WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Rujukan China Makassar

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Rujukan China Makassar
e-ti | aswin rizal harahap

Kucini'nu ri alloa Kuso'nanu ri bangngia Muri-murinu Kakkala' tamassarronu Tatkala kulihat kau di siang hari Kau jadi mimpi di malam hari Senyum malumu Ada tawa bahagia yang kau pendam

Dosen Sastra dan Budaya di FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar
Lihat Curriculum Vitae (CV) Shaifuddin Bahrum

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Shaifuddin Bahrum

QR Code Halaman Biografi Shaifuddin Bahrum
Bio Lain
Click to view full article
Ali Wardhana
Click to view full article
Sinyo Sarundayang
Click to view full article
Gatot Nurmantyo
Click to view full article
Angelique Widjaja
Click to view full article
Gedong Bagoes Oka
Click to view full article
Teras Narang
Click to view full article
Said Agil Munawar

Itu adalah sebait puisi berbahasa Makassar, ciptaan Ho Eng Dji. Lewat puisi berjudul "Bunga Sibollo" (Sekuntum Bunga) itulah, Shaifuddin Bahrum mulai menelusuri kiprah kelompok etnis Tionghoa di Makassar, Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
.

Bekal akademik dari Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin mendorong Udin, panggilannya, memilih karya sastra sebagai titik awal penelusurannya 10 tahun silam.

Kala itu, tahun 2000, ia diminta Asosiasi Tradisi Lisan di Jakarta untuk mempersiapkan materi kesenian dari Makassar untuk ditampilkan dalam Festival Budaya Peranakan China. Udin tertantang untuk menggali lebih dalam soal keberadaan komunitas kesenian China peranakan.

Setelah berkeliling mencari narasumber, Udin pun berkenalan dengan Giok Suherman, pensiunan TNI mantan anggota Korps Musik TNI AD, di Makassar. Sebagai salah seorang pemerhati lagu-lagu daerah, Giok memberi banyak informasi tentang Ho Eng Dji dan Fui Cung An, pentolan kelompok musik yang didominasi orang China peranakan pada periode 1930-1960-an.

"Ternyata, sejak Republik ini belum berdiri, banyak puisi, pantun, dan lagu daerah Makassar ciptaan seniman China peranakan. Saya semakin tertarik untuk menelusuri kiprah mereka," tutur Udin di kantornya, Jalan Andi Mappaodang, Makassar, pekan lalu.

Lagu-lagu itu antara lain, "Ati Raja", "Amma' Ciang", "Dendang-dendang", "Sailong", "Bunga Sibollo", dan "Malino". Lagu-lagu tersebut sangat melegenda di Bumi Anging Mamiri, tetapi tak banyak yang tahu bahwa itu adalah karya seniman peranakan China.

Ada pula Liem Kheng Yong, seniman yang menerjemahkan 64 cerita klasik China ke dalam bahasa Makassar dengan Lontara', aksara tradisional Bugis-Makassar. Udin pun kian larut dalam penelitiannya. Bahkan ia mendapat tambahan informasi soal perkembangan kelompok musik China peranakan saat bertemu dengan anak dan cucu Fui Cung An.

Mengundang perhatian

Ketika data yang terkumpul semakin lengkap, Udin dikejutkan oleh pembatalan festival tanpa alasan yang jelas. Namun, kondisi itu tak membuat Udin menyerah. Proses penelitian yang sudah berjalan sekitar empat bulan itu dituangkannya dalam bentuk tulisan. "Saya ingin masyarakat tahu tentang besarnya peran mereka (China peranakan) terhadap kebudayaan di Makassar," ungkapnya.

Setelah beberapa tulisannya dimuat dalam harian lokal di Makassar, Udin meluncurkan buku pertamanya yang berjudul China Peranakan Makassar (Pembauran Melalui Perkawinan Antarbudaya) pada 2003. Tiga tahun berselang, Udin mengumpulkan dan menerjemahkan karya sastra Ho Eng Dji sebagai bentuk kekagumannya terhadap seniman yang meninggal dunia tahun 1960 itu.

Kiprah Udin ternyata mengundang perhatian beberapa pakar yang lebih dahulu meneliti kelompok etnis Tionghoa di Makassar, seperti Gilbert Hamonic dan Cladine Simon (Perancis), Heather Sutherland (sejarawan dari Belanda), dan Myra Sidharta. Udin pun mendapat masukan sejumlah literatur yang dibutuhkan untuk memperdalam penelitiannya.

Berbagai bekal tersebut membuat dia semakin percaya diri untuk mengupas sisi lain kelompok etnis Tionghoa. Dua tahun lalu, Udin meluncurkan buku ketiganya, Metamorfosis Masyarakat Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi.

Dalam buku itu Udin menunjukkan bahwa reformasi membawa berkah bagi warga keturunan karena keberadaan mereka akhirnya bisa diterima secara sosial, budaya, dan politik. Udin menggambarkan pergaulannya selama 10 tahun dengan warga Tionghoa seperti pepatah "tak kenal maka tak sayang".

"Saya selalu mengajak serta anak-anak (saya) setiap menghadiri acara agar mereka mengenali betul warga Tionghoa sejak dini," katanya.

Menjadi rujukan

Menjadi seorang penulis sebenarnya bukanlah tujuan utama Udin. Saat masih kuliah, ia justru hanya ingin menjadi dosen di almamaternya, Universitas Hasanuddin. Cita-cita itu berantakan ketika ia terpaksa melepas status dosen luar biasa di Fakultas Sastra yang diemban pada tahun 1993-2001.

Ia sebenarnya sudah diusulkan menjadi dosen tetap oleh dekan. Namun, pihak rektorat justru mengeluarkan surat keputusan untuk orang lain. Meski demikian, semangatnya untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi tak pantang surut. Setahun setelah lulus S-2 Program Studi Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
antropologi
(2005), Udin bekerja di Pedoman Rakyat.

Selama setahun Udin mengasuh rubrik "Persaudaraan" yang berfokus pada aktivitas warga Tionghoa di Makassar. Di tengah kesibukannya, Udin menggagas diskusi budaya rutin setiap perayaan Imlek sejak tahun 2006. "Setelah membedah peranan etnis Tionghoa di masa lampau, diskusi budaya ini dibutuhkan untuk menentukan peranan mereka pada saat ini dan masa mendatang," ujarnya.

Selepas dari harian Pedoman Rakyat, ia mengelola majalah bulanan Pecinan Terkini. Pekerjaan itu datang dari seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
, Adhi Santoso. Majalah yang terbit sejak tahun 2008 itu mengupas berbagai aktivitas sosial, ekonomi, dan politik warga Tionghoa di Makassar.

Berkat konsistensinya dalam memahami kelompok etnis Tionghoa di Makassar, Udin menjadi rujukan sejumlah peneliti. Peneliti Jepang, Makoto Ito, dan Sirtjop Kolhof (Belanda), menemui Udin untuk mengenal lebih jauh kelompok etnis Tionghoa di Makassar.

"Mereka ternyata disarankan oleh Wakil Ketua Walubi Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
Yonggris Lao. Saya sempat terkejut, rasanya saya belum pantas menjadi rujukan," katanya.

Shaifuddin menegaskan, Republik ini dibangun dengan keberagaman asal-usul, budaya, kelompok etnis, dan agama. e-ti

Sumber: Kompas, 21 April 2010 "Shaifuddin, Rujukan China Makassar" | Aswin Rizal Harahap

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 24 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Puitis Dan Suka Berimprovisasi Menghibur Sampai Jauh

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Saya Indonesia Saya Pancasila

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Serial komik sains tentang coelacanth ikan purba.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: