WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pelestari Mamaos Cianjuran

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pelestari Mamaos Cianjuran
e-ti | kompas-a handoko

Seni tradisi mamaos cianjuran yang berbentuk penggabungan bacaan kisah adiluhung dengan permainan kecapi mulai berkembang di Cianjur pada 1834. Seni tradisi itu diwariskan oleh Dalem Pancaniti atau RAA Kusumaningrat, Bupati Cianjur saat itu. Mamaos cianjuran merupakan wejangan mengenai kebajikan-kebajikan hidup.

Seniman Mamaos Cianjuran
Lihat Curriculum Vitae (CV) Dadan Sukandar

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Dadan Sukandar

QR Code Halaman Biografi Dadan Sukandar
Bio Lain
Click to view full article
Raden Pandji Soejono
Click to view full article
Effendi Anas
Click to view full article
Romli Atmasasmita
Click to view full article
Bukhari Wiryo Satmoko
Click to view full article
Rizal Djalil
Click to view full article
Slamet Effendy Yusuf
Click to view full article
Said Agil Munawar

Seni tradisi itu dulu dipentaskan saat pernikahan, pertemuan, atau rapat warga yang dianggap sebagai momentum tepat untuk memberikan wejangan. Ketika hiburan modern terus berkembang dalam berbagai bentuk, seni mamaos cianjuran makin terpinggirkan. Belakangan ini seni mamaos cianjuran hampir sulit ditemukan dalam acara-acara yang diadakan masyarakat Sunda-Cianjur.

Dalam tekanan hiburan modern yang sama sekali tak terkendali itu, mamaos cianjuran masih bertahan berkat kesetiaan Dadan Sukandar. Seniman berusia 66 tahun yang sering dipanggil Aki Dadan itu bahkan rela hidup miskin untuk menghidupi idealismenya bersama mamaos cianjuran.

"Mamaos cianjuran jika diterjemahkan kira-kira artinya adalah membaca ciptaan Tuhan. Apa artinya membaca ciptaan Tuhan itu? Mensyukuri segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Kalau itu terjadi, pastilah yang ada hanya kedamaian," ujar Aki Dadan menerangkan filosofi mamaos cianjuran.

Aki Dadan lalu menyanyikan sebuah bait mamaos cianjuran:

"Nyana katiga sabulan

hujan poyan silantangan

necekeun suku katuhu

dilawanan ku tikenca

nojer ka bagal buana

sampiung ngapung ka manggung"

Penggalan mamaos cianjuran dalam bahasa Sunda buhun atau Sunda lama itu merupakan penggambaran susahnya seorang ibu yang sedang mengandung.

"Ketika seorang ibu mengandung, dia sangat kerepotan. Apa-apa terasa tidak enak dirasakannya. Itu berarti, kita sudah merepotkan ibu kita sejak berada dalam kandungan. Untuk itulah, kita wajib menghormati ibu," kata Aki Dadan.

Kewajiban seseorang untuk menghormati ibu yang melahirkan kita hanyalah contoh kebajikan hidup yang ingin disampaikan melalui mamaos cianjuran. Pada dasarnya, mamaos cianjuran memberikan nasihat kepada manusia untuk berhati-hati dalam bertindak selama hidup di dunia.

"Ketika manusia berada di tahap hidup di dunia, dia sebetulnya sedang mempersiapkan kehidupan selanjutnya di alam barzakh atau kubur dan akhirat. Maka, kehidupan manusia di dunia menjadi modal penting untuk hidup di alam selanjutnya," tuturnya.

Aki Dadan sudah mementaskan mamaos cianjuran sejak berumur 17 tahun, bersama ayahnya, Edu Sulaeman Pelukis
Pelukis
Affandi
(almarhum). Awalnya, Aki Dadan tak tertarik dengan mamaos cianjuran. Dia lebih senang belajar gitar, seperti layaknya anak-anak seusianya ketika itu. Sejak kelas tiga Sekolah Rakyat Cianjur, ia belajar gitar. Kemudian, bersama teman-temannya, Dadan suka pentas di panggung dalam sejumlah acara.

Suatu saat Dadan diminta sang ayah untuk belajar kecapi, alat musik petik untuk mengiringi mamaos cianjuran.

"Ayah saya waktu itu memberi alasan, saya harus menjadi penerus seni tradisi mamaos cianjuran. Ketika itu saya baru sadar, ternyata saya tidak menaruh kepedulian terhadap seni tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang," cerita Dadan.

Dia tidak memerlukan waktu lama untuk belajar kecapi karena telah memiliki dasar keahlian memetik gitar. Keahlian dia melantunkan bait-bait mamaos cianjuran seperti yang dimiliki sang ayah juga bisa dikuasainya. Padahal, seni mamaos cianjuran bisa dikatakan sulit dipelajari, terutama bagi orang awam.

Pasalnya, bait-bait dalam mamaos cianjuran umumnya tidak terdokumentasikan dengan baik. Penggalan-penggalan wejangan hidup itu disampaikan secara turun-temurun dalam bentuk lisan, dan itu berarti hanya mengandalkan daya ingat para senimannya.

Soekarno dan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto

Tahun 1960 hingga 1964 Dadan dan sang ayah rutin dipanggil untuk pentas di Istana Cipanas, Jawa Barat, untuk menghibur Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
.

"Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
amat senang dengan mamaos cianjuran. Setiap kali beristirahat di Cipanas, beliau selalu memanggil kami untuk pentas. Dalam setahun, kami bisa dua kali pentas di Istana Cipanas untuk menghibur Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
," cerita Dadan.

Ketika itu, memang hanya Dadan dan ayahnya yang dikenal memiliki keahlian melantunkan mamaos cianjuran.

Masa keemasan mamaos cianjuran masih berlanjut saat Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
berkuasa. Dadan, yang sudah ditinggal wafat sang ayah, beberapa kali dipanggil untuk pentas di Istana Negara dan berbagai acara kebudayaan di Jakarta.

Berbekal kemahirannya melantukan mamaos cianjuran itu, Dadan beberapa kali diminta turut serta dalam tim kebudayaan Indonesia yang melawat ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea. Dadan pun merasa semakin "kebablasan" mencintai mamaos cianjuran.

"Walaupun tidak bisa membuat saya kaya harta, seni mamaos cianjuran memberi banyak saudara. Ke mana-mana saya jadi bertemu saudara," katanya.

Dadan memang mengimplementasikan ajaran hidup dalam mamaos cianjuran itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Hidup miskin

Akibat terlalu menomorsatukan idealismenya bersama mamaos cianjuran, Dadan tidak memiliki pekerjaan lain, taruhlah seperti berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini menyebabkan kehidupan Dadan dan keluarganya tak menentu saat mamaos cianjuran makin jarang dipentaskan.

Dadan bisa dikatakan hidup dalam kemiskinan hingga hari tuanya. Rumahnya di dekat Stasiun Cianjur, Jawa Barat, bahkan hampir roboh pada 2008. Atas inisiatif Ketua Paguyuban Pasundan Cabang Cianjur Abah Ruskawan, bersama Komando Distrik Militer 0608 Cianjur dan sejumlah donatur, rumah itu kemudian diperbaiki hingga kembali layak ditinggali.

Hingga kini, Aki Dadan masih hidup bersama mamaos cianjuran tanpa pekerjaan yang lain. Dia hanya mengandalkan kepedulian komunitas-komunitas seni Sunda untuk menyelenggarakan berbagai acara yang bisa diisi mamaos cianjuran.

Sampai sekarang bisa dikatakan belum ada kaum muda yang mau belajar seni tradisi itu dengan serius meski Aki Dadan membuka diri untuk berbagi kepandaian yang dimilikinya itu.

Bagaimanapun, dia tetap yakin seni tradisi itu dapat menopang hidupnya dan keluarga. Aki Dadan bertekad akan menghabiskan sisa hidupnya untuk tetap melestarikan seni mamaos cianjuran lewat media apa pun yang tersedia. e-ti

Sumber: Kompas, 5 September 2009 " Aki Dadan, Pelestari Mamaos Cianjuran" | Penulis: A Handoko

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 22 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Bela Wiranto Soal Ham Legislator Dan Pendidik Yang Agamais

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Cameragenic atau Auragenic? Temukan jawabannya dalam Camera Branding!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: