WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Bangun Ujung Nusantara

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Bangun Ujung Nusantara
e-ti | kompas-gregorius mn finesso

Mencari makan di mana pun harus menggunakan hati. Jika tidak, hasil keringat tak akan pernah membawa kebaikan bagi sesama. Begitulah filosofi yang dipegang teguh Max Johanes Rahabeat dalam melakoni obsesinya mentransformasikan kecakapan pertukangan bangunan fisik kepada warga Distrik Kimaam, Merauke, Papua.

Tukang Bangunan
Lihat Curriculum Vitae (CV) John Kei

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) John Kei

QR Code Halaman Biografi John Kei
Bio Lain
Click to view full article
Indra Lesmana
Click to view full article
Rachmawati Soekarnoputri
Click to view full article
Kwik Kian Gie
Click to view full article
Erlina Marcus
Click to view full article
Jakob Oetama
Click to view full article
Dede Yusuf
Click to view full article
Tan Joe Hok

Pria yang akrab disapa Om John Kei ini sudah hampir 30 tahun "memoles" wajah Pulau Kimaam, pulau terluar RI yang berhadapan dengan Australia. Bangunan perumahan, perkantoran, dan dermaga yang berdiri di pulau seluas 11.600 kilometer persegi (dua kali Pulau Bali) itu adalah buah kecakapan pertukangan Om John bersama warga setempat.

Banyak warga perantau yang berhasil merenda hidup di Tanah Papua, tetapi bisa jadi hanya segelintir di antaranya, termasuk Om John, yang rela membagi pengetahuan dan kecakapan dengan memberdayakan masyarakat lokal.

Berbekal pengalaman puluhan tahun menjadi "tukang bangunan", sejak pertengahan 1982, Om John banyak terlibat dalam pembangunan fisik wilayah terpencil berpenduduk sekitar 16.000 jiwa itu. Untuk menjangkau Kimaam, akses transportasi satu-satunya adalah dengan pesawat perintis yang hanya dilayani dua kali seminggu.

Hampir semua kampung di Pulau Kimaam pernah merasakan sentuhan karya Om John. Mulai dari gedung sekolah, puskesmas, MCK, instalasi air bersih, permukiman warga, hingga dermaga.

Wilayah Kimaam didominasi hutan dan rawa yang berisiko malaria. Untuk mencapai kampung-kampung di sana, moda transportasi yang bisa diandalkan hanyalah perahu kecil.

Lebih dari sekadar kendala alam, Om John menilai, karakter manusia Kimaam perlu sentuhan tersendiri.

Tak banyak kontraktor mau melibatkan warga lokal dalam setiap pembangunan di Kimaam. Mereka lebih sering mendatangkan buruh dari suku Kei atau Jawa.

"Siapa bilang orang Kimaam tak bisa diajak bekerja? Justru dorang (mereka) yang lebih tahu persis kondisi setempat. Hanya saja memang dibutuhkan pendekatan yang tepat untuk merangkul mereka," katanya.

Setiap mendapatkan proyek pembangunan di kampung-kampung, John selalu datang terlebih dulu ke tempat itu sebelum memulai pekerjaan. "Saya coba berdialog dulu dengan tetua kampung setempat," ujarnya.

Salah satu contohnya adalah saat ia membangun dermaga sungai di Kampung Kumbis yang merupakan proyek Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Merauke, Juli 2008. Dalam pengerjaannya, ia melibatkan delapan warga setempat mulai dari mencari kayu merbau sebagai bahan baku, menghaluskan bahan, memancang tiang, hingga merakit konstruksi dermaga.

Demi menghemat waktu, semua bahan baku dicari dan diolah di lokasi setempat. "Yang didatangkan dari Merauke hanya baut dan mur besi," ujar Om John.

Dermaga itu kini menjadi salah satu urat nadi perekonomian di Kimaam. Sebelum pembangunan dermaga, perahu-perahu milik warga sulit sandar di Kumbis yang berjarak dua jam perjalanan sungai dari Kampung Kimaam. Kini, setiap hari, dermaga ini menjadi jalur lalu lintas perahu dari berbagai kampung lain yang membawa barang-barang dagangan.

Merantau

Kisah perantauan Om John berawal pada 1978 ketika ia bersama sepupunya ikut kapal yang membawa mereka ke Kaimana, Papua. Ia terinspirasi cerita-cerita sukses warga suku Kei yang merantau ke Papua, pulau yang terletak di sebelah timur Kepulauan Kei.

Awalnya, kemampuan Om John terbilang pas-pasan. Ia lebih banyak menimba ilmu dengan praktik di lapangan.

Tak lama berdiam di Kaimana, ia diterima bekerja sebagai pekerja kasar untuk proyek pembangunan rumah dinas pemerintahan di daerah Wagon, Kabupaten Fakfak. Awal 1980, ia ditawari menjadi tukang bangunan untuk proyek permukiman dengan bahan dasar kayu bagi masyarakat di Kabupaten Sorong.

Di Kaimana, ia sempat berencana hijrah ke Papua New Guinea bersama dua temannya dari Timor Leste. Namun, rencana tersebut gagal karena kedua rekannya tertimpa musibah saat berlayar ke Merauke. Di balik musibah itulah terbentang jalan lebar untuk memoles Kimaam sebagai "beranda" Tanah Air sendiri.

Ia akhirnya memutuskan ikut kakak sepupunya yang tinggal di Kabupaten Merauke. Setelah ikut proyek pembangunan permukiman warga transmigrasi di Kompleks Semangga 1 Merauke dan SMP negeri di Asmat, pada Januari 1982, ia ditawari menjadi kepala buruh pembangunan SMP negeri pertama di Kimaam.

Di situ ia memutuskan belajar bekerja mandiri. Proyek pertamanya didapat dari seorang pastor asal Belanda, Pastor Boy. Ia diminta membangun permukiman, sekolah, dan kompleks pastoran misi (Katolik) untuk 11 kampung di Distrik Kimaam. Dari proyek itu, ia mulai menyelami karakter warga lokal untuk diberdayakan.

Pinang-sirih

Walau telah puluhan kali bekerja dengan warga lokal, proses interaksi bukan tanpa kendala. Contohnya saat membangun rumah-rumah guru di Kampung Komelom, bagian selatan Pulau Kimaam, pada 1984.

Kala itu, banyak pekerja Om John terlihat malas-malasan. Saat itu dia belum terlalu mengenal karakter orang Marind-Bob, suku orang asli Kimaam. Padahal, tenggat pembangunan yang ditetapkan oleh pemberi proyek sudah hampir habis.

"Saya tidak langsung memarahi mereka. Saya coba ajak bicara dorang satu per satu. Akhirnya ketahuan kalau dorang butuh makan pinang-sirih dan mengisap tembakau," kata Om John. Sejak peristiwa itu, dia memahami begitu pentingnya arti pinang-sirih bagi warga Kimaam.

Lewat alat kontak berupa pinang-sirih itu pulalah, Om John akhirnya mampu mengambil hati para pekerjanya. "Itu kuncinya, membuat dorang merasa dihargai dan diperhatikan," ujarnya.

Lewat kerendahan hatinya, Om John menjadi sosok warga pendatang yang cukup disegani di Kimaam.

Dia juga membangun penginapan di Kampung Kiworo Baru, ibu kota Distrik Kimaam, sejak 2005.

Kini, penginapan itu menjadi satu-satunya tujuan menginap para pejabat saat kunjungan dinas hingga peneliti. Para peneliti begitu tertarik dengan eksotisme flora dan fauna Kimaam. Pelbagai jenis burung banyak terlihat di Pulau Kimaam yang juga merupakan wilayah migrasi burung-burung dari Benua Australia.

Di ujung Nusantara itulah Om John berkiprah tiada kenal jeda. e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 19 Juli 2010 | Penulis: Gregorius Magnus Finesso

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 14 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Menerobos Kebuntuan Penguatan Pertahanan Ikon Binaraga Indonesia

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

20 drama William Shakespeare yang dihadirkan dalam buku ini merupakan hasil adaptasi dari drama ke dalam bentuk prosa.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: