WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Menghitung Populasi Komodo

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Menghitung Populasi Komodo
e-ti | kompas-benny d ks

"Ada jalan membelah di hutan dan aku ambil yang tidak diambil orang. Kutahu, itulah bedanya." Terjemahan penggalan puisi karya penyair Robert Frost "The Road Not Taken" itu melekat pada jalan hidup Deni Purwandana, satu-satunya peneliti aktif komodo ("Varanus komodoensis"), yang sudah menghabiskan waktunya di Taman Nasional Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur, hampir satu dasawarsa.

 

Peneliti
Lihat Curriculum Vitae (CV) Deni Purwandana

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Deni Purwandana

QR Code Halaman Biografi Deni Purwandana
Bio Lain
Click to view full article
Shaifuddin Bahrum
Click to view full article
Basuki Tjahaja Purnama
Click to view full article
Djali Jusuf
Click to view full article
Wajidi
Click to view full article
RO Tambunan
Click to view full article
Abdurrahman Wahid
Click to view full article
Soemino Eko Saputro

Bertemu dengan Deni secara langsung adalah kesempatan langka. Ia lebih banyak keluar masuk hutan di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) dibanding di Labuan Bajo atau di Denpasar, Bali. Dua tempat itu menjadi tempat rekapitulasi data-data lapangan penelitiannya.

"Biasanya di hutan. Tapi, ini kebetulan sedang rehat untuk merekap data lapangan sebelum kembali lagi ke hutan," kata Deni di pemondokannya di Loh Liang, Pulau Komodo, kawasan TNK.

Ibarat suatu bangunan, di tengah gegap gempita ajakan pemerintah untuk menjadikan komodo dan TNK sebagai salah satu keajaiban baru dunia, Deni adalah salah satu "batu penjuru". Lewat Komodo Survival Program-kerja sama Deni bersama sejumlah rekannya dengan pengelola TNK yang dibiayai European Association Zoos and Aquaria (EAZA)- ia menghitung populasi komodo, meneliti ketersediaan pangan maupun kondisi lingkungan di TNK. Dia kemudian membuat rekomendasi-rekomendasi terkait kondisi-kondisi faktual itu.

"Saya melihat ajang The New 7 Wonders itu tantangan kita. Khawatir juga apabila ternyata kita tidak siap, baik dari segi pemeliharaan komodo, sarana-prasarana, juga sumber daya manusianya," kata Deni.

Sepanjang tahun 2009, tercatat 36.431 wisatawan berkunjung ke kawasan TNK. Dari jumlah itu, lebih dari 95 persen adalah wisatawan mancanegara, sebagian besar berasal dari Eropa, seperti Belanda, Perancis, Jerman, dan Belgia. Total belanja wisatawan per tahun di daerah itu mencapai Rp 185 miliar. Dari sisi asal negara, jelaslah pelancong ke TNK adalah turis khusus penyuka alam, terlebih kehidupan alam liar dan petualangan. Ini dapat menjadi tolok ukur sekaligus petunjuk bagi pengembangan pariwisata di kawasan itu, termasuk upaya melindungi habitat komodo.

Deni terlibat penelitian komodo di TNK mulai tahun 2001. Saat ia baru saja lulus sarjana dari Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Bali. Dosennya, ahli komodo asal Italia, Claudio Ciofi, yang sedang menggelar penelitian di kawasan TNK menawari kegiatan yang murni penelitian itu. Deni sama sekali tidak mendapat gaji.

Jatuh cinta

Deni tiba di TNK saat puncak kemarau. TNK yang kering kerontang menantang dia untuk dijelajahi. Pengalaman pertama itulah yang justru membuatnya jatuh cinta kepada komodo. Penelitiannya berlanjut dalam skala waktu 1-3 tahun yang dibiayai sejumlah donor luar negeri. Lembaga donor dan pengelola TNK saling berbagi data tentang komodo dan habitatnya.

"Pemantauan itu harus dilakukan berkelanjutan karena ini menyangkut aset bangsa. Saya bermimpi suatu waktu kita melakukan kegiatan itu secara mandiri. Sebenarnya kita mampu, namun kepentok pada keterbatasan sistem dan tidak adanya anggaran," kata Deni.

Pekerjaan Deni membutuhkan kesiapan fisik dan mental, serta daya tahan luar biasa. Lalu apa yang mendasari semua itu terlaksana? "Panggilan," jawabannya. "Ini sesuatu yang langka, baik dari obyek penelitian, tempat, hingga kesempatannya. Lebih dari itu, ini ada dan milik Indonesia."

Saat memantau, Deni harus berjalan jauh, minimal 6-20 kilometer setiap hari. Ia harus membawa perangkap yang beratnya minimal 10 kilogram, belum termasuk daging (umumnya daging kambing/sapi busuk) untuk umpan komodo, dan perbekalan lain.

Deni sudah menangkap 1.000 komodo untuk dijadikan obyek penelitiannya. Salah satu yang terbesar adalah komodo berbobot 100 kilogram, dengan panjang 3,8 meter dan lingkar ekor 68 cm. Ia bersyukur tidak pernah mengalami cedera berat dalam melakukan tugasnya. "Jangan sampai tergigit, cuma pernah sekali luka sedikit karena tertancap kukunya," kata dia.

Deni menggunakan metode terbaru penelitian, multiple macri capture, yang mengombinasikan data terbaru dengan data sebelumnya untuk melihat populasi teranyar komodo. Penyempurnaan metode-metode itu harus dilakukan, mengingat komodo adalah hewan liar dengan cakupan tersebar di TNK yang luasnya mencapai 40.728 hektar dan perairan laut 132.572 hektar.

Sebelum tahun 2003, Deni masih menggunakan metode ekstrapolasi untuk mendapatkan data populasi komodo. Metode itu menggunakan cara menggantungkan umpan di titik-titik tertentu, untuk menghitung jumlah komodo yang terlihat di suatu waktu tertentu. Ternyata akurasi metode ini rendah.

Oleh karena itu, mulai tahun 2003, metodenya diganti dengan cara menangkap, menandai, dan melepas kembali. Kelebihan metode ini adalah tidak terjadi pengulangan, sekaligus diketahui tingkat pertumbuhannya. Dari metode itulah kemudian dikembangkan metode multiple macri capture.

Deni masih berusaha merampungkan penelitian populasi terakhir yang dilakukan mulai tahun 2009. Data 2008 lalu menunjukkan, populasi komodo di tiga pulau terbesar, yaitu Pulau Komodo (33.937 hektar, populasi komodo diperkirakan 1.200 ekor), Pulau Rinca (19.627 hektar, 1.100 ekor), dan Pulau Padar (2.017 hektar, diduga sudah tak dihuni komodo). Selain itu, pulau kecil, Pulau Gili Motang, masih dihuni komodo sekitar 100 ekor.

Di tengah optimisme terhadap kepariwisataan TNK, Deni mengakui adanya kerentanan kawasan itu, komodo dan habitatnya, termasuk pengaruh fenomena perubahan iklim. Karena itu, dia menentang setiap upaya pemindahan komodo. Salah satunya yang pernah diwacanakan adalah pemindahan beberapa komodo dari Wae Wuul, Flores, ke Bali dengan alasan pemurnian genetik.

"Jangan sampai dipindah, lebih baik merawat dan mempertahankannya di habitat asli. Populasi sudah semakin sedikit," kata Deni. e-ti

Sumber: Kompas, 7 Januari 2011 | Penulis: Benny D Koestanto dan Mawar Kusuma Bulan

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 14 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Bekerja Melebihi Panggilan Tugas Perancang Manajemen Mutu Perikanan

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 43

Tokoh Monitor

Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi

Buku Pilihan

thumb

Komik strip yang bekisah tentang seorang pemuda yang bernama Lotif.

Catatan Tuhor.com: Lotif muncul perdana di Koran Tempo Minggu pada 15 Mei 2005. Buku legendaris ini layak dimiliki oleh siapa saja terutama pencinta komik strip karena isinya menyentil isu-isu sosial dan politik dengan ringan, cerdas dan jenaka.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: