WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Laboratorium Sel Surya Hartika

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Laboratorium Sel Surya Hartika
e-ti | kompas.com

Kalimat yang diucapkannya bukan ungkapan kekesalan, melainkan kesetiaan. "Saya tua di laboratorium. Tetapi, tetap saja sampai sekarang belum berdiri industri sel surya," kata Ika Hartika Ismet di Bandung, Jawa Barat.

Periset Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI
Lihat Curriculum Vitae (CV) Ika Hartika Ismet

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Ika Hartika Ismet

QR Code Halaman Biografi Ika Hartika Ismet
Bio Lain
Click to view full article
Tumpak Hs Simanullang
Click to view full article
Saadillah Mursjid
Click to view full article
Sumitro
Click to view full article
Choky Sihotang
Click to view full article
Frans Hendra Winarta
Click to view full article
Urip Santoso
Click to view full article
Laode Masihu Kamaluddin

Sudah 30 tahun Hartika berkecimpung dalam kegiatan riset produksi sel surya. Ia sedang meriset proyek percontohan pabrikasi sel surya skala 2 juta wattpeak di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bandung.

Jauh hari sebelumnya, ia sudah menguasai teknik produksi sel surya. Tetapi, industri yang dinanti tak kunjung datang. Pemerintah pun bergeming, diam seribu bahasa.

Pada masa Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
sebenarnya Hartika memperoleh anugerah Satyalancana Pembangunan dari Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
(1997). Penghargaan itu dia dapatkan atas perannya dalam Lapangan Pembangunan Bidang Industri Strategis: Proses dan Produksi Komponen Sel Surya, Listrik Tenaga Surya untuk Sejuta Rumah.

Bagi Hartika, saat itu ada secercah harapan akan segera muncul industri sel surya di dalam negeri. Didorong pula peristiwa tahun sebelumnya, 1996, Istana Negara meminta 50 panel sel surya untuk solar home system yang dirancang Hartika di PT LEN Industri (Persero) Bandung.

Pembuatannya masih dengan metode screen printing, yaitu metode yang tergolong awal untuk proses produksi sel surya. Metode ini sekarang relatif sudah tertinggal. Inovasi yang berkembang menjadi metode spray phosphor, kemudian metode disposisi SiNx yang semakin efisien.

Ketika itu, Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
meminta dan memberikan 50 panel sel surya itu untuk pertukaran cendera mata dengan Pemerintah Malaysia. Pemerintah Malaysia datang dan menyampaikan tiga mobil Proton Saga, mobil nasional kebanggaan negeri jiran itu. Dari Indonesia, dipilih penukar ciedera mata berupa sel surya hasil pengembangan riset Hartika. Ini untuk mengimbangi Malaysia. Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
ingin menunjukkan Indonesia tak kalah maju di bidang teknologi.

Malaysia boleh unjuk gigi, mampu membikin mobil sendiri. Indonesia tidak mau kalah dengan menunjukkan teknologi sel surya "bikinan sendiri".

Entah apa yang dikatakan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
kepada Pemerintah Malaysia waktu itu. Sel surya itu sebenarnya masih sebagai produk skala laboratorium Hartika di PT LEN. Belum ada pabrikasinya, bahkan sampai dua tahun menjelang Hartika pensiun pada usia 65 tahun pada 2011. Memang ironis.

Hartika mengungkapkan, sel surya sebagai teknologi ramah lingkungan pada era 1994 mulai marak di dunia. Saat itu, Jepang mengimplementasikannya untuk program One Million Roof, sejuta atap rumah dengan sel surya. Pada 1997, The European Commision menyusul dengan One Million Solar Residential System, dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menempuh One Million Roof. Pada 1997, Soeharto mencanangkan program "Listrik Tenaga Surya untuk Sejuta Rumah" di pedesaan terisolasi dengan setiap rumah 50 wattpeak (Wp). Dananya dari utang lunak luar negeri.

Hitung-hitungan Hartika, program itu akan mengimplementasikan sejuta kali 50 Wp sel surya menjadi 50 megawattpeak (MWp). Ini ditargetkan selesai pada 2004. Namun, sampai kini diketahui hanya terlaksana sebesar 9 MWp.

Untuk kesekian kalinya, harapan Hartika makin kuat akan adanya industri sel surya dalam negeri. Akan tetapi, kenyataan bicara lain. Itulah sebabnya mengapa Hartika kemudian mengatakan, meskipun dia tua di laboratorium, tetap saja industri sel surya tak berdiri.

Perkara berani

Meskipun Indonesia sudah memulai, menurut Hartika, negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, ternyata yang lebih dulu membuat pabrikasi sel surya.

Itu bukan karena para ahli mereka yang lebih dulu mampu membuat sel surya, melainkan ini lebih karena pemerintah negara-negara itu berani memutuskan membuat industri sel surya.

Menurut Hartika, bagi Indonesia, mendirikan industri sel surya sebenarnya bukanlah perkara bisa atau tidak bisa. Tetapi, untuk mewujudkannya diperlukan keberanian dari pemerintah.

"Ini perkara keberanian pemerintah untuk memberikan keputusan yang nyaman dan aman bagi investor. Tujuannya juga untuk memberikan manfaat kesejahteraan khalayak," katanya.

Selepas studi Jurusan Elektronika Institut Teknologi Bandung (ITB), Hartika lalu bergabung di Lembaga Elektronika Nasional (LEN)—masih di bawah LIPI. Pada 1991, pemerintah mengubah LEN-LIPI menjadi PT LEN Industri (Persero), sebagai badan usaha milik negara yang terpisah dengan LIPI.

Tahun 1976, dia mendalami ilmu semiKonduktor, komposer, dan produser
Konduktor, komposer, dan produser
konduktor
di Universitas Lancaster, Inggris. Hartika sempat memilih kembali ke Tanah Air ketika keinginannya untuk studi ilmu semiKonduktor, komposer, dan produser
Konduktor, komposer, dan produser
konduktor
ditolak. Sebaliknya, ia diminta memilih studi superKonduktor, komposer, dan produser
Konduktor, komposer, dan produser
konduktor
.

"Alasannya waktu itu, semikonduktor sudah cukup saya pelajari di tingkat S-1," ujarnya. Selain itu, mempelajari superkonduktor, dikatakan, akan jauh lebih bermanfaat. Terlebih waktu itu ada kerja sama riset dengan sebuah perusahaan untuk pengembangan superkonduktor.

"Saya tetap ngotot. Kalau tidak diizinkan belajar semikonduktor, lebih baik pulang," kata Hartika. Keinginannya itu kemudian dikabulkan. Ia menyelesaikan S-2 di Lancaster selama 13 bulan.

Tahun 1979, Hartika berkesempatan mendalami teknologi sel surya di Osaka, Jepang. Pada tahun-tahun berikutnya ia terus menimba ilmu sel surya di sejumlah negara di Eropa, Asia, juga Amerika Serikat.

Berkat konsistensi, kesetiaan, dan penguasaan teknologi proses produksi sel surya yang dia miliki, Juni 2007, Hartika dikukuhkan sebagai profesor riset oleh Kepala LIPI Umar Anggara Djenie di Jakarta. Sebulan kemudian, Presiden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Susilo Bambang Yudhoyono
menganugerahkan Satyalancana Karya Satya XXX untuk dia.

Sayang, di bidang kemandirian teknologi ini, pemerintah masih sebatas menyampaikan penghargaan. Para periset tentu berharap, pemerintah berani dan segera mengimplementasikan hasil riset teknologi mereka. e-ti

Sumber: Kompas, Jumat, 5 Februari 2010 | Penulis : Nawa Tunggal

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 05 Feb 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Hidup Mengalir Laksana Air Bangkit Dari Keterpurukan

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Rahasia menghasilkan uang lebih banyak dan lebih cepat. Penjualan Anda pasti meledak!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: