WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Penerus Seni Ukir Wehea

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Penerus Seni Ukir Wehea
e-ti | kompas-ambrosius harto

Kayu ulin sisa atau bekas tidak dia biarkan lapuk membusuk. Di tangan Yakobus Zamrie, pemuda (Dayak) Wehea ini, kayu-kayu ulin atau Eusideroxylon zwageri tersebut dijadikan patung, tangga, topeng, perisai, sampai tempat dan gagang parang berukir motif khas Dayak.

Seniman ukir
Lihat Curriculum Vitae (CV) Yakobus Zamrie

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Yakobus Zamrie

QR Code Halaman Biografi Yakobus Zamrie
Bio Lain
Click to view full article
Armida Salsiah Alisjahbana
Click to view full article
Nursyahbani Katjusungkana
Click to view full article
Lukas Karl Degey
Click to view full article
Happy Salma
Click to view full article
Ryamizard Ryacudu
Click to view full article
Achmad Diran
Click to view full article
Hary Tanoesoedibjo

Yakobus Zamrie yang juga mempunyai nama Wehea, Hat Hong Ha, ini menguasai keterampilan mengukir secara otodidak. "Saya melihat patung-patung itu, lalu mencoba-coba membuatnya sendiri, ternyata bisa," kata Zamrie.

Setelah menyelesaikan program D-1 komputer di Jakarta, Zamrie kembali ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Ketika ditemui, pemuda kelahiran 8 Juni 1973 di Desa Nehas Liah Bing ini bersama dua rekannya hendak melanjutkan mengukir gelondongan kayu ulin. Zamrie dipercaya mengukir tiang-tiang kayu ulin untuk sebuah balai adat desa. Dia sudah menyelesaikan enam dari delapan tiang balai yang didirikan di dekat lapangan sepak bola tersebut.

Enam tiang sudah didirikan dan menyangga rangka-rangka balai adat desa. Tiang-tiang itu tidak seluruhnya bundar seperti tabung. Bagian atas dan dasar berupa potongan tabung mirip roda yang tebal. Bagian tengah tiang berupa bangun ruang segi delapan, di bagian bawahnya seperti tempayan dan roda yang tebal.

Ukiran hasil karya Zamrie memenuhi sisi-sisi segi delapan sepanjang sekitar dua pertiga dari keseluruhan tiang. Bentuk motifnya bermacam-macam, seperti bujur sangkar, persegi panjang, segitiga, lingkaran, spiral, sampai bentuk tumbuhan paku, burung, biawak, buaya, harimau, manusia, naga, dan dewa petir.

Tiang-tiang itu menurut rencana tidak akan diberinya cat atau dipelitur. Dengan demikian, kata Zamrie, bisa terpancar keaslian dan keindahan ukiran-ukirannya. "Satu tiang itu saya kerjakan dalam waktu sekitar dua minggu sampai satu bulan," katanya.

Relatif tidak ada hal khusus yang dilakukan Zamrie sebelum mengerjakan pesanan ukiran. Semua bentuk ukiran itu seakan mengalir begitu saja dari benaknya. Tinggal tangannya yang kemudian mewujudkan berbagai bentuk ukiran Wehea dalam pikirannya itu.

"Supaya bisa mengukir dengan baik, yang saya perlukan cuma tidur yang cukup dan tidak sedang mabuk akibat minuman beralkohol," kata Zamrie menceritakan "rahasianya".

Bakat turunan

Zamrie adalah putra sulung Ledjie Taq, Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing. Dia meyakini bahwa keterampilannya mengukir berasal dari bakat turun-temurun sebab sang kakek juga mempunyai keterampilan mengukir berbagai motif Wehea. Zamrie "tinggal" mengasah keterampilan mengukir itu secara terus-menerus.

"Mertua saya juga terkenal andal sebagai pengukir," kata Ledjie Taq, bapak empat anak dan guru di Sekolah Dasar Negeri 002 Nehas Liah Bing ini.

Menurut Zamrie, semasa kakeknya masih hidup, banyak waktu yang dihabiskan sang kakek untuk membuat berbagai patung dengan bahan baku kayu.

"Untuk membiayai kehidupan keluarga, kakek saya mendapat penghasilan salah satunya dari makanan dan minuman yang dijual di warungnya. Sambil menunggui warung, kakek mengukir patung dan membuat ukir-ukiran yang lain," cerita Zamrie.

Suatu hari, seorang pembeli menghadiahi sang kakek alat-alat ukir buatan pandai besi di Bali. Dengan begitu, sang kakek bisa menghasilkan karya-karya yang lebih halus dan bernilai tinggi saat dijual. Alat-alat itulah yang kemudian diwariskan dan digunakan Zamrie untuk mengukir sampai sekarang.

Zamrie rupanya sudah tertarik mengukir saat masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP). Dia ingin membiayai sendiri sekolahnya karena penghasilan orangtua sebagai guru dan petani ladang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga ini.

Dia teringat, patung pertama buatannya dibeli seorang turis dari Belanda senilai Rp 20.000. Zamrie tidak lagi bisa menghitung berapa banyak karya ukir yang telah dia buat sejak masih duduk di bangku SMP.

Tentang nilai jual ukirannya sekarang, Zamrie tidak menyebutkan angka pastinya. Ia hanya mengatakan bervariasi, hingga jutaan rupiah.

"Upah saya mengukir satu tiang balai adat desa ini, misalnya, Rp 7 juta," tambahnya.

Tiga macam

Menurut Zamrie, ada tiga macam ukiran dalam tradisi Wehea, yakni loweh berupa lekukan ke dalam di wajah, ukiran kecil-kecil, dan pengkang atau ukiran berbentuk patung-patung. Sebuah karya seni yang baik itu minimal mengandung dua dari tiga macam ukiran tersebut.

"Setahu saya, cuma kakek yang mampu membuat karya dengan tiga macam ukiran sekaligus. Saya baru bisa membuat dua dari tiga macam ukiran Wehea karena memang sulit sekali," katanya.

Di antara tiga macam ukiran Wehea, loweh merupakan ukiran khas Wehea. Bentuk ini bisa ditemukan dalam patung manusia. Wajah di pipi melesak ke dalam, kesan yang timbul seakan-akan patung terlihat kurus.

Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya seni ukir itu tidak bisa dipastikan. Zamrie mengatakan, ia perlu waktu sampai lima hari untuk membuat patung, sedangkan untuk mengukir tangga ia memerlukan waktu seminggu dan untuk topeng hedoq (jin) bisa enam hari.

Pergulatan batin

Meski seni ukir telah dikenalnya sejak lama, bagi Zamrie, mengukir tetaplah merupakan pekerjaan yang sulit. Alasannya, di sini diperlukan ketelitian, ketekunan, kesabaran, dan kerja keras. Dia bahkan kerap merasa mengukir itu kurang menguntungkan dari sisi penghasilan. Uang yang dia terima tak pernah pasti, bergantung pada ada dan tidaknya pembeli.

Saat bernasib baik, dalam sebulan ia bisa menjual empat sampai lima karya. Hasilnya memang lumayan, sampai jutaan rupiah. Namun, saat sedang tak ada pembeli, Zamrie terpaksa "gigit jari".

"Pernah dalam satu tahun tak ada pembeli sama sekali," ujarnya. Dalam kondisi seperti ini, kerap terpikir untuk meninggalkan dunia mengukir dan beralih pada pekerjaan lain. "Sulit memenuhi kebutuhan dengan pendapatan yang tak pasti," ujarnya.

Menjadi penjaga stan toko elektronik pun pernah dia lakoni. Namun, entah mengapa dunia mengukir ibarat selalu memanggilnya kembali. Dunia mengukir menjadi keasyikan tersendiri bagi kakak dari tiga Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
anak Ledjie Taq ini. Zamrie pun ingin meneruskan keterampilan yang diturunkan sang kakek.

Kini, bisa dibilang hanya Zamrie-lah pemuda Wehea yang masih mengukir. Teman-teman seusianya lebih memilih bekerja di kota atau pada perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara di dekat desa.

Zamrie menyadari, generasi tua yang masih bisa mengukir akan meninggal dunia. Bila tiada penerus, seni ukir Wehea akan musnah, meski dalam dirinya terus berkecamuk pergulatan antara mempertahankan tradisi dan kondisi riil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Zamrie memang masih bersemangat mengukir. Eksistensi seni ukir Wehea mungkin salah satunya terkait dengan ketahanan dia untuk terus berkarya. e-ti

Sumber: Kompas, Jumat, 1 Mei 2009 "Yakobus Zamrie, Penerus Seni Ukir Wehea" | Penulis: Ambrosius Harto Manumoyoso

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 23 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Peroleh Hikmah Dari Bui Newsmaker Menginspirasi Dunia

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Jual Buku Sutiyoso Sang Pemimpin

Buku Pilihan

thumb

Tubuh manusia merupakan keseluruhan struktur fisik organism manusia. Tubuh manusia terdiri atas kepala, leher, batang badan, 2 lengan dan 2 kaki.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: