WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Setia Mendengar Kaum Muda

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Setia Mendengar Kaum Muda
e-ti | kompas.com

"Age (is) just the number. Young is forever". Tulisan itu terbaca di pintu masuk ruang siar Radio Prambors di lantai 20, gedung Ratu Plaza, Jakarta. Prambors tahun ini berusia 39 tahun, dan salah seorang pendirinya, Malik Sjafei Saleh, telah menginjak usia 56. Prambors dan pendirinya sama-sama tidak pernah "tua".

Direktur Utama PT Radio Kayu Manis
Lihat Curriculum Vitae (CV) Malik Sjafei Saleh

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Malik Sjafei Saleh

QR Code Halaman Biografi Malik Sjafei Saleh
Bio Lain
Click to view full article
Valentina A Kusumaningtyas
Click to view full article
Ira Koesno
Click to view full article
Nungki Kusumastuti
Click to view full article
Adolf Jouke Sondakh
Click to view full article
Kang Ibing
Click to view full article
Asep Budiman
Click to view full article
Saan Mustopa

Ketika Prambors resmi berdiri pada 18 Maret 1971, Malik Sjafei berumur 18 tahun. Dia bahkan baru berusia 14 tahun atau kelas II SMP ketika mulai "main" radio dengan teman sebayanya, seperti Imran Amir, Mursid Rustam, Bambang Wahyudi, Tritunggal, dan lainnya. Mereka adalah kawan satu RT di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya—disingkat Prambors.

"Nama Prambors sudah ada sebelum radio berdiri. Remaja di RT itu bikin geng namanya Prambors. Kami bikin radio supaya kami beken," kata Malik yang kini Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Utama PT Masima, yang antara lain membawahi radio Prambors.

Alkisah, tahun 1967 Tritunggal yang biasa dipanggil Itung suka mengutak-atik pemancar radio. Itulah embrio radio yang di kemudian hari menjadi Prambors. Malik ingat benar anak-anak geng itu menggunakan antena dari bambu yang dipasang di atas pohon. Siaran itu bisa ditangkap sampai kawasan Dukuh Atas yang berjarak sekitar dua kilometer dari markas Prambors.

Dari kamar Bambang Wahyudi, siaran tanpa izin itu mengudara. Mereka memutar lagu yang sedang menjadi soundtrack era 1960-an, seperti "Massachusetts" dari Bee Gees, juga "I Gotta Know What's Going On" milik The Cats. Dan, tentu saja lagu Beatles seperti "Michelle," "Girls" dan "Norwegian Wood" yang termuat di album Rubber Soul.

Radio yang semula merupakan identitas geng remaja itu, pada tahun 1969 mulai terorganisasi dalam bentuk yayasan. Pada 18 Maret 1971, Prambors menjadi badan hukum bernama resmi PT Radio Prambors Broadcasting Service.

"Saya waktu itu masih anak bawang di geng. Akhirnya, kawan-kawan yang sudah mahasiswa ikut bantu kami di radio. Kalau mereka tidak datang, barangkali Prambors juga enggak jadi," kata Malik yang menyebut nama seperti Temmy Lesanpura sebagai orang yang ikut berperan membidani lahirnya Prambors.

Radio itu kawan

Isi siaran Prambors pada masa awal merupakan kepanjangan selera, gejolak, dan dinamika remaja pendirinya. Mereka belum mengenal teori Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
apa pun. "Siaran kami waktu itu ditentukan oleh feeling remaja. Kami mencurahkan perasaan dan style kami."

Kurun tahun 1975-1978 merupakan masa krusial dalam kelanjutan Prambors sebagai radio dengan sasaran pendengar remaja. Tahun 1978, usia Malik sudah 25 tahun. "Kalau mau mengikuti usia pendirinya, radio akan ikut tua. Di situlah krusialnya."

"Kalau waktu itu kami tidak sadar untuk membuat product positioning sesuai dengan target market, barangkali hari ini tidak ada lagi Prambors."

Prambors tetap komit dengan kaum muda. Mereka memosisikan diri sebagai radio dengan sasaran pendengar kaum muda usia 15-25 tahun. Mereka membuat produk yang sesuai dengan sasaran pendengar. Hal itu tidak mudah karena radio, menurut Malik, bukan sekadar sarana hiburan pengganti kaset, melainkan juga sebagai kawan.

"Produk radio itu companionship, kawan. Orang punya temen Prambors karena dia (Prambors) itu temen yang oke, selalu gembira, punya tanggung jawab," katanya. Sebagai teman, radio itu ketemu teman setiap hari. Kadang di tengah malam, di kamar (tidur), atau bahkan di kamar mandi. Kedekatan radio dan pendengarnya itu di satu sisi tentu menguntungkan, tetapi, menurut Malik, juga fragile, rawan. Sekali pendengar kurang berkenan dengan produk, mereka akan sulit kembali. "Padahal, sekarang ini yang namanya radio itu kalau mau pindah (gelombang) tinggal pencet."

Untuk itu, Malik menekankan perlunya pemahaman selera, perilaku, gaya hidup, dan lainnya. "Kami melakukan riset setiap tiga tahun. Itu karena strategi product positioning program siaran radio sangat ditentukan oleh life style pendengarnya," ujarnya.

Semua rencana program siaran, promosi, dan layanan lain mengacu pada hasil survei tersebut. Malik memberikan contoh penyajian musik, pemilihan penyiar, gaya penyiar, dan apa yang disampaikan penyiar sebagai teman pendengar, dirancang berdasarkan "maunya" si temen.

Malik yang sejak remaja menggeluti dunia remaja menyadari, remaja saat ini berbeda dengan remaja di masanya dulu. Jika Prambors dulu bisa menentukan tren, kini situasi berbeda. Sekadar contoh, Prambors pernah merintis Lomba Cipta Lagu Remaja yang menghasilkan "Lilin-Lilin Kecil". Radio itu juga melahirkan acara Warkop (Warung Kopi) yang kemudian menjadi kelompok komedi. Drama Catatan Si Boy juga lahir dari dapur Prambors.

"Sekarang kami yang harus mengikuti tren mereka. Jelajah informasi dan pengetahuan mereka sangat luas. Radio ngomong tentang Paris Hilton, mereka sudah jadi follower Paris Hilton di Twitter, " kata Malik memberi ilustrasi.

Namun, pengalaman hampir 40 tahun bergaul dengan dunia remaja menjadikan Prambors bisa berteman dengan remaja. Dia tetap memosisikan diri sebagai teman yang mau mendengar suara, dinamika kaum muda, dan tidak menggurui. Nyatanya, Prambors kini tak hanya ada di Jakarta, tetapi juga menjadi teman remaja di Bandung, Makassar, Medan, Semarang, Solo, Surabaya, dan Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
.

Radio yang dulu menjadi alat "gaya" anak geng itu di belakang hari menjadi Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
yang berkelanjutan—bukan gaya musiman. Di bawah kelompok usaha Masima, kini selain Prambors mengudara pula Radio Female di 4 kota, serta Delta FM di 6 kota. Setiap radio mempunyai segmen usia pendengar berbeda. Malik dengan nyaman masuk ke berbagai segmen, termasuk dunia muda.

Anda merasa masih remaja?

"Saya enggak tahu. Saya cuma bisa bilang, saya punya memori waktu ayah saya berusia 56 tahun dan rasanya saya kok lain. Saya enggak seperti bapak saya waktu umurnya sama dengan saya sekarang. Akhirnya, hati saya seperti slogan di pintu Prambors itu."

Slogan di atas bisa dibaca bebas dengan bahasa radio: Usia hanya soal angka. Jiwa muda itu abadi, selamanya.

"Jadi, kalau ditanya apakah saya masih remaja, barangkali iya ha-ha-ha...," kata Malik. e-ti

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sumber: Kompas, Jumat, 26 Maret 2010 | Penulis : Frans Sartono

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 26 Mar 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Maestro Lagu Anak Anak Advokat Politisi Hingga Hakim Mk

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Ahok-Djarot

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Mau menikmati Jakarta tanpa kesasar? Baca buku ini.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: