WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Sidik Jari Ngurah dalam Museum

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Sidik Jari Ngurah dalam Museum
e-ti | kompas-putu fajar arcana

Tahun 1967 seorang pelukis mendatangi studio lukis I Gusti Ngurah Gede Pemecutan di Kuta, Bali. Mereka memutuskan untuk melukis bersama di kawasan pantai. Ngurah tiba-tiba marah karena si pelukis kelihatannya berbohong. Lukisan karya pelukis itu tak sebaik sketsa-sketsa yang ditunjukkan sebelumnya kepada Ngurah.

Pelukis
Lihat Curriculum Vitae (CV) Ngurah Gede

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Ngurah Gede

QR Code Halaman Biografi Ngurah Gede
Bio Lain
Click to view full article
Komaruddin Hidayat
Click to view full article
Akbar Tandjung
Click to view full article
Rieke Diah Pitaloka
Click to view full article
Muhammad Noeh
Click to view full article
Sutoyo Siswomiharjo
Click to view full article
Surisman Marah
Click to view full article
Antasari Azhar
BERITA TERBARU

Kemarahan itu rupanya berimbas buruk pula terhadap karya Ngurah Gede Pemecutan. Lukisan tari barisnya tidak berhasil sebagaimana yang dia inginkan.

"Dalam keadaan marah, kemudian saya rusak lukisan dengan jari-jari, lalu saya tinggalkan," tutur Ngurah, akhir Agustus 2009 di Denpasar.

Beberapa lama berselang, ketika ia bengong dalam studionya, lukisan tari baris itu tampak berbeda. "Saya malah ingat apa yang dilakukan Pelukis
Pelukis
Affandi
dengan tangannya. Mulailah saya melukis dengan jari telunjuk," ceritanya.

Kebetulan Pelukis
Pelukis
Affandi
dulu sering berkunjung ke rumah pelukis Bambang Sugeng, yang letaknya di depan rumah Ngurah di kawasan Tanjungbungkak, Denpasar.

"Saya sering mengintip mereka ketika ngobrol tentang bagaimana mereka melukis," ujar Ngurah.

Boleh dikata sejak "kecelakaan" karena marah itu, lahirlah lukisan-lukisan yang menggunakan teknik sidik jari. Lukisan-lukisan karya lelaki kelahiran 4 Juli 1936 ini sebenarnya termasuk dalam aliran pointilisme, gaya yang menyatukan titik-titik sebagai elemen dasar membangun visualisasi.

Bedanya, jika sebagian besar penganut pointilisme menggunakan kuas untuk membentuk titik, Ngurah Gede Pemecutan secara konsisten menggunakan telunjuk. Pada bulatan-bulatan di bidang kanvas secara tidak sengaja tertempel sidik jari si pelukis.

"Maka itu lukisan saya tidak bisa dipalsu," kata Ngurah, tertawa pelan.

Lukisan-lukisan sidik jari karya Ngurah pertama kali justru diapresiasi seorang Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
dari Amerika Serikat, yang kemudian menuliskannya dalam majalah terbitan negeri itu, Horizon. Majalah itulah yang membuat tergugah pihak konsulat AS di Surabaya.

"Tahun 1969 saya sudah memamerkan lukisan-lukisan sidik jari di Konsulat Amerika di Surabaya," kenang Ngurah.

Istimewa

Mungkin lantaran tak banyak memiliki pengikut, lukisan sidik jari temuan Ngurah Gede Pemecutan tak pernah mendapat porsi pembicaraan yang memadai dalam membeber sejarah seni rupa modern di Bali.

Sejarah itu selalu dimulai dari pembicaraan upaya-upaya Rudolf Bonnet dan Walter Spies dalam membentuk kelompok Pita Maha di Ubud tahun 1930-an, yang melahirkan gaya Ubud dan Batuan. Lalu, Arie Smit yang memperkenalkan Young Artist tahun 1960-an, dan meloncat pada lukisan-lukisan karya para anggota Sanggar Dewata yang dipelopori Nyoman Gunarsa tahun 1980-an. Tak ada sebabak pun menyinggung peran Ngurah Gede Pemecutan.

Ngurah ibarat seorang otodidak yang tak memiliki juru bicara. Oleh karena itu, tak banyak yang berminat menekuni gaya melukisnya. Padahal, seniman ini pernah menjadi penata lukisan koleksi Istana Presiden Tampaksiring semasa Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
.

Ia tidak berhenti pada temuan sidik jari sebagai teknik melukis, tetapi secara tegar mengumpulkan seluruh karyanya sejak duduk di bangku SMP hingga kini dalam satu museum.

"Cita-cita membangun museum itu sudah sejak kecil. Saya cuma ingin museum jadi wahana untuk mengenal jejak peradaban, dan yang penting menjadi ruang ekspresi dari generasi ke generasi," tutur Ngurah.

Maka, tahun 1995 berdirilah Museum Lukisan Sidik Jari di atas tanah seluas 1.792 meter persegi di Jalan Hayam Wuruk, Tanjungbungkak, Denpasar. Dalam museum ini dikoleksi 200 karya Ngurah Gede Pemecutan, berupa lukisan dan benda-benda kerajinan, termasuk peralatan melukis dari ijuk, bulu ayam, sampai kuas dalam pengertian terkini.

Museum ini juga menyimpan karya Ngurah Pemecutan sejak masa SMP tahun 1954 serta karya semasa ia menjadi ilustrator Mingguan Bintang Timur tahun 1959 di Malang, Jawa Timur.

Selain rumah tinggal keluarga Ngurah Gede Pemecutan, di kompleks ini juga terdapat wantilan, bangunan serba guna bergaya Bali, serta sebuah panggung terbuka.

Di situlah lelaki keturunan raja dari Puri Pemecutan Denpasar ini membangun simpul aktivitas budaya. Ia mengundang para guru untuk mengajar melukis dan menari bagi mereka yang berminat serta memberikan kepada siapa saja untuk menggunakan wantilan secara gratis.

"Silakan dipakai pentas, seminar, pameran, atau kegiatan lain. Saya tak pernah meminta ongkos," ujarnya.

Keinginan Ngurah Gede Pemecutan sederhana. Di Indonesia museum selalu menjadi tempat menyimpan barang antik yang berdebu dan hanya sesekali dikunjungi.

"Saya ingin, selain museum, di sini juga ada aktivitas kebudayaan," kata Ngurah. Seluruh bangunan dan aktivitas kebudayaan di Museum Lukisan Sidik Jari dibiayai dari hasil penjualan lukisan.

"Seluruhnya saya bangun dan biayai dari hasil lukisan. Saya berpikir, hasil dari kreativitas kebudayaan harus dikembalikan pada asal-muasalnya," ujar Ngurah Gede Pemecutan yang turut andil dalam penataan dan pengisian Museum Mandara Giri di Kompleks Taman Budaya Denpasar.

Ngurah bahkan menjadi tim inti yang pertama-tama meletakkan dasar penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali tahun 1979 silam.

"Waktu itu Gubernur Bali, almarhum Pak Mantra (Prof Dr Ida Bagus Mantra), minta saya menangani pameran kerajinan," katanya.

Kebetulan Ngurah Gede Pemecutan juga bekerja di Departemen Perindustrian yang mengurusi pengembangan kerajinan Bali. Dari tangannyalah kemudian meluncur desain-desain awal bentuk-bentuk kerajinan fungsional, seperti tempat tisu, tempat pensil, dan bingkai cermin. Berbagai bentuk desain kerajinan itu juga tersimpan rapi di museumnya.

Meski kini sudah berumur, Ngurah Gede Pemecutan seperti tak mau berhenti. Ia tetap melukis dan menuliskan kata-kata puisi jika malam-malam menjadi panjang, karena ia tidak bisa tidur.

Puisi-puisi itu dia pahatkan dalam lempeng-lempeng beton yang menyerupai prasasti, ditancapkan di areal kompleks museum. Pada penggalan puisi pertamanya, "Pengabdian", ia menuliskan, "…Hidup ini bagai mimpi/Sepintas lalu pergi//Tapi kuingin hidup ini berarti/Penuh isi dan abadi/Jangan harapkan balas budi…//

Di situlah Museum Lukisan Sidik Jari berdiri sebagai monumen hidup, yang mencatatkan perjalanan seorang tua yang tak lelah mencipta dan memberi segala yang dia miliki. e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 7 September 2009 | Penulis: Putu Fajar Arcana

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 22 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: