gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Pelestari 'Dolanan' di Lereng Ungaran

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

<< CURRICULUM VITAE
Pelestari 'Dolanan' di Lereng Ungaran
e-ti | kompas-antony lee
Pekerjaan Utama:
Pendiri Yoss Traditional Center

Lihat CV

"Like" untuk melihat CV Lengkap



Tutup CV

"Arum lan kuncaraning bangsa gumantung marang budi pekerti lan kabudayane" (Keharuman dan kemilau bangsa terletak pada budi pekerti dan kebudayaannya)

Sebagian kenalannya memberikan julukan "pendekar budaya" dari lereng Gunung Ungaran kepada Yossiady Bambang Singgih. Bukan karena ia ahli silat. Julukan itu muncul dari sepak terjangnya membangun Yoss Traditional Center, wadah pelestarian seni budaya dan aneka permainan anak. Modalnya hanya nekat dan secarik surat keputusan pengangkatan pegawai negeri sipil atau PNS.

Yoss Traditional Center (YTC) terletak di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Dusun Suruhan, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 26 kilometer dari Kota Semarang. Udara di wilayah ini sejuk dengan nuansa khas pedesaan yang menyajikan harmoni gemerisik dedaunan yang diempas angin dan suara kicau burung.

Di atas tanah kas Desa Keji seluas 1.000 meter persegi, YTC menampilkan seni budaya lokal masyarakat setempat, berikut aneka dolanan atau permainan anak. Di sini terdapat deretan pesanggrahan bambu, panggung utama yang dilengkapi seperangkat gamelan slendro, serta sejumlah warung yang juga dibalur konsep serba bambu.

Pengunjung yang mendatangi YTC mendapat sajian aneka atraksi yang diawali pertunjukan kuda debog, sejenis kuda lumping yang terbuat dari pelepah pisang. Ada pula permainan bekelan, teklek, sprinto karet, egrang, dakon, gangsingan, serta gamelan. Sebagian besar penampil merupakan anak-anak dari Dusun Suruhan.

"Kami mencoba mengadopsi konsep yang diusung di Bali Classic Center dan Saung Angklung Udjo di Bandung. Pengunjung ditawarkan atraksi budaya setempat," tutur Yossiady.

Ia sengaja memilih dolanan anak sebagai fokus utama YTC karena tergelitik fenomena semakin langkanya permainan tradisional. Anak-anak masa kini lebih mengenal game, playstation, atau televisi yang banyak mengajarkan sifat individualis, bahkan sering kali pula menampilkan kekerasan.

Padahal, permainan tradisional mengajarkan anak-anak nilai sosial sejak dini. Dakon, misalnya, menanamkan sifat tekun, kebersamaan, dan kejujuran. Sedangkan egrang melatih keseimbangan tubuh serta koordinasi otak kiri dan kanan anak. Di YTC, pengunjung tak sekadar melihat, tetapi juga diajak turut mencoba dan kembali "berdamai" dengan permainan masa kanak-kanak.

Hal itu dilakukan Om Yossi, panggilannya di YTC, untuk memenuhi lima unsur yang harus dipunyai setiap tempat wisata. Kelima unsur itu adalah apa yang akan dilakukan wisatawan, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang dibeli, serta kenangan mereka. Dia yakin, jika kelima unsur itu terpenuhi, pengunjung akan datang ke YTC.

Mengagunkan SK pegawai

Upaya Om Yossi membentuk YTC bukan tanpa kesulitan. Sebagai PNS di Kabupaten Semarang, kemampuan ekonominya relatif sedang saja. Rumah tinggalnya pun baru dua tahun terakhir ini bisa ia miliki. Sebelumnya ia menempati rumah dinas yang disediakan Pemerintah Kabupaten Semarang.

Ia "hanya" mempunyai semangat, konsep, kenekatan, dukungan warga, dan surat keputusan (SK) pengangkatan dirinya sebagai pegawai negeri sipil.

SK PNS itulah yang dijaminkannya pada salah satu bank untuk mendapatkan modal membeli seperangkat gamelan slendro bekas seharga Rp 8 juta. Setiap bulan gajinya dipotong untuk membayar pinjaman bank tersebut. Utang itu baru akan lunas menjelang masa pensiunnya setahun mendatang.

Ketertarikan Om Yossi terhadap kesenian dolanan anak-anak itu muncul ketika ia ditugaskan sebagai staf pada Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang awal 2006. Selama dua bulan pertama ia memetakan potensi wisata Kabupaten Semarang. Dalam pencarian itu, ia sampai ke Dusun Suruhan, Desa Keji. Ia jatuh hati menyaksikan warga yang ramah dan memiliki akar tradisi kuda kepang sampai tiga generasi.

Di desa itu terdapat kelompok seni kuda kepang yang dimainkan tiga generasi dalam keluarga, yakni sang kakek, ayah, hingga cucu. Kondisi itu di matanya "ibarat emas 24 karat yang kurang 1 karat, alias 'sekarat'", meskipun semangat warga desa itu begitu besar untuk melestarikan budaya lokal tersebut.

Sejak itulah Om Yossi dan warga setempat mencoba menawarkan paket wisata sehari dengan titik berat atraksi kuda kepang tiga generasi dan permainan tradisional. Pertunjukan itu mendapat respons relatif baik.

Sekali tampil, pengunjung yang berpartisipasi mencapai lebih dari 100 orang. Mulai tahun 2007 dia mencetuskan ide membentuk wadah berupa YTC. Belakangan YTC tidak lagi mengusung konsep wisata sehari, tetapi membuat atraksi tetap setiap hari Minggu mulai pukul 10.00.

Berdayakan masyarakat

Menurut Om Yossi, YTC dapat berjalan dengan baik karena memberdayakan masyarakat setempat. Sekitar 90 warga yang rumahnya berada di sekitar YTC memegang peranan penting.

Sebagian dari mereka ada yang jadi penampil, ada pula yang menjual aneka suvenir maupun makanan khas, seperti getuk tetek melek dan pecel gablok. Pengamanan perangkat penampil dan pemeliharaan juga dilakukan warga setempat.

"Biaya operasional YTC didapat dari saweran para pengunjung. Uang itu dipegang warga setempat dan dibagikan kepada mereka yang terlibat setiap dua bulan," tuturnya.

Dengan model pemberdayaan seperti itu, selain melestarikan tradisi budaya lokal, warga juga bisa menikmati manfaat ekonomi sektor pariwisata. Om Yossi mengaku tak mendapat bagian dari bagi hasil saweran itu. Dia meyakini, masyarakat yang kehilangan kebudayaan mereka akan kehilangan jati diri sehingga perlu diberdayakan.

Bagi dia, menyaksikan tradisi lokal bisa terus hidup, serta senyum ceria anak-anak yang tampil di YTC, merupakan bayaran paling tinggi nilainya.

"Di sini sudah pasti saya enggak bisa kaya, tetapi saya memang tidak menghitung berapa banyak uang yang habis," ungkapnya sambil tertawa.

Namun, dia mengaku beruntung karena istri dan anak tunggalnya bisa menerima kondisi tersebut karena mereka pun mencintai seni budaya. Upaya Om Yossi juga mendapat dukungan dari mereka yang mencintai seni tradisi. Ada orang yang menyumbangkan rumput dan pohon untuk menyejukkan YTC, ada pula seniman yang membuatkan patung Naga Baruklinting yang lekat dengan mitos pembentukan Rawapening di Kabupaten Semarang.

Setelah kegiatan di YTC berjalan, Om Yossi ingin membuat museum dan perpustakaan mainan anak-anak di YTC. Sama seperti ketika mulai mendirikan YTC, ia yakin dengan semangat warga setempat, impian itu segera terwujud. e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 1 Juni 2009 | Antony Lee

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 11 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Cendekiawan muslim Prof Dr Azyumardi Azra merupakan orang Indonesia pertama yang menerima gelar "Sir" dari Ratu Inggris, Elizabeth II. Karena dinilai berjasa dan memberikan kontribusi penting dalam membangun hubungan baik antaragama di tingkat internasional, khususnya antara Indonesia dan Inggris.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini dikenal sebagai sosok pengusaha dan politisi yang kemudian berkecimpung di dunia birokrat. Setelah menjadi anggota DPR periode

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Tegar Sampai Akhir

    nedyne
    Pengkhianat negara gini, ngapain dipublish... entah berapa dibayar WHO buat jadi antek mafia farmasi
     
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh