Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Video Update Data & Sponsorship Intermezzo Beri Komentar

    Mengisahkan Kei Lewat Musik

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    Mengisahkan Kei Lewat Musik
    e-ti | kompas-ponco anggoro
    Pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Tual
    Lihat CV

    Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

    Tutup CV

    Lebih dari separuh hidup Eky Talaut dihabiskan untuk memperkenalkan Kei, kampung halamannya di Maluku Tenggara, kepada masyarakat Indonesia. Melalui musik dan lagu, ia ingin berkisah banyak tentang kearifan di tanah leluhurnya.

    QR Code Halaman Biografi Eky Talaut
    • biografi tokoh indonesia eky talaut
    • pidato bahasa kei
    • lagu tarian kei
    • wirausaha berasal dari kata enterpreneur kata enterpreneur secara tertulis digunakan pertama kali oleh sapary tahun 1723 dalam bukunya berjudul
    • dounload lagu-lagu daerah bahasa kei

    Berikut ini adalah sepenggal lagu daerah ciptaanya :Basudara di bumi larwul ngabal Potong kuku rasa di dageng siyo Ale susah beta susah Katong pikir bae bae

    Lirik lagu ini merupakan sepotong lirik dari lagu berjudul Bumi Larwul Ngabal (Tanah Kei) yang ia ciptakan. Secara keseluruhan, lagu itu berpesan agar perbedaan yang ada di antara warga Kei tidak merusak tali persaudaraan.

    Lagu ciptaan Eky ini merupakan satu contoh kecil dari hampir 100 lagu daerah - berbahasa Kei - yang diciptakannya. Tidak berbeda jauh, banyak lagu lainnya pun menyampaikan pesan soal kehidupan masyarakat, hubungan kekerabatan, dan persahabatan di Kei.

    Selain itu, beberapa lagunya juga ada yang menceritakan soal indahnya alam Kepulauan Kei, yang terdiri dari 68 pulau, di tenggara Ambon, Provinsi Mantan Sersan Militer Inggris
    Mantan Sersan Militer Inggris
    Maluku
    .

    "Banyak orang belum mengenal Kei. Melalui musik saya coba mengenalkan Kei," tuturnya. Sebagian dari lagu ciptaannya itu telah direkam perusahaan rekaman dan dipasarkan juga di kota-kota lain di Indonesia.

    Selain mengenalkan Kei ke masyarakat Indonesia, Eky juga membuat lagu-lagu daerah itu untuk melestarikan bahasa daerah Kei di masyarakat Kei sendiri. Apalagi, selama ini tidak banyak lagu daerah berbahasa Kei yang bisa didengarkan warga Kei.

    Alat musik bambu

    Eky menyumbangkan sejumlah lagu ciptaannya untuk dipelajari di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Kei. "Lagu saya ini bersama lagu daerah lain ciptaan musisi senior Kei telah dibukukan dan menjadi acuan pelajaran lagu daerah ke murid-murid," ujarnya.

    Eky tidak berhenti dengan menciptakan begitu banyak lagu. Tahun 2004, dia mencoba mencipta alat musik. Pikiran ini tebersit setelah dia melihat tidak ada alat musik tradisional dari Kei. Mulailah dia membuat sejumlah alat musik berbahan baku bambu.

    "Saat itu saya sedang jalan-jalan di hutan, lalu mendengar suara gesekan pohon bambu yang tertiup angin. Suara itulah yang menginspirasi saya membuat alat musik dari bambu," katanya.

    Namun, untuk mewujudkan mimpi membuat alat musik ini tidak mudah. Tak gampang memilih bambu bagus agar bisa menghasilkan
    suara yang enak didengar. Belum lagi saat harus melubangi bambu untuk membuat rongga suara, atau saat harus memotong kulit bambu untuk dijadikan senar.

    Alhasil, setelah tiga tahun mencoba dia baru bisa membuat satu jenis alat musik. Alat musik yang terdiri dari enam bambu berukuran sekitar setengah meter itu dinamakannya "leiswanwan".

    Setiap bambu ada senarnya. Senar itu berasal dari bagian kulit bambu yang ditipiskan dengan pisau sehingga menyerupai senar gitar. Setiap senar pada setiap bambu menghasilkan suara berbeda.

    Selang satu tahun, dia berhasil membuat alat musik lain. Alat musik yang dinamakan "ekal", kependekan dari namanya Eky Talaut, ini hampir mirip dengan biola. Bedanya, senar menggunakan kulit bambu yang telah ditipiskan dan senar dari dawai menggunakan tali tipis.

    Satu tahun kemudian, Eky berhasil lagi membuat alat musik. Alat musik yang dinamakan "dehir" ini terdiri dari delapan bambu berukuran setengah meter sampai satu meter.

    Setiap bambu dibunyikan dengan memukulkan sandal jepit di ujung bambu sehingga bisa menghasilkan nada mulai do rendah sampai do tinggi atau tangga nada dua oktaf.

    "Dua kali saya mengikutsertakan alat-alat musik ini dalam festival, selalu juara. Rasanya senang karena dengan alat musik ini tujuan semula saya mengenalkan Kei melalui musik bisa tercapai," tuturnya.

    Setiap kali penampilan, alat-alat musik ini tidak berdiri sendiri, tetapi digabung dengan alat musik lain, seperti tifa dan gong. Juga selalu dibarengi nyanyian lagu dan tarian daerah Kei.

    Sukses yang diraih bapak dari tiga anak ini tidak dicapai dengan mudah. Apalagi, Eky terlahir dari keluarga yang ekonominya terbatas.

    Eky dibesarkan di Pulau Tanimbar Kei. Saat itu, untuk mencapai Tual, ibu kota Mantan Sersan Militer Inggris
    Mantan Sersan Militer Inggris
    Maluku
    Tenggara, perlu dua minggu perjalanan dengan kapal laut. Ketika usianya masih 10 tahun, Eky harus berpisah dengan orangtuanya. Dia pindah ke Desa Taar, Tual, untuk melanjutkan pendidikan sekolah dasar.

    Di Taar, dia harus bekerja keras. Sepulang sekolah, Eky harus mencabuti rumput liar yang mengganggu pertumbuhan ketela pohon yang ditanam kerabat tempat dia menumpang.

    Lulus sekolah menengah pertama, dia merantau ke Ambon karena tidak ada lagi biaya untuk melanjutkan sekolah. Setelah hidup terkatung-katung beberapa bulan, dia memperoleh pekerjaan di kapal pencari ikan.

    Hobinya bernyanyi dan bekal bermain gitar, yang pernah diajarkan ayahnya ketika dia masih kecil, mendorong Eky menjadi Lihat Daftar Penyanyi
    Lihat Daftar Penyanyi
    penyanyi
    . Tahun 1976, saat kapalnya sandar di Tegal, Jawa Tengah, dia coba ikut kontes Pop Singer. Di luar dugaan, dia keluar sebagai juara kedua.

    Dengan bekal ini, Eky lalu ke Jakarta dan sempat ke Surabaya untuk mengembangkan hobinya itu. Tahun 1984, dia memutuskan pulang ke kampung halaman dan menjadi musisi lokal. Dia juga diterima bekerja menjadi pegawai negeri sipil.Kerja keras yang dilakoninya itu berbuah. Dia bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai perguruan tinggi. Eky bertekad terus mengenalkan Kei ke masyarakat Indonesia, bahkan ke dunia internasional.

    Sayangnya, tekad ini terbentur soal dana. Dua undangan agar dia memainkan alat musik ciptaannya plus lagu daerah dan tarian Kei di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
    Yogyakarta
    dan Singapura, Agustus mendatang, belum tentu bisa dipenuhinya karena tak ada biaya.

    "Saya sudah meminta bantuan dana ke Pemerintah Kota Tual, tetapi sampai sekarang belum ada jawaban. Sayang, padahal seni Kei ini juga bisa mengangkat nama Indonesia di mata dunia internasional," tuturnya. e-ti

    Sumber: Harian Kompas, Kamis, 8 April 2010 | A Ponco Anggoro

    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 24 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Jejak rekam Letjen TNI Moeldoko terbilang cemerlang. Dia pernah ikut satuan teritorial, tempur, operasi di dalam dan luar negeri, berkecimpung di lembaga pendidikan termasuk

    Click to view full article

    Dosen senior FEUI yang dikenal sebagai ekonom, peneliti dan konsultan ini pernah menjadi staf khusus Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Keuangan dan berperan di G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional,

    Click to view full article

    Setelah 10 tahun memimpin BTN, Iqbal Latanro didapuk menjadi Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    Utama PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) Persero.

    Click to view full article

    Bernyanyi bagi Harvey Malaihollo tak sekadar profesi tapi bagian dari hidup. Ketika hati gembira atau sedih, ia akan tetap bernyanyi.


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Tokoh Monitor

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us