WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pendiri Grup Barito Pacific

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pendiri Grup Barito Pacific
Prajogo Pangestu | TokohIndonesia.com | Repro

Kedekatannya dengan keluarga Cendana di zaman Orde Baru memuluskan jalannya sebagai pengusaha di bidang perkayuan. Lewat kerajaan bisnis Grup Barito Pacific, taipan yang pernah menjadi supir angkutan umum dan penjual ikan asin ini, masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Pengusaha, Chairman dan Presiden Komisaris Grup Barito Pacific
Lihat Curriculum Vitae (CV) Prajogo Pangestu

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Prajogo Pangestu

QR Code Halaman Biografi Prajogo Pangestu
Bio Lain
Click to view full article
Mohamad Surya
Click to view full article
Ria Irawan
Click to view full article
Probosutedjo
Click to view full article
Maylaffayza
Click to view full article
Eka Budianta
Click to view full article
Gunawan Pranoto
Click to view full article
BM Diah

Prajogo Pangestu dikenal sebagai Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
kayu tersukses sebelum krisis ekonomi 1997. Nama pria keturunan Tionghoa ini bahkan masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada tahun 2010 bersanding dengan nama-nama Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
top lainnya seperti Eka Tjipta Widjaya, pemilik Sinar Mas Group; Martua Sitorus, Raja Minyak Sawit; dan Ciputra, Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
properti.

Sebelum berhasil sebagai pengusaha sukses, Prajogo harus meniti jalan terjal dan berliku. Ia lahir pada tahun 1944 di Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, tidak jauh dari Kota Singkawang. Ayahnya bernama Phang Siu On yang bekerja sebagai penyadap getah karet. Penghasilan ayahnya yang pas-pasan membuat Prajogo kecil, hidup dengan kondisi yang serba kekurangan.

Merasa penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi keluarga dari hanya menyadap getah, Phang kemudian alih profesi menjadi tukang jahit di Pasar Sungai Betung. Oleh ayahnya, Prajogo kecil diberi nama Phang Djun Phen, yang dalam mitologi suku Khek (orang Cina di Taiwan) berarti burung besar terbang tinggi menguak awan mendung. Nama tersebut merupakan doa orang tuanya agar suatu saat anak laki-lakinya itu dapat mengatasi mendung kemiskinan keluarga.

Kesulitan ekonomi pada akhirnya membuat Prajogo yang di masa kecilnya akrab disapa A Phen ini hanya mengenyam pendidikan formal hingga tingkat SMP, tepatnya di SMP Nan Hua, sekolah berbahasa Mandarin di Singkawang. Meski putus sekolah, ia tetap bersemangat untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Didorong tekad dan keyakinan yang kuat itulah, Prajogo akhirnya hijrah ke Jakarta.

Sayangnya, dewi fortuna belum berpihak kepada Prajogo. Ia gagal merubah nasib di ibukota lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Prajogo terpaksa memutuskan kembali ke Kalimantan. Di kampung halamannya itulah, ia kemudian mencari nafkah, mulai dari menjadi supir angkutan umum yang melayani trayek Singkawang-Pontianak, hingga akhirnya memberanikan diri untuk memulai usaha kecil-kecilan, berjualan keperluan dapur, bermacam-macam bumbu dan ikan asin.

Pada pertengahan tahun 60-an, ia berkenalan dengan Bong Sun On atau yang lebih dikenal dengan Burhan Uray, seorang pengusaha kayu asal Serawak, Malaysia. Burhan masuk ke Indonesia lewat Pontianak ketika penyelundupan kayu ke Malaysia tengah marak. Ketika itu penebangan hutan besar-besaran masih menganut sistem persil dan petak rakyat sehingga Burhan mendulang keuntungan berlimpah. Namun di sisi lain, sistem tersebut membuat pemerintah kesulitan mengawasi manipulasi jumlah tebangan.

Burhan merekrut Prajogo untuk bekerja di perusahaan miliknya, PT Djajanti Group di tahun 1969. Saat itu ia diserahi tugas mengurus Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di daerah Kalimantan Tengah. Enam tahun berselang, nama Prajogo mulai dikenal orang, saat Burhan Uray memindahkan PT Djajanti dari Pontianak ke Pemimpin Perang Banjar
Pemimpin Perang Banjar
Banjarmasin
. Setahun kemudian, Burhan menunjuk Prajogo untuk menduduki posisi sebagai General Manager Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur.

Akan tetapi, Prajogo hanya setahun bekerja di perusahaan tersebut. Waktu setahun dirasa cukup baginya untuk merintis Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
sendiri, apalagi sebelumnya ia sudah banyak belajar seluk-beluk masalah hutan dari para ahli Malaysia yang didatangkan PT Djajanti. Prajogo kemudian membeli perusahaan CV Pacific Lumber Coy, yang ketika itu sedang mengalami kesulitan keuangan akibat turunnya harga kayu log. Modalnya ia peroleh dari pinjaman kredit Bank BRI yang berhasil dilunasinya dalam tempo satu tahun. Perusahaan tersebut sebelumnya milik Obos, pengusaha kayu asal Barito Selatan. Prayogo kemudian mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific Lumber.

Di tangannya, PT Barito Pacific Lumber semakin berkembang dengan keberhasilannya memperoleh HPH di Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Mantan Sersan Militer Inggris
Mantan Sersan Militer Inggris
Maluku
, dan Papua serta menguasai lahan lebih dari 5.5 Juta Hektare di seluruh Indonesia (setara dengan luas Negara Swiss). Pada dekade 80-an, PT Barito Pacific Lumber mencapai puncak kejayaannya setelah berhasil melakukan ekspansi Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
hingga memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Kesuksesan perusahaan itu kian meningkat di era 90-an dengan menaungi 120 perusahaan yang bergerak di luar bidang HPH seperti Pabrik Pulp (PT Tanjung Enim Lestari), Petro Kimia, real estate, serta Taman Industri dan Transportasi Laut.

Sejalan dengan kemajuan usahanya, pria yang pernah dijuluki Raja Kayu oleh majalah Far Eastern Economic Review ini semakin mendekatkan diri dengan dinasti Cendana. Jika sebelumnya ia hanya dekat dengan paman dari anak-anak Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
, Prajogo mulai mendekati putra-putri presiden bergelar Bapak Pembangunan itu.

Konon, kesuksesan Barito tidak lepas dari HPH gelap yang digarapnya di Kalimantan Timur milik PT Panambangan, pimpinan Soekamdani Sahid Gitosardjono, yang merupakan kerabat dekat Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
. Di era Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
, hak pengelolaan hutan memang telah dibagi-bagikan kepada kerabatnya, terutama di kalangan militer. Namun, hak tersebut tidak disertai keseriusan mengelolanya. Dalam banyak kasus, operasi pengelolaan hutan diserahkan kepada orang lain meski sebenarnya melanggar undang-undang. Prajogo diuntungkan oleh sistem tersebut. Ia memang harus bekerja lebih keras dibanding pemilik HPH sebenarnya, namun sekaligus mendapatkan kemudahan karena telah "membantu" kerabat Cendana.

Salah satu kemudahan yang dimaksud adalah menyelundupkan kayu ke Malaysia dengan rekanan lokal. Haji Sulaiman disebut sebagai orang kepercayaan Prajogo untuk mengangkut kayu-kayu selundupan ke Malaysia pada pertengahan 1970-an. Akan tetapi Sulaiman membantah, sembari menyatakan bahwa tudingan tersebut merupakan fitnah. Pendiri klub sepak bola Barito Putera itu memang mengaku sudah berLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
dengan Prajogo sejak 1976. Ia menjadi kontraktor penarikan kayu-kayu log dari hutan di pedalaman sampai ke Pemimpin Perang Banjar
Pemimpin Perang Banjar
Banjarmasin
. Menurut pengakuannya, ia memang memiliki usaha penarikan kayu namun operasionalnya hanya ditunjang dengan rakit dan kapal kecil, sedangkan kalau ke Malaysia, itu harus menggunakan kapal besar.

Kedekatannya dengan lingkaran keluarga Cendana membuat sepak terjang Prajogo kala itu tidak tersentuh hukum. Walau demikian, bisnisnya sempat limbung lantaran pemerintah mengeluarkan peraturan melarang ekspor kayu gelondongan pada 1980. Namun, Prajogo cepat mengatasinya dengan membangun perusahaan pengolahan kayu setelah berhasil mendapatkan pinjaman dari Credit Lyonais Bank Prancis sebesar 150 juta franc. Dengan dana itulah, Prajogo membangun pabrik sawmill dan plywood, yang merupakan cikal-bakal Barito Pacific Timber (BPT). Prajogo pun kembali mereguk kesuksesan sebagai produsen dan eksportir plywood terbesar di dunia.

Sejalan dengan kemajuan usahanya, pria yang pernah dijuluki Raja Kayu oleh majalah Far Eastern Economic Review ini semakin mendekatkan diri dengan dinasti Cendana. Jika sebelumnya ia hanya dekat dengan paman dari anak-anak Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
, Prajogo mulai mendekati putra-putri presiden bergelar Bapak Pembangunan itu. Pertengahan tahun 80-an, Prajogo berkongsi dengan putri tertua Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau yang akrab disapa Tutut, dalam perusahaan-perusahaan yang bermarkas di Sumatra seperti PT Enim Musi Lestari, Perkebunan Hasil Musi Lestari, dan Gandaerah Hendana.

Pada tahun 1991, keduanya mendirikan perusahaan PT Musi Hutan Persada. Di tahun yang sama, Prajogo bersama Kwok Brothers mendirikan sebuah hotel di Pulau Sentosa, Singapura. Kemudian ia menggandeng perusahaan asal Taiwan untuk bekerja sama mendirikan perusahaan plywood. Sebelum berkongsi dengan Tutut, Prajogo juga menggaet Bambang Trihatmodjo, bos Grup Bimantara, untuk mendirikan pabrik bubur plastik Chandra Asri di Cilegon, Jawa Barat, dan Bank Andromeda pada 1990.

Bersamaan dengan itu, ia masuk ke lingkungan yang paling inti dari kekuasaan Soeharto. Secara personal pun, hubungannya dengan The Smilling General itu kian lekat. Prajogo bahkan kerap terlihat menemani Soeharto bermain golf dengan membawakan tongkatnya. Namun, lantaran kedekatannya dengan keluarga Soeharto itulah, bisnis Prajogo menuai masalah manakala pemimpin Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
itu dipaksa lengser.

Sebagai pengusaha ulung, Prajogo  cukup lihai membaca situasi. Setelah Soeharto kehilangan tajinya, ia beralih mendekati Presiden Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Abdurrahman Wahid
alias Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur
. Usahanya tak sia-sia, Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur
melindungi Prajogo dengan pernyataannya untuk menunda penyidikan terhadap sang konglomerat, dan menyebutnya sebagai aset negara yang telah membuka lapangan kerja dan menambah nilai ekspor. Namun kemudian, posisi Prajogo nampaknya belum cukup aman setelah muncul desakan lebih kuat untuk menuntut para koruptor dan pengusaha ke meja hijau.

Pada Mei 2006, Prajogo kembali tersandung masalah. Ia terlibat perseteruan dengan mantan pemegang saham PT Tripolita, Henry Pribadi. Kasus itu berawal setelah Henry mengadukan Prajogo ke pihak yang berwajib atas tuduhan penipuan jual beli saham PT Chandra Asri senilai US$ 20 juta. Merasa tidak terima, Prajogo kemudian balik mengadukan mantan koleganya itu atas tuduhan pencemaran nama baik.

Selain itu, Prajogo, melalui pengacaranya, Hotman Paris Hutapea juga melaporkan Henry karena telah melakukan pemerasan, laporan palsu, serta melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Atas laporan Henry, Prajogo bahkan sempat ditetapkan sebagai tersangka. Belakangan, karena dinilai tidak cukup bukti, pihak keKapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
an pun menghentikan proses penyidikan dugaan penipuan yang dilakukan Prajogo Pangestu seperti dilaporkan Henry Pribadi.

Tiga tahun setelah kasus tersebut, tepatnya pada 2009, nama Prajogo Pangestu kembali mencuat karena perannya dalam Proyek Menara Jakarta. Ia disebut-sebut menjadi pemegang saham mayoritas pembangunan menara setinggi 558 meter yang pembuatannya menelan dana sekitar Rp 5 triliun itu. Sebelumnya proyek menara Jakarta sudah menjadi buah bibir masyarakat, namun sempat tertunda pengerjaannya karena krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1997/1998.

Setelah memasuki usia senja, Prajogo tengah bersiap menyerahkan kepengurusan Grup Barito kepada salah satu putranya, yakni Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI
Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI
Agus Salim
Pangestu. Sebelumnya, Agus menjabat sebagai Wakil Presiden Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Barito Pacific sejak Juni 2002. Meski mendapat kepercayaan untuk mengibarkan kejayaan Barito Grup, namun Agus menekankan bahwa ayahnya masih memegang peranan sebagai Chairman sekaligus Presiden Komisaris. muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 02 Mar 2012  -  Pembaharuan terakhir 20 Apr 2012
Teman Curhat Kaum Papa Gugur Saat Bertugas

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Wastafel, selain fungsinya untuk mencuci tangan, wajah, atau benda kecil lainnya, ternyata juga dapat mempercantik tampilan interior rumah jika diatur dan dipikirkan dengan baik.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: