Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Data & Sponsorship Intermezzo Komentar
    Tokoh dalam Sorotan
    Berita

    Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya
    e-ti | kompas-siwi yunita c
    Perintis PKBM Gajah Mada
    Lihat CV

    Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

    Tutup CV

    Abah adalah panggilan akrab bagi Cecep Maman Suherman, lelaki kelahiran Cirebon, 72 tahun silam ini. Dia menjadi ayah bagi seratusan lebih anak yatim piatu dan tunakarya. Lewat tangannya, para penganggur diajarkan untuk hidup mandiri dan anak yatim piatu bisa tetap bersekolah.

    QR Code Halaman Biografi Cecep Maman Suherman
    • biografi tokoh indonesia cecep maman suherman
    • biografi cecep
    • kompas cecep suherman di cirebon
    • naskah drama anak yatim piatu
    • peran gereja terhadap anak yatim piatu kompas
    • cecep maman suherman

    Cecep adalah perintis Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Gajah Mada. Lembaga yang berkantor di Jalan Brigjen Darsono, Kota Cirebon, Jawa Barat, ini merupakan lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan.

    Setiap tahun ajaran baru, lembaga ini menerima siswa dari berbagai kalangan untuk belajar membuat berbagai kerajinan, atau berwirausaha. Setidaknya ada 23 jenis keterampilan usaha yang diajarkan Cecep, mulai dari membuat kue hingga pengelasan.

    Salah satu produk hasil wirausaha yang belakangan sukses sampai ke mancanegara adalah kerajinan fiberglass, di antaranya berupa kap lampu. Produknya itu berhasil menembus pasar daratan Eropa, antara lain Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, Amerika Serikat, dan Jepang.

    Namun, semua itu tidak diraihnya begitu saja. Cecep merintisnya dari sanggar seni dan kerajinan sejak tahun 1975. Dia memulainya dengan melatih 23 anak yatim piatu dan 12 orang lanjut usia. Mereka membuat kerajinan topeng cirebonan dengan bahan baku tanah liat dan gipsum, serta suvenir miniatur perahu dari bambu.

    Lambat laun sanggar seni dan kerajinan itu berkembang. Mulai tahun 1982, kegiatan sanggar bisa menjadi sebuah PKBM dengan tujuan utama meningkatkan keterampilan masyarakat di bidang seni kerajinan. Dia bekerja sama dengan instansi Departemen Pendidikan Nasional daerah.

    Anak jalanan

    Cecep sejak awal berniat membesarkan lembaga pendidikan yang kini masih berkantor di bekas sekolah dasar di Cirebon ini. Awalnya, yayasan yang ia dirikan tahun 1992 itu ditujukan untuk melatih anak jalanan yang tak mempunyai kemampuan untuk berwirausaha. Tetapi dalam perkembangannya tak hanya anak jalanan yang bisa belajar, para lulusan SMA atau SMK pun ditampungnya.

    Mereka dilatih selama sekitar tiga bulan untuk bisa berkarya dan hidup mandiri. Tekad Cecep saat itu adalah mencetak wirausahawan yang terampil berusaha dalam waktu tiga bulan. Mereka tak perlu belajar sampai tiga tahun seperti di sekolah formal.

    "Kalau saya lihat pengemudi becak, inginnya melatih dia berkarya lebih baik. Ini agar nantinya dia tak hanya menjadi pengemudi becak, tetapi juga bisa membuat jasa reparasi becak," kata Cecep.

    Soal biaya, Cecep memilih tak mematok tarif tertentu bagi siapa pun yang ingin belajar. Jika ada dana dari hasil penjualan kerajinan untuk menggaji guru dan kebutuhan praktik, kursus pun bisa digratiskan.

    Kiprah Cecep di dunia pendidikan pun mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Cirebon. Ia kemudian diberi tempat di bekas gedung sekolah dasar di Jalan Brigjen Darsono dan mendapatkan honor Rp 140.000 per bulan.

    "Sekarang honor saya sudah Rp 280.000 per bulan. Selama ini honor itu digunakan untuk membiayai kebutuhan lembaga. Memang jumlah itu belum mencukupi karena tagihan telepon saja Rp 500.000. Tetapi, kami berusaha mencari solusi agar tetap bisa mengajar. Kalau hasil kerajinan laku, itu bisa menjadi modal lagi," kata penyandang gelar pendekar silat itu.

    Belakangan PKBM ini membuka kelas baru pada bulan Juni-Juli. Oleh karena bekerja sama dengan pemerintah, pendaftaran dan perekrutan juga dilakukan lewat Dinas Pendidikan Kota Cirebon.

    Kesungguhan Cecep menekuni bidang pendidikan nonformal juga membuat dia dipercaya sebagai Ketua Forum Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat se-Jawa Barat periode tahun 2002-2007. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pun menjadikan dia sebagai salah satu mentor untuk pelatihan keterampilan di tingkat nasional.

    Terbiasa berbagi

    Sedari muda, ayah delapan anak ini memang sudah akrab dengan dunia anak yatim. Sejak berusia 39 tahun, Cecep sudah mengurusi anak yatim piatu dan warga lanjut usia yang harus dibiayai hidup dan sekolahnya. Rasa simpati dan empatilah yang menggerakkan penerima penghargaan Upakarti tahun 2008 ini untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

    Berbagi, kata Cecep, bukan sekadar menyisihkan sedikit harta, tetapi sebagian besar kekayaan. Tambak udang dan sebuah vila di daerah Kanci, Cirebon, pun, dia jual dengan rela untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan anak yatim piatu dan orang jompo.

    "Saya ini orangnya tidak tegaan. Jadi, kalau ada keluarga atau orang susah yang datang untuk minta bantuan, ya saya bantu dengan apa yang ada waktu itu. Kalau tidak dibantu, rasanya saya kok tidak bisa enak tidur," katanya.

    Langkah Cecep bisa berlanjut karena dia juga didukung penuh oleh keluarga. Meski awalnya mereka sempat tidak sepakat, pada akhirnya keluarga bisa mengerti, bahkan rela membantu Cecep untuk bekerja sosial.

    Salah seorang putranya, Gempur Ali Toupan, mau menjadi penerusnya, dengan usaha mengekspor kerajinan fiberglass ke Eropa. Dia juga mau meluangkan waktu untuk membantu mengembangkan lembaga pendidikan yang dirintis sang ayah.

    Sejak awal wirausaha

    Dari muda, Cecep tak ingin bergantung pada orang lain sehingga menjadi wirausaha adalah pilihannya. Ia lulus dari IKIP, tetapi bekerja di Bulog sebagai karier awal. Ketertarikannya terhadap dunia usaha membuatnya belajar di Sekolah Tinggi Chemical Industri di Thailand.

    Kembali ke Tanah Air, ia tak hanya menerapkan ilmu di bidang yang dia pelajari, tetapi juga di bidang lain, seperti konstruksi dan pertambakan. Dengan berbagai usaha inilah lembaga yang dirintis Abah bisa tetap bertahan.

    Meski telah mencetak banyak wirausaha, tetapi Cecep masih terus bekerja mengembangkan lembaga pendidikannya. Sementara para bekas siswanya sudah mampu mendirikan berbagai usaha di sejumlah tempat, seperti di Ciamis, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, hingga Pejuang dari Aceh
    Pejuang dari Aceh
    Aceh
    .

    "Masih banyak orang yang menganggur. Krisis global sebenarnya tak berdampak banyak karena pasar masih terbuka untuk barang kita. Tapi, sering kali kita tak jeli melihat peluang itu dan tidak semua orang mau bekerja keras, apalagi berwirausaha," katanya

    Sumpah Palapa Gadjah Mada yang menginspirasi dirinya untuk mendirikan lembaga pendidikan pun masih dia pegang. Oleh karena itulah, meski mempunyai kesempatan untuk hidup lebih layak, Cecep memilih tinggal di rumah sederhana di Kabupaten Cirebon. e-ti

    Sumber: Kompas, Senin 4 Mei 2009 dengan judul" Cecep, Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya" | Siwi Yunita Cahyaningrum

    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 11 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    "Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dirinya." ~ Kahlil Gibran

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Jejak rekam Letjen TNI Moeldoko terbilang cemerlang. Dia pernah ikut satuan teritorial, tempur, operasi di dalam dan luar negeri, berkecimpung di lembaga pendidikan termasuk

    Click to view full article

    Dosen senior FEUI yang dikenal sebagai ekonom, peneliti dan konsultan ini pernah menjadi staf khusus Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Keuangan dan berperan di G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional,

    Click to view full article

    Setelah 10 tahun memimpin BTN, Iqbal Latanro didapuk menjadi Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    Utama PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) Persero.

    Click to view full article

    Bernyanyi bagi Harvey Malaihollo tak sekadar profesi tapi bagian dari hidup. Ketika hati gembira atau sedih, ia akan tetap bernyanyi.


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Menurut Anda, Siapa Tokoh yang Layak Jadi Capres 2014?

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us

    Domain for sale: