WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Kepuasan Bob Hippy

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Kepuasan Bob Hippy
e-ti | kompas-priyambodo

"Mbok, ya Indonesia ada di sana ya...." Begitu kata Bob Hippy (64) ketika ditanya tentang ingar-bingar Piala Dunia yang tahun ini berlangsung di Afrika Selatan.

Presiden Direktur PT Bona Jasa Hantarindo (1995-sekarang)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Bob Hippy

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Bob Hippy

QR Code Halaman Biografi Bob Hippy
Bio Lain
Click to view full article
Saan Mustopa
Click to view full article
Djoko Suyanto
Click to view full article
Bukhari Wiryo Satmoko
Click to view full article
Sylvia W Sumarlin
Click to view full article
Yunus Husein
Click to view full article
Ruyandi Hutasoit
Click to view full article
Marwan Jafar
BERITA TERBARU

Namun, tak lama setelah berucap seperti itu, Bob buru-buru membuang khayalannya. Mantan pemain Persija Jakarta ini mengajak berpikir realistis, termasuk tentang ambisi sekelompok orang di negeri ini yang menginginkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ambisi tersebut akhirnya gagal terwujud karena nama Indonesia telah dicoret FIFA.

"Too big to think. Grass root-nya saja enggak punya," kata Bob.

Grass root yang dimaksud Bob adalah pembinaan pemain usia muda yang nantinya bisa melahirkan pemain untuk memperkuat Tim Merah Putih. Untuk itu, daripada menunggu PSSI yang tak juga beraksi tentang pembinaan pemain masa depan ini, Bob ikut menyumbangkan pemikirannya dalam penyelenggaraan Liga Kompas Gramedia U-14.

Liga ini adalah kompetisi sepak bola untuk pemain yunior yang pesertanya sekolah sepak bola (SSB) se-Jabodetabek. Kick off direncanakan berlangsung 18 Juli dan kompetisi ini akan berjalan hingga Desember di Jakarta.

Terhitung sejak sekitar dua bulan lalu, Bob memberi masukan tentang masalah teknis kompetisi, salah satunya dalam menyeleksi siapa saja yang pantas diundang menjadi peserta, yaitu dengan menilai kualitas setiap SSB.

"Sebab, ini adalah kompetisi yang akan berlangsung lama meski sistemnya masih memakai setengah kompetisi. Ini bukan festival atau turnamen yang biasanya hanya berlangsung beberapa hari. Jadi, pesertanya harus SSB berkualitas dari sisi pemain, pelatih, dan manajemen, agar tidak ada yang berhenti di tengah jalan," tutur Bob, yang ditemui seusai rapat persiapan mengenai kompetisi tersebut, sekitar dua pekan lalu.

Bob sangat antusias ketika ditanya soal pembinaan pemain muda. Di tengah obrolan dia sempat memperlihatkan jadwal turnamen internasional tingkat SSB yang berlangsung di Singapura. Turnamen ini diikuti pemain-pemain di bawah usia 10 tahun (U-10), U-12, dan U-14, dari SSB yang didirikan Bob, yaitu Akademi Sepak Bola Intinusa Olah Prima (AS-IOP) Apac Inti. Di SSB yang didirikan Bob bersama beberapa mantan pemain sepak bola, termasuk almarhum Ronny Pattinasarani sekitar 12 tahun lalu itu, Bob kini menjabat sebagai ketuanya.

"Waktu itu saya bilang sama Ronny, kok sepertinya ada kevakuman kompetisi yunior setelah eranya dia. Lalu, saya, Ronny, dan beberapa teman lain berkumpul dengan cita-cita yang sama, yaitu membangun sepak bola dengan melahirkan pemain yang baik," cerita Bob tentang lahirnya AS-IOP. Sementara Apac Inti adalah nama sponsor AS-IOP, yaitu berupa perusahaan tekstil yang pabriknya berada di Semarang.

Bob bercerita, semasa dia bersekolah, kompetisi yunior yang berlangsung di Jakarta cukup banyak. Pria yang juga hobi bermain golf ini ingat ketika dia rajin mengikuti kompetisi yunior bernama Gawang setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu di Lapangan Banteng. Tak hanya itu, Bob juga bermain untuk sekolahnya, SMP III Jakarta, dalam kompetisi antarsekolah tahun 1950-an.

Namun, seiring berjalannya waktu, kompetisi yunior mulai hilang. "Padahal saya, almarhum Ronny, Iswadi, dan banyak pemain lain lahir dari kompetisi yunior," ujar Bob.

Dari banyaknya kompetisi yunior inilah, tim nasional sepak bola Indonesia tak pernah kehabisan bibit pemain bagus. Setelah bermain di tingkat yunior, yaitu usia 10-16 tahun, pemain meneruskan karier di kompetisi perserikatan yang dibagi ke dalam beberapa tingkat.

Bob termasuk pemain yang bisa berkiprah di perserikatan, yaitu Persija, setelah bermain di kompetisi yunior. Setelah itu dia terpilih menjadi anggota tim nasional yunior. Dengan ketajamannya sebagai penyerang, Bob turut berpartisipasi membawa Indonesia menjadi juara Asia yunior tahun 1961.

"Dulu, jenjang kariernya jelas. Banyak pemain nasional yang bertahan lama karena memang bagus. Kalau sekarang ini, pemain bertahan lama di tim nasional karena memang pemain yang bagus tidak banyak. Yang main itu-itu melulu dan kalah terus," kata Bob.

Stop ke luar negeri

Dengan kondisi seperti sekarang, Bob berpendapat, PSSI sebagai otoritas sepak bola tertinggi di negeri ini harus melupakan sejenak pemain senior dan menghentikan "pembinaan" dengan cara mengirim pemain muda berlatih di luar negeri.

Dikatakan pria kelahiran Gorontalo ini, pembinaan seharusnya dilakukan di negeri sendiri. "Sumber-sumber pemain sepak bola yang bagus hanya di situ-situ saja kok, di Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan sekarang ditambah Papua. Jadi, kalo mau fokus membina pemain, di daerah-daerah itu saja sudah cukup. Jangan dulu berpikir terlalu besar," kata Bob.

"Lagian, apa salahnya punya prestasi di tingkat usia muda. Kan ada kompetisi internasional untuk U-15, U-17, dan U-19. Juara di kelompok umur tersebut juga bagus. Dan, jangan dulu berbicara tingkat dunia, berprestasi saja dulu di tingkat Asia Tenggara atau Asia," lanjut pria yang hobi bermain golf ini.

Bob menyadari bahwa saat ini banyak SSB yang berdiri di berbagai daerah di Indonesia. Namun, tanpa adanya kontrol kualitas dari PSSI, keberadaan SSB tersebut akan sia-sia. Sepak bola hanya akan menjadi hobi bagi anak-anak yang berlatih di SSB, bukan sebagai cita-cita profesi.

"Kebijakan pembinaan tetap harus dari PSSI. FIFA saja punya anggaran khusus untuk pembinaan," kata Bob, yang masih suka menyempatkan diri bermain bola.

Menyadari pembenahan secara menyeluruh dari PSSI tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat, Bob memilih bergerak sendiri, salah satunya dengan AS-IOP tadi. Guna mematangkan anak-anak di SSB-nya bersaing dalam pertandingan, mereka diikutsertakan dalam turnamen di Singapura dan Malaysia, terutama dalam tiga tahun terakhir.

"Jalurnya didapat dari kenalan pelatih di negara-negara tersebut. Mereka bertanya kenapa tidak pernah ada tim dari Indonesia yang ikut serta," tutur Bob, bercerita tentang awal partisipasi AS-IOP dalam turnamen-turnamen di negara tetangga tersebut.

Karena berbentuk turnamen, kompetisi hanya berlangsung beberapa hari, rata-rata kurang dari satu minggu. Namun, dalam sehari, anak-anak tersebut bisa bermain hingga tiga kali. Jadi untuk meraih gelar juara seperti yang didapat tim U-14 di Malaysia, sekitar lima bulan lalu, pemain harus bertanding hingga 13 kali.

"Memang bermain tiga kali dalam sehari terlalu banyak. Tetapi, itu bisa jadi indikator sampai di mana daya tahan dan kemampuan mereka," ujar Bob.

Hal ini pula yang diharapkan Bob dari keikutsertaannya menjadi panitia Liga Kompas Gramedia U-14. Para pemain yunior tersebut harus bisa merasakan atmosfer kompetisi yang masih jarang diselenggarakan di negeri ini untuk seusia mereka.

Selain mendapat SSB berkualitas, seleksi untuk tim peserta liga dilakukan untuk mencegah terjadinya pencurian umur yang biasanya marak terjadi pada pertandingan kelompok umur.

"Kalau sudah mencuri umur sejak awal, si anak akan kesulitan dalam mengikuti jenjang berikutnya. Untuk itu, hal ini jangan sampai terjadi," kata Bob.

Kompetisi juga harus dibuat sebaik mungkin, baik dari sisi manajemen, teknis, maupun nonteknis seperti mencegah terjadinya pengaturan skor. Ini dilakukan agar para pemain usia muda terbiasa bermain dalam atmosfer kompetisi yang berkualitas.

Dari hati

Pada saat sebagian besar orang terpukau dengan perhelatan Piala Dunia selama sebulan terakhir, Bob yang juga seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
ini rela menyibukkan diri demi pembinaan usia muda.

"Kepuasannya lain," katanya.

"Saya senang mengurus anak-anak karena mereka masih pure. Keinginan mereka bermain bola dengan baik datang dari hati. Mereka belum bicara soal gaji dan bonus. Tanggung jawab orang-orang di sekeliling merekalah yang akan menentukan karakter pemain-pemain tersebut," tutur Bob.

Penghargaan atau pujian yang didapat dalam mengantarkan pemain yunior berprestasi mungkin memang tak sebesar sorotan kalau menukangi pemain senior. Akan tetapi, kepuasan yang dirasakan Bob, menurutnya, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, khususnya ketika melihat "anak-anaknya" berprestasi.

Menurutnya, ukuran prestasi di tingkat yunior bukanlah melulu soal gelar juara, melainkan bagaimana mereka bisa menjadi pemain yang baik. Pemain yang bisa memberikan kebanggaan dari lapangan hijau bagi negeri ini.

***

Main Bola di Amerika

Sepak bola memang sudah mendarah daging di dalam diri Bob Hippy meski kariernya di tim nasional tidak sampai di tingkat senior. Sejak aktif bermain bola pada usia SMP, Bob hanya sempat memperkuat tim nasional yunior sebelum akhirnya kuliah di Amerika Serikat karena mendapat beasiswa.

Bidang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
didalami Bob saat kuliah selama empat tahun di State University of New York (SUNY) di New Paltz, New York. Setelah itu Bob melanjutkan kuliah di Connecticut University untuk bidang yang sama selama setahun.

Namun, lapangan hijau tetap tak bisa ditinggalkan, bahkan ketika tengah berkuliah di Negeri Paman Sam. Bob memperkuat tim sepak bola universitas, bahkan hingga bertanding ke beberapa negara di Eropa. Karena sepak bola inilah, Bob mendapat penghargaan Hall of Fame State University of New York.

"Waktu kuliah saya dan beberapa teman dari negara lain yang mendapat beasiswa, seperti dari dari negara-negara di Afrika, turut memperkenalkan sepak bola di universitas. Usaha kami berhasil karena waktu itu Amerika mulai mengenal sepak bola," kata Bob.

Dari pengalaman kuliah inilah, Bob sibuk menjalani profesi di bidang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
ketika kembali ke Indonesia. Ayah dari empat anak ini bahkan sempat menduduki posisi Assistant Vice President American Express Banking Corp di Jakarta dan Hongkong selama 12 tahun.

Saat ini Bob juga punya Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
seperti di bidang perkebunan dan pertambangan. Namun, dia tidak melibatkan dirinya 100 persen di perusahaan.

Seolah ingin memberikan tongkat estafet, bisnis-bisnis tersebut dijalankan putranya. "Saya tinggal ngecek-ngecek saja dan menghubungkan ke beberapa kenalan. Anak saya yang meneruskan prosesnya. Kalau saya yang mengerjakan semuanya, nanti dia tinggal terima enaknya saja," kata Bob.

Jika diminta membandingkan mana yang lebih disukai antara bidang bisnis dan sepak bola, "Sudah pasti sepak bola," ujar Bob. (IYA)
e-ti

Sumber: Kompas, 11 Juli 2010 | Penulis: Yulia Sapthiani

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 14 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Jagonya Bermain Reli Panjang Penata Tari Bagi Nurani Manusia

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Jusuf Kalla

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Bagaimana Darwis Triadi, membaca Indonesia dalam rentang waktu tahun 1980-an hingga kini? Jawabannya ada pada buku ini.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: