gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Antara Puisi dan Lingkungan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Antara Puisi dan Lingkungan
Tokohindonesia.com | Eka Budianta | Facebook.com
Pekerjaan Utama:
Penulis, Penyair, Aktivis Lingkungan Hidup
Lihat CV
Nama:
Christophorus Apolinaris Eka Budianta Martoredjo
Nama Populer:
Eka Budianta
Lahir:
Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur, 1 Februari 1956
Pekerjaan:
Penulis, Penyair, Aktivis Lingkungan Hidup
Istri:
Prof. Dr. Maria Albertha Felisitas Melanita Pranaya
Anak:
3 orang
Orangtua:
Astroadi Martaredja & Daoeni Andajani
Agama:
Katolik
Pendidikan:
  • Program kepemimpinan Iingkungan dan pembangunan (LEAD, Leadership for Environment And Development) dengan studi lapangan di Costa Rica, Okinawa dan Zimbabwe, 1995-1997
  • Pendidikan jurnalistik di Los Angeles Trade Technical College, Amerika Serikat, 1980-1981
  • Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1975-1979 (tidak selesai)
  • Jurusan Kajian Kesusastraan Asia Timur
  • Akademi Teater LPKJ (tidak selesai)
  • SMA Katholik St Albertus di Dempo, Malang, 1974
Perjalanan karir:
  • Direktur urusan sosial PT Tirta Investama, sejak 1999
  • Aktif dalam lembaga swadaya masyarakat (LSNI) di Bina Swadaya, Komunitas Sastra Indonesia (KSI), dan Yayasan Dana Mitra Lingkungan, 1994-1998
  • Koresponden koran Jepang, Yomiuri Shimbun, 1984-1986
  • Wakil ketua badan pelaksana pertunjukan dan pameran Taman Ismail Marzuki, 1984-1985
  • Wartawan Tempo, 1980-1983
  • Asisten pada kantor Penerangan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNIC)
  • Penyiar radio BBC di London BBC London
  • Staf UNESCO
  • Staf penerbit Puspa Swara
  • Pengajar bahasa Indonesia di International School of London
  • Dosen tamu (Fulbright Visiting Scholar) di Universitas Cornell di Ithaca, New York
  • Karyawan PT New Sahid Builders dan PT RGM Panel, Medan
  • Direktur eksekutif Yayasan Sahabat Aqua
  • Anggota Yayasan Mitra Budaya
  • Penggiat Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP)
  • Pengurus PEN Indonesia
Karya
  • Cerpen:
    • Blekok Blekok Kenangan (Harian Jayakarta), 1991
    • Seorang Lelaki dan Gunungnya (Pikiran Rakyat), 1990
    • Tembang Permadi (Kompas), 1990
    • Alya (Suara Pembaruan), 1989
    • Taman Seberang (Kompas), 1989
    • Ndangdut (Kompas), 1988
    • Api Rindu (Pustaka Maria), 1987
    • Kampung Bali (Horison No. 4), 1982
    • Pawukon (Horison No. 11), 1982
    • Mencari Wahyu (Horison No. 12), 1982
    • Pengakuan (Horison No. 11-12), 1981
    • Kekaguman (Zaman No. 50), 1981
    • Dunia Cucu Wariso (Horison No. 11-12), 1981
    • Sembahyang Sore (Horison No. 6), 1980
    • Kereta Warisan (Horison No. 4), 1980
    • Tim (Horison No. 7), 1978
    • Telaga Mas (Horison No. 11-12), 1978
    • Jalasutra (Horison No. 2), 1978
    • Sebuah Karcis ke Surga (Horison No. 12), 1976
    • Bunga Desember, 1972
  • Puisi:
    • Seperti Angin (Basis No. 9), 1980
    • Pada Suatu Malam (Basis No. 9), 1980
    • Mesjid Negara Kuala Lumpur (Basis No. 9), 1980
    • Malam Terakhir di Stevens Road (Basis No. 9), 1980
    • Keberangkatan (Basis No. 9), 1980
    • Perjalanan Senja (Horison No. 8), 1979
    • Sajak yang Mengenang (Basis No. 5), 1977
    • Catatan Ibu Kota (Zaman No. 11), 1979
Buku:
  • Moral Industri (Pusaka Sinar Harapan), 1999
  • Eksekutf Bijak Lingkungan (Puspa Swara), 1997
  • Mempertirnbangkan Sekolah di Luar Negeri (Grasindo), 1994
  • Menggebrak Dunia Wisata (Puspa Swara), 1993
  • Rumahku Dunia (kumpulan puisi), 1993
  • Dari Negeri Poci (Antologi Puisi), 1993
  • Menggebrak Dunia Mengarang (Bacaan Umum), 1992
  • Mengembalikan Kepercayaan Rakyat (Esai), 1992
  • Lautan Cinta (kumpulan puisi), 1988
  • Api Rindu (Kumpulan Cerpen) 1987
  • Sejuta Milyar Satu (mendapat pujian Dewan Kesenian Jakarta), 1984
  • Cerita di Kebun Kopi, 1981
  • Sabda Bersahut Sabda (Antologi Puisi bersama Azmi Yusoff), 1978
  • Bel (kumpulan puisi), 1977
  • Rel (kumpulan puisi), 1977
  • Ada (kumpulan puisi), 1976
  • Bang Bang Tut (kumpulan puisi), 1976
Pengalaman:
  • Membaca puisi di Queen Elizabeth Hall, London, Inggris, 1990
  • Mengikuti International Writting Program di University of Iowa, AS, 1987
  • Menghadiri pertemuan sastrawan Asia Tenggara di Filipina, 1983
Prestasi & Penghargaan:
  • Hadiah Ashoka, Innovator for The Public, 1986
  • Penghargaan Khusus dari Dewan Kesenian Jakarta untuk kumpulan puisi Sejuta Milyar Satu (Penerbit Arcan), 1984
Facebook:
facebook.com/eka.budianta
Twitter:
twitter.com/#!/Ebudianta
Pusat Data Tokoh Indonesia
Tutup CV

Selain produktif menulis cerpen dan puisi, anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia ini juga aktif menulis esai tentang lingkungan hidup, pariwisata, pendidikan, dan sosial-politik. Salah satu buku sajaknya yang berjudul Cerita di Kebun Kopi terbitan Balai Pustaka tahun 1981 menjadi bacaan untuk siswa SLTP. Buku kumpulan puisi Sejuta Milyar Satu pernah diganjar sebuah penghargaan khusus dari Dewan Kesenian Jakarta.

 

Christophorus Apolinaris Eka Budianta Penulis, Penyair, Aktivis Lingkungan Hidup Eka Budianta Martoredjo lahir di Ngimbang, Lamongan, 1 Februari 1956. Penulis yang kemudian populer dengan nama Eka Budianta Penulis, Penyair, Aktivis Lingkungan Hidup Eka Budianta ini tumbuh dalam lingkungan keluarga penganut Katolik yang bersahaja. Ayahnya Astroadi Martaredja mencari nafkah dengan bertani sedangkan sang ibu, Daoeni Andajani bekerja sebagai guru SD.

Setelah menamatkan pendidikan dasar di desa kelahirannya, anak kedua dari sembilan bersaudara ini hijrah ke kota Malang tepatnya di Dempo untuk meneruskan sekolah ke SMA St Albertus. Ketika itulah ia mulai meniti kariernya sebagai penulis. Saat masih duduk di bangku kelas 1 SMA, Eka yang ketika itu masih berusia 16 tahun bahkan telah menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Bunga Desember.

Setamat SMA di tahun 1974, ia sempat berkuliah di Akademi Teater LPKJ namun tidak selesai. Gagal menyelesaikan studinya di LPKJ, Eka kemudian memilih Jurusan Kajian Kesusastraan Asia Timur yang juga tak berhasil dirampungkannya. Pada 1975, ia beralih ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Namun sayang, walau sudah menghabiskan waktu sekitar empat tahun lamanya, Eka kembali gagal menyelesaikan kuliahnya. Hingga pada akhirnya di tahun 1980, ia mengikuti pendidikan jurnalistik selama satu tahun di Los Angeles Trade Technical College, Amerika Serikat.

Setelah menginjakkan kaki kembali di Tanah Air, ia langsung mengaplikasikan ilmu jurnalistik yang dipelajarinya di Negeri Paman Sam dengan berkarir sebagai wartawan Tempo. Eka pernah tercatat sebagai koresponden koran Jepang, Yomiuri Shimbun, serta menjadi penyiar radio BBC di London, Inggris. Eka juga telah lulus Program Lingkungan dan Pembangunan (Leadership for Environment and Development) dengan kerja lapangan di Costa Rica, Amerika Tengah (1995), Ikonawa, Jepang (1996) dan Zimbabwe (1997).

Dengan menekuni profesi sebagai seorang wartawan, kemampuan menulis suami dari Maria Albertha Felisitas Melanita Pranaya Guru Besar (Profesor) Tetap FIB Universitas Indonesia (2006) Melanita Pranaya ini pun kian terasah. Sejak dekade 1970-an, ia rajin menelurkan cerpen dan puisi yang antara lain berjudul Blekok Blekok Kenangan, Seorang Lelaki dan Gunungnya, Tembang Permadi, Alya, Taman Seberang, Ndangdut, Seperti Angin, Pada Suatu Malam, Mesjid Negara Kuala Lumpur, Malam Terakhir di Stevens Road, Keberangkatan, dan puluhan judul lainnya.

Tulisan Eka membanjiri halaman berbagai surat kabar dan majalah, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Pelita, Merdeka, Kumandang (Jawa), Basis, Horison, Salemba, Tempo, dan Mastika (Malaysia).

Nama Eka mulai menonjol di dunia sastra ketika ia tampil sebagai peserta forum puisi ASEAN bersama sekitar 50 penyair terkemuka dari negara-negara anggota ASEAN pada tahun 1978. Dalam acara tersebut, ia adalah peserta paling muda, meskipun sudah menghasilkan 3 buku kumpulan puisi.

Pada 1979, ia memimpin delegasi Indonesia ke pesta Puisi dan Akademi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Pada tahun 1983, Eka pernah menghadiri pertemuan sastrawan Asia Tenggara di Filipina. Empat tahun berselang ia mengikuti International Writing Program di University of Iowa yang diadakan di Amerika Serikat. Eka Budianta Penulis, Penyair, Aktivis Lingkungan Hidup Eka Budianta juga pernah menjadi salah satu seniman Indonesia yang mendapat kehormatan untuk tampil membaca puisi di Queen Elizabeth Hall, London, Inggris tahun 1990.

Sebagian karya-karyanya sudah diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan puisi dengan berbagai judul antara lain Rumahku Dunia, Lautan Cinta, Api Rindu, Bel, Rel, Ada, dan Bang Bang Tut. Salah satu buku sajaknya yang berjudul Cerita di Kebun Kopi terbitan Balai Pustaka tahun 1981 menjadi bacaan untuk siswa SLTP.

Nama Eka mulai menonjol di dunia sastra ketika ia tampil sebagai peserta forum puisi ASEAN bersama sekitar 50 penyair terkemuka dari negara-negara anggota ASEAN pada tahun 1978. Dalam acara tersebut, ia adalah peserta paling muda. Sebagian karya-karyanya sudah diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan puisi dengan berbagai judul antara lain Rumahku Dunia, Lautan Cinta, Api Rindu, Bel, Rel, Ada, dan Bang Bang Tut. Salah satu buku sajaknya yang berjudul Cerita di Kebun Kopi terbitan Balai Pustaka tahun 1981 menjadi bacaan untuk siswa SLTP.

Kebolehannya merangkai kata menjadi deretan kalimat penuh makna seperti yang terangkum dalam buku kumpulan puisi Sejuta Milyar Satu bahkan pernah diganjar sebuah penghargaan khusus dari Dewan Kesenian Jakarta. Sepanjang karirnya, sudah ribuan cerpen, buku, puisi yang telah dihasilkannya. Beberapa karyanya bahkan diterjemahkan dalam berbagai bahasa antara lain Inggris, Mandarin, Jerman, Belanda, dan Finlandia.

Selain menulis karya sastra, mantan Wakil Ketua Badan Pelaksana Pertunjukan dan Pameran Taman Ismail Marzuki Komponis Ismail Marzuki ini juga banyak menulis masalah lingkungan hidup, pariwisata, pendidikan, termasuk hal-hal yang menyentuh ranah sosial-politik. Semua pemikirannya tentang beragam hal itu dimuat dalam buku-buku berjudul Eksekutf Bijak Lingkungan, Moral industri, Mempertimbangkan Sekolah di Luar Negeri, Menggebrak Dunia Wisata, dan Mengembalikan Kepercayaan Rakyat.

Karena dedikasinya menyuarakan aspirasi masyarakat, terutama lingkungan dan sosial masyarakat bawah melalui sajak maupun cerpen-cerpennya, ia menerima penghargaan dari ASHOKA Foundation, Innovator For The Public pada tahun 1986. ASHOKA Foundation merupakan sebuah lembaga International yang memperhatikan pengabdi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan sebagainya.

Pada tahun 2005, Eka merilis buku yang berjudul Senyum Untuk Calon Penulis. Judul bukunya sangat menarik serta spesifik dalam menentukan siapa kira-kira target pembaca buku setebal 274 halaman tersebut. Buku yang terdiri dari 25 tulisan itu dirangkai dari berbagai tulisan makalah yang disajikannya di berbagai seminar dan diskusi dalam kurun waktu 4 tahun (1999-2002). Berbagai macam tema seputar dunia tulis menulis, buku, lingkungan hidup, sastra dan lain-lain mewarnai tulisan-tulisannya dalam buku itu.

Dalam salah satu tulisan yang judulnya diangkat menjadi judul buku ini: Senyum untuk Calon Penulis, Eka menyampaikan beberapa pokok masalah dalam menulis. Pokok pertama adalah, Selalu Ingat: Mengapa Anda menulis? Di sini Eka menegaskan niat dalam hati dalam menentukan tujuan menulis adalah hal yang paling penting dalam karya sastra. Bukan teknik, keindahan bahasa, plot, tetapi intinya. Isi cerpen, isi novel, isi puisi, itulah yang bicara (hal 195).

Kedua, Pentingkah: Kapan Anda Menulis? Bagi Eka kapan menulis bukanlah masalah, yang lebih penting adalah melihat isi atau pesan setiap pengarang. Bagi penulis-penulis besar, pesan-pesan yang disampaikan biasanya akan abadi. Drama-drama Shakespeare tetap abadi hingga kini. Dari segi usia, kapan mulai menulis pun tak jadi persoalan asal tulisannya mengandung nilai-nilai abadi maka tulisannya akan bertahan lama. Kartini, Chiril Anwar, Moh. Hatta menulis di usia yang sangat muda namun apa yang ditulisnya tetap dibaca orang hingga kini.

Ketiga, Jiwa Merdeka dan Gembira. Modal utama seorang pengarang adalah jiwa yang merdeka. Dengan bebas berpikir dan berimajinasi, setiap penulis dapat melahirkan karya-karyanya. Namun Eka mengingatkan bahwa semakin besar kemerdekaan seorang penulis maka semakin besar juga tanggung jawabnya dan semakin perlu hati-hati.

Keempat, Bagaimana Menulis dan Apa isinya. Di sini Eka menceritakan pengalamannya menjadi asisten HB Jasin dalam menyeleksi karya-karya sastra. Walau suatu karya dinilai bagus oleh HB Jasin namun tak berarti karya tersebut bisa dipublikasikan. Menurut Jassin, seorang penulis memiliki tugas sebagai "guru" bagi pembacanya, melalui tulisan, manusia bisa membongkar pikiran orang lain. Tapi bila penulis berhasil membongkar, tentu penulis harus bisa merapihkannya.

Selain membagikan ilmu lewat tulisan, ayah tiga anak ini juga menjadi pengajar Bahasa Indonesia di International School of London, serta menjadi dosen tamu Fulbright Visiting Scholar di Universitas Cornell di Ithaca, New York. Posisi sebagai staf penerangan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNIC) juga pernah diembannya. Sastrawan ini juga pernah terlibat aktif dalam sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Bina Swadaya, Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Yayasan Dana Mitra Lingkungan, anggota Yayasan Mitra Budaya, serta turut giat dalam Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP). Sementara dalam organisasi penyair, editor dan novelis, ia termasuk pengurus PEN Indonesia. eti | muli, mlp

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA


GALERI

Sumber: Tokohindonesia.com | Dokumen Pribadi | Eka Budianta
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 07 Jul 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Sebelum digunakan oleh pemerintah Indonesia, Istana Kepresidenan Bogor digunakan sebagai rumah peristirahatan gubernur jenderal Belanda. Tercatat 44 orang gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana yang pada masa penjajahan bernama Istana Buitenzorg.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang

Click to view full article

Sebagai pendeta yang juga manusia biasa, Mangapul Sagala Staf Perkantas Jakarta, Dosen Perjanjian Baru STT IMAN dan STTRII Mangapul Sagala mau tidak mau harus berhadapan dengan tantangan hidup yang sering menguji keteguhan imannya. Lewat ujian-ujian itu


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh