gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

40 Tahun Aquarius

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

<< CURRICULUM VITAE
40 Tahun Aquarius
e-ti | kompas-budiarto shambazi
Pekerjaan Utama:
Pemilik studio rekaman Aquarius

Lihat CV

"Like" untuk melihat CV Lengkap



Tutup CV

Kalau mau betah ngobrol musik "claro" (classic rock), Johannes Soerjoko orang yang tepat. Maklum, ia pemilik label dan penjual rekaman musik Aquarius. Perusahaan yang ia dirikan itu tahun ini genap berusia 40 tahun. Ia juga salah satu pelopor yang memperjuangkan pengesahan UU Hak Cipta untuk melindungi musik Barat dari pembajakan. Budiarto Shambazy

 

Aquarius didirikan pada 9 September 1969 saat Ook, panggilannya, baru menginjak usia 20 tahun. Bisnis Aquarius berkembang sehingga pada 1975 ia merambah pada rekaman, dan kini memiliki studio canggih dengan artis- artis Indonesia yang tergolong laku.

Toko penjualan produknya ada empat, dua di Jakarta, satu di Bandung, dan satu di Surabaya. Kenapa nama Aquarius? "Selain bintang saya, Aquarius juga nama lagu favorit saya yang dinyanyikan band The 5th Dimension."

Begitu ngobrol tentang "claro", ekspresi wajah Ook penuh semangat dan mulutnya terus berbicara tentang sejarah musik dari tahun 1969 sampai kini. Ia bisa mengutip sebuah buku mutakhir tentang teknik rekaman, lalu pindah ke topik tentang The Beatles yang me-remaster album-albumnya secara digital, sampai gosip terakhir mengenai Yes.

"Saya beruntung memulai pada 1969 karena itu tahun penting. Waktu itu David Bowie baru muncul dengan hit "Space Oddity", cikal bakal glam rock yang bertahan sampai akhir tahun 1970-an. Led Zeppelin pada tahun itu bikin dua album sekaligus. Simon and Garfunkel juga merilis ’Bridge Over Troubled Water’," katanya.

Di Tanah Air, Ook juga salah satu tokoh sentral di dunia hiburan dan musik. Sebagai orang label, ia termasuk dalam generasi baru setelah nama-nama Eugene Timothy atau Mas Jos. Ia pernah merekam artis-artis legendaris masa lalu, seperti Koes Plus dan God Bless, sampai era saat ini, seperti Dewa.

Ook pula yang demi pertemanan mau ikut membantu rekaman yang dilakukan oleh Warung Kopi. Bersama Radio Prambors, Ook memulai usaha label baru bernama Pramaqua yang cukup tenar pada 1970-an.

Ook memulai bisnis musik karena panggilan hati. Anak Jakarta yang besar di kawasan Jalan Batu Tulis itu bergaul dengan kalangan keluarga ataupun teman yang terbiasa dengan ingar-bingar musik Barat dan Indonesia dalam dekade 1960.

"Pengaruh paling besar datang setelah Orde Baru berkuasa karena kami dapat mendengarkan langsung piringan hitam (PH) impor, bukan lagi hanya mendengar dari radio," kata Ook yang sempat nge-band.

Pergantian rezim juga membuat bisnis musik lebih hidup karena banyak yang ingin mendengarkan The Beatles, Rolling Stones, Bee Gees, Led Zeppelin, atau Deep Purple. Band-band lokal, seperti Koes Plus atau The Rollies, juga mulai merekam PH. Ia terinspirasi mendirikan Aquarius setelah membantu seorang tetangganya membajak rekaman lagu dari PH ke kaset.

"Ketika mulai bisnis, semua saya lakukan sendiri. Saya pilih lagu, merekam, mencatat judul dengan mesin tik, sampai mengirim sendiri kaset ke toko-toko. Setelah Aquarius agak berkembang, saya tetap bekerja sendiri khusus membeli PH di mancanegara," katanya.

Menurut dia, ada tiga fase yang dilalui Aquarius selama 40 tahun. Fase Pertama, merekam lagu Barat tanpa lisensi (1969-1988) alias membajak. Kedua, merekam lagu Barat dengan lisensi (1988-1997), dan ketiga, merekam lagu Indonesia.

Setelah Bob Geldof

Masa pembajakan berlangsung selama sekitar 20 tahun dan dilakukan semua label yang tergabung dalam Asosiasi Perekam Nasional Indonesia (APNI). Asosiasi ini didirikan pada 1975.

"Pada mulanya, kami enggak memikirkan tentang hak cipta karena merekam lagu dari PH untuk teman sendiri. Namun, ketika permintaan mulai besar dan saya mendirikan Aquarius, saya mulai mengerti apa yang kami lakukan sebenarnya melanggar hukum," katanya.

Celakanya, tatkala APNI meminta kejelasan dari pemerintah, jawabannya, "Membajak tak dilarang dan tak dianjurkan."

Situasi berbalik setelah Bob Geldof, musisi yang menggalang upaya pemberantasan pembajakan global, memprotes pembajakan kaset-kaset dari Indonesia terhadap rekaman konser Live Aid yang dijual di Timur Tengah.

Sejak itulah Indonesia jadi sasaran tekanan Barat yang membuat pemerintahan Presiden Soeharto Presiden RI Kedua (1966-1988) Soeharto sejak tahun 1988 memberlakukan UU Antipembajakan. Namun, apa boleh buat, sampai kini giliran label- label yang jadi korban pembajakan. Pada era digitalisasi ini, bisnis penjualan CD ataupun kaset makin anjlok karena semuanya sudah tersedia di internet.

"Pada awal 1980-an penjualan kaset mencapai 80 juta keping per tahun. Namun, pada akhir 1990-an menurun separuhnya. Setelah itu sempat naik lagi sampai jumlah 80 jutaan, tetapi kita keburu dilanda krismon (krisis moneter)," kenang Ook.

Pada saat itulah ia sempat berencana mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan megastore, impian yang tak terwujud karena krismon pula. Salah satu toko Aquarius di Pondok Indah, Jakarta Selatan, malah menjadi korban kerusuhan Mei 1998.

"Saya sedih, CD dan kaset jarahan itu kok malah dibuang ke kali, bukannya untuk didengarkan," katanya.

Kini, Ook yang mempekerjakan ratusan karyawan Aquarius merasa masih ada kewajiban yang harus ia selesaikan: menulis memoar tentang sejarah industri musik negeri ini.

"Paling tidak saya ingin membeberkan proses kelahiran UU Hak Cipta kita yang harus dibanggakan. Saya yakin, kita sebagai bangsa yang besar, secara moral jangan pernah mau mendukung pembajakan, apa pun bentuknya," kata Ook, yang sebagian besar waktunya dimanfaatkan untuk menulis lembar demi lembar halaman buku, yang menurut rencana akan diterbitkan pada akhir 2009 ini.

Ia dapat dikatakan sebagai orang pertama yang mau menulis memoar tentang bisnis musik, wilayah yang belum dijamah siapa pun.

"Saya ingin memoar ini menjadi bahan pembanding bagi generasi baru musik kita yang berkecimpung di industri musik. Betul, sekarang industri ini secara global dihadang berbagai tantangan. Lihat saja, banyak label yang bangkrut. Namun, musik bukan barang yang masa pakainya terbatas. Musik itu abadi dan akan tetap dinikmati siapa pun," katanya.

Ook memberi contoh penjualan CD di tingkat global yang memang terus-menurun. "Namun, saya yakin generasi anak dan cucu saya tidak akan puas hanya dengan menikmati musik yang tersaji secara digital. Mereka ingin memiliki juga artefak artis-artis kesayangan masing-masing, mungkin PH-nya atau CD-nya," kata Ook.

Untuk itulah, meski mengakui Aquarius di Pondok Indah sudah bleeding, Ook tetap mempertahankan tokonya yang terbesar itu sembari berharap suatu hari akan menjadi megastore yang ramai. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 12 September 2009 | Penulis: Budiarto Shambazy

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 23 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Orang pribumi yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesier ("orang Indonesia").

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini dikenal sebagai sosok pengusaha dan politisi yang kemudian berkecimpung di dunia birokrat. Setelah menjadi anggota DPR periode

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Tegar Sampai Akhir

    nedyne
    Pengkhianat negara gini, ngapain dipublish... entah berapa dibayar WHO buat jadi antek mafia farmasi
     
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh