Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Agar PRT Menjadi Profesi Bernilai

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Agar PRT Menjadi Profesi Bernilai
e-ti | mediaindonesia-usman

Mantan pekerja rumah tangga (PRT) ini telah menggenggam gelar master dari Jerman. Dina Nuriyati kini berjuang memperbaiki nasib PRT lainnya.

Anggota Dewan Pertimbangan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) 2005-sekarang
Lihat Curriculum Vitae (CV) Dina Nuriyati

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Dina Nuriyati

QR Code Halaman Biografi Dina Nuriyati
Bio Lain
Click to view full article
Abdul Khaliq Ahmad
Click to view full article
Reinhart Simandjuntak
Click to view full article
Th. Sumartana
Click to view full article
I Gusti Ketut Jelantik
Click to view full article
Musliar Kasim
Click to view full article
Han Awal
Click to view full article
Valerine J.L. Kriekhoff

Masih segar dalam ingatan Dina Nuriyati bagaimana langkah pertamanya di kota sebesar Hong Kong. Saat itu, pada 1997, Dina masih bau kencur. Dia baru saja lulus SMU dan berniat menimba ilmu di Hong Kong. Niatnya teguh menjadi bagian dari gelombang pengiriman tenaga kerja Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
(TKW) ke Hong Kong, bukan sekadar mengumpulkan uang membantu orang tuanya di sebuah desa di daerah Malang. Dina berencana kelak bisa melanjutkan kuliah di Indonesia dengan tabungan dari penghasilannya selama di Hong Kong.

"Di masa itu, banyak hal yang bisa membuat orang-orang desa memberanikan diri sendirian pergi ke negara asing untuk membantu ekonomi keluarga. Saya tidak mungkin diam melihat panen yang gagal. Orang pergi ke luar negeri sering bukan pilihan, kadang keterpaksaan. Semua berujung pada masalah ekonomi. Banyak juga yang putus sekolah dan tak punya pilihan. Apalagi menuntut kuliah," kenang Dina di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, kemarin.

Selama empat tahun menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di Hong Kong, Dina sempat merasakan hak-haknya dipenggal. Meski Hong Kong tergolong negara tujuan TKW yang lebih manusiawi daripada Arab Saudi ataupun Malaysia, Dina sempat digaji tidak sesuai standar dan tidak punya hari libur. Dua tahun pertama bekerja di sana, beban kerja Dina melebihi batas.

Lantaran tidak tahan, Dina berusaha keras mencari majikan baru yang minimal mau memberikan hari libur. Dia ingin menggunakan hari libur untuk kursus. "Saya gunakan satu hari libur itu untuk kursus komputer. Saya ikuti hampir semua pelatihan yang ada di kota Hong Kong. Pelatihan kepemimpinan, pelatihan gender, pelatihan hukum, macam-macam lah," ujarnya.

Lantaran terpapar dengan pengalaman berorganisasi, awal tahun 2000 ia bergabung dengan Indonesian Migran Union Worker. "Saya cari tahu sebenarnya peraturan untuk kami itu bagaimana, sembari mulai kursus komputer. Akhirnya saya tahu ada hak libur sehari dalam seminggu. Ada gaji standarnya, ada jam kerja. Tapi ini semua sering-disepelekan. Jadi, bukan hanya yang disiksa saja yang perlu dibela," ujarnya.

Advokasi

Empat tahun bekerja di Hong Kong, Dina menepati janjinya. Dia melanjutkan kuliah di Malang, mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Saat sibuk kuliah, ia diminta menjadi koordinator gerakan PRT di Malang. Dina mengakui, PRT merupakan golongan buruh yang paling sulit dibela. Pasalnya, lingkup kerja PRT selalu saja diklaim sebagai lingkup domestik. "Kalau Anda kerjadi restoran atau perusahaan, jika Anda atau bos Anda berbuat salah, tidak sulit mencari saksi karena itu ruang publik. Tapi kalau PRT dilecehkan? Apa iya anaknya yang mungkin saja melihat mau melaporkan ke Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
?" sahutnya.

Sepanjang proses pendampingan itu, Dina paling gemas dengan sikap pemerintah terutama kepada PRT yang bekerja di luar negeri. PRT, kata Dina, justru sering dianggap sumber masalah negara. "Yang disorot justru banyaknya PRT yang tidak layak kerja dikirim, PRT yang ke luar negeri tidak punya dokumentasi resmi. Saya sangat sepakat itu harus dibereskan, tapi bukankah semua kesalahanakan berbalik kepada pemerintah? Kenapa tidak menyejahterakan mereka, kenapa tidak membuat fasilitas dan pendukung yang baik untuk profesi ini," tegasnya.

Dina masih ingat betul bagaimana seorang pejabat yang bahkan sudah melihat sendiri penderitaan PRT yang terabaikan hak-haknya masih saja tak tergerak membantu. "Pernah saat saya dan teman-teman dari IM mengawal langsung pemulangan PRT dari Umur Tengah. Kami datang langsung ke polres di Jakarta. Menginap di sana menemani mereka. Mereka semua korban penyiksaan dan pemerkosaan. Kondisi mereka benar-benar memprihatinkan. Waktu itu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2009-2014)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2009-2014)
Muhaimin Iskandar
yang masih menjadi ang-, gota DPR juga ikut datang kok. Dia lihat mereka. Tapi sekarang?" ujarnya dengan nada meninggi dan mata berkaca-kaca.

Sakit hati

Dina memang masih sakit hari dengan sikap Indonesia yang bersikukuh menolak mendukung adanya konvensi internasional perlindungan hak-hak PRT yang dibahas pada Juni 2010. Padahal mayoritas negara Eropa dan Amerika telah menyetujuinya. Belum lagi sikap DPR yang masih saja mengeluarkan pembahasan RUU Perlindungan PRT dari program legislasi nasiona) 2010 pada rapat tanggal 2 Juni 2010. Menurut Dina, alasan yang mereka kemukakan juga tidak logis.

"Kalau Indonesia tidak serius melindungi hak-hak PRT di dalam negeri, bagaimana negara ini punya posisi tawar tinggi untuk membela PRT di luar negeri yang disiksa? Kan dengan mudah negara-negara itu membalikkan pembelaan Indonesia,Loh, Anda sendiri tak melindungi PRT, makin lemahlah posisi PRT kita di luar," tegasnya.

Indonesia, lanjutnya, seharusnya belajar dari Hong Kong. Kemajuan Hong Kong disebabkan warganya dapat berkonsentrasi penuh pada pekerjaan kantor. Semua urusan domestik rumah tangga telah tertangani dengan baik oleh PRT. "Sekarang meski semua serbamesin, tetap saja sentuhan manusia diperlukan dalam mengurusi rumah tangga. Bahkan PRT terbukti berperan signifikan dalam menumbuhkembangkan generasi Hong Kong. Anak-anak Hong Kong yang mengajari pertama kali, ya PRT itu," sahutnya.

Profesional

Dina mengaku memimpikan agar PRT dapat dipandang sebagai sebuah profesi yang bernilai. "Semua kesempatan edukasi dan berorganisasi yang terbuka untuk saya, saya kerjakan. Itu tidak mudah. Saya mewakili organisasi ikut konferensi di Taiwan atau ikut persiapan konvensi internasional di Nepal, waktu masih jadi PRT. Saya buktikan ke majikan meski saya menyiapkan demonstrasi, menulis spanduk sampai malam, jam 1 atau jam 2 dini hari, saya tidak pernah mengesampingkan kerja." ucapnya.

Perjuangannya sekarang adalah mengedukasi masyarakat dan pemerintah mengenai peran signifikan seorang PRT. Pemerintah juga menjadi poin penting pengembangan PRT yang profesional. Adanya payung hukum yang tegas, fasilitas serta kemudahan akses bagi PRT yang ingin mengembangkan dirinya seharusnya mutlak disediakan pemerintah. "Jadi, kami kuatkan juga lobi ke DPR ke pemerintah. Kuatkan organisasi PRT. Karena kalau lemah, kami pasti tidak akan didengar pemerintah/ tandasnya. (M-4) e-ti

Sumber: Media Indonesia, Kamis, 1 Juli 2010 | Vini Mariyane Rosya

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 10 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Facebook

TIKomen

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: