WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pengamat Ekonomi Pertanian

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pengamat Ekonomi Pertanian
Bustanul Arifin | TICOM IMAGES | AM

Bustanul Arifin masih bisa menjaga diri untuk tetap steril dari kepentingan politik praktis. Dia pengamat ekonomi pertanian brilian yang mendasarkan pisau analisa pada kebeningan nurani. Konsisten ingin memperbaiki peradaban melalui ilmu dan kapasitas yang dimiliki. Bustanul kukuh untuk berjuang membela petani melalui jalur akademis dan jalur profesional sebagai peneliti, konsultan dan penulis.

Guru Besar Ilmu Pertanian Universitas Lampung
Lihat Curriculum Vitae (CV) Bustanul Arifin

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Bustanul Arifin

QR Code Halaman Biografi Bustanul Arifin
Bio Lain
Click to view full article
Abraham Samad
Click to view full article
Muhammad Yamin
Click to view full article
Edy Prasetyono
Click to view full article
Marie Muhammad
Click to view full article
Andung A. Nitimiharja
Click to view full article
MS Kaban
Click to view full article
Burhanuddin Abdullah
BERITA TERBARU

Sejumlah tawaran dan iming-iming jabatan penting di pemerintahan pernah mampir kepadanya. Tetapi dengan halus ia masih menolaknya dengan alasan sederhana. Menurutnya, membela kepentingan petani memberikan kemerdekaan tersendiri yang tak ternilai harganya.

Ia memang pria yang rendah hati dan hidup bersahaja. Rendah hati menurutnya tak berarti rendah diri. Bustanul penganut ilmu padi, yang semakin berisi semakin merunduk. Tak heran jika ia merasa hidupnya biasa-biasa saja tak ada yang terlalu istimewa.

Bustanul Arifin (44) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi Pertanian, pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila), Lampung, pada 20 Februari 2006. Dalam orasi ilmiah yang diberi judul, "Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Membangun Peradaban Sebuah Refleksi Untuk Reposisi", ia menyebut ilmu ekonomi pertanian dapat berperan dalam membangun peradaban.

Menurutnya, syarat untuk bisa memasuki peradaban, ilmu ekonomi pertanian harus melakukan reposisi dengan menempatkan petani sebagai subjek atau aktor sentral dalam pembangunan pertanian. Pria kelahiran Bangkalan, Madura 27 Agustus 1963 ini memastikan industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan berjalan mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah.

"Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen lain, baik secara individual maupun secara kelompok," jelas ayah tiga orang anak bernama Muhammad Naufal Yugapradana (13), Nabila Isnandini (8), dan Muhammad Nawaf Tresnanda (6) ini.

Menikah tahun 1991 dengan Astuti Sariutami (40), mantan adik kelasnya di kampus, Bustanul Arifin menyelesaikan studi S-1 di IPB Bogor tahun 1985. Setelah melalui persiangan ketat berhasil memenangkan mendapatkan beasiswa fellowship fullbright, Bustanul menyelesaikan S-2 (Master of Science) tahun 1992 di University of Wisconsin-Madison, AS dengan tesis Land Use Intensification of Indonesia Agriculture. Di kampus sama tahun 1995 ia menyelesaikan S-3 (Doctor of Philosophy) dengan judul disertasi The Economics of Land Degradation: A Case Study of Indonesia Upland.

Sebagai pria berdarah Madura, kehidupan sekeliling Bustanul di masa kecil sangat kental dengan NU. Ia lahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, dan ketika ibu kandung meningal dunia ayahnya menikah lagi hingga mereka lengkap menjadi 10 bersaudara. Ayahnya yang seorang tokoh NU, dan kiyai pemilik sebuah pesantren, itu lalu menempatkan Bustanul ke SMP Pendiri Muhammadiyah 1912
Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah
hingga dianggap berkhianat sebab peristiwa semacam ini jarang pernah ada dan jauh dari cerita orang kebanyakan.

Tetapi pilihan tersebut rupanya memberi Bustanul pelajaran praktis bagaimana berdemokrasi dan beradu argumen secara jujur apa adanya. Bustanul kerap berbeda pendapat secara tajam, adu mukut hingga bertengkar dengan saudara-saudaranya yang mempertahankan tradisi asli NU, dengan Bustanul yang membawakan ajaran Pendiri Muhammadiyah 1912
Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah
, hanya karena masalah sepele. Misal perihal bagaimana solat pakai khunut, pakai peci, pakai celana dan semacamnya. Ayahnya yang turut menyaksikan pertengkaran itu hanya senyum-senyum saja.

Pendidikan di rumah model demikian dirasakan Bustanul sebagai pelajaran demokrasi pertama beradu argumen. "Saya beruntung dengan pendidikan seperti itu, keras. Orang jaman dulu mana ada yang tidak keras, dan saya mengalaminya pasti keras, tidak boleh gagal dan seterusnyalah," kata Bustanul yang mengangap, pasal pertama dari demokrasi adalah mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu, baru menawarkan pendapat sendiri.

Setamat SMA Negeri 2 Bangkalan Bustanul bercita-cita sekali ingin kuliah sarjana kedokteran di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ia sangat mengidealkan seorang dokter yang sekali nyuntik pasti dapat duit. Tetapi para guru SMA mendorong-dorong siswa pemegang ranking dua ini, supaya mau mengambil kuliah di IPB Bogor. Alasannya, mumpung bisa masuk tanpa test, sebab di Unair masih belum tentu bisa diterima. Alasan ini masuk akal, lalu diterima masuk IPB, padahal guru-guru itu rupanya hanya ingin membuat image baru tentang sekolahnya yang baru berdiri tetapi sudah meluluskan alumni pertama masuk tanpa test ke sebuah PTN ternama.

Setelah 'bermukim' di Kota Hujan Bogor pada akhirnya Bustanul harus mengakui dan mengucapkan salut kepada Andi Hakim Nasution (Almarhum), Rektor IPB Bogor waktu itu yang memberi banyak warna terhadap pola kehidupan ilmiah Bustanul. Di Bogor Bustanul berkenalan dengan beragam asal suku bangsa, yang membentuk visi barunya tentang ke-Indonesiaan, sehingga tak lagi terkungkung dengan pemikiran sempit di kampung. Di Bogor ia mengalami titik balik baru, yang lalu berlanjut lagi tatkala berkesempatan menginjak benua lain, di Amerika Serikat, saat mendapat beasiswa mengambil program S-2 di Universitas Wisconsin, Madison. Perjalanan ini memberi Bustanul wisdom yang tak berbatas, bahwa sesungguhnya di atas langit masih ada langit.

Orang Lapangan
Bustanul Arifin pendiri Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), salah satu wahana lain pengabdian Bustanul Arifin dalam membangun peradaban, semasa kuliah dan bertugas sebagai Asisten Dosen (antara 1983-1985, untuk mata kuliah Ekonomi Umum di bawah Prof Rudy Sinaga, dan Kependudukan di bawah Prof Sediono Tjondronegoro), memang bercita-cita ingin melanjut ke pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Oleh dosennya ia lalu disarankan untuk melamar menjadi dosen sekaligus pegawai negeri di luar Jawa. Sebab jika tetap bercokol mengabdi di IPB daftar antriannya sudah sangat panjang.

Sambil memasukkan lamaran, pemuda Bustanul yang sudah seorang sarjana bergelar insinyur pertanian, itu berkesempatan bekerja di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
menjadi Kepala Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan Pedesaan Wilayah (P3W) Transmpigrasi Terpadu Krueng Tadu, Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
Barat, D.I. Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
(1986-1987). Di kawasan yang gadisnya cantik-cantik itu, Bustanul menikmati sekali bekerja langsung bersama petani di lahan transmigrasi yang terpencil. Di sana ia hidup tanpa koran tanpa televisi tanpa listrik dan kalau mau pergi kota jaraknya jauh sekali.

Sebagai Kepala Unit ia bertugas membuat demplot, demonstrasi percontohan pertanian yang baik untuk demplot jagung, cabe dan sebagainya. Karena merupakan insinyur duluan yang ada di sana, ia lalu dianggap sebagai pembina atau tokohlah oleh sesepuh di sana. Jadi kalau ada acara Maulid, atau Lebaran, ia duduk di depan bersama Pak Lurah dan diminta memberikan sambutan. Bahkan, karena ketokohannya, petani yang bercerai pun lapor kepada Bustanul, atau petani yang berkonflik mengenai air. Ia menikmati betul profesi itu, yakin itu tak lebih sebagai proses pematangn diri pribadi dan kepemimpinan.

Setelah 10 bulan bekerja Bustanul diminta cepat-cepat datang ke Lampung. Singkat cerita ia dipanggil pulang, menjalani proses seleksi yang demikian cepat, termasuk tes bahasa Inggris, aktif mengajar makro-mikro. Dari seribuan orang yang melamar untuk dapatkan beasiswa ke Amerika, terseleksi menjadi 800 orang, diinterview 400 orang, dan yang diberangkatkan 12 orang. "Saya termasuk yang 12 orang itu," kata Busatnul, tepat pada tahun 1988 akhirnya berkesempatan pergi sekolah ke luar negeri.

Keberhasilan mendapatkan beasiswa itu tak terlepas pula dari kejujuran Bustanul dalam menuliskan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya di lapangan, melampirkan profil latar belakangnya sebagai ilmuwan ekonomi pertanian, dan keinginan mengambil pendalaman ilmu sumberdaya lahan pertanian. Menurut Bustanul di sana ada degradasi lahan, dan pemecahannya harus dengan pendekatan multidisiplin, bukan hanya ilmu ekonomi semata tetapi juga sosial dan sebagainya. "Kira-kira itu yang mungkin membuat impress para penyeleksi," tutur Bustanul mengenang.

Pengalaman di Universitas Wisconsin
Kuliah di University of Wisconsin-Madison, Amerika, itu tak cukup hanya mengandalkan beasiswa. Apalagi sudah dengan satu orang anak, dan satu istri yang harus ditanggung. Anak pertama Bustanul, Muhammad Naufal Yugapradana itu lahir di Amerika.

Untuk menambah penghasilan Bustanul nyambi bekerja di perpustakaan. Ia mengerti betul komputer atau programmer. Bekerja di pusat komputer dapat uang, sambil mengerjakan pekerjaan sekaligus ia menulis disertasi.

Di University of Wisconsin ini kulturnya berbeda dengan di IPB. Sejumlah pelajaran berharga berhasil diperolehnya selama bermukim di sana. Misalnya, banyak hal yang bisa menjadi pertimbangan, atau bahan, mengapa negara lain memperhatikan pendidikan dan menghargai orang tinggi sekali. Bisa disambungkan dengan ilmu politik, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, mengalami dan melihat orang, Bustanul menyimpulkan bahwa paling tidak yang namanya demokrasi bunyi pada pasal pertamanya mungkin menyebutkan mendengarkan pendapat orang lain, bukan memasukkan pendapat sendiri dulu. "Kita berpendapat setelah orang lain kita ketahui pendapatnya. Jadi, sebetulnya tenggang rasa masih nyangkut di situ," kata Bustanul.

Usai menamatkan S-2 tahun 1991, break selama enam bulan, Bustanul melanjutkan program S-3 di universitas yang sama dan menulis disertasi tentang degradasi lahan. Pilihan ini didasari ketertarikan dan kepedulian sejak awal tentang ide pembangunan yang berkelanjutan, atau sustainability development. "Waktu itu semua orang berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan, membuat saya tertawa juga. Saat itu ada Summit Rio sehingga saya ikut terbawa ingin meneliti lebih jauh mengenai keberlanjutan pembangunan. Saya menuliskan, ada penyusutan di lahan atau sumberdaya alam secara umum yang perlu dipertimbangkan dalam perhitungkan GNP," kata Bustanul penulis sejulah buku dan ratusan artikel di berbagai media mengenai ekonomi pertanian.

Terlibat Dirikan INDEF
Bustanul menyelesaikan S-3 dan meraih gelar Ph.D tahun 1995, terus pulang ke Indonesia saat-saat INDEF mulai berdiri. Ia mulai ikut-ikutan di sana, kendati suasana di tahun 1995 itu masih tidak terlalu baik untuk berdemokrasi. Satu hal membuat Bustanul semakin tertarik untuk bergabung, sebuah hasil studi INDEF tentang "Tata Niaga Tepung Terigu" terbukti cukup menggemparkan.

Temuan dan publikasi mengenainya adalah sesuatu hal yang baru pada waktu itu, dimana sebuah lembaga independen berani mengkritik pemerintah secara terbuka. Tentu saja, temuan ini berhubungan pula dengan Om Liem (Sioe Liong), Indofood, Bulog dan seterusnya. Ia pun ditelepon Mas Didik (J. Rachbini), membuat Bustanul ikut-ikutan. "Dari situ awalnya sampai akhirnya keterusan. Saya tidak terlibat dalam studi itu sebab masih sekolah di Amerika," kata Bustanul.

Bustanul memang tidak terlibat mendirikan INDEF dari awalnya. Pembentukan awal, ide, gagasan, pembentukan kaedah, kumpul-kumpul dan kongkow-kongkownya sudah dimulai Agustus 1995 saat Bustanul asih di Amerika. Ia pulang ke Jakarta Oktober, saat INDEF sudah berdiri tetapi hanya berdiri sebab belum berbadan hukum. Karena itu sangat tepat bia ia lebih berperan sebagai re-establishing saja. Ketika INDEF didaftarkan menjadi PT ia masuk di situ dan menjadikan INDEF menjadi lebih baik sebagai pusat kajian ekonomi dan keuangan.

Nah, setelah berada di sana Bustanul membawakan misi utama pendirian INDEF sebagai public education. INDEF berperan lebih banyak memberikan pelayanan dan pendidikan publik. Paling tidak, menyampaikan kebenaran walau kebenaran itu pahit.

Berada di Jakarta, selain di INDEF, Bustanul mulai kenal banyak orang Jakarta. Ia pun mulai berkiprah di berbagai bidang pengabdian seperti mengajar, hingga menjadi penasehat di Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
di DPR tahun 1997 setelah mendapat izin secara resmi dari universitas. Di almamater IPB Bogor ia mengajar Studi Kebijakan, di UI sebagai Koordinator Ekonomi Politik, di Unila mengajar Ekonomi Sumberdaya Alam dan Metodologi Penelitian Ekonomi (MPE). Dalam beberapa kali juga mengajar di Unri Riau dan di Universitas Pajajaran.

"Sebagai dosen saya harus mengajar, sebab kalau tidak mengajar ya bukan dosen," kata Bustanul, yang juga pernah punya pengalaman konsultansi seperti di USAID, Bank Dunia, UNDP, ILO. Kalaupun pernah bekerja di badan usaha berbentuk PT, itu tak lebih di INDEF yang memang berbadan hukum PT. Tetapi INDEF bergerak masih dalam lingkup pendidikan dan penelitian, semua produksinya berbentuk buku hasil-hasil penelitian. "Jadi, saya belum pernah bekerja di sektor swasta murni, di pabrik atau apa, mungkin tidak tertarik juga. Menurut saya tantangannya terlalu biasa di dunia ini," kata Bustanul.

Jika ada yang bertanya, mungkinkah akan bekerja di private sector, Bustanul memastikan jawabannya tidak. Karena itu bukan kebiasaan atau core-nya. Demikian pula apabila ditanya lagi apakah mau bekerja di birokrasi, kata Bustanul itu tidak menarik, tak banyak tantangannya menjadi pimpinan birokrasi. "Apakah Anda tanya kepada saya mau di politik, seperti Didik dan Dradjad (Hari Wibowo), mungkin nggak juga, tidak terlalu menariklah buat saya. Mungkin di politik adalah pengelolaan konflik tingkat tinggi dan saya tidak berminat untuk itu, tidak tertarik belum tahu kalau lima atau sepuluh tahun lagi. So far belum tertarik."

Konsisten Melakukan Penelitian
Di luar mengajar dan menjadi pengamat ekonomi pertanian, Bustanul banyak melakukan kegiatan penelitian dan konsultansi.

Belum lama ini, misalnya, ia melakukan penelitian studi kakao di 16 kabupaten di Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
. Penelitiannya sederhana tetapi ada kesan menarik yang membuatnya trenyuh. Kesan mereka, terutama suku Bugis dan suku Makassar itu, belum ada Presiden yang sebaik Habibie. Kenapa, karena sewaktu Habibie menjabat semua orang kampung bisa naik haji, semua petani makmur sebab harga coklat kakao sekilo Rp 20 ribu. Sekarang, payah, bisa empat enam ribu rupiah saja per kilo sudah hebat. "Saya tentu catat saja, tak harus saya komentari itu karena nilai tukar dolar, saya cuma bilang, oh, begitu, ya."

Setiap melakukan penelitian Bustanul selalu menjaga integritas diri dalam menghasilkan penelitian. Ia percaya lebih banyak yang bisa dijaga untuk menghasilkan penelitian yang objektif. Minimal, yang harus diambil sebagai parit garis untuk seorang peneliti adalah objektivitas itu. Baik katakan baik, tidak katakan tidak. Untuk sementara ini pemberi atau sponsor penelitian cukup maklum dengan sikap Bustanul itu. Kepada sponsor biasanya ia bisa berdebat dua hal saja, bisa dari hasilnya dan bisa dari metodologinya.

Sebagai peneliti ia yakin bekerja bukan sebagai budak dari pemberi dana, tetapi pasti memiliki tujuan tersendiri pula di setiap penelitian. Yang dilakukan Domain pekerjaan peneliti adalah memproduksi ilmu pengetahuan, atau producing knowledge. Karena itu setiap peneliti wajib mempublikasikan penelitiannya. Tidak perlu ada keluhan penelitian hanya untuk laporan, tetapi harus untuk pengaplikasian sebab knowledge tidak pernah ada batasnya. "Kita hanya memproduksi pengetahuan. Padahal, ilmu kita itu hanya setitik tetes air di tengah lautan. Berarti kita tidak ada apa-apanya," kata Bustanul.

Karena bekerja menghasilkan ilmu pengetahuan, Bustanul berprinsip untuk harus terus berkarya sampai meninggal dunia. Ia yakin makin banyak peneliti, makin banyak penelitian, maka ide pasti makin berkembang. Ide berbeda dengan kartu, atau barang yang bila dipertukarkan masing-maisng dapat satu kartu atau barang. Tetapi, ide bila dipertukarkan masing-masing menjadi mendapat dua ide. Itu yang esensi dari penelitian, membuat ide makin kaya, dan ilmu pengetahuan berkembang untuk kemaslahatan manusia.

Penelitian memberi rasa senang tersendiri bagi Bustanul. Dengan menjadi peneliti ia merasa bukan menjadi yang paling tahu, tetapi menggali sesuatu yang tidak diketahui. Kalau seorang peneliti, atau yang disebut pengamat atau siapa pun, sudah merasa sebagai yang paling tahu mungkin sudah bukan peneliti lagi. Menurut Bustanul dia harus humble, harus rendah hati tapi percaya diri. Biasanya orang yang percaya diri itu tinggi hati. Atau, kalau orang tidak percaya diri biasanya rendah diri. Rendah hati itu bukan rendah diri, tetapi makin berisi makin merunduk. Seorang peneliti harus skeptis mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mempertajam dan untuk dia berkontribusi pada pemecahan persoalan.

Bustanul selalu mengajarkan mahasiswa, atau kepada pejabat eselon dua yang mengikuti training di Diklat SPAMEN, "Bapak adalah pelayan bagi petani. Kalau Bapak sudah merasa pejabat saya pikir itu sudah pelanggaran utama dari birokrasi." Ia mengatakan demikian walau sadar dan tahu tidak banyak yang mendengarkannya. Tetapi ia akan terus mengatakan itu, karena kita sudah terlanjur salah menempatkan pejabat sebagai terjemahan yang jelek. Pejabat seharusnya bertindak sebagai adalah civil server, atau pelayan publik, tetapi kita salah menerjemahkan government itu sebagai memerintah. Itu salah, tidak tepat, to govern ya mengatur, atau memfasilitasi.

Usung Perbaikan Peradaban
Bustanul Arifin memberi judul orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Uiversitas Lampung (Unila), di Lampung pada 20 Februari 2006 tergolong unik lain dari yang lain. Yaitu, "Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban Sebuah Refleksi Untuki Reposisi."

Unik, sebab ia memposisikan ekonomi pertanian sebagai unsur terpenting jika ingin membangun peradaban lebih baik, sesuatu yang belum pernah diangkat oleh para ekonom pertanian sebelumnya. Bustanul merasa belum tuntas dengan apa yang saya pidatokannya itu. Tetapi, inti pidatonya adalah, bahwa ekonomi pertanian telah berkontribusi besar dalam peningkatan keberadaban manusia, minimal dari perumusan kebijakan.

Dengan kata lain bisa pula diartikan sebaliknya, kalau lingkungan tidak beradab yang salah bukan ekonomi pertaniannya, tetapi kemampuan kita untuk menterjemahkan ide-ide objektivitas desain itu menjadi langkah kebijakan atau langkah praksis dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, siapapun kalau menemui ketidakberadaban itu bukan refleksi kesalahan dari suatu science, atau ilmu, atau knowledge. Tetapi tidak lebih ketidaksempurnaan kita sebagai manusia mengaplikasikannya. Yang diketahui khalayak peradaban adalah common denominator atau tujuan umum untuk perbaikan civil society. Civil society sangat dekat dengan civilize atau masyarakat beradab. "Nah, di situ saya uraikan sejarah mulai ilmu ekonomi pertanian ini berkembang, bagaimana Indonesia berhasil dalam melakukan pembangunan pertanian, kemudian kita mundur lagi," kata Bustanul.

Ia percaya, mundurnya peradaban sangat berhubungan erat dengan mundurnya sebuah kinerja kesejahteraan sosial ekonomi. Kalau kita salah mengaplikasikan science, kita salah mengaplikasikan ilmu pengetahuan, umumnya cenderung mengarah kepada ketidakberadaban dengan segala definisinya. "Argumen saya di situ, perkembangan ilmu ekonomi pertanian ini seiring sejalan dengan pembangunan peradaban. Peradaban yang mengarah kepada keterbukaan, globalisasi, itu seiring juga bahwa kita harus mampu kompatibel, kalau tidak mampu mewarnai peradaban, paling tidak mampu kompatibel dengan perubahan peradaban." ti/ht-am

 

Page 1 of 5 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 23 Sep 2006  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Wafat Mantan Ketua Dpa Panglima Dari Wajo

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Genghis Khan adalah salah satu pejuang yang namanya kesohor di penjuru dunia, meski mengalami masa kecil yang berat akibat kematian tragis kepala suku yang juga adalah ayahnya.

Note: Bacaan ringan tapi bermakna.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: