-
-
BIOGRAFI
-
Melalui "sekolah kampung" yang didirikannya tahun 2007, John Rahail (44) telah mengantarkan 85 anak usia dini di pedalaman Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, duduk di bangku SD. Pendidikan itu dijalankan tanpa biaya dan kurikulum baku. Semua berasal dari warga, oleh warga, dan untuk warga.
- biografi tokoh indonesia john rahail
- sekolah kampung dari papua
Lelaki kelahiran Merauke itu mendirikan sekolah di tiga kampung di Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, yakni Kampung Betaf, Beneraf, dan Yanma. Ia memilih lokasi itu karena kegiatan belajar dan mengajar di daerah pesisir tersebut tak berjalan. Lokasi pantai itu dapat dicapai selama 8 jam perjalanan arah barat Jayapura.
Beberapa gedung SD milik pemerintah kosong karena warga enggan menyekolahkan anak-anak mereka. Rendahnya partisipasi dalam bersekolah disebabkan penerapan waktu belajar yang kaku: dari pagi hingga siang, serta kurikulum yang bernuansa perkotaan. Kondisi itu tidak sesuai dengan karakteristik anak-anak di pedalaman Papua yang umumnya tidak percaya diri bersekolah dengan berbagai aturan formal.
"Pendidikan merupakan hal yang asing bagi warga di pesisir Sarmi sehingga perlu metode dan pendekatan berbeda," tutur pendiri Institut Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Papua (ICDp) ini. Bersama tiga rekannya di ICDp, John memperkenalkan istilah sekolah kampung berbasis masyarakat.
John membuat sekolah ini khusus untuk anak-anak berusia 3-5 tahun agar mereka siap mengenyam pendidikan di bangku SD. Kegiatan belajar-mengajar ini hanya berlangsung dua jam setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Penyusunan kurikulum disesuaikan dengan kondisi warga di pedalaman Sarmi. Metode itu mampu menggugah minat warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Dukungan juga datang dari kepala kampung. Mereka merestui John menyelenggarakan sekolah kampung di balai warga. Ia lantas menamai tiga sekolah kampung dengan Maju Mandiri (Betaf), Maju Bersama (Beneraf), dan Maju Bermartabat (Yanma). Kata "maju" dipilih untuk memotivasi anak-anak di pedalaman agar percaya diri dan mencintai sekolah.
Hal mendasar
Saat didirikan akhir tahun 2007, jumlah siswa di sekolah kampung sebanyak 108 orang, terbagi dalam kelas pemula (usia 3-4 tahun) dan kelas lanjut (5 tahun). John mulanya mengajari mereka hal-hal dasar yang selama ini jarang dilakukan, seperti mencuci tangan sebelum makan, mandi, berdoa, dan sarapan. John meyakini, pembentukan karakter sejak dini akan memudahkan anak-anak menjalani pendidikan formal yang berjenjang lebih tinggi.
Bimbingan terhadap anak- anak dilakukannya sambil membina beberapa warga yang tertarik menjadi guru di sekolah kampung. John sesekali mengajak para calon guru menemaninya mengajar. Dalam waktu sebulan, 10 warga berusia 20-30 tahun telah siap menjadi guru di tiga sekolah kampung tersebut.
Pelibatan mereka perlahan- lahan mengubah paradigma warga terhadap pendidikan. Ibu-ibu mengantarkan anak mereka ke sekolah, bahkan menunggui sang buah hati dari pukul 08.00 hingga sekolah usai dua jam kemudian.
"Keberadaan sekolah kampung seperti pepatah sambil menyelam minum air karena orangtua pun bisa mendapat ilmu," ungkap dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih ini.
Pembentukan karakter
Pembentukan karakter agar anak-anak berperilaku sopan dan memerhatikan kesehatan dilakukan John selama sebulan. Setelah itu menjadi kebiasaan anak-anak di pedalaman Sarmi, John mulai mengajari mereka berhitung dan membaca. Dia menggunakan alat peraga dan mengedepankan kearifan lokal.
Pelajaran berhitung, misalnya, dia memanfaatkan permainan tradisional. Anak-anak di pedalaman Sarmi sejatinya telah mengenal cara berhitung dalam beberapa permainan tradisional, seperti tali tangan (twen'kam), gasing (smin'kan), dan jubi lemon (lemon'bran). Ini memudahkan mereka mengenal angka hingga dua digit.
Setelah berjalan tiga tahun, sekolah kampung sudah diikuti 372 anak atau sekitar 90 persen dari jumlah anak usia dini di pedalaman Sarmi. Sebanyak 85 anak kini telah mengenyam pendidikan formal di SD.
"Warga mulai merasakan dampak positif dari konsep pendidikan yang ditawarkan Pak John dan kawan-kawan. Anak-anak juga menjadi lebih percaya diri," ujar Martinus Wainok (26), salah seorang guru di Kampung Beneraf.
Mulai 2009, biaya operasional sekolah kampung berasal dari dana pemberdayaan kampung dan program pemerintah "Respek" sebesar Rp 25 juta. Meski demikian, John tetap meminta para guru di sekolah kampung untuk mengolah dan menjual minyak kelapa. Hasil penjualan dari sentra minyak kelapa di Distrik Pantai Timur itu untuk membiayai operasional sekolah kampung tahun 2007-2008.
Praktik cerdas
Inisiatifnya membentuk sekolah kampung di pedalaman Sarmi mendapat apresiasi dari Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI). Kiprah John dalam pemberdayaan warga untuk mengelola sekolah kampung terpilih sebagai salah satu praktik cerdas yang inspiratif di KTI. Ia bersama Martinus Wainok mendapat kesempatan untuk mempresentasikan sekolah kampung pada Forum V KTI yang berlangsung awal November lalu di Ambon, Maluku.
Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tidak lepas dari peran serta sang kakek, Ignatius Silibun. Saat pindah dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, ke Merauke, Papua, Ignatius menyebarkan ajaran agama lewat pendidikan. "Kakek menjadi inspirasi saya dalam mengajar, terutama warga di pedalaman Papua yang masih tertinggal untuk urusan pendidikan," ungkap peraih magister perilaku kesehatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. e-ti
Sumber: Kompas, Senin, 22 November 2010 | Penulis: Aswin Rizal Harahap - Nasrullah Nara
Update Data & Sponsorship
Dukungan Anda, Semangat Kami
(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.
Update Konten/Saran
Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:
- Menambah (Daftar) Tokoh
- Memperbaharui CV atau Biografi
- Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
- Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
- Menambah Galeri Foto
- Menambah Video
- Menjadi Member
- Memasang Banner/Iklan
- Memberi Dukungan Dana
- Memberi Saran
Contoh Penggunaan
Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:
Rumah Presiden SBY
Rumah Presiden Soekarno
Rumah Megawati Soekarnoputri
Silakan menghubungi kami di:
- Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
- Email:
- Atau gunakan FORM KONTAK ini
Sponsorship
Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.
Sponsor Bronze ![]() | Sponsor Silver ![]() |
Sponsor Gold ![]() | |


Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia: 
































Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.