WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Kesetiaan Menjaga Sasando

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Kesetiaan Menjaga Sasando
e-ti | lisa.posterous.com

Tepuk tangan terdengar seusai permainan alat musik yang terkadang mirip petikan harpa atau petikan piano. Kerap orang bertanya-tanya sumber alunan musik, lantas bertanya-tanya soal alat musik "bersayap" daun lontar yang bisa memainkan nada-nada indah itu.

Pemain, pembuat, dan guru musik sasando
Lihat Curriculum Vitae (CV) Jacko Hendrick AB

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Jacko Hendrick AB

QR Code Halaman Biografi Jacko Hendrick AB
Bio Lain
Click to view full article
Jacob Nuwa Wea
Click to view full article
Cut Nyak Meutia
Click to view full article
Pong Tiku
Click to view full article
Abdullah Gymnastiar
Click to view full article
Hasnan Habib
Click to view full article
Admi Syarif
Click to view full article
Marwah Daud Ibrahim

Bisa jadi, yang terlihat secara selintasan hanyalah seorang mengenakan ti'i langga (topi dari anyaman daun lontar) dan duduk tertutup oleh lengkungan susunan daun lontar di hadapannya.

Namun, itulah pesona permainan sasando, alat musik tradisional dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Pendengar terhanyut, terninabobokan oleh petikan sasando.

Seusai permainan, pertanyaan soal ketidaktahuan biasa dihadapi Jacko Hendrick Ayub Bullan (37), pemain alat musik sasando dari Rote. Bujangan asal Kupang—yang pada paspornya bernama Yakob HA Bullan, berumur 40 tahun dan bermukim di Jakarta sejak 1999—itu termasuk generasi muda pemain sasando. Saat ini hanya ada kurang dari 10 pemain sasando "serius" yang tersisa di Kupang.

Jacko juga melengkapi kebisaannya sebagai pembuat alat musik sasando. Semua sasando yang dimainkannya adalah buatan sendiri, termasuk sasando elektrik kreasinya. Di rumah sekaligus bengkel kerjanya di kawasan Jakarta Timur, Jacko mengerjakan sasandonya sendiri. Praktis hanya daun lontar dan (sesekali) kayu cendana yang harus dipesan dari Kupang.

Dia juga membuat sasando akustik pesanan orang yang harganya sekitar Rp 2 juta. Harga sasando termahal buatan Jacko bisa mencapai Rp 15 juta jika menggunakan bahan terbaik, termasuk kayu cendana untuk dudukan senar. "Banyak orang Indonesia yang membeli, tetapi akhirnya jadi pajangan atau barang koleksi," kata Jacko. Dia menyebut seorang petinggi media cetak nasional yang asal Flores membeli beberapa sasando buatannya.

Pada akhir September sampai awal Oktober lalu Jacko ikut bermain di luar negeri bersama rombongan kesenian dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam promosi perdagangan dan pariwisata di New York dan Washington (AS) serta Toronto (Kanada). Ini bukan pengalaman baru bagi Jacko. Sebelumnya bujangan santun ini pernah bermain di Spanyol, Singapura, dan Malaysia. "Di Singapura, penonton banyak sekali," cerita Jacko.

Di New York dia seolah hanya pelengkap penderita di acara resepsi peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Gedung PBB. Ketika tetamu sibuk makan dan berbincang, Jacko mesti bermain dengan akustik buruk, tata lampu yang jelek, dan dia terpojok di sudut yang jauh dari perhatian. Di Washington, saat pembukaan Festival Indonesia, kondisinya tak membaik.

Barulah di Toronto, penghargaan itu mulai terlihat. Pembawa acara "Indonesia Jewelry and Cultural Show" pun mengenalkannya secara khusus kepada para pengunjung. "Kalau begini, baru boleh," kata Jacko sambil tertawa bahagia.

Tepuk tangan dan penghargaan itu seolah membayar "kemrungsung" sejak perjalanan panjang dari Jakarta.

Perjalanan sulit

Jacko belajar sasando sejak masih SD, awal 1980-an. Awalnya sulung dari pasangan Apeles Bullan-Yakobah Pah ini terpesona dengan permainan om-omnya dari garis ibu.

Beberapa tahun berselang Jacko memang membuktikannya. Pacar pertamanya adalah warga Australia yang belajar bermain sasando kepadanya. "Entah kenapa, kebanyakan yang mau belajar sasando itu Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
," katanya.

Jacko mulai belajar sungguh-sungguh dari Habel Hanas, kakeknya dari garis ayah. Untuk menguji kesungguhannya, kakeknya tidak serta-merta mengajari Jacko. Keluarga pun tidak sepenuhnya mendukung, tetapi Jacko bersikukuh dengan memain-mainkan sendiri sasando milik kakeknya. "Saya pernah dilempar sepatu karena mengganggu orang tidur," kenang Jacko.

Permainannya mulai membaik pada paruh akhir 1980-an. Saat itu Jacko sudah mulai diundang ke luar Kupang untuk bermain sasando. Pada 1992 Jacko sempat bermain di Provinsi Timor Timur yang waktu itu masih bagian dari Indonesia. Sejumlah daerah lain, seperti Semarang, Denpasar, ataupun Pontianak, pernah pula dikunjungi Jacko remaja.

Di Jakarta dia bergabung dengan komunitas daerahnya. Jacko masuk kehidupan Ibu Kota yang keras. Dia pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di Gereja Abbalove Ministries di kawasan Gunung Sahari.

Jalan mulai terbuka ketika sasando mulai diakrabi kembali. Di tengah kesibukan bekerja di gereja, Jacko mulai merakit sasando. Dia pun mulai bermain di gereja, juga menghibur tetamu pada acara perkawinan dan pesta.

Saat bermain di Ancol rezeki menghampiri. Ada pengunjung yang menawar sasando buatannya Rp 2,7 juta. "Itu uang paling banyak yang saya terima setelah keluar (dari pekerjaan lama)," cerita Jacko.

Selain bermain dan membuat sasando, Jacko juga mengajar bermain sasando. Ada yang privat, ada juga yang berkelompok. Sejumlah warga Jepang di Jakarta, misalnya, secara berkelompok rutin memintanya mengajar di sebuah hotel di Jakarta.

Undangan pentas dan mengajar yang makin padat itulah yang membuat dia kewalahan mengatur jadwal. Misalnya saja, sebuah kafe terkenal di Bandung memintanya bermain secara rutin. Di sisi lain kesibukan memenuhi pesanan sasando juga belum bisa didelegasikan kepada orang lain.

Jacko memutuskan serius bersasando. Pada 6 Juni 2008 dia memutuskan keluar kerja dari gereja saat posisinya meningkat menjadi tenaga keamanan.

Kegelisahan

Di balik keseriusannya memainkan dan membuat sasando, Jacko tidak kuasa menyembunyikan kegelisahannya. Bisa-bisa sasando tinggal kenangan, seperti gambar yang tercetak di uang kertas pecahan Rp 5.000 terbitan 1992 yang sudah ditarik dari peredaran. Pemain sasando semakin sedikit. Yang tersisa sekarang hanyalah pemain dari generasi tua. Di Kupang mungkin hanya tersisa kurang dari 10 orang, sementara di Rote bahkan mungkin sudah tidak ada lagi.

Generasi terakhir pemain sasando-biola di Rote adalah Jusuf Nggebu yang meninggal pada 2007 dalam usia 90-an tahun. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 31 Oktober 2009 "Jacko, Kesetiaan Menjaga Sasando" | Penulis: Sidik Pramono

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 22 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Penerus Seni Ukir Wehea Filsuf Masa Depan

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Kita akan mengetahui tentang masalah pembagian harta warisan berserta hal-hal lain di dalamnya yang masih bersangkutan dengan masalah harta warisan. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh yang memudahkan pembaca untuk mengetahui, mempelajari serta menerapkannya secara otodidak.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: