WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Kerisauan Ahli Waris Musik Bambu Ngada

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Kerisauan Ahli Waris Musik Bambu Ngada
e-ti | kompas-samuel-oktora

Alat musik ini mirip seruling, terbuat dari bambu. Bedanya, seruling ini memiliki dua tabung. Kedua tabung itu disambungkan sedemikian rupa sehingga embusan angin dari sang peniup bisa terbagi ke dua tabung tersebut. Alat musik itu disebut Foy doa.

Petani, pemusik alat musik bambu, pencipta lagu
Lihat Curriculum Vitae (CV) Daniel Watu

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Daniel Watu

QR Code Halaman Biografi Daniel Watu
Bio Lain
Click to view full article
Tumpal Harianja
Click to view full article
Anissa Pohan
Click to view full article
Bob Sadino
Click to view full article
Mohammad Noer
Click to view full article
Rahmat Gobel
Click to view full article
Achmad Sahal
Click to view full article
Sinta Darmariani

Tim Ekspedisi Jejak Peradaban Nusa Tenggara Timur menemukan alat musik itu ketika bergerak ke Kabupaten Ngada, Pulau Flores, NTT. Kabupaten ini terletak di barat Ende. Kawasan ini ditempuh sekitar tiga jam perjalanan darat dengan mobil.

Di Kabupaten Ngada terdapat banyak jenis alat musik etnik bambu yang unik. Ada Bhiru lilu, misalnya, seruling sepanjang 15 sentimeter (cm) yang memiliki dua lubang sekitar 0,5 cm di tengah-tengahnya.

Satu lubang berfungsi untuk meniupkan udara, sedangkan satu lubang lagi yang berdiameter lebih kecil mampu melahirkan nada kres. Sementara bagian kiri-kanannya menjadi tangga nada. Ada juga alat musik Teko reko, semacam kulintang yang memiliki tujuh tangga nada.

Nada pentatonik itu agaknya "turunan" alat musik tradisional Gong Gendang, yang didominasi gong kecil (mirip gambang keromong, alat musik Aktor, Seniman
Aktor, Seniman
Betawi
), dengan tangga nada wela (sol), uto-uto (fa), duru/dere (mi), dan doga (nada do dan re).

Sayangnya, alat musik etnik tersebut nyaris punah. Di Ngada sudah tidak banyak lagi orang yang bisa memainkan alat musik itu, apalagi membuatnya. Tinggal Daniel Watu, pria berusia 62 tahun yang tinggal di Kampung Woloroa, Desa Sarasedu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, yang masih setia dan gigih menekuni alat musik etnik tersebut.

Belum ada orang yang mau mengikuti jejak musisi tua itu untuk memelihara dan menyelamatkan musik bambu Ngada dari kepunahan.

Warisan

Bisa dikatakan, Daniel adalah satu-satunya sosok yang memiliki keterampilan paripurna dan sangat mencintai alat musik tradisi Ngada itu. Dia belajar musik bambu itu dari ibunya, Elisabeth Baba (85).

Saking cintanya kepada sang bunda dan musik bambu, Daniel bercerita, dahulu dia sampai sering membolos dari sekolah. "Saya kemudian bertemu kepala sekolah, saya minta berhenti," kata Daniel mengenang.

Dia kemudian mengisi hari-harinya dengan bertani, juga memainkan Foy doa dan mencipta lagu. Banyak lagu berhasil dia ciptakan dari keakrabannya memainkan musik bambu.

"Kalau tidak salah, sekitar 30 lagu yang saya ciptakan," kata Daniel seraya membolak-balik lembaran buku lusuh berisi dokumentasi lagu-lagu karyanya.

Lagu-lagu ciptaan Daniel kebanyakan bertema rohani, ajaran cinta kasih, atau tentang keseharian kehidupan petani peladang yang merupakan mata pencarian umumnya penduduk di Ngada.

Lagu berjudul "Wula kasu da te'a" (Saat Padi Menguning), misalnya, berkisah tentang keriangan para petani yang terbebas dari pekerjaan di ladang untuk sementara waktu sebelum kembali disibukkan dengan musim petik padi.

Lagu dia lainnya, "Manu Naru" (Ayam Betina), mengisahkan seekor ayam betina yang dipinang ayam jantan dan induk ayam yang mengajak anak-anaknya untuk mengais-kais makanan.

Bersama rekannya bermain seruling, Johanes Wawo, lahir lagu "Tuga Mori Rua" (Dua Anak Cukup) yang merupakan lagu pesanan dari pemerintah agar suami-istri mau mengatur jumlah kelahiran anaknya guna mengatasi ledakan jumlah penduduk.

Mengandalkan perasaan

Pengembangan keterampilan membuat alat musik bambu diperoleh Daniel secara otodidak. Pria yang putus sekolah saat kelas I SMP ini bercerita, ia lebih mengandalkan perasaan saat menyelaraskan nada pada alat musik yang dibuatnya.

Setelah itu, dia baru mengecek kemampuan alat musik tersebut dengan membawanya ke paroki terdekat, menggunakan alat musik organ. Ternyata, 99 persen alat musik bambu karyanya memenuhi standar nada.

Bahan bambu alat musik buatan Daniel selalu diambil saat "gelap bulan" pada musim kemarau atau dua minggu sebelum bulan purnama. Alasannya, ketika "gelap bulan", batang bambu bersih dari serbuk dan kutu kayu. Kondisi ini membuat bambu tahan lama. Bambu yang digunakan untuk membuat seruling adalah bambu pilihan, yaitu bambu betho (petung) berusia matang—sekitar dua tahun.

Dari pengalaman mengutak-atik bambu, Daniel berhasil mendesain seruling yang masing-masing memiliki nada tersendiri: B, G, A, Ais (Bes), B, C, dan D. Pada 2009, satu set (enam unit) alat musik bambu karyanya dibeli seorang pastor asal Manggarai, Flores, seharga Rp 3,5 juta.

Sebagian alat musik buatan Daniel dia simpan sendiri dan dipakai untuk berlatih bersama kelompoknya yang tergabung dalam Sanggar Persada. Latihan itu mereka lakukan untuk memenuhi permintaan mengisi acara pesta perkawinan, ritual potong gigi bagi gadis yang memasuki masa akil balik, serta syukuran setelah seseorang ditahbiskan sebagai imam dalam agama Katolik.

Sayang, karena kurang terawat, kondisi koleksi alat musik itu banyak yang dimakan kutu kayu.

Bercerita tentang bahan baku bambu untuk membuat seruling, Daniel tak pernah kesulitan mendapatkannya. Bambu tumbuh di sejumlah lokasi sekitar hutan kampung itu. Rumpun bambu setiap hari dia lewati saat pergi-pulang dari rumah ke kebun. "Nenek moyang masih banyak punya (bambu)," katanya.

Kerisauan justru muncul karena ia belum tahu bagaimana bisa mewariskan keahliannya itu kepada generasi muda. Tak seorang pun dari anak-anaknya yang mau meneruskan keterampilannya itu. Padahal, menurut Daniel, mereka relatif sudah mahir memainkan seruling karena diajari sejak berusia dini.

"Setelah saya tidak ada, saya tak tahu nasib kesenian ini nanti," katanya galau. e-ti

Sumber: Kompas, 10 Desember 2010 | Penulis: Daniel Watu

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 17 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Sepotong Roti Tawar Mocaf Berawal Tumpangan Pdi Pro Mega

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini dirancang khusus sebagai panduan perjalanan praktis bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Singapura.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: