WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Roda Hidup Si Anak Siantar

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Roda Hidup Si Anak Siantar
Rekson Silaban | TICOM IMAGES | SAN

Meski sempat dipandang sebelah mata, pilihannya sebagai aktivis buruh akhirnya berbuah manis. Ia bertemu dengan para pemimpin dunia, menjadi wakil presiden wadah konfederasi buruh internasional (ITUC) dan pengurus eksekutif organisasi buruh sedunia (ILO). Di kancah nasional, pria yang sudah mengelilingi semua benua di dunia pada umur 33 tahun ini, menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (MPO-KSBI) dan Komisaris PT Jamsostek.

Komisaris PT Jamsostek (2007-sekarang) dan Ketua MPO-KSBI
Lihat Curriculum Vitae (CV) Rekson Silaban

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Rekson Silaban

QR Code Halaman Biografi Rekson Silaban
Bio Lain
Click to view full article
Ulil Abshar Abdhalla
Click to view full article
Yoga Soegomo
Click to view full article
Tifatul Sembiring
Click to view full article
Ade Rostina Sitompul
Click to view full article
Liem Tiang Gwan
Click to view full article
Agus Suhartono
Click to view full article
Antasari Azhar

Di awal tahun 90-an, pergerakan buruh sedang memanas di Indonesia. Di tengah-tengah gelora pergerakan itu, seorang pria Batak bernama Rekson Silaban sedang bergumul tentang pilihan hidupnya. Batinnya selalu gelisah tentang bagaimana caranya agar ia bisa berguna bagi banyak orang. Awalnya, pria kelahiran Pematang Siantar, 8 Mei 1966 ini berniat menjadi Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
lingkungan hidup. Namun melihat begitu besarnya diskriminasi terhadap buruh saat itu, Rekson memilih menjadi Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
yang memperjuangkan kepentingan buruh. “Saya dulunya awal-awalnya kepikiran di lingkungan hidup. Tapi momen yang tersedia di masa itu, buruh. Jadi saya di situ. Saya mau punya arti bagi orang banyak,” katanya saat diwawancarai TokohIndonesia.com di kantornya.

Pada masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
, organisasi buruh bernama SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) mulai diragukan independensinya karena dianggap sudah menjadi alat untuk kepentingan penguasa. Oleh sebab itu, bermunculanlah beberapa organisasi buruh independen dengan idealismenya masing-masing. Pemerintah saat itu tetap pada keputusannya dan menolak mengakui organisasi buruh di luar SPSI.

Rekson sudah menyadari sejak awal bahwa pilihannya itu akan menuai protes dari orang dekatnya. Namun, di sisi lain, nasib buruh masih sangat memprihatinkan sehingga ia tidak bisa lari dari kenyataan. Ia merasa sudah menjadi milik semua orang, bukan hanya milik keluarganya.

Rekson kemudian merapat ke barisan Aktivis Buruh, Ketua Umum SBSI yang pertama
Aktivis Buruh, Ketua Umum SBSI yang pertama
Muchtar Pakpahan
yang saat itu membentuk SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) sebagai tandingan dari SPSI. Ia masuk dalam Departemen Riset SBSI, 1992-2000 dan Departemen Internasional SBSI, 1994-2000. Selama bergabung di SBSI, Rekson sering berurusan dengan aparat keamanan, keluar masuk penjara walaupun tidak pernah sampai ke meja pengadilan.

Tekanan yang begitu kuat di zaman Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
membuat aksi demonstrasi dengan turun ke jalan tidak bisa dilakukan. Oleh sebab itu, Rekson mengganti alat perjuangannya dengan banyak menulis dan membaca. Ia gencar menulis opini di berbagai media dengan mengambil spesialisasi hubungan industrial dan internasional, standar perburuhan, pengupahan dan jaminan sosial. Dua buku soal perburuhan juga sudah lahir dari tangannya yakni Reposition Labor Movement In Indonesia (2010) dan Unity or Burried by History (2011). Rekson juga banyak menghabiskan waktunya untuk menggalang solidaritas internasional agar pemerintah peka dan peduli dengan seruan kaum buruh.

Terhitung sejak tahun 2000, kiprah sarjana ekonomi jebolan Universitas Simalungun, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
dan Master dari International Labor Standard, Belgium, 2007 ini sebagai Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
buruh makin bersinar dengan menjadi Ketua DPP SBSI 2000-2007, Ketua Umum Konfederasi SBSI 2003-2007, Presiden Dewan Ekesekutif Nasional-KSBSI 2007-2011, dan Ketua Majelis Pertimbangan KSBSI 2011-2014. Sedangkan di dunia internasional, Rekson mengukir prestasi membanggakan. Selain bertemu dan berdialog dengan para pemimpin dunia, ia pernah menjadi wakil presiden wadah konfederasi buruh internasional (ITUC - International Trade Union Conference) yang bermarkas di Brussel periode 2007-2011. Posisi tersebut membanggakan bagi serikat buruh indonesia setelah selama 40 tahun absen dalam lembaga itu.

Rekson juga menjadi dewan eksekutif ITUC di Asia Pasifik (2007-2015) yang berbasis di Singapura dan menjadi delegasi buruh Indonesia menghadiri sidang tahunan ILO (International Labor Oganization) di Genewa sekaligus menjadi pengurus eksekutif ILO (2005-2014). Ia menjadi putra Indonesia kedua dari Indonesia, setelah Agus Sudono, Ketua Serikat Buruh pada masa Orde Lama yang juga pernah menjadi pengurus ILO.

Milik Semua Orang

Rekson Silaban menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Pematang Siantar, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini sempat beberapa kali pindah sekolah mengikuti tugas ayahnya yang berprofesi sebagai PNS. Selama bersekolah hingga tingkat SMA, Rekson sudah merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi banyak orang. Kegelisahannya itu terus berlanjut saat ia berkuliah di Universitas Simalungun, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
. “Kalau dulu saya ikut gerakan mahasiswa di Siantar, itu 'kan hanya untuk kotamadya, artinya saya hanya (berarti) untuk beberapa orang,“ ujarnya.

Itulah sebabnya, setamat kuliah, Rekson tidak buru-buru melamar pekerjaan. Sebagai pribadi yang ingin bebas mengekspresikan diri, Rekson yang pernah menjadi buruh bangunan ini tidak ingin terjebak dalam rutinitas orang kantoran. Ia ingin berbuat yang lebih besar dan menjadi bagian dari sejarah. "Sebagai pegawai baru, kita akan terjebak dengan situasi, kalau di perusahaan juga begitu,“ kata anak Simen, akronim dari anak Siantar Men, panggilan akrab bagi anak perantau dari Pematang Siantar.

Tatkala gerakan demonstrasi buruh marak di tahun 90-an, Rekson melihat sebuah kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Dalam perantauannya di Jakarta, Rekson bergabung dengan organisasi buruh independen bernama SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia). Keterlibatannya dalam organisasi tersebut membuat dia sering berurusan dengan aparat keamanan.

Akibatnya, orang tua Rekson menganggap pilihannya sebagai seorang aktivis adalah pilihan yang tidak jelas. Sebab orang tuanya berharap, Rekson yang sudah menyandang gelar sarjana bisa mendulang sukses di perantauan sehingga bisa membantu orang tua. “Mana baktimu sebagai anak. Lihat si Anu itu, kemarin dari Batam mengirim televisi,“ kata Rekson mengenang ucapan orangtuanya. “Dulu, halanganlah kita (bagi keluarga). Sudah dibiayai sarjana, ditangkap militer, masuk koran lagi dan di black list segala macam. Padahal orang-orang sudah sukses dan mengirim uang ke kampung dan ke adek-adek,” ujar Rekson lagi.

Rekson sudah menyadari sejak awal bahwa pilihannya itu akan menuai protes dari orang dekatnya. Namun, di sisi lain, nasib buruh masih sangat memprihatinkan sehingga ia tidak bisa lari dari kenyataan. Ia merasa sudah menjadi milik semua orang, bukan hanya milik keluarganya.

Keputusan Rekson itu memang menuntut banyak pengorbanan termasuk dalam hal percintaan dan hidup berkeluarga. Kisah cintanya beberapa kali kandas di tengah jalan karena ia lebih memilih memegang prinsipnya sebagai seorang aktivis. Kesibukannya pun akhirnya membuat ia terlambat berkeluarga.

Ia membutuhkan waktu empat tahun untuk mendapatkan istri setelah rezim Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
jatuh pada tahun 1998. “Tidak kawin sebelum Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
jatuh, jadi cewek-cewek kita tidak setuju dengan komitmen itu,“ kata Rekson bercanda. Baginya, memilih istri harus memahami dirinya sebagai aktivis. “Harus cocok dengan karakter kita untuk jangka panjang karena dia akan menjadi teman kita sampai puluhan tahun,” ujarnya. Rekson kemudian menemukan belahan jiwanya, gadis Manado bernama Merdi Rumintjap. Rekson menikahinya di tahun 2002 lalu dikaruniai dua anak, Luigi Ignacio Silaban dan Morgan Garcia Silaban.

Kegigihan Rekson untuk berbuat lebih banyak bagi orang lain dan gaya hidup yang ingin terus belajar membuat Rekson siap saat kesempatan-kesempatan berharga itu datang. Sejak muda, Rekson sudah gemar membaca termasuk membaca buku-buku berbahasa Inggris. Sembari membaca, ia belajar bahasa Inggris secara otodidak. Sehingga tatkala ia mendapat kesempatan berbicara di forum internasional, ia siap dan tidak canggung lagi. Begitu pula saat ia melayani wawancara dari jurnalis asing seperti CNN, BBC London, Herald Tribune dan sebagainya. ”Saya percaya diri untuk berbicara di forum mana pun. Saya berbicara dengan siapapun, saya berbicara di Bank Dunia, IMF, berdebat,” katanya.

Begitu pula saat ia ditunjuk sebagai delegasi dari Asia Tenggara untuk duduk sebagai anggota ILO yang sebelumnya hanya didominasi Filipina. Kesiapannya dalam penguasaan bahasa Inggris menjadi modal untuk mengalahkan kandidat dari negara-negara Asean lainnya. Begitu pula saat ia mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu komisaris di PT Jamsostek yang diisi orang-orang dari lulusan perguruan tinggi ternama.

Menurutnya, filsafat diam adalah emas tidak selamanya tepat. Untuk dapat diterima secara global, kita harus aktif. Ia mencontohkan pengalamannya saat memenangkan pertarungan mewakili ILO Asean untuk bertugas di markas ILO di Genewa. Pada saat itu, Rekson dengan lantang memperkenalkan diri di dalam forum pemilihan.

Rekson juga menyadari bahwa keberhasilan seseorang tidak lepas dari orang-orang di sekitarnya. Berbuat baik akan melahirkan hal-hal yang baik. “Kalau banyak mengecewakan orang, tingkat keberhasilan lebih kecil. Karena berada dalam zona negatif. Keberhasilan itu tidak datang tiba-tiba. Setiap orang telah diberikan talenta untuk dikembangkan,” katanya di akhir wawancara. atur, san, bety

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 03 Apr 2012  -  Pembaharuan terakhir 20 Apr 2012
Penolong Tuna Rungu Politisi Muda Potensial

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Saya Indonesia Saya Pancasila

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini membahas 56 efek plug-in populer yang paling sering dipakai. Mudah diikuti sehingga Anda akan membuat ratusan efek memukau dalam waktu singkat.

Bonus: CD

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: