gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Mengangkat Centhini Modern

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Mengangkat Centhini Modern
e-ti | kompas-arbain rambey
Pekerjaan Utama:
Presiden dari "Preserve Indonesia", 2003-sekarang
Lihat CV
Nama:
Kestity Pringgoharjono
Nama Lahir:
Kestity Adyandini
Lahir:
Jakarta, 10 Februari 1974
Pekerjaan:
Presiden dari "Preserve Indonesia", 2003-sekarang
Suami:
Muljono Pronggoharjono
Anak:
  • Alex
  • Kalara
Pendidikan:
  • Master of Applied Finance, Macquarie University, Sidney
  • Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
  • Art History Course, Teh Victoria and Albert Museum, London
  • Asian Art Diploma, The British Museum, London
Kegiatan:
  • 2003-sekarang: presiden dari "Preserve Indonesia"
  • "Wearable Art" pameran batik di Korea bekerja sama dengan Korea Foundation Cultural Center dan Bin House, Seoul 2010
  • "Indonesia Inspired" bekerja sama dengan Asia House, London, 2008
  • 2006: Penerbitan "The Centhini Story: The Javanese Journey of Lfe" dengan Marshall Cavendish (Times Editions), Singapura 2006
Tutup CV

Kesty mencintai bangsanya, dan ia ingin budaya leluhur dibaca oleh siapa saja. Maka "Serat Centhini" itu mewujud menjadi buku yang bisa dinikmati orang dari London sampai New York.

Kestity Adyandini (36) meraih gelar master di bidang keuangan di Universitas Macquarie, Sydney, Australia. Ia lalu bekerja di bank. Namun, kemudian ia tertarik pada "Serat Centhini," salah satu karya sastra Jawa penting yang muncul di awal era 1800-an.

Kesty, begitu sapaanya, mengonsep dan merealisasikan proyek penerbitan buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life. Buku yang diterbitkan Marshall Cavendish, Singapura, tahun 2006, itu digarap oleh pakar sastra jawa Doktor Soewito Santoso berdasarkan naskah "Serat Centhini". Soewito Santoso (almarhum) saat itu berumur 70-an tahun mengajar di Universitas Nasional Australia. Buku berjenis cofee table ini nyaman dibaca sambil santai. Buku setebal 400 halaman ini disertai foto-foto karya fotografer Fendi Siregar.

Sambil menghidangkan jajan pasar di rumahnya di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Kesty bercerita tentang buku tersebut.

Ada bagian yang mengupas tentang cara orang Jawa memilih istri yang baik, yaitu dengan mempertimbangkan bobot, bebet, dan bibit. Dalam bibit masih diurai lagi, yaitu tentang 20 tipe perempuan, antara lain plongeh, sumeh, manis, dan mrakati. Berikut kutipan aslinya seperti tertulis di halaman 116 buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life:

"Plongeh -- a girl of this type is always kind-hearted, friendly, faithful, well behaved and capable of achieving...."

Kemudian sumeh: perempuan yang murah senyum, kalem, dan sabar. Wajahnya selalu cerah penuh rasa akrab. Manis: wajahnya manis, seluruh tingkah lakunya merupakan sumber pesona. Mrakati: perempuan yang penuh kehangatan, penuh gairah hidup, dan sabar.

"Banyak yang cantik, tetapi orangnya boring, membosankan, karena enggak ada isinya," kata Kesty setelah membaca apa yang diuraikan dalam Centhini.

"Kalau dibaca, itu semua menjadi pengingat," tutur ibu dua anak itu.

Begitulah nilai-nilai, tata kehidupan, dan falsafah Jawa yang tertuang dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Jawa di buku "Serat Centhini" yang dibuat pada kisaran tahun 1814. Materi itu kemudian diolah menjadi buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life.

"Ya, mengapa karya sastra Jawa itu tak dibawa ke dunia modern. Saya pengen buku ini bisa diakses semua orang."

"Tapi, saya kalau disuruh baca karya aslinya, ya, bisa puyeng dan mblenger, he-he-he...," kata perempuan berdarah Minang-Jawa itu.

Kesty mencari pakar sastra Jawa yang mampu mengolah "Serat Centhini" menjadi bacaan nyaman bagi siapa saja. Dari perpustakaan Mangkunegaran, Solo, ia disarankan mencari pakar sastra Jawa Doktor Soewito Santoso yang saat itu tinggal di Australia.

Kesty lalu menghubungi penerbit Marshall Cavendish, Singapura. Buku yang terbit tahun 2006 dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dan sampai saat ini menurut Kesty telah terjual lebih dari separuhnya. "Publisher bilang jumlah itu termasuk lumayan. Jadi, mereka tidak sebel-sebel amat sama saya, he-he-he...."

Sambil menyusui

Kesty mengerjakan proyek idealis itu ketika ia tengah menyusui anak keduanya yang kini berumur lima tahun. Saat itu ia bermukim di Singapura. Suaminya, Muljono Pringgoharjono, seorang bankir yang bekerja di sebuah bank di negeri tersebut.

Gagasan menggarap proyek itu muncul sejak tahun 2000. Suatu kali pada tahun 2.000, ketika Kesty mengunjungi Museum Nasional Singapura, dia tertarik pada manuskrip "Kitab Sejarah Melayu." Saat itu ingatannya melayang ke Tanah Air.

"Di Indonesia pasti ada buku yang nasibnya seperti itu. Maksudnya, buku yang berisi pengetahuan penting, tetapi tidak terakses oleh masyarakat banyak," kata Kesty yang kemudian memilih "Serat Centhini".

Apa yang ia pelajari dari kisah Centhini?

"Banyak," katanya.

"Bahwa, kita jangan serakah. Segala sesuatu akan tiba pada waktunya. Karena hidup adalah perjalanan. Bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan jiwa dan spiritual."

Dalam perjalanan itu, kata Kesty, mengutip buku, manusia bisa berubah. Bahwa dalam kehidupan manusia mempunyai peran yang berbeda-beda. Bahwa setiap kepribadian manusia itu akan membawa ke jalan hidup yang berbeda-beda.

"Saya tidak percaya kalau ada yang bilang, ’Ah orang Indonesia korupsi melulu. Orangnya memang begitu, tidak bisa berubah.’ Saya percaya semuanya akan tiba pada waktunya," kata Kesty mendasarkan pendapatnya itu dengan referensi "Centhini."

"Alam saja berubah. Gunung yang tidak aktif bisa menjadi aktif. Bangsa ini bisa berubah, if we want to," kata Kesty.

Setidaknya itu yang dibaca Kesty dari "Serat Centhini". e-ti

Sumber: Kompas, 28 November 2010 | Penulis: Frans Sartono

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 17 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Asal mula nama Glodok berasal dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang

Click to view full article

Sebagai pendeta yang juga manusia biasa, Mangapul Sagala Staf Perkantas Jakarta, Dosen Perjanjian Baru STT IMAN dan STTRII Mangapul Sagala mau tidak mau harus berhadapan dengan tantangan hidup yang sering menguji keteguhan imannya. Lewat ujian-ujian itu


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh