WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Mengobati si Bongkok dengan Hati

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Mengobati si Bongkok dengan Hati
e-ti | Mediaindonesia-ramdani

Lucu memang, sebagai negara penghasil udang terbesar keempat di dunia, Indonesia hingga saat ini belum punya satu pun ahli diagnosis penyakit udang. Petani udang hanya bisa pasrah siap-siap panen dini saat udangudang sakit.

Asisten Akademik Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Ban...
Lihat Curriculum Vitae (CV) Sidrotun Naim

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Sidrotun Naim

QR Code Halaman Biografi Sidrotun Naim
Bio Lain
Click to view full article
Hasan Bisri
Click to view full article
Sutiyoso
Click to view full article
Luluk Purwanto
Click to view full article
Mochamad Noor
Click to view full article
Citradewa Garini
Click to view full article
Taufiq Kiemas
Click to view full article
Jusuf Ronodipuro

Itulah yang tebersit dalam pikiran Sidrotun Naim ketika perjalanan hidup membawanya ke Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
, tinggal dekat dengan petani udang. Hatinya meronta saat melihat langsung kerugian dan penderitaan petani udang akibat udang-udang yang sakit.

"Saya lihat sendiri bagaimana ini merupakan mata pencaharian yang penting untuk mereka. Pascabencana tsunami, petani udang di pesisir pantai Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
sempat berhasil panen tahun 2007. Tapi saat 2008 panen udang mereka gagal, katanya gara-gara penyakit, tapi tak ada yang bisa buktikan. Dari sinilah saya tertarik belajar penyakit udang," ucap Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
31 tahun yang akrab dipanggil Naim, saat ditemui di Pusat Riset Perikanan Budi Daya, Jakarta, Senin (9/8/2010).

Sarjana biologi Institut Teknologi Bandung itu menilai hingga sekarang petani udang seperti mengadu untung saja ketika menambak udang. Kalau bernasib baik, mereka bisa mempertahankan umur udang hingga 4 bulan. Jika tidak, petani paling mentok hanya bisa menambak hingga umur 2 bulan saja. "Makanya saya ingin sekali menjadi ahli histologi yang bisa mendeteksi penyakit udang. Jadi bisa tahu tingkat keparahan penyakit udang bagaimana, ekornya merah atau tidak, ototnya bagaimana, rusak atau tidak. Saya hanya ingin para petani udang untung," tegas ibu satu anak ini.

Pencegahan

Dengan menjadi ahli histologi, Naim mengatakan banyak hal yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan keuntungan bagi petani. Salah satunya mencegah penyebaran penyakit pada udang. "Salah satu keuntungan menjadi ahli histologi adalah kita bisa mengetahui apakah udang tersebut sehat atau mulai sakit, serta apa yang menyebabkannya. Kalau sakitnya belum parah, bahkan bisa disembuhkan. Selain itu kita juga bisa mengatur tempat penambakan melalui berbagai riset mengenai penyakit ini, jadi sifatnya lebih kepada pencegahan," papar Naim.

Di Indonesia, proses pencegahan sakitnya udang tertinggal jauh jika dibandingkan dengan di luar negeri. Pusat penelitian di Amerika Serikat, misalnya, secara rutin akan meriset tempat penambakan udang secara acak untuk memastikan tambak itu layak dihuni udang.

"Mereka pastikan betul, airnya, suhunya, pakannya, semua sehat untuk udang. Dengan begini, panen tambak udang mereka bisa dipastikan berhasil terus, risiko gagalnya lebih kecil," sahut Naim. Bahkan, penelitian lanjutan di Hawai telah dapat menghasilkan udang yang kebal terhadap penyakit-penyakit yang paling sering menyerang udang. Udang jenis Litopenaeus vannamel inilah yang saat ini justru paling banyak dikonsumsi di Indonesia.

Sebenarnya kita itu punya udang yang asli Indonesia, namanya windu. Tapi udang ini sudah jarang dibudidayakan karena rentan terhadap penyakit. Kalau lama-lama dibiarkan, bisa-bisa kita kehilangan satu spesies dalam biodiversitas laut," tutur Naim.

Padahal, lanjut Naim, secara ekonomis, nilai udang windu jauh lebih tinggi ketimbang udang Litopenaeus vannamel. "Nilai jualnya lebih tinggi dan biaya pakannya juga murah. Tapi sayang, udang windu sering sakit," sesalnya.

Banting setir

Besar dalam keluarga sederhana di Solo, Jawa Tengah, yang jauh dari laut, lidah Naim hampir tak pernah menyentuh udang. Kata Naim, ayahnya cuma guru. Udang menjadi makanan mewah bagi keluarga mereka. "Saya baru makan udang pertama kali saat umur 22 tahun, ketika kerja di PT Freeport. Di sana semua hidangan laut melimpah, jadi mau makan ikan apa, tinggal ambil. Bagi saya dan 11 saudara saya, yang namanya udang adalah hidangan laut yang mewah," ungkap Naim sambil tersipu-sipu.

Di Papua juga Naim memutuskan banting setir dari sarjana yang mengutak-atik tanaman menjadi peneliti yang bergelut dengan hal-hal kelautan. Saat menjalankan pekerjaan pertamanya di Papua, Naim seperti mendapat pencerahan. Saat itulah untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat laut yang begitu luas. "Selama waktu kecil di nyanyian atau buku-buku saja. Saya benar-benar takjub," ucapnya. Meski memulai sebagai awam, Naim merasa beruntung memiliki mentor dan teman yang selalu memberinya semangat dan inspirasi.

"Saat saya hampir putus asa di semester pertama kuliah tentang kehidupan laut dalam di Australia, misalnya, saya pun banyak diskusi dan kemudian memutuskan untuk mengambil bagian tentang penelitian laut pesisir, terutama kepiting," kenang Naim. Kalau ia merasa sedang di titik rendah, Naim mengaku selalu ingat perkataan dosen pembimbingnya saat masih kuliah di ITB dulu. Naim bilang, ketika masih di Bandung, ia sempat bingung dengan tingkah salah satu pembimbingnya, Erly Marwani, yang setiap hari mengecek tanaman yang sedang dikembangkan dalam sistem kultur jaringan.

"Saya tanya ke beliau, kenapa harus setiap hari, kan perubahannya tidak setiap hari. Beliau menjawab, sebagai seorang peneliti kamu harus peka dengan segala perubahan yang ada, sekecil apa pun dan bisa menemukan pola perubahannya. Wah itu tak pernah saya lupa," kenangnya terharu.

Begitu pun saat di Australia, teman yang memberinya tumpangan tinggal sering membuatnya tercengang dengan semangat belajar yang seperti tak pernah padam. "Saat tengah malam, saya tahu dia masih saja belajar. Sampai sudah menikah pun, tengah malam, dia masih suka bangun menyelesaikan pekerjaannya," ucapnya.

Kini, fokus Naim pada penelitian mengenai penyakit udang tak lain agar petani udang mempunyai rujukan yang tepat dan dapat dipercaya untuk mengatasi permasalahan tambaknya. Mimpi Naim, Indonesia bisa mempunyai fasilitas riset udang yang memadai untuk memajukan kehidupan petani udang.

"Penyakit peneliti itu kan suka menggantiganti fokus keahliannya. Saya sudah. Saya mau fokus saja di penyakit. Saya mau bangun laboratorium yang memadai biar generasi mendatang bisa tertarik meneliti udang," tandas Naim yang tengah mengambil program doktoral di Universitas Arizona, Amerika Serikat. Kata-katanya tegas, menguatkan niat. (M-4) e-ti

Sumber: Media Indonesia, Rabu, 11 Agustus 2010 | Penulis: Vini Mariyane Rosya

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 07 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Pelestari Bahasa Daerah Muna Nyaris Tertangkap Belanda

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Jusuf Kalla

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Wastafel, selain fungsinya untuk mencuci tangan, wajah, atau benda kecil lainnya, ternyata juga dapat mempercantik tampilan interior rumah jika diatur dan dipikirkan dengan baik.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: