WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Berkarya di Negeri Orang

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Berkarya di Negeri Orang
e-ti | kompas-riza fathoni

Urusan hubungan diplomatik China dan Indonesia bukan terbatas pada hubungan antara pemerintahan kedua negara itu saja. Urusan tersebut juga menjadi soal dalam rumah tangga Mudiro. Keluarga ini terimbas langsung atas naik-turunnya hubungan diplomatik kedua negara di Asia ini.

Editor pada Pustaka Bahasa Asing di Beijing, China
Lihat Curriculum Vitae (CV) Mudiro

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Mudiro

QR Code Halaman Biografi Mudiro
Bio Lain
Click to view full article
Bambang Hermanto
Click to view full article
Iswahyudi
Click to view full article
Paramitha Rusady
Click to view full article
Jansen Sinamo
Click to view full article
Rustriningsih
Click to view full article
Alexander Sonny Keraf
Click to view full article
Putera Sampoerna

Gara-gara hubungan kedua negara yang sempat membeku, hubungan keluarga Mudiro di Beijing dengan keluarga besarnya di Tanah Air pun terputus. Bahkan, mereka sekeluarga sempat tak memiliki paspor Indonesia sejak tahun 1965 karena tidak ada Kedutaan Besar Indonesia di Beijing.

Di tengah kekosongan dan putusnya hubungan dengan Tanah Air itu, tidak terlintas sedikit pun dalam pikiran keluarga Mudiro untuk mengganti kewarganegaraan mereka. Walaupun mungkin ia sekeluarga akan menerima fasilitas yang layak sebagai seorang ahli dari luar negeri.

Ketika hubungan kedua negara mulai mencair pada 1990-an, paspor Indonesia belum juga berada di tangan Mudiro. Mereka baru mendapatkan dokumen penting itu tahun 2002, meskipun pada 2000 dia pernah pulang ke Indonesia dengan menggunakan paspor merah.

"Kami mendapatkan paspor RI tahun 2002 pada masa pemerintahan Presiden Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Abdurrahman Wahid
," katanya.

Tanpa paspor selama sekitar 36 tahun membuat Mudiro dan keluarga tidak dapat menjejakkan kaki di Tanah Air. "Ketika masa pembekuan hubungan itu, jika hendak berkirim surat, harus dititipkan pada orang di luar negeri, muter-muter dulu suratnya, sampai ke Belanda, baru surat itu sampai Indonesia," ujarnya.

Mudiro menjejakkan kaki di China pada Desember 1963. "Ketika itu belum ada penerbangan langsung. Jadi, saya 'terbang' lewat Bangkok, ke Yangon, lalu ke Kunming, baru tiba di Beijing tahun 1964 setelah beberapa hari santai di Kunming," ceritanya, akhir Maret lalu di rumahnya di pusat kota Beijing.

Dia berada di China berkat undangan Pemerintah China karena keahliannya sebagai penerjemah. Mudiro bekerja sebagai waiguo zhuanjia (tenaga ahli asing) di Penerbit Bahasa Asing (PBA) atau Foreign Language Press. Hal ini merupakan perusahaan milik Pemerintah China, anak perusahaan Distribusi Terbitan Bahasa Asing.

Tugasnya tak mudah. Mudiro harus menerjemahkan dan mengedit bahan tulisan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebagian besar tulisan itu tentang Indonesia.

Pada masa-masa sulit tersebut dia tetap bekerja dan menghabiskan masa kontraknya. "Ada perasaan tidak enak, kecewa, sedih, terasing dari keluarga dan masyarakat negeri sendiri," kenangnya.

Tetap aktif

Akan tetapi, dia tak tenggelam dalam kesedihan dan perasaan terasing. "Kesedihan dalam keterasingan segera hilang setelah saya menyadari ada pekerjaan, ada tugas dan kewajiban, ada panggilan, yang harus saya laksanakan. Tugas mengajarkan bahasa Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada orang Tiongkok," ujar Mudiro.

"Hubungan Indonesia-Tiongkok itu punya sejarah panjang dan bermanfaat. Ini tak boleh rusak. Sementara itu, Tanah Air, Jakarta, Surabaya, Trenggalek, Bukittinggi, istri saya orang Minang, terkenang terus siang-malam. Keadaan kami bagaikan pepatah, jauh di mata dekat di hati," ujarnya.

Di tengah kesulitan itu, Mudiro dan keluarga terus membagi ilmu mengenai Indonesia di lembaga-lembaga lain di China. Ia sering diminta memberikan mata kuliah umum tentang berbagai aspek mengenai Indonesia, seperti ilmu bumi, kemasyarakatan, ekonomi, termasuk kebudayaan Indonesia di hadapan mahasiswa Universitas Bahasa-bahasa Asing Beijing.

Pada awal 1980-an, Mudiro juga mulai mengumpulkan kata, istilah, ungkapan, dan peribahasa. Kumpulan kata-kata itulah yang menjadi Kamus Baru Bahasa Indonesia-Tionghoa. Kamus itu diterbitkan tahun 1988. Mudiro bekerja di bawah tim dari Universitas Peking pimpinan Profesor Liang Liji.

Dia juga menyusun Kamus Besar Tionghoa-Indonesia bersama tim pada Penerbit Bahasa Asing. Kamus itu diterbitkan tahun 1995 untuk diedarkan di Indonesia dan pada 1997 untuk diedarkan di China.

"Bagi saya ini penting. Saya bisa 'pulang' ke Indonesia karena nama saya tercantum dalam kamus itu. Meski (waktu itu) secara fisik saya tetap berada di Beijing karena belum diizinkan pulang," ujar bapak dua anak dan kakek dari tiga cucu ini. Pengalaman menyusun kamus selama 15 tahun itu sulit dilupakannya.

Rajin berkeliling

Mudiro pun rajin berkeliling daratan China. Ia banyak menulis tentang perjalanannya ketika berkunjung ke sejumlah daerah. Laporannya itu disiarkan China Radio International (CRI) Seksi Indonesia. Dia juga rajin menyunting artikel tentang seni dan budaya China, lalu disiarkan CRI.

Selain itu, Mudiro dan istrinya juga aktif mengajar di Universitas Bahasa-bahasa Asing Beijing, khususnya mengajar pelafalan bahasa Indonesia.

"Kadang kala para mahasiswa China saya ajak menonton Sutradara
Sutradara
film Indonesia
di rumah, lalu kami berdiskusi atau berjalan-jalan di taman sambil praktik berbahasa Indonesia. Atau, saya membuat masakan Indonesia, seperti gado-gado, nasi kuning, dan mereka mencicipinya," ujarnya.

Mudiro sangat aktif dalam berbagai diskusi dan mendengarkan kuliah yang disampaikan oleh para pengajar jurusan bahasa dan Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin
Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin
sastra Indonesia
di Universitas Peking, seperti Profesor Liang Liji, Huang Shenfang, Kong Yuanzhi, dan Ju Sanyuan.

Dia juga aktif diskusi dengan para Indonesianis dari negara lain, seperti A Teeuw dari Belanda, Denys Lombard dan Claudine Salmon dari Perancis, Stockhoff dari Belanda, dan Langenbergh dari Australia.

"Walaupun saya tidak bisa pulang (ke Indonesia), atas kemurahan hati dan perhatian dari berbagai pihak di Tiongkok, saya memperoleh pengetahuan berharga tentang Indonesia justru dari orang luar Indonesia," ujar Mudiro yang bersyukur bisa mendapatkan perkembangan informasi tentang Indonesia dari para "ahli Indonesia" itu. e-ti

Sumber: Kompas, Rabu, 26 Mei 2010 "Mudiro Berkarya di Negeri Orang | Penulis: Anastasia Joice Tauris Santi

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 23 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Ibu Dangdut Indonesia Kiprah Politik Sang Permaisuri

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Bersikaplah gembira, murah hati, bersuka-cita dan mampu memaafkan. Ya, Anda bisa memiliki semua sikap itu sekalipun Anda miskin harta sama sekali! Tersenyumlah senantiasa sekalipun orang memusuhi Anda. Sang Buddha Tertawa akan menunjukkannya kepada kita.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: