Luar Negeri untuk melatih peserta Program IACS (Indonesia Art and Culture Scholarship) dari berbagai negara, untuk belajar seni budaya Jawa. "Walaupun dari berbagai negara, tetapi setelah dikenalkan dengan kesenian Jawa, mereka biasanya langsung jatuh cinta," ujarnya.

Selain itu, awal Juli lalu Ira dipercaya menjadi Ketua Panitia Solo International Performing Arts (SIPA), yang berlangsung 1-3 Juli di Solo. Ia merekrut sekitar 100 mahasiswa untuk terlibat sebagai panitia. "Dengan terlibat di SIPA, mereka semakin mencintai kesenian," ujarnya.

Sukses menggelar SIPA, Ira ingin menjadikan tari sebagai obyek wisata. Ia bertekad tetap melatih generasi penerus seni tradisi Jawa, dengan menggandeng lebih banyak anak—termasuk dari keluarga mampu untuk belajar tari. "Saya punya ilmu dan keterampilan menari. Berdosa jika semua itu saya bawa sampai mati tanpa meneruskannya kepada generasi muda," kata Ira menambahkan. e-ti | hans

Diterbitkan pertama kali di Harian Kompas, Kamis, 21 Juli 2011 di bawah judul: "Misi Melestarikan Seni Tradisi Jawa" | Penulis: Regina Rukmorini & Sonya Hellen Sinombor

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 21 Jul 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Indonesia menjadi tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia yaitu: Pithecanthropus Erectus yang diperkirakan hidup 1,8 juta tahun yang lalu.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini dikenal sebagai sosok pengusaha dan politisi yang kemudian berkecimpung di dunia birokrat. Setelah menjadi anggota DPR periode

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Tegar Sampai Akhir

    nedyne
    Pengkhianat negara gini, ngapain dipublish... entah berapa dibayar WHO buat jadi antek mafia farmasi
     
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh