WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Keutamaan Cinta Sintha Hidayat

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Keutamaan Cinta Sintha Hidayat
e-ti | kompas-maria hr

Seorang anak berusia sekitar 10 tahun berlari kencang di tengah hujan deras di depan pasar swalayan di daerah Jakarta Selatan. Dia menerobos kerumunan anak-anak pembawa payung yang mengerubungi Sintha Hidayat (60).

Relawan MC (Misionaris Cinta Kasih)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Sintha Hidayat

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Sintha Hidayat

QR Code Halaman Biografi Sintha Hidayat
Bio Lain
Click to view full article
Siti Musdah Mulia
Click to view full article
Eddie Lembong
Click to view full article
Radius Prawiro
Click to view full article
Muhammad Noeh
Click to view full article
Revo Arka Giri Soekatno
Click to view full article
Mama Lauren
Click to view full article
Pangeran Mangkubumi

Jangan... jangan... itu temanku," anak itu berteriak, "Bu Sintha... Bu Sintha...." Sintha menoleh, mencoba mengingat wajah anak yang menyodorkan payung itu. Tubuhnya yang kecil basah kuyup, tetapi ia tertawa ceria.

"Ternyata dia anak Jalan D," ujar Sintha sambil menyebut daerah kumuh tempat bermukim pemulung dan masyarakat miskin, suatu komunitas yang telah memberikan pelajaran hidup luar biasa kepadanya selama 22 tahun terakhir.

Anak itu menolak uang jasa yang diberikan Sintha dan baru mau menerima setelah dipaksa. "Di dalam mobil, perasaan saya seperti diaduk-aduk...."

Peristiwa siang itu hanya satu dari rangkaian pengalamannya bekerja dengan pemulung dan warga miskin, pengalaman yang mengantarkan Sintha pada permenungan sangat panjang tentang hidup.

"Saya kehilangan Pak Sidik," sambung ibu tiga anak, nenek dua cucu ini. Sebagai bagian dari Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) di Indonesia, Sintha mengukuhi kebenaran ucapan Ibu Teresa dari Kolkatta, India—pendiri Misionaris Cinta Kasih (MC)—bahwa yang terpenting dari kerja kemanusiaan adalah bagaimana tetap setia untuk terus bekerja dan berupaya, bukan target atau keberhasilan.

Pak Sidik sudah tua dan sebatang kara. Ketika diantar tetangga ke rumah transit KKIT di wilayah Jakarta Barat, ia sudah tiga bulan terbaring lemah di lapaknya. Pak Sidik mengaku dikhianati centeng pemulung yang berniat mengusirnya dari lapak dalam keadaan sakit karena dianggap sudah tidak produktif. Di rumah transit, Pak Sidik dirawat sampai kondisinya membaik sebelum kemudian pergi tanpa pamit.

Gelap dan sepi

Kurun 22 tahun bukan waktu yang singkat. Meski tak relevan membandingkan dengan perjalanan spiritual Ibu Teresa yang terekam dalam buku Come be My Light (2007), bukan berarti Sintha tak mengalaminya. Ia sempat dibayangi penyangkalan dan hampir mundur karena merasa tak sanggup.

"Kalau melihat lagi ke belakang, saya sadar, tak ada yang kebetulan dalam hidup ini," kenang Sintha.

Semuanya bermula ketika ia terkesan membaca artikel tentang Ibu Teresa di Kolkatta di majalah Intisari tahun 1980-an. Namun, ketika diajak teman ke pertemuan kecil yang mendalami spiritualitas Ibu Teresa, awalnya ia enggan. Anak-anaknya masih kecil dan banyak urusan di rumah. Ketika akhirnya ia mau pergi, hatinya tergetar oleh doa-doa indah Ibu Teresa dan mulai diusik pertanyaan, "Apa saya bisa menjalaninya?"

Dalam keraguan itu, ia diajak mengunjungi pasien miskin penderita kanker. Sintha menolak karena "Saya tidak tahan melihat orang sakit."

Ia terpaksa berangkat karena kehabisan alasan. "Di situ saya bertemu seorang anak dengan kanker di mata. Miris sekali. Waktu mau masuk ke kamar seorang ibu dengan kanker payudara yang sudah infeksi, saya mundur. Saya takut dan tidak tahan baunya."

Malamnya ia menceritakan pengalamannya kepada suaminya, Irwan Hidayat, Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
Jamu Sido Muncul. Namun, Sintha merasa Irwan tidak peduli. "Saya stres dan ngganjel karena tak tahu mesti cerita sama siapa."

Tahun 1985-an itu ia juga pernah coba ikut kegiatan di panti jompo, tetapi tak tahan juga. "Saya mulai putus asa. Saya merasa tak cocok berada di kelompok itu, tetapi mengapa saya terus terusik ya?"

Suatu malam, Irwan yang sedang membaca buku tentang Ibu Teresa bertanya kepadanya, "Siapa yang menyuruh kamu masuk KKIT?"

Pertanyaan itu membuat Sintha gelisah. "Pertanyaan 'siapa yang menyuruh' itu terus terngiang. Bukannya semua datang dari diri saya? Tiba-tiba semuanya terang benderang. Semua datang dari suara hati. Itu panggilan Yang Ilahi. Saya harus mampu melewati ini semua...."

Warung sehat

Ketika membantu kegiatan warung sehat KKIT di Jembatan Tomang, Jakarta, ia terpana. "Yang antre banyak sekali dan makanan habis dalam 30 menit. Saya merasa saya bisa melakukan ini, tetapi Tomang kan cukup jauh."

Sintha dan teman-temannya menemukan suatu lokasi tempat bermukim pemulung dan kelompok masyarakat kelas bawah, tak jauh dari rumahnya. Setelah berhasil mendekati mereka, dan mulai membuka warung sehat, persoalan lain muncul. Mereka tak boleh menggalang dana. "Ibu Teresa mengatakan, kerja kemanusiaan bukan kerja sosial mengumpulkan dana. Ada pertanyaan yang harus dijawab: beranikah kita?"

Ia mulai dengan dana sendiri, empat kali sebulan "menjual" makanan sehat kepada mereka terpinggirkan di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian bergantian dengan teman-temannya, lalu urunan mendanai kegiatan itu.

"Ketika tahu kami mengutip uang Rp 50 per orang, MC protes. Kami jelaskan, orang miskin punya harga diri. MC tetap menolak karena jalan Ibu Teresa adalah memberi. Akhirnya kami menyerah, tetapi bingung bilangnya sama warga kenapa jadi gratis. Mulanya alasannya ulang tahun, tetapi mosok ulang tahun terus."

Akhirnya ketemu juga jalannya. "Bayar Rp 50 seperti biasa, tetapi uangnya ditabung, dari yang recehan, sekarang ada yang menabung sampai Rp 150.000 per minggu. Kami buat buku tabungan sederhana dengan foto, tanpa potongan, tanpa bunga, bisa diambil kapan saja. Ada 506 orang yang mengambil saat Lebaran kemarin."

Kegiatan itu juga memberikan bantuan obat-obat ringan yang dibutuhkan. "Seperti salep gatal karena kehidupannya memang seperti itu. Kami mengajari hidup bersih, tetapi tetap tak mudah," tutur Sintha.

Meretas prasangka

Kegiatan itu sempat harus berhadapan dengan prasangka. Yang paling serius adalah tuduhan mengkristenkan warga. Prasangka itu gugur karena dalam KKIT ada banyak orang dari berbagai keyakinan.

Warung sehat dengan seluruh kegiatannya itu membuat Sintha memahami kemiskinan dalam bentuk paling telanjang dan menguatkan kepekaannya berbela rasa. Kegiatan yang dia katakan "kecil" itu ia tekuni sepenuh hati.

Kepasrahan total pada penyelenggaraan Ilahi membuat Sintha mengakrabi bau menyengat dan banyak hal lain terkait kekumuhan. Secara gradual, ia seperti terlahir kembali. Tahun 1997, bersama rombongan dari Indonesia, Sintha menjadi relawan di Rumah MC untuk orang-orang sekarat di Kalighat, Kolkatta.

"Jalan D itu sekolahku," ujar Sintha. Kegiatan itu telah memberi inspirasi kepada banyak orang yang kemudian melakukan hal serupa pada lebih dari 100 lokasi.

Kerja kemanusiaan adalah labirin gelap dan sepi. Tak banyak orang berani memasukinya. Di situ Sintha bersimpuh dengan setia menjadi saksi bagi keutamaan cinta. Seperti dituturkannya, "Saya tidak bisa lagi berhenti." e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 17 Januari 2011 | Penulis: Maria Hartiningsih

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 14 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Pencetus Ide Dunia Dalam Berita Mantan Gubernur Jabar Dan Mendagri

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Rendi Suhandinata, kepala biro di sebuah instansi pemerintah, mati terbunuh secara misterius. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan hanyalah jejak berdarah sepatu wanita yang menjurus ke sebuah lemari.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: