WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Melestarikan Budaya dengan Miniatur

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Melestarikan Budaya dengan Miniatur
e-ti | kompas-lis dhaniati

Tampak dari luar, rumah di Jalan Sekeloa Selatan II, Dipati Ukur, Kota Bandung, itu tak berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Rumah itu berada di antara kepadatan daerah yang menjadi lokasi beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Harapan Bangsa, dan Universitas Komputer Indonesia. Bedanya, di depan rumah itu ada papan nama bertulisan Museum Miniatur Kebudayaan.

 

Pemerhati kebudayaan
Lihat Curriculum Vitae (CV) Tine Mulyatini

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Tine Mulyatini

QR Code Halaman Biografi Tine Mulyatini
Bio Lain
Click to view full article
Cecep Maman Suherman
Click to view full article
Siti Fauzanah
Click to view full article
Sarwata
Click to view full article
Sudharmono
Click to view full article
Rahmad Darmawan
Click to view full article
Siti Hardiyanti Rukmana
Click to view full article
Oesman Sapta

Apa itu "museum miniatur kebudayaan"? Rupanya, sebagian ruangan di rumah tersebut difungsikan untuk memajang miniatur berbagai alat musik dan permainan tradisional Sunda.

"Sebenarnya saya risi menggunakan kata museum. Sebab, dari segi penampilan, masih jauh dari layak untuk museum. Bahkan, akses jalan menuju tempat ini juga kurang mendukung," kata Tine Mulyatini, pemilik rumah itu.

Namun, dia sengaja menulis "museum" karena selama ini Tine merasa prihatin pada kondisi kebudayaan tradisional Sunda yang makin tergerus dan jauh dari perhatian orang. Ia berharap kata "museum" bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk peduli kepada kebudayaan Sunda.

Pengunjung bisa melihat berbagai bentuk miniatur dari benda yang bisa mengingatkan orang pada kebudayaan Sunda. Di sini dipajang antara lain berbagai bentuk alat musik tradisional Sunda, seperti angklung, calung, dan gamelan. Adapun koleksi miniatur permainan tradisional Sunda yang bisa dilihat antara lain kolecer (kincir angin), bandring (katapel), dan totoroktokan. Belakangan ini sebagian besar alat permainan anak-anak itu sudah jarang terdengar, apalagi digunakan.

Selain miniatur alat musik tradisional Sunda dan permainan khasnya, pengunjung juga bisa menikmati miniatur rumah tradisional Sunda. Tak hanya bentuk rumahnya, tetapi juga berbagai alat memasak tradisional seperti hawu (tungku).

Bahkan, untuk membuat orang bisa membayangkan apa saja yang "berbau" tradisional Sunda, Tine melengkapi isi museumnya dengan miniatur berbagai makanan khas Sunda, semisal aliagrem (penganan terbuat dari tepung beras dan gula merah yang digoreng).

Semua miniatur yang dipajang di Museum Miniatur Kebudayaan ini dilengkapi keterangan singkat mengenai sejarah dan kegunaan masing-masing.

"Kami menanggung biaya operasional museum ini secara mandiri," kata Tine. Dia sekaligus menjadi kepala museumnya.

Untuk urusan Museum Miniatur Kebudayaan, Tine bertugas mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan fungsi manajerial. Akan halnya teknis produksi untuk membuat berbagai bentuk miniatur benda-benda khas Sunda, itu dikerjakan oleh dua adiknya, Dadang Surahman dan Ari Irawan.

Permainan anak-anak

Keberadaan museum ini memang baru dirintis empat-lima tahun lalu sehingga relatif belum banyak orang yang tahu keberadaannya. Untuk itulah, pada Februari 2009, misalnya, Tine berusaha "memperkenalkan museumnya" dengan menggelar pentas permainan anak-anak.

Pada acara itu ditampilkan berbagai permainan yang dikenal Tine semasa kanak-kanak, seperti oray-orayan, perepet jengkol, paciwit-ciwit lutung, dan ucang-ucang angge.

"Kami bekerja sama dengan rekan-rekan seniman untuk mengajak anak-anak mengenal permainan tradisional Sunda yang nyaris terlupakan," kata Tine.

Selain demi mempertahankan permainan tradisional khas Sunda, sebenarnya lewat berbagai permainan tradisional itu anak-anak bisa belajar atau "diajari" manfaatnya.

"Permainan tradisional itu tak sekadar mengajak anak-anak bermain, tetapi mereka sekaligus belajar bagaimana harus bekerja sama dalam satu tim, atau bagaimana mereka mesti kreatif," katanya.

Contohnya perepet jengkol. Ini permainan yang melibatkan sedikitnya empat orang anak. Satu kaki mereka berkait-kaitan. Mereka harus bisa berjalan berputar-putar sambil menyanyi.

Museum ini sebenarnya berawal dari Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
. Tine yang semula bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan tekstil di Bandung hanya ingin menambah penghasilan dengan berLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
.

Ide awal mendirikan usaha kerajinan muncul setelah dia melihat kemampuan kedua adiknya, Dadang dan Ari, yang suka dan pandai mengukir. "Mereka belajar mengukir dan membuat berbagai kerajinan secara otodidak. Sambil melatih kemampuan, sesekali Dadang dan Ari menerima pesanan pembuatan produk kerajinan. Saya pikir, mengapa kami tak membuat sendiri produk kerajinan itu?" ceritanya.

Ia dan kedua adiknya lalu mendirikan usaha kerajinan berbendera CV Waditra Indojaya. Dalam bahasa Sunda, waditra berarti alat musik. "Semula motivasi saya hanya Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
, tetapi kami lalu terpanggil untuk ikut melestarikan kebudayaan Sunda dengan kemampuan yang ada," katanya.

Alat-alat musik

Tine memilih membuat miniatur alat musik tradisional Sunda. Pada awalnya mereka hanya memproduksi miniatur alat musik dalam bentuk satuan, misalnya degung atau gong saja. Mereka memanfaatkan pameran sebagai salah satu media pemasaran.

"Saat pameran, kami sering mendapat pertanyaan dari pengunjung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kerajinan yang kami jual, misalnya tentang fungsi dan arti namanya," katanya.

Pertanyaan para pengunjung pameran itu sepele, tetapi Tine ternyata kesulitan memberikan jawaban yang memuaskan. Dia merasa tertantang untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pengunjung.

"Kami berusaha mencari referensi, baik melalui buku, internet, maupun bertanya kepada para seniman," katanya. Pengetahuan itu lalu dituangkan dalam bentuk keterangan singkat yang dilampirkan pada setiap kemasan produknya.

Tantangan lain datang ketika masuk pesanan seperangkat alat musik tradisional Sunda, lengkap dengan panggungnya. Lagi-lagi, dia harus berburu referensi untuk memenuhi pesanan itu.

"Kami jadi tahu lebih banyak tentang jenis-jenis alat musik Sunda berikut fungsinya," ujar Tine yang pada 2005 memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) dalam pembuatan miniatur gamelan terkecil. "Pembuatannya rumit. Kami harus menggunakan kaca pembesar dan pinset," tambahnya.

Selain alat musik, Waditra kemudian memproduksi kerajinan lain, seperti gelang dan kalung. Pada produk ini pun ciri tradisional Sunda tetap dipertahankan. Misalnya, kalung dilengkapi liontin berbentuk topeng Sunda atau lempeng tipis dengan ukiran huruf kaganga (aksara kuno Sunda).

Dari sisi bisnis, usaha cenderamata ini relatif lancar. Namun, motivasi idealis tumbuh setelah melewati berbagai tantangan usaha. "Untuk membuat benda dalam ukuran asli, pasti dibutuhkan banyak biaya. Dengan miniatur, orang bisa memiliki dan mengetahuinya dengan harga relatif terjangkau," kata Tine tentang pemilihan miniatur sebagai produknya.

Meski pesanan relatif tak pernah sepi, Tine merasa belum puas. "Saya ingin Waditra menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Jawa Barat. Di sini orang bisa melihat miniatur benda-benda kebudayaan Sunda. Pengunjung juga bisa belajar membuatnya lewat workshop," kata Tine. e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 30 Maret 2009 "Tine, Melestarikan Budaya dengan Miniatur" | Lis Dhaniati

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 02 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Sutradara Horor Kontemporer Dari Guru Wartawan Hingga Menteri

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Jusuf Kalla

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini bicara bagaimana membuat tulisan cerpen dengan cara yang mudah dan cepat dapat dilakukan, menarik dan ada pola yang jelas.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: