gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Ibu (Mantan) Penderita Kusta

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

<< CURRICULUM VITAE
Ibu (Mantan) Penderita Kusta
e-ti | kompas-nina susilo
Pekerjaan Utama:
Dokter

Lihat CV

"Like" untuk melihat CV Lengkap



Tutup CV

Ketika penderita kusta dimarjinalkan, dokter Diana Liben justru dengan telaten menghampiri orang-orang yang oleh sebagian masyarakat dinilai sebagai pembawa penyakit. Bahkan, dia tidak hanya merawat, tetapi juga memberdayakan para penderita kusta agar bisa hidup mandiri.

I N D E K S
Hapus highlights

Tag: dokter, konsultan, Kusta, NLR

Diana Liben bisa disebut sebagai ibu bagi penderita dan mantan penderita penyakit kusta. "Kusta itu relatif tidak berbahaya ketimbang tuberkulosis yang menular, dan bisa menyebabkan kematian. Tidak ada orang yang meninggal karena penyakit kusta. Tetapi, penderita kusta meninggal justru karena kemiskinan," tuturnya.

Kedekatan Diana dengan penderita kusta di Surabaya bisa dikatakan tak diragukan lagi. Suatu hari, ketika melihat mobil yang dikemudikan Diana, puluhan mantan penderita kusta di Pondok Sosial Eks Penderita Kusta Surabaya di kawasan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, langsung tersenyum. Mereka senang melihat perempuan yang sudah sangat mereka kenal itu.

Dalam konteks sosial, penderita kusta memiliki segudang problem sosial. Ketika seseorang menderita kusta, dia pasti mengalami masalah sosial dan kemiskinan. Produktivitas mereka menurun.

Apalagi, sebagian masyarakat enggan menerima produk yang dihasilkan penderita maupun mantan penderita kusta. Trauma penolakan itu juga menimbulkan perasaan rendah diri yang membuat seorang mantan penderita kusta semakin terpuruk.

Akibatnya, mantan penderita kusta semakin sulit untuk menghidupi diri mereka. Kemiskinan terus membelit erat dan membuat mantan penderita harus menerima hidup di penampungan yang disediakan pemerintah di beberapa daerah, seperti Surabaya, Jombang, dan Kediri.

Bahkan, ketika mereka menderita sakit (bukan penyakit kusta) pun, tidak semua rumah sakit mau menerima mereka. Ini lantaran paramedis yang semestinya memahami mantan penderita kusta tidak menularkan penyakit kepada orang lain malah menggunakan dalih ketakutan pengunjung untuk menolak para mantan penderita kusta itu.

Diana merasa kesal melihat diskriminasi yang dialami para mantan penderita kusta. Seharusnya, ketidaktahuan masyarakat diatasi dengan pemberian informasi yang benar. Maka, dengan caranya sendiri, dia membantu para mantan penderita kusta.

Ketika mantan penderita kusta perlu operasi katarak, misalnya, ia mencarikan donor. Ibarat gayung bersambut, ada lembaga yang mau membantunya.

"Syukurlah, semua pasien terkait mata bisa ditangani CBM (Christopher Blind Mission)," kata istri Prof Dr Paulus Liben itu.

Menuju kemandirian

Bertugas sejak tahun 1980 di Puskesmas Sawahan, Surabaya, Diana kemudian bertugas dalam tim yang menangani penderita kusta di Kanwil Departemen Kesehatan Jatim. Ketika itu, ia melayani 133 pasien kusta dari Surabaya dan sekitarnya. Pasien asal Sidoarjo dan Lamongan, misalnya, berobat di tempat yang agak jauh agar tak diketahui warga sekitar tempat tinggalnya.

Saat itu belum ada multidrug treatment. Pengobatan itu baru dicoba tahun 1982 di Surabaya dan digunakan secara merata di Jatim pada 1994. Pengobatan waktu itu hanya menggunakan mono-DDS (diaminodiphenyl sulphone atau dapsone).

Ketika di lapangan, Diana menemukan penderita kusta yang mengalami "reaksi", peradangan akibat tubuh menolak sisa kuman kusta. Reaksi tak kunjung sembuh karena pasien tidur di lantai serta makanannya hanya nasi dan kerupuk.

Melihat kemiskinan dan kekurangan gizi yang membuat pasien kusta tidak membaik, Diana menitipkan uang kepada bidan setempat agar membelikan telur. Setelah diberikan sebutir telur setiap hari, pasien tersebut pulih. Dia juga kerap membantu dengan meminjamkan modal berupa ayam peliharaan. Telurnya bisa untuk menambah gizi mereka.

Bila ayam berkembang biak, tentunya bisa menambah penghasilan. Pasien yang masih memiliki lahan juga diberi pinjaman berupa kambing. Rupanya bantuan itu berkembang. Hasil ternak ayam atau kambing membuat para mantan penderita itu sedikit demi sedikit bisa mencicil pinjaman tersebut.

Hal serupa diterapkan untuk 29 becak atas pinjaman Gereja Algonz, yang kemudian bisa dimiliki mantan penderita kusta yang tinggal di Ponsos Babat Jerawat Surabaya.

"Saya hanya melihat masalah, lalu mencarikan jalan keluar. Kami juga tidak memberi supaya masyarakat lebih bertanggung jawab," ujar Diana.

Rehabilitasi

Kedekatannya dengan penderita kusta dimulai tahun 1997. Kala itu perempuan dengan tiga anak ini berkonsentrasi pada masalah rehabilitasi dan pemberdayaan mantan penderita kusta. Perhatian tersebut membuat Diana yang pensiun pada tahun 2000 langsung diminta menjadi konsultan program penanganan kusta.

Program itu dilakukan atas kerja sama Departemen Kesehatan dan Netherland Leprocy Relief (NLR). Diana pun menjadi konsultan kusta pertama warga Indone sia.

Cakupan tugas yang semula hanya Jatim meluas menjadi Jatim dan Kalimantan Timur pada tahun 2003. Lalu, meluas lagi menjadi se-Indonesia tahun 2004-2008. Pada April 2009 NLR kembali meminta Diana menjadi konsultan program rehabilitasi mantan penderita kusta.

Rehabilitasi, menurut Diana, sangat diperlukan. Sebab, kendati sebagian mantan penderita kusta sudah tinggal bersama masyarakat, masih ada sebagian masyarakat yang meminggirkan mereka. Bahkan, ada pula mantan penderita kusta yang dilarang beribadah bersama warga lain.

Padahal, Jatim adalah wilayah endemik kusta dengan jumlah penderita dan mantan penderita sekitar 100.000 orang. Gresik, Lamongan, dan Tuban sejak tahun 1935 sudah tercatat dalam peta endemis kusta zaman penjajahan Belanda. Sepertiga kasus kusta di Indonesia terdapat di Jatim.

Penambahan penderita kusta di Jatim berkisar 5.000-6.000 orang per tahun. Ini merupakan 30 persen dari jumlah kasus kusta baru di Indonesia yang mencapai 16.000-17.000 orang.

Oleh karena itu, perhatian dan pemberdayaan penderita serta mantan penderita kusta perlu lebih kuat. Hal itulah yang mendorong Diana terus bekerja, membantu para mantan penderita kusta untuk bisa mandiri, sekaligus menghapus diskriminasi masyarakat. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 6 Juni 2009 dengan judul " Diana Liben, Ibu (Mantan) Penderita Kusta" | Ninas Susilo

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 11 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Sebelum digunakan oleh pemerintah Indonesia, Istana Kepresidenan Bogor digunakan sebagai rumah peristirahatan gubernur jenderal Belanda. Tercatat 44 orang gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana yang pada masa penjajahan bernama Istana Buitenzorg.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini dikenal sebagai sosok pengusaha dan politisi yang kemudian berkecimpung di dunia birokrat. Setelah menjadi anggota DPR periode

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Tegar Sampai Akhir

    nedyne
    Pengkhianat negara gini, ngapain dipublish... entah berapa dibayar WHO buat jadi antek mafia farmasi
     
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh