Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Video Update Data & Sponsorship Intermezzo Beri Komentar

    Penyeru Moral dan Penjaga Nilai Kultural

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    Penyeru Moral dan Penjaga Nilai Kultural
    e-ti | a ponco anggoro
    Anggota DPD/MPR, 2009-2014
    Lihat CV

    Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

    Tutup CV

    Haji Mudaffar Sjah merupakan anak ketiga Sultan Ternate ke-47, Iskandar Muhammad Djabir Syah (1929-1975). Setelah ayahnya mangkat pada tahun 1975, ia diangkat menjadi Sultan Ternate ke-48. Saat memimpin kesultanan, Mudaffar yang juga merupakan anggota DPD/MPR 2009-2014 ini di kenal sangat dekat dengan masyarakat. Ia dikenal sebagai sosok penyeru moral dan penjaga nilai kultural warga setempat. Selama 35 tahun bertakhta ia berobsesi membawa nilai-nilai keraton menjadi acuan dalam membangun karakter bangsa. Selain itu ia selalu siap terjun menemui warga kala masalah sosial terjadi di tengah-tengah masyarakat.

     

    QR Code Halaman Biografi Mudaffar Sjah
    • biografi tokoh indonesia mudaffar sjah
    • tokoh notonegoro tingkatan nilai dan moral
    • sultan muhammad djabir syah
    • biografi sultan babullah
    • lambang burung goheba
    • MAKALAH KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGATASI MASALAH BANDARA BABULLAH

    Kata rakyat bagi Mudaffar Sjah bisa bermakna ganda. Pertama, rakyat sebagai konstituen yang telah memilih dia sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah atau DPD asal Provinsi Mantan Sersan Militer Inggris
    Mantan Sersan Militer Inggris
    Maluku
    Utara. Kedua, rakyat yang memberi pengakuan kedaulatan atas takhta yang diembannya selaku Sultan Ternate.

    Tahun ini, bertepatan dengan usianya yang menapak 75 tahun, genap sudah 35 tahun Mudaffar berdaulat sebagai Sultan Ternate ke-48. Usia menyongsong senja, tak mengendurkan semangat pengabdiannya kepada rakyat.

    Awal April 2010 lalu, meski waktu menunjukkan pukul 23.30 WIT, ia antusias mengikuti doru gam , hukum adat Kesultanan Ternate yang mengharuskan sultan menemui rakyat, di kawasan Taleka, Kota Ternate.

    Rakyat telah menanti dia di Taleka sejak pukul 19.00 WIT. Sultan yang sehari-hari disapa Jo Uu Kolano oleh rakyatnya itu menyalami mereka satu per satu. Sosok yang diakui sebagai penyeru moral dan penjaga nilai kultural warga setempat itu memberi wejangan di hadapan rakyatnya.

    Di luar acara adat yang terjadwalkan pun, ia mesti siap terjun menemui warga yang membutuhkan wejangan untuk mengatasi masalah sosial. Semakin banyak warga yang ingin menemuinya, makin sering dia keluar dari kadaton (keraton), kapan pun.

    Sopir taksi yang mangkal di Bandar Udara Babullah Ternate bercerita, bila terjadi pertikaian warga terkait batas desa, umumnya tak bisa ditangani pejabat bupati/wali kota dan gubernur. Di sinilah sultan turun, menancapkan patok batas desa, lalu minta kerumunan warga bubar. Selesailah pertikaian itu.

    Dititipkan

    Mudaffar, anak ketiga Sultan Ternate ke-47, Iskandar Muhammad Djabir Syah (1929-1975), pernah menolak diangkat sebagai sultan. Ia khawatir tak mampu mengemban tanggung jawab itu.

    Apalagi, di pengujung pemerintahan Sultan Ternate ke-47, mulai 1950, kondisi Kesultanan Ternate relatif tak normal. Pemerintah pusat saat itu memaksa sultan pindah ke Jakarta. Kegiatan Kesultanan Ternate pun vakum.

    Dua kali rakyat Ternate meminta Sultan kembali, tetapi hal itu tak bisa dilakukan karena besarnya tekanan politik. Sampai delegasi rakyat Ternate meminta salah seorang anak Sultan kembali ke Ternate.

    "Setelah berulang kali Sultan (sang ayah) memberi penjelasan, tahun 1966 saya pulang melihat situasi di Ternate", cerita Mudaffar, yang sejak itu tinggal di Ternate.

    Dia pun mendekatkan diri dengan rakyat. Ia datangi warga di Mantan Sersan Militer Inggris
    Mantan Sersan Militer Inggris
    Maluku
    Utara dengan menumpang perahu dan berjalan kaki. Tak sulit baginya sebab semasa kanak-kanak sampai usia 10 tahun, dia dititipkan di rumah rakyat untuk menyelami kehidupan warga.

    Upaya mengembalikan eksistensi Kesultanan Ternate dia perjuangkan lewat jalur politik, saat menjadi anggota DPRD Mantan Sersan Militer Inggris
    Mantan Sersan Militer Inggris
    Maluku
    sampai ketika ia menjadi anggota DPR/MPR dari Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Golkar
    . Perjuangan lewat jalur politik terus dia lakukan dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Maluku Utara periode 2009-2014.

    "Berpolitik bagi saya untuk membangun Ternate dan sekitarnya, tidak berorientasi memperkaya diri atau mengejar kekuasaan, ujarnya".

    Ketika ayahnya mangkat pada 1975, Mudaffar ditunjuk sebagai Sultan ke-48 oleh bobato 18 (kumpulan 18 pemimpin masyarakat adat terbesar di Kesultanan Ternate yang berwenang memilih Sultan). Makin intensiflah kegiatannya menyelami kehidupan rakyat.

    Dia lalu menata kembali struktur adat Kesultanan Ternate, mengisi kekosongan jabatan, dan menjalankan sejumlah hukum adat sebagai perekat masyarakat. Maka, Kesultanan Ternate mampu menggelar Legu Gam Moloku Kie Raha atau Pesta Rakyat Maluku Utara, delapan tahun lalu.

    Legu gam (pesta rakyat) sempat vakum sejak 1950. Merupakan ide istri Mudaffar Sjah, Permaisuri Jo Ou Ma Boki Ratu Nita Budhi Susanti Mangaloa, untuk mengangkat budaya Maluku Utara lewat perhelatan itu.

    Permaisuri yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, itu juga menginspirasi berdirinya pendopo berbentuk limasan di belakang kadaton Ternate. Bangunan berpilar kayu jati berukiran Jawa itu menjadi ruang tunggu para tamu.

    Mudaffar bercerita, doru gam muncul kembali karena istrinya sering bertanya, mengapa tak ada mekanisme yang membuat Sultan Ternate harus bertemu rakyat? Mekanisme itu sebenarnya ada, yakni doru gam.

    Maka, dirancanglah serangkaian acara legu gam, yang tiap tahun dirangkaikan dengan kelahiran Mudaffar, 13 April. Semua upaya itu dia lakukan untuk mengembalikan eksistensi kesultanan sekaligus hukum adat yang merekatkan masyarakat di wilayah Kesultanan Ternate.

    Upaya itu bukan untuk memosisikan Kesultanan Ternate sebagai pesaing Pemerintah Indonesia atau menciptakan negara dalam negara. Legu gam yang berlangsung selama 17 hari merangkum ekspresi seni budaya 29 suku di Maluku Utara. Di sini, selain Ternate terdapat tiga kesultanan lain, yakni Tidore, Jailolo, dan Bacan.

    Pengabdi kadaton

    Di Ternate juga ada pengabdi kadaton yang tak menuntut upah. Mereka disebut soangare. Jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka rela mengabdi kepada kesultanan, meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan, petani pala, cengkeh, dan kelapa.

    Meski begitu, Mudaffar tetap memegang teguh filosofi burung elang berkepala dua atau goheba , lambang Kesultanan Ternate. Lambang itu menyimbolkan pemimpin dan rakyat memiliki kedudukan setara.

    Selama 35 tahun bertakhta, ia punya obsesi nilai-nilai keraton menjadi acuan dalam membangun karakter bangsa. Di mata Mudaffar, ketika nilai-nilai demokrasi (versi Barat) diserap tanpa persiapan matang dan diterapkan dalam sistem politik, yang terjadi adalah kerapuhan moral di semua lini.

    Kerapuhan itu muncul antara lain lewat korupsi merajalela di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Nilai-nilai luhur yang jauh dari sifat tamak dan serakah seyogianya dihidupkan kembali. e-ti | red

    Sumber: Kompas, Rabu, 14 April 2010 dengan judul " Mudaffar Sjah, 35 Tahun Berdaulat" | A Ponco Anggoro dan Nasrullah Nara

    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 09 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    Orang pribumi yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesier ("orang Indonesia").

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Jejak rekam Letjen TNI Moeldoko terbilang cemerlang. Dia pernah ikut satuan teritorial, tempur, operasi di dalam dan luar negeri, berkecimpung di lembaga pendidikan termasuk

    Click to view full article

    Dosen senior FEUI yang dikenal sebagai ekonom, peneliti dan konsultan ini pernah menjadi staf khusus Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Keuangan dan berperan di G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional,

    Click to view full article

    Setelah 10 tahun memimpin BTN, Iqbal Latanro didapuk menjadi Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    Utama PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) Persero.

    Click to view full article

    Bernyanyi bagi Harvey Malaihollo tak sekadar profesi tapi bagian dari hidup. Ketika hati gembira atau sedih, ia akan tetap bernyanyi.


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Tokoh Monitor

    Menurut Anda, Siapa Tokoh yang Layak Jadi Capres 2014?

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us