WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Legenda Pertinjuan Indonesia

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Legenda Pertinjuan Indonesia
e-ti | sctv

Publik pernah mengelu-elukan promotor tinju kesohor ini tatkala berhasil mengangkat Ellyas Pical menjadi juara dunia tinju tahun 1985. Pria kelahiran Surabaya, 12 Januari 1948 ini berhasil menggairahkan dunia tinju profesional di negeri ini. Pria yang pantas digelari legenda pertinjuan profesional Indonesia itu meninggal di Jakarta, Jumat 16 April 2004.

Promotor Tinju
Lihat Curriculum Vitae (CV) Boy Bolang

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Boy Bolang

QR Code Halaman Biografi Boy Bolang
Bio Lain
Click to view full article
Iravati M Sudiarso
Click to view full article
Emilia Contessa
Click to view full article
Teuku Umar
Click to view full article
Jorga Ibrahim
Click to view full article
Ubiet
Click to view full article
Tompi
Click to view full article
Dian Sastro

Setelah sempat jarang tampil di depan publik akibat terserang penyakit, pada awal tahun 2004 ia sempat tampak aktif dalam beberapa kegiatan tinju. Dia kembali menyapa publik. Tak lama, memang, hanya sampai 10 April 2004. Sebab pada hari Sabtu 10 April 2004, itu dia kembali terkena serangan stroke untuk yang ketiga kali yang mengakibatkan pendarahan hebat di otak sebelah kanan. Dia terus saja koma dan tak sadarkan diri padahal sudah 100 cc darah disedot dari otaknya oleh dokter RSPP Pertamina Jakarta.

Serangan stroke pertama kali menimpanya pada tahun 2001 mengenai otak sebelah kiri. Ini belum akhir segala-galanya sebab setelah teratasi Boy kembali muncul ke khalayak ramai menjadi komentator di beberapa acara tinju di televisi swasta. Dia juga giat menghambat kemungkinan datangnya kembali serangan stroke dengan cara menjalani terapi dan berlatih dansa.

Dia berhasil mengangkat kembali gairah hidupnya di bawah pengawasan instruktur dansa berpengalaman Robin Sondakh di Happy Dance Sport Club, Jakarta. Boy menyempatkan diri berlatih dansa sepulang kerja dari Senin sampai Kamis. Akibat stroke berat badan Boy turun drastis dari 95 kg menjadi 74 kg. Serangan kedua terjadi tahun 2003 namun masih dalam skala ringan.

Seminggu setelah mengalami stroke ketiga, pada hari Jumat 16 April 2004 sore pukul 17.55 WIB Boy Bolang pergi menghadap Bapa Yang Maha Kuasa pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Dia lalu berdiam diri di surga mulia untuk selama-lamanya.

Sehari sebelum kematiannnya, Kamis, kondisi tubuh Boy tampak sudah semakin memburuk. Panas tubuh sangat tinggi dan tak mau turun. Dokter spesialis saraf dr Wid Patria, ketua tim dokter yang merawat Boy, menyebutkan pendarahan otak akibat stroke yang dialami Boy terlalu luas. dr. Wid Patria dibantu oleh dr. David Tandian (ahli bedah syaraf), dan dr. Djoko Maryono (ahli bedah jantung dan penyakit dalam.

Pecahnya pembuluh darah di bagian thalamus kanan ikut merusak pusat pengaturan suhu tubuh. Panas tubuh yang mencapai 40 derajat Celsius membawa komplikasi pada neurologic pulmonary edema (gangguan pada fungsi paru-paru), jantung, dan organ-organ vital lainnya. Akibatnya suplai oksigen ke seluruh organ tubuh tidak mencukupi sehingga organ-organ mulai mengalami kerusakan. Sekalipun sudah dilakukan resusitasi jantung dan paru-paru, semua sudah tak bisa menolong.

Di sisi gundukan seonggok tanah merah Ellyas Pical pada hari Senin, 19 April 2004 disaksikan sejumlah kerabat, kolega, handai taulan, dan masayarakat sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan, berhenti meneruskan pembacaan sambutan yang sebelumnya sudah lama dia hafalkan.

Dia sengaja menghafalkan agar tak tertinggal sepatah katapun sambutan termanisnya kepada Boy yang telah mengangkat hidup Pical menjadi "orang". Sambutan itu dia tuliskan pula di atas secarik kertas putih. Ellyas Pical berhendak memberikan penghormatan dan ucapan selamat jalan kepada Boy Bolang mewakili insan tinju tanah air.

Tapi dia hanya sanggup mengeluarkan anggukan haru dan tetesan tangis airmata yang tepat dia arahkan ke peti berisi jasad beku Boy Bolang. Jasad yang kemudian hanya bisa dikenali lewat seonggok tanah yang di atasnya dipantek sebilah papan kayu salib bertuliskan kata-kata, "Nama Boy Jhonny Bolang, Lahir Surabaya, 12 Januari 1948, Meninggal Jakarta, 16 April 2004".

Boy semasa hidupnya selalu tampil necis dan dendi. Karenanya jenazah Boy pun tetap kelihatan gagah dan necis penampilannya. Setelan jas hitam Valentino membungkus jasadnya ditambah dasi keluaran Hugo Boss dan bersepatu Bally pula. Yang tidak lagi tampak adalah aksesoris khasnya semasa hidup berupa kalung emas dan liontin sarung tinju. Makam Boy Jhonny Bolang persis berdampingan dengan makam kakaknya yang juga petinju, Johnny Bolang yang meninggal dunia karena kecelakaan.

Ellyas Pical adalah hasil karya monumental Boy Bolang sebagai promotor. Boy berhasil menjadikan Pical juara dunia tinju kelas bantam junior 52,1 kilogram tahun 1985 versi federasi tinju internasional IBF (International Boxing Federation).

Boy Bolang mempersiapkan Pical secara cermat sejak mulai dari juara nasional hingga Asia Pasifik OPBF. Boy tidak mau bekerja gegabah hingga dirasakannya anak asuhnya itu mampu menantang juara dunia Judo Chun dari Korea Selatan.

Pical yang dibayar 125.000 dolar AS itu akhirnya mampu merubuhkan KO Judo Chun dengan pukulan tangan kidal. Pical bukan hanya meraih gelar juara dunia melainkan memunculkan kebanggaan baru sebagai bangsa yang bisa berjaya di ring tinju.

Tak kurang tiga kali Boy menjadi promotor pertandingan Pical dengan bayaran antara 100.000 hingga 125.000 dolar AS setiap bertanding.

Boy Bolang adalah legenda pertinjuan Indonesia. Cepatnya dia dipanggil Tuhan "memaksa" orang mengumpulkan segera serpihan-serpihan kehidupan Boy yang tercecer dimana-mana. Boy tidak lagi "mesin" tinju hidup yang bisa sewaktu-waktu memunculkan ide, gagasan, dan langkah spektakuler baru memajukan olahraga tinju profesional Indonesia.

Boy adalah petinju amatir namun menjadi sangat populer saat tampil sebagai promotor tinju profesional. Hal itu karena keberhasilannya menghantarkan Ellyas Pical menjadi ikon terbaik dunia tinju profesional.

Boy sangat disayang petinju karena dia mau memberikan apresiasi dan bayaran yang pantas atas jerih payah setiap petinju. Mirip kisah hidup Boy yang flamboyan, serba mewah, dendi, dan penuh glamour.

Boy adalah sosok yang bangga tampil berhiaskan kalung emas besar ditambah liontin emas berbentuk sarung tinju yang mencolok. Tanpa bertendensi sombong atau angkuh. Ketika dia meresmikan pendirian Yayasan Olahraga Indonesia (YOI), sebuah yayasan yang dibentuknya, pada 30 Juni 2003, di Hotel Park Lane, Jakarta dia menambah kemewahan sosoknya itu dengan jas Versace warna merah darah yang menurutnya dia beli seharga lima juta rupiah yang baru dia beli hanya untuk event itu.

Dia menyebutkan tampil dendi, glamour, dan mewah adalah tuntutan hidup untuk menjaga citra diri sebagai promotor internasional yang memiliki pergaulan luas dengan para selebritis tinju dunia.

Kepada "Bola" di Las Vegas, Amerika Serikat Juni 1997, dia menceritakan pula bahwa Don King, si "raja" tinju dunia berambut landak itu harus menghampiri Boy untuk sarapan pagi sebab Boy datang ke King bukan untuk minta duit melainkan membawa duit.

Kemewahan dan keglamouran itu dia tularkan pula ke setiap petinju yang berkesempatan dia promosikan. Seperti yang diterima Ellyas Pical 100.000-125.000 tiap bertanding, yang membuat banyak petinju muda berbakat meniru langkah keberhasilan Pical.

Namun karena besaran bayaran petinju pula Boy pernah berseteru dengan Herman Sarens Sudiro, juga promotor, soal hak mementaskan pertandingan tinju dunia antara Thomas Americo dari Indonesia dan Saoul Mamby dari Amerika Serikat di Jakarta, tahun 1981.

Boy adalah promotor yang sudah malang melintang selama 30 tahun. Boy sendiri awalnya memulai karier sebagai petinju semenjak berusia 20 tahun. Padahal, pada usia 14 tahun Boy sudah mulai berlatih tinju dari ayahnya Johanes Bolang yang dalam sejarah tinju nasional merupakan salah seorang pendiri Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), serta dari abangnya Johnny Bolang yang adalah juara Nasional tahun 1960-1962.

Kala berusia 20 tahun itu pria Boy ini tengah bermukim di Amerika Serikat. Di sana dia menjadi pencuci piring demi mendapat uang saku. Dia memulai kisah hidup di ring tinju sebagai atlet latih-tanding untuk petinju-petinju lokal. Dari situlah Boy mulai serius menekuni dunia tinjunya.

Sepulang dari Negeri Paman Sam dia menjadi juara tinju amatir dan menjuarai tinju Indonesia kelas welter sejak 1968 sampai 1970. Ia juga menyabet gelar juara tinju nasional kelas menengah ringan dari 1971 sampai 1975, plus menjuarai Pekan Olah Raga Nasional 1973.

Dia lalu mencoba peruntungan menjadi promotor namun apa lacur dia justru berseteru dengan Herman Sarens Sudiro berebut hak mementaskan pertandingan Thomas Americo melawan Saoul Mamby. Pertandingan yang berlangsung di tahun 1981 itu dimenangkan Mamby dan Boy harus pergi bersembunyi dahulu bersama keluarga di Amerika Serikat selama delapan bulan penuh.

Boy lalu sempat hidup "menggelandang" di New York tahun 1981, kemudian pindah ke Los Angeles hingga tahun 1985. Kembali ke Indonesia menggenggam lisensi sebagai promotor dia melejitkan nama Ellyas Pical sebagai juara dunia tinju kelas bantam junior versi IBF.

"Kalau kita tidak beri kesempatan kepada petinju kita, kapan petinju kita bisa menjadi juara dunia," ujar Boy ketika akan mempertandingkan Ellyas Pical dengan juara IBF, Judo Chun dari Korea Selatan, waktu itu. Boy sempat tiga kali menjadi promotor Pical dengan rekor bayaran antara 100.000 dan 125.000 dollar AS sekali bertanding.

Terakhir pada Februari 1987 dia mementaskan pertandingan Ellyas Pical melawan Kaosai Galaxi dari Thailand yang berakhir dengan kekalahan Pical. Boy lalu mengundurkan diri dari promotor tahun 1986 kemudian menjadi konsultan olahraga dan komentator di televisi sampai tahun 1997. Boy bahkan sempat menjadi promotor pertandingan tinju stasiun televisi RCTI.

Memasuki usia 55 tahun Boy mulai jarang menggerakkan badan. Dia malah lebih sering keluar malam. Ditambah kebiasaaan mengkonsumsi durian bangkok hal itu memicu kehadiran stroke. Penyakit itu semakin menjadi ketika ia mulai mencurahkan pikirannya untuk menulis mengenai dunia tinju nasional.

Ia pernah menyitir, 60 persen petinju Indonesia saat ini tidak layak disebut profesional. Bahkan dalam sebuah seminar, Boy mengkritik rendahnya mutu pertandingan tinju profesional yang digelar beberapa stasiun televisi belakangan ini.

Sejak menderita stroke Boy Bolang mulai terlihat tak bersemangat menjalani hidup. Namun ketika ia menjalani terapi dan berlatih dansa gairah hidupnya kembali terangkat. Di bawah pengawasan instruktur dansa berpengalaman bernama Robin Sondakh di Happy Dance Sport Club, Jakarta, Boy menyempatkan diri berlatih sepulang kerja dari Senin sampai Kamis. Gara-gara stroke berat badan Boy turun drastis dari 95 kg menjadi 74 kg. ht, dari berbagai sumber

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 24 Apr 2004  -  Pembaharuan terakhir 28 Sep 2012
Tokoh Simbol Masyarakat Banda Karena Kuasa Dan Kasih Nya

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini memecahkan rekor MURI sebagai Buku Sulap dengan Jenis Permainan Terbanyak. Buku ini akan menjadi koleksi berharga di perpustakaan pribadi Anda.

Note: Buku langka, kondisi masih baru namun ada bagian yang sedikit terlipat.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: