WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Peduli Kelestarian Lingkungan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Peduli Kelestarian Lingkungan
Ully Sigar Rusadi | TokohIndonesia.com | Dok.pri

Kiprahnya sebagai musisi dan aktivis lingkungan hidup sudah tak terbantahkan. Berbagai penghargaan telah diterima perempuan yang identik dengan ikat kepala dan perhiasan berbau etnik ini. Antara lain, Kalpataru 2001, Asean Development Citra Awards 1999-2000 dan Piagam Penghargaan Global 500 dari Badan PBB UNEP 1988. Lagu-lagu ciptaannya pun banyak dilantunkan oleh penyanyi lain, seperti Anggun C Sasmi, Ita Purnamasari, Maya Rumantir dan Nicky Astria.

Aktivis Lingkungan, Musisi
Lihat Curriculum Vitae (CV) Ully Sigar Rusadi

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Ully Sigar Rusadi

QR Code Halaman Biografi Ully Sigar Rusadi
Bio Lain
Click to view full article
Jansen Sinamo
Click to view full article
Johannes Soerjoko
Click to view full article
Hermanto Dardak
Click to view full article
Bismar Siregar
Click to view full article
Agum Gumelar
Click to view full article
Priyo Budi Santoso
Click to view full article
Asrurifak

Perempuan yang lahir di Garut, 4 Januari 1952 dengan nama lengkap Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya ini lebih dikenal dengan nama Ully Sigar Rusady. Sejak kecil, putri pasangan Raden Mas Yus Rusady Wirahaditenaya dan Raden Ayu Marry Zumarya ini telah menggeluti dunia musik. Guru musik pertamanya adalah ayah kandungnya sendiri yang berprofesi sebagai tentara.

Sewaktu masih tinggal di Bandung, sang ayah mengajari Ully yang saat itu masih berusia 8 tahun bermain gitar. Ketika di kelas 1 SMP, ia mengalami cedera di pergelangan tangan kanan dan jari kelingking tangan kiri akibat terjatuh dalam suatu atraksi ''gadis plastik'' yang ia ikuti. ''Bertahun-tahun saya melatih jari tangan kiri, terutama kelingking, untuk menekan dawai, dan tangan kanan untuk memetiknya,'' tutur kakak kandung aktris Paramitha Rusady ini.

Ketika beranjak remaja, ayahnya ditugaskan ke Makassar sehingga Ully dan keluarganya pindah ke ibukota provinsi Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
itu. Di sana sulung dari delapan bersaudara ini mulai mengekspresikan bakat bermusiknya dengan membentuk grup band Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yang diberi nama Puspa Nita dan Shinta Eka Paksi.

Dari Makassar, Ully kemudian pindah ke Jakarta di tahun 1975. Di kota yang menjadi tujuan banyak musisi untuk mengembangkan karir bermusiknya ini, Ully mendalami musik di Yayasan Musik Indonesia. Tak cukup puas, Ully kemudian menambah wawasan bermusiknya dengan berguru pada Arjuna Hutagalung. Selanjutnya selama kurun waktu tahun 1981-1983, ia juga menimba ilmu pada Slamet Abdul Sjukur.

Setelah itu, Ully mencoba menerapkan ilmu yang telah diperolehnya dengan giat mengikuti sejumlah festival musik. Pada Festival Gitar Tunggal jenis Pop se-Indonesia di Bandung, ia berhasil keluar sebagai juara kedua. Selain piawai memetik gitar, ia juga seorang pencipta lagu cukup berbakat. Dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional, dua dari sepuluh lagu ciptaannya berhasil terpilih sebagai lagu terbaik. Pertama, lagu Akhir Balada yang dinyanyikan secara duet oleh Zwesti Wirabuana dan Ade Manuhutu. Kedua, lagu Harmonie Kehidupan yang dinyanyikan Dhenok Wahyudi, yang kemudian menjadi duta Indonesia ke Festival Pop Song Tingkat International di Budokan Hall, Tokyo, tahun 1978. Ketika itu ia ikut tampil mendampingi Dhenok dengan menggunakan ikat kepala suku Dayak yang kemudian menjadi ciri khasnya hingga saat ini. Penampilan unik Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
berdarah Sunda itu akhirnya membuatnya dinobatkan sebagai The Best Dresser's.

Ully terus menunjukkan eksistensinya dengan mengikuti berbagai ajang musik bergengsi seperti Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1978 dan 1981, serta Lomba Karya Cipta Lagu Asean Populer Song Festival tahun 1982 dan 1983. Bakat seni Ully rupanya juga menurun pada salah satu putrinya, Elsa F Sigar. Dalam ajang yang sama, Elsa yang ketika itu masih berusia 8 tahun menjadi pencipta lagu termuda dan memenangkan salah satu penghargaan dengan lagu ciptaannya, Rumah yang Manis.

Setelah itu, Ully Sigar kian produktif menciptakan lagu bahkan konon jumlahnya mencapai angka ratusan. Lagu-lagu ciptaan istri Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
Ronny Sigar itu banyak dinyanyikan oleh Lihat Daftar Penyanyi
Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi
ternama di zamannya, seperti Nur Afni Octavia, Anggun C Sasmi, Ita Purnamasari, Bangkit Sanjaya, SAS, Arthur Kaunang, dan Sonatha Tanjung. Selain nama-nama beken tadi, Ully juga merupakan musisi yang berjasa mengorbitkan Lihat Daftar Penyanyi
Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi
Maya Rumantir dan lady rocker Nicky Astria.

Ibu tiga anak ini mulai dikenal sebagai solois ketika menelurkan album perdananya di tahun 1978, Rimba Gelap produksi label rekaman Irama Mas. Tiga tahun kemudian, album berjudul Pelita Dalam Gulita dirilis. Selanjutnya berturut-turut di tahun 1983 dan 1986, Ully Sigar Rusady merilis album Pengakuan dan Senandung Kabut Biru. Kebanyakan lirik-lirik lagu yang dibawakannya bertemakan perjuangan.

Kecintaannya pada dunia musik pada akhirnya mendorong Ully untuk mendirikan sekolah musik bernama Vini Vidi Vici. Tempat mencetak musisi-musisi muda berbakat itu pertama kali didirikan di Jalan Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta. Pada akhir Desember 1982, bangunannya terbakar sehingga mengakibatkan kerugian sekitar Rp 30 juta. Menyikapi musibah yang menimpanya, Ully dengan tenang berkata, ''Mungkin Tuhan sedang menguji saya.'' Tak ingin tenggelam dalam kesedihan, ia justru membangun kembali tempat itu. Kini, Yayasan Vini Vidi Vici telah memiliki belasan cabang di Jakarta dan di beberapa kota lain.

Nama besarnya sebagai musisi seakan mulai menghilang seiring dengan kegiatannya sebagai Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
di dunia pelestarian lingkungan hidup. Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yang gemar melukis dan membuat puisi ini mengaku sudah mengurangi jadwal manggungnya. Jika belakangan ia lebih menikmati perannya sebagai Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
, Ully mengaku memang menyukai alam sejak kecil.

Namun bukan berarti ia sudah sama sekali meninggalkan dunia tarik suara yang telah membesarkan namanya. Di tahun 2005, ia sempat tampil berkolaborasi dengan Kelompok Nyanyian Alam dalam ajang World Music Oriental Festival (WOMF) di Sarajevo. Saat itu mereka membawakan lagu Musim Tanam dan berhasil memenangkan dua kategori penghargaan, sebagai The Best Performance dan Audience Favorites melalui voting penonton dan televisi dunia.

Sedangkan sebagai Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
lingkungan hidup, dedikasi Ully memang pantas mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Meski usianya telah memasuki setengah abad lebih, semangatnya dalam "menghijaukan" Indonesia tak pernah meredup. Ia gencar melakukan kegiatan pemeliharaan alam seperti dengan menjadikan hutan sebagai rumah. Atas kiprahnya itu, berbagai penghargaan pun berhasil diraihnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Antara lain, penghargaan Asean Development Citra Awards 1999-2000 dan Piagam Penghargaan Global 500 dari Badan PBB UNEP 1988.

Sebagai aktivis lingkungan hidup, dedikasi Ully memang pantas mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Meski usianya telah memasuki setengah abad lebih, semangatnya dalam "menghijaukan" Indonesia tak pernah meredup. Ia gencar melakukan kegiatan pemeliharaan alam seperti dengan menjadikan hutan sebagai rumah. Atas kiprahnya itu, berbagai penghargaan pun berhasil diraihnya, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kepeduliannya terhadap lingkungan juga ia salurkan lewat Yayasan Garuda Nusantara (YGN) yang ia dirikan pada 1985. Melalui yayasan itu, Ully membuka kelompok-kelompok pecinta alam dan lingkungan. Pandu Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu kelompok pecinta lingkungan yang pertama kali dibentuk dan berada di Balikpapan. Selanjutnya YGN terus berkelana membentuk kelompok serupa. Menurutnya, tujuan utama dibentuknya kelompok pecinta alam adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Hasil akhir yang diharapkan adalah perubahan perilaku setiap manusia terhadap lingkungannya.

Sayangnya, niat mulia Ully untuk menjaga kelestarian lingkungan tidak didukung dengan dana kampanye lingkungan yang cukup. Ia mengakui, dana yang disediakan pemerintah sangat sedikit sementara untuk mengelola YGN diperlukan dana yang cukup besar. Oleh sebab itu, YGN terus menggalang hubungan dengan donatur-donatur, seperti memanfaatkan Production House (PH) yang peduli terhadap masalah lingkungan alam dan tak ketinggalan sang adik, Paramitha Rusady. Aktris yang akrab disapa Mita itu memang sering terlihat mendampingi Ully dalam berbagai kampanye lingkungan hidup. Partisipasi Mita bahkan diwujudkan dengan tampil sebagai bintang utama dalam salah satu produksi sinetron kakaknya yang berjudul Anak-anak Angin.

Sinetron yang tayang 12 episode ini terbilang cukup menarik karena banyak mengambil tema masalah lingkungan hidup. Lokasi pengambilan gambar untuk sinetron itu sendiri dilakukan di Gunung Pancar, Desa Cimandala, Bogor, Jawa Barat yang kebetulan merupakan milik Ully yang dibuat jadi laboratorium pelestarian alam. Di Gunung Pancar ini pula, sejak tahun 1985, Ully melatih sekitar 30.000 pemuda dari seluruh Indonesia untuk mencintai alam.

Upaya Ully untuk menularkan kepeduliannya terhadap alam kepada generasi muda dinilainya jauh lebih penting ketimbang mencari pihak-pihak yang harus bertanggung jawab dalam kerusakan hutan. "Kerusakan sudah demikian parahnya, tapi kita tidak usah bertanya lagi siapa yang merusak hutan, yang penting sekarang kita berpikir, apa yang harus kita lakukan," tegas Ully bijak.

Ia heran karena saat ini seolah ada tren saling menyalahkan, hobi mencari polemik, baik di masyarakat atau di kalangan pemerintah. Ully berpendapat, seharusnya rakyat atas nama ketulusan mencoba membantu penyelamatan lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri dan keluarga.

"Jadi, jangan berharap dari pemerintah terus, rakyat dulu (yang harus melakukannya). Dengan catatan, pemerintah juga harus banyak memperbaiki konsep-konsep yang tidak berjalan. Sekarang kita jangan lagi 'jemput bola', tapi harus 'kejar bola'," tegas alumni Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta ini seperti dikutip dari situs Gemari Online.

Ully juga menegaskan, kita jangan hanya menyalahkan masyarakat perambah karena sebenarnya yang salah adalah kita semua. "Ada saling keterkaitan dalam masalah ini. Misalnya, ada orang yang tahu hutan dirusak, tetapi diam saja, itu adalah perbuatan salah. Jadi yang salah itu bukan hanya yang menebang hutan, tetapi orang yang tahu namun diam saja juga salah," paparnya.

Sekarang yang harus segera dilakukan adalah merubah perilaku masyarakat dalam hal perlindungan alam dan lingkungan. Masyarakat ini bisa termasuk Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
dan kita semua. Menurut peraih penghargaan Kalpataru tahun 2001 ini, percuma saja mengadakan banyak seminar tentang masalah pelestarian lingkungan tapi tidak mengubah perilaku. eti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 20 May 2011  -  Pembaharuan terakhir 14 Mar 2012
Pakar Remote Sensing Yang Low Profile Sejarawan Beridentitas Paripurna

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Dalam catatan sejarah perang, kita dapat menemukan beberapa pertempuran klasik, yaitu kiprah militer yang dikagumi para pemimpin militer dan sejarawan selama berabad-abad. Cannae adalah salah satu pertempuran demikian. Dipimpin oleh Hannibal Barca, seorang pemimpin perang yang mampu mempersatukan berbagai suku bangsa, dan membuktikan kehebatan strateginya dengan memukul mundur pasukan Romawi.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: