gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Astronom, Filsuf dan Feminis

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Astronom, Filsuf dan Feminis
Karlina Leksono Supelli | TokohIndonesia.com | Repro komnasperempuan
Pekerjaan Utama:
Dosen, Filsuf, Aktivis
Lihat CV
Nama:
Karlina Supelli
Nama Populer:
Karlina Leksono Supelli
Lahir:
Jakarta, 15 Januari 1958
Pekerjaan:
Dosen, Filsuf, Aktivis
Agama:
Islam
Orangtua:
Supelli - Margaretha
Suami:
Ninok Leksono Dermawan
Anak:
  • Fitri Armalivia
  • Angga Indraswara
Pendidikan:
  • S3 Ilmu Filsafat Universitas Indonesia, 1997
  • S2 Studi Filsafat Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1992
  • M.Sc. dari University College of London, Inggris, dalam bidang space science, 1989
  • S1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan Astronomi ITB, 1981
  • SMA XI, Jakarta, kemudian pindah ke SMA II, Bandung, Jawa Barat, 1976
  • SMP Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat, 1973
Karir:
  • Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
  • Pengajar tidak tetap filsafat ilmu dan metodologi di Fakultas Kedokteran Gigi UI
  • Pengajar luar biasa pada Program Studi Lingkungan untuk mata kuliah filsafat lingkungan, Program Pascasarjana UI
  • Pengajar luar biasa pada Program Studi Filsafat, Program Pascasarjana UI
  • Kepala Kelompok Ilmu Pengetahuan Alam di Direktorat Pengkajian dan Penerapan Ilmu Dasar, BPPT, ketika mendapat tugas belajar di Inggris, 1987-1988
  • Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi, 1986
  • Kepala Seksi Observasi Planetarium Jakarta, 1982-1985
  • Asisten dosen luar biasa di Jurusan Astronomi ITB, 1979
Organisasi:
Pengurus organisasi Suara Ibu Peduli (SIP)
Alamat Rumah:
Taman Alfa Indah H5/ 8, Jakarta Barat 12260
Alamat Kantor:
Jalan KPBD 21, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 11450. Telp. 021-5482811
Pusat Data Tokoh Indonesia (update 26/01/2012)
Tutup CV

Sejak Reformasi 1998, filsuf dan astronom perempuan pertama di Indonesia terutama di bidang kosmologi ini aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Bersama para ibu dan aktivis perempuan lainnya, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini pernah memprotes harga susu yang mahal, membela kaum perempuan korban perkosaan bahkan mengkritik pemberantasan korupsi di Indonesia.

Karlina Leksono Supelli lahir di Jakarta, 15 Januari 1958, merupakan putri ke-11 pasangan Supelli dan Margaretha.Perempuan yang akrab dipanggil Lina di masa kecilnya ini mengaku sudah menyukai semua yang berhubungan dengan alam semesta terutama bintang-bintang. Bahkan sejak kelas tiga SD, Lina mengaku sudah mengetahui akan menjadi apa setelah dewasa. Obsesinya terhadap alam semesta muncul lantaran ia membaca buku karangan Madame Curie, seorang ilmuwan Inggris kelahiran Polandia.

Awalnya, seperti anak kecil lain, Lina senang melihat bintang pada malam hari di Salabintana, Jawa Barat. Setiap malam, Lina suka ke luar rumah hanya untuk memandangi bintang. Karena takut sang anak sakit, sang ibu sering berteriak menyuruhnya untuk segera masuk ke rumah. Namun, diam-diam ia kembali menyelinap keluar.

Kecenderungan dirinya untuk menjadi orang yang soliter sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh lingkungan masa kecil. Ibunya adalah seorang Belanda yang dalam kesehariannya kurang suka bergaul dan lebih memilih berada di rumah untuk membaca buku. Sedangkan sang ayah adalah orang sunda asli. Ketika pecah konfrontasi RI-Belanda dalam soal Irian Jaya, posisinya sebagai anak keturunan dirasa kurang menguntungkan. Ketika sedang belajar sejarah di sekolah, ia kerap menjadi bahan guyonan. Ia dikatakan sebagai orang yang ketinggalan kapal saat kaum pengungsi Belanda pulang ke negaranya.

Walaupun kata-kata itu dimaksudkan sebagai canda semata, namun Lina sempat merasa kalau asal-usulnya dipertanyakan. Ia merasa tidak punya akar budaya. Jika ia pergi ke Belanda, ia disebut orang indo karena bapaknya orang Indonesia, sedangkan jika di Indonesia dia disebut penjajah. "Saya punya akar, tetapi tidak pernah merasa menapaknya dengan kokoh," kenangnya.

Karlina mencontohkan, jika saat itu ia ditanya budaya sang ayah, ia tidak bisa secara rinci menjelaskannya. Baginya, Jawa Barat tidak menjadi rumah budaya, karena ada darah Belanda dalam tubuhnya. Sebaliknya, ia juga tidak mampu berbicara bahasa Belanda secara utuh, karena ia tidak pernah dibesarkan di sana. Bahkan ada penolakan dalam dirinya karena di sekolah diajarkan bahwa Belanda itu jahat. Akibatnya, ia pun tidak mau masuk ke dalam rumah budaya Belanda.

Lantaran hal itulah, ia selalu merasa aman jika berada di tengah alam. Sebaliknya berada di antara manusia membuatnya merasa tidak nyaman. Malahan, ia sempat makin tidak percaya diri jika bertemu orang. Sampai-sampai ia disebut sebagai pengecut oleh Toetie Heratie mantan dosen filsafatnya di Universitas Indonesia (UI).

Karlina yang menyukai ilmu eksakta sejak SMA memilih Fakultas Matematika Ilmu Alam (MIPA) Jurusan Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun belakangan, Karlina banting setir dan melirik ilmu filsafat. Di Indonesia saat itu, tidak banyak orang eksakta yang akhirnya mendalami filsafat. Apalagi, ilmu yang disebut terakhir ini kemudian dipilih sebagai program studi untuk mengambil gelar master dan doktor. Adapun gelar doktor astronomi (MSc) diperolehnya di University College of London, Inggris. Sedangkan gelar doktor filsafat dirampungkannya di UI tahun 1997.

Menurut Lina, awal mula perkenalannya dengan dunia filsafat cukup unik. Semula ia tidak berminat sama sekali pada filsafat. Suatu hari, Ninok Leksono Wartawan Senior, Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) 2011-2014 Ninok Leksono Dermawan, sang suami yang juga wartawan senior di harian Kompas, tidak bisa masuk kuliah. Kala itu suaminya sedang menempuh pendidkan untuk meraih gelar doktor di UI dan kebetulan juga satu mata kuliah dengan Lina. Sebagai istri, Lina menawarkan untuk menggantikannya mengikuti kuliah filsafat dengan dosen Toetie Herawati. Setelah itu, Lina merasa filsafat adalah ilmu yang menarik.

Lebih jauh Lina menceritakan, sebelum mengenal filsafat, ia memang cukup lama tenggelam dalam dunia kosmologi. Dalam penelitian yang dilakukannya, ia hanya menemukan pertanyaan-pertanyaan bersifat kosmologi, sangat mendasar dan tidak bisa terjawab melalui data-data empiris. Dengan ilmu filsafatlah akhirnya Karlina bisa mulai menemukan titik terang dari pertanyaan tersebut.

Menurut Lina, pada akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa apa yang dianggap sebagai kebenaran ilmiah dalam kosmologi, sebenarnya hanya konstruksi benak manusia dan selalu berubah. Dan ilmu memang memiliki keberhinggaan atau finite.

Pada tahun 1992, akhirnya Karlina memutuskan ikut kuliah program master filsafat UI. Menurutnya, filsafat itu ternyata luar biasa menarik. Awalnya, ia sempat bengong karena banyak istilah yang sama tetapi pengertiannya berbeda dengan ilmu yang dikuasainya. Selama satu semester ia harus beradaptasi. Tetapi kemudian, ia tertarik dan merasa tidak bisa lepas lagi.

Bahkan ketika ia meneruskan program doktor filsafat, Karlina baru melihat adanya koneksi antara semua ilmu yang dikuasainya. Menurut Lina, pada akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa apa yang dianggap sebagai kebenaran ilmiah dalam kosmologi, sebenarnya hanya konstruksi benak manusia dan selalu berubah. Dan ilmu memang memiliki keberhinggaan atau finite.

Dengan kata lain, pemahaman itu hanya bisa diperoleh kalau manusia mau masuk ke hakikat kehidupan transedental yang akan tercapai ketika seluruh pengetahuan ditanggalkan. "Anda bilang Tuhan Maha Besar. Tapi sebesar apa? Sebab itu metafor yang menggunakan bahasa manusia. Semacam bahasa kosmologi dalam dunia," jelasnya.

Meski sempat merasa minder dan tak percaya diri di masa kecilnya, Karlina mulai senang berorganisasi dan lebih berani dan peduli dengan berbagai keadaan yang terjadi di negeri ini. Ketika menjadi mahasiswa di ITB, tahun 1978, Lina menjadi aktivis kampus dan sempat pula menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB.

Namun, yang menarik adalah saat reformasi 1998 terjadi, ia mendadak menjadi sorotan media karena berdiri di bundaran HI sambil memprotes soal harga susu bersama para ibu dan aktivis perempuan lainnya dalam aksi Suara Ibu Peduli (SIP). Akibatnya, ibu dua anak, Fitri Armalivia dan Angga Indraswara ini bermalam di Polda selama 23 jam. Bersama kedua rekannya, Gadis Arivia Dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia Gadis Arivia dan Wilarsih, Lina didakwa dengan tuduhan melanggar Pasal 510 KUHP.

Saat itu Karlina adalah seorang peneliti pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dosen luar biasa Jurusan Filsafat UI. Beliau juga wakil pemimpin redaksi (wapemred) pada media Jurnal Perempuan. Menurut Karlina, ketika Jurnal Perempuan didirikan, teman-teman memintanya ikut membantu. Saat itu, karena ia masih sibuk dengan disertasi program doktor, keterikatan itu membuatnya tidak berani terlibat penuh.

Ketika disertasinya selesai, ia diminta terlibat penuh sebagai wapemred. Terkait aksinya dan rekan-rekannya dalam aksi Suara Ibu Peduli (SIP) itu, menurut Lina dimulai dengan sesuatu yang sederhana dan spontan. Rekannya, Gadis Arivia Dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia Gadis Arivia yang juga Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan saat itu berbincang dengannya tentang keadaan negara ini. Lina melihat, mahasiswa zaman sekarang diam dan sukar bersuara karena sanksi akademisnya memang berat, misalnya bisa sampai drop-out atau diskors.

Lantas kawannya Gadis mengatakan, kita masih memiliki perempuan. Bersama kawan lainnya, mereka kemudian berkumpul dan membahas masalah harga susu yang memang mahal saat itu. Akhirnya mereka bersepakat untuk menjual susu murah dengan cara menjual kupon. "Jika harga di toko belasan ribu, kami menjualnya dengan harga pabrik. Kami mendapat subsidi dari donatur untuk membeli susu itu dan menjualnya dengan harga murah. Itu untuk kelas bawah, maka kupon itu dijual melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM)," terangnya.

Mengapa ia bersama rekan-rekan aktivisnya hanya memperjuangkan susu? Inilah alasannya. Waktu itu kenaikan harga susu dirasakan paling mahal dan susu sangat subtansial untuk balita untuk pertumbuhan otaknya. Itulah wujud keprihatinan Karlina terhadap masa depan anak-anak Indonesia.

Protes yang dilakukannya bersama kawan-kawannya itu kemudian menuai perhatian dari berbagai pihak yang pro maupun kontra. Aksi gerakannya dianggap sebagai gerakan dari kaum ibu-ibu menengah yang tidak menyusui anaknya. Dari pernyataan tersebut, Karlina pun menjawab, "I think, he missed the point (Saya pikir, ia tidak memahami permasalahan). Naif sekali, pendapat yang seolah-olah kami tidak menyusui anak kami," ujarnya.

Menurut Karlina, protesnya tersebut dilakukan bukan hanya soal air susu ibu (ASI) dan non-ASI. ASI memang diperuntukkan bagi anak-anak hingga usia dua tahun dan anak-anak yang berusia di atas dua tahun masih harus minum susu. Menurut Karlina, mereka tidak tahu kalau dirinya juga menyusui anaknya selama 4 tahun. Bahkan ia pernah berkampanye tentang pentingnya ASI di stasiun TV RCTI. Selain itu, bagaimana pula dengan ribuan anak-anak yatim piatu di panti-panti asuhan? Siapa yang menyusui mereka? Pada akhirnya, mereka juga menggunakan susu kaleng.

Mengenai penangkapan dirinya waktu itu, menurut Karlina, rencana awal ia dan kawan-kawan adalah menjual susu murah. Aksi turun ke jalan hanya spontanitas. Untuk itu ia sudah sangat sadar akan risikonya dan siap untuk bertanggung-jawab karena dialah koordinatornya."Kami memang sudah sepakat, kalau terjadi apa-apa, saya harus bertanggung-jawab. Dan, saya sudah siap," ujar perempuan yang mengaku sebagai seorang feminis ini.

Lebih jauh menurut Karlina, kesiapannya tersebut dalam arti, ia tidak bisa lagi memilah dirinya sebagai seorang perempuan, ilmuwan, atau anggota masyarakat. "Ketika masyarakat sudah dalam keadaan membutuhkan perhatian yang lebih serius. Pada saat itulah seorang ilmuwan yang mengetahui kondisi obyektif akan tahu bahwa masa depan anak-anak akan terancam. Ini soal kebenaran. Tugas ilmuwan, antara lain, mencoba menyuarakan hal itu. Siapa pun kita, jika memiliki tanggung jawab moral, kita akan merasa memiliki tanggung jawab besar daripada sekadar ilmu," terangnya.

Belakangan bersama para tokoh pro pemberantasan korupsi Indonesia, Karlina juga melayangkan seruan dan kritikan terhadap Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI Keenam (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kritikan tersebut ditujukan terutama menyikapi kepemimpinan SBY yang dinilai kurang kuat dalam membangun ketertiban hukum. Dalam aksi itu, para tokoh juga menandatangani sebuah surat Seruan terhadap Penyelamatan Bangsa dan dukungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut tuntas kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin. guh, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 26 Jan 2012  -  Pembaharuan terakhir 29 Feb 2012
Intermezzo
"Biasakanlah untuk berpikir bahwa sukses hanya tinggal selangkah lagi dan pasti akan diraih, niscaya masa depan yang cerah akan ada di depan Anda." ~ Andrew Carnegie

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang

Click to view full article

Sebagai pendeta yang juga manusia biasa, Mangapul Sagala Staf Perkantas Jakarta, Dosen Perjanjian Baru STT IMAN dan STTRII Mangapul Sagala mau tidak mau harus berhadapan dengan tantangan hidup yang sering menguji keteguhan imannya. Lewat ujian-ujian itu


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh