WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Ketekunan Pemulia Gandum

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Ketekunan Pemulia Gandum
e-ti | kompas-antony lee

Bertanam gandum? Apa benar tanaman iklim subtropis itu bisa diadaptasikan di iklim tropis Indonesia? Begitu antara lain pertanyaan yang sembilan tahun lalu memenuhi benak Djoko Murdono. Ketika itu, dia turut serta dalam upaya menelurkan gandum varietas Dewata yang berasal dari galur DWR 162 asal India.

Dosen, Kepala Pusat Studi Gandum FP UKSW, 2006
Lihat Curriculum Vitae (CV) Djoko Murdono

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Djoko Murdono

QR Code Halaman Biografi Djoko Murdono
Bio Lain
Click to view full article
Soeparno Prawiroadiredjo
Click to view full article
Inu Kencana Syafiie
Click to view full article
Kamanto Sunarto
Click to view full article
Jorga Ibrahim
Click to view full article
Maftuh Basyuni
Click to view full article
Zivanna Letisha
Click to view full article
Bambang Hermanto

Kini, pertanyaan itu terjawab sudah. Tahun ketiga setelah penelitian, upaya Djoko dan beberapa peneliti dari Departemen Pertanian serta sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya membuahkan hasil. Varietas Dewata diluncurkan pada tahun 2003 dengan hasil biji 2,96 ton per hektar dan kandungan protein 13,94 persen. Gandum varietas itu lebih seragam dari sisi hasil dan bentuk biji ketimbang indukannya, DWR 162. Dewata juga tahan terhadap penyakit busuk akar.

Selain Djoko, pemulia varietas Dewata yang tercatat ialah Muslimah, M Jusuf, Sumarny Jaksa Agung (1990-1998)
Jaksa Agung (1990-1998)
Singgih
, Marsum Dahlan, Rudiyanto, Riyo Samekto, dan Bistok Simanjuntak. Awal perkenalan Djoko dengan budi daya gandum dimulai tahun 2000 dalam proyek penelitian seleksi awal dan produksi benih gandum yang disponsori salah satu produsen terigu di Indonesia.

Djoko Murdono dan sejumlah koleganya di Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, mencoba menanam gandum DWR 162 di lahan lebih kurang 3.000 meter persegi di kebun percobaan Salaran, sekitar 5 kilometer dari kawasan wisata Kopeng di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Peneliti lainnya mencoba menanam di Boyolali, Bogor, Pasuruan, dan Malang (Jawa Timur) serta Maros (Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
). Setelah panen, ternyata gandum yang hasilnya baik yang ditanam di Salaran dan Pasuruan.

Penelitian itu terus didalami dengan menyisihkan tanaman gandum yang menyimpang (off type) supaya varietas gandum yang dihasilkan seragam, baik jumlah maupun bentuk bijinya.

"Sewaktu tanam awal suhu di Salaran mencapai 26 derajat celsius karena terlambat tanam sekitar Agustus. Padahal, dalam literatur disebutkan suhu normal gandum 16-21 derajat celsius. Saya khawatir apakah bijinya bagus. Untung hasilnya cukup baik," tutur Djoko saat ditemui di Salaran, awal Oktober.

Tahun 2001-2003, dia tidak terlalu aktif karena studi doktoral di Universitas Gadjah Mada, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
. Namun, lantaran dekat, dia tetap menyempatkan diri membantu. Baru setelah biaya studinya tiba-tiba dihentikan tahun 2003, dia mulai berkonsentrasi penuh mengurusi gandum. Bertepatan pula ketika itu kucuran dana untuk penelitian gandum terhenti pada akhir tahun 2004.

Tanpa pamrih

Sebaliknya, Djoko yang sudah ditunjuk membidani lahirnya Pusat Studi Gandum di FP UKSW kian bersemangat. Meski sejak tahun 2005 otomatis tak ada kucuran dana, dia terus meneliti. Dia membiayai penelitian dengan menjual biji gandum untuk diputar kembali sebagai modal penelitian. Biji gandum off type yang sengaja disisihkan dijual Rp 7.500 per kilogram.

Pada tahun 2007, dia mulai menjual dalam bentuk tepung kasar seharga Rp 7.000 per kilogram. Tahun 2008, produknya ditambah dengan katul (kulit gandum) yang sudah dihaluskan Rp 1.500 per kemasan ukuran 100 gram dengan pembelian minimal 100 kemasan. Hasil penjualan itu yang membuat penelitian gandum di FP UKSW tetap terus bergulir.

"Dia (Djoko) memang orang yang tekun dan tanpa pamrih. Kalau sudah disukainya, walau enggak ada uangnya, dia tetap menekuni. Padahal, enggak ada yang bayar atau menyuruh," tutur Dekan Fakultas Pertanian UKSW Salatiga Prof Dr Sony Heru Priyanto.

Di mata Sony, sejawatnya itu memiliki peranan yang sangat besar dalam pengembangan gandum yang dilakukan FP UKSW, walau dia mengakui penghargaan bagi upaya Djoko itu masih sangat kecil.

Bagi Sony, Djoko juga memiliki kelemahan dalam perencanaan penelitian. "Tapi justru karena itu, dia tetap bisa lakukan penelitian walaupun enggak ada uang atau uangnya sedikit," kata Sony.

Keseharian Djoko memang bersahaja. Bila bepergian, dengan mobil Daihatsu Hijet warna merah keluaran tahun 1984 yang kerap meraung saat melintasi jalan menanjak di ruas Kota Salatiga menuju Salaran. "Saya menyukainya, jadi walaupun enggak ada uangnya saya tetap enjoy," tutur Djoko.

Pangan alternatif

Djoko mengakui masih punya cita-cita mewujudkan idealisme mencoba mengurangi ketergantungan pada gandum impor yang sangat besar, yang sudah menembus 5 juta ton per tahun. Dia khawatir jika tiba-tiba negara eksportir gandum berhenti menjual gandumnya, Indonesia bakal kelimpungan. Apalagi, gandum sudah lekat dengan keseharian, dalam bentuk mi, roti, atau tepung.

Menurut dia, ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan lahan kering, terutama di dataran tinggi karena gandum tumbuh baik di daerah berketinggian 600 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Dia kini masih melakukan uji coba menanam gandum di lahan sulit air, seperti di Kabupaten Semarang, Wonosobo, dan Temanggung (Jateng). Uji coba terutama dilakukan di lahan yang sering ditanami tembakau. Dia optimistis karena masa tanam gandum dan tembakau mirip, dimulai April-Mei menjelang akhir musim hujan.

Selain itu, Djoko dan sejawatnya di Pusat Studi Gandum UKSW memulai tanaman percontohan di Tana Rara dan Lewa di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dia mengaku sedang membidik Dataran Tinggi Lore di perbatasan Kabupaten Palu dan Poso di Sulawesi Tengah yang ketinggiannya 1.000 meter dpl.

"Di situ ada 42.000 hektar lahan yang datar, tetapi hanya ditumbuhi ilalang. Kalau bisa dimanfaatkan, tentu cukup membantu. Untuk bebas impor, setidaknya perlu 2,5 juta hektar, tetapi bisa 1,5 juta hektar saja sudah bagus," tuturnya. e-ti

Sumber: Harian Kompas, Senin, 2 November 2009 | Penulis: Antony Lee

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 21 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Menempatkan Seni Dalam Konteks Budaya Aktivis Sosial Jadi Senator

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Kontradiksi Radikal yang Memotori Kesuksesan di Pabrikan Terbaik Dunia.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: