WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Sastrawan Tokoh Tridharma

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Sastrawan Tokoh Tridharma
Kwee Tek Hoay | e-ti | multiply.com

Sastrawan Melayu Tionghoa dan tokoh ajaran Tridharma ini banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, pendidikan dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Namanya semakin dikenal setelah menjadi penulis novel dan drama. Karyanya yang terkenal di antaranya, Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama

Sastrawan, Tokoh Agama, Wartawan
Lihat Curriculum Vitae (CV) Kwee Tek Hoay

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Kwee Tek Hoay

QR Code Halaman Biografi Kwee Tek Hoay
Bio Lain
Click to view full article
Idrus Tintin
Click to view full article
Hasnul Suhaimi
Click to view full article
Charles Himawan
Click to view full article
Pangeran Antasari
Click to view full article
Diana Tarigan
Click to view full article
Urip Santoso
Click to view full article
Cut Nyak Dien

Saat masih duduk di bangku sekolah, Kwee Tek Hoay (KTH) terpaksa sering membolos. Pria kelahiran kota hujan, Bogor ini membolos bukan karena malas belajar tapi karena ia tak memahami bahasa Hokkian yang digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolahnya. Hal itu membuat ia merasa kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan gurunya.

Oleh sebab itu, KTH kecil lebih memilih membantu Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
tekstil ayahnya. Di sela-sela kesibukannya membantu sang ayah berjualan, KTH gemar mengisi waktunya dengan membaca buku. Agar tidak diganggu ayahnya, ia membaca secara sembunyi-sembunyi. Di kemudian hari, hobi membacanya itu menjadi sangat berguna bagi masa depannya.

Beranjak dewasa, KTH memulai karirnya sebagai seorang Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
. Awalnya ia menjadi anggota redaksi majalah surat kabar Ho Po dan Li Po yang berkedudukan di kota kelahirannya, Bogor. Setelah itu ia hijrah ke Batavia (Jakarta) dan bekerja di majalah Sin Po.

Pada tahun 1926, berbekal pengalamannya sebagai kuli tinta di berbagai media, KTH memberanikan diri membuat majalahnya sendiri yang diberi nama Panorama. Majalah itu dimanfaatkannya untuk mengaspirasikan pandangan politiknya yang kerap dianggap kontroversial oleh para pemimpin terbitan lain yang menjadi pesaingnya. Karena dianggap terlalu vokal, ia pun diseret ke pengadilan. Namun hal itu tidak menciutkan nyalinya untuk terus menyuarakan kebenaran. KTH memahami benar resikonya sebagai Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
.

KTH bekerja keras membesarkan majalah yang diasuhnya. Selain sebagai penulis, ia juga mengurus distribusi dan periklanan. Lima tahun berselang, yakni pada 1931, Panorama berganti pemilik setelah KTH menjualnya kepada Phoa Liong Gie. Namun tak berarti karirnya sebagai Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
terhenti. Menulis bagi KTH bukan hanya sebagai alat untuk mencari nafkah tapi juga panggilan hati. Maka dari itu, ia pun kembali menerbitkan berbagai majalah mulai dari yang cakupan bidangnya umum (Mustika Panorama), sastra (Mustika Romans), hingga yang sifatnya keagamaan (Mustika Darma dan Sam Kauw Gwat Po).

Di majalah sastra terbitannya, Mustika Romans, ia banyak mengungkapkan keterlibatannya dalam politik. Karyanya yang paling terkenal berjudul "Asal Mulanya Timbul Pergerakan Tionghoa di Indonesia". Karya tulis yang bercerita tentang sejarah dan latar belakang berdirinya perkumpulan THHK (Tiong Hoa Hwee Koan) itu dimuat secara berseri mulai Agustus 1936 hingga Januari 1939 dan diterjemahkan oleh sinolog terkemuka Lea Williams ke dalam bahasa Inggris lalu diterbitkan oleh Cornell University Modern Indonesia Project dengan judul 'The Origin of the Modern Chinese Movement in Indonesia' pada 1969.

KTH dikenal sebagai penulis dengan wawasan yang sangat luas. Selain cakap menuangkan gagasannya dalam bidang politik, ia juga apik menuliskan pemikirannya mengenai pendidikan. Keluasan pikirannya tentang pendidikan dituangkan dalam buku "Rumah Sekolah Yang Saya Impikan". Dalam buku itu, KTH menitikberatkan pendidikan pada kebudayaan leluhur, kesenian, musik, dan peranan praktik dalam pelajaran. Bagi KTH, praktik jauh lebih penting daripada teori. Dengan mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya, seorang murid menurutnya akan lebih mudah meresapi, kemudian mengamalkannya di kemudian hari.

Selain itu, ia juga mengemukakan pendapatnya mengenai sekolah ideal yang harus mempunyai pemondokan. Hal itu dimaksudkan agar para pelajar dapat lebih berkonsentrasi dalam menimba ilmu. Di luar jam belajar, mereka bisa mengisi waktu dengan membaca buku di perpustakaan.

KTH dikenal sebagai penulis dengan wawasan yang sangat luas. Selain cakap menuangkan gagasannya dalam bidang politik, ia juga apik menuliskan pemikirannya mengenai pendidikan.

Ide-idenya tentang pendidikan tak hanya mengenai pendidikan dalam lingkungan sekolah tapi juga luar sekolah. Misalnya pendidikan untuk kaum Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
. Di masa itu Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan seluas-luasnya seperti sekarang. Mereka masih dibelenggu dengan norma dan aturan yang menempatkan posisi mereka di bawah pria. Tidak boleh bersekolah, menjalani masa pingitan, hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, hingga seorang laki-laki datang melamar mereka. Untuk hal yang paling pribadi seperti itu saja, mereka tak diberi kesempatan untuk memilih, semua bergantung pada keputusan orangtua.

Dengan pola seperti itu, KTH merasa sangat prihatin. Karena para gadis itu kelak akan melahirkan generasi penerus namun memiliki ilmu yang terbatas untuk mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya. Sebagai wadah bagi kaum Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
dalam menuangkan kreativitasnya terutama dalam bidang tulis menulis, KTH kemudian membuat rubrik "Halaman Perempuan". Sesuai dengan namanya, rubrik tersebut ditujukan khusus bagi Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
perempuan, mereka kemudian diberikan bimbingan untuk mengembangkan bakatnya.

Rubrik itu semakin hari semakin berkembang seiring bertambahnya jumlah Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yang memuat karyanya. Animo juga berdatangan dari luar Jawa. KTH pun menyarankan mereka untuk membentuk organisasi perkumpulan Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
perempuan. Itulah sejarah awal berdirinya "Orgaan Persatuan Journaliste". Sejak saat itu, mereka mulai mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dengan bekerja sebagai wartawan di berbagai harian seperti Sin Po, Keng Po, dan Star Weekly. Keberhasilan mereka tak terlepas dari tangan dingin seorang KTH yang peduli pada perubahan nasib kaum hawa dengan mendidik mereka agar menjadi orang terpelajar dan berpikiran modern.

Meskipun karirnya sebagai wartawan sudah cukup bagus, kesuksesan besar baru diraihnya sebagai penulis novel dan drama. Cerita drama yang pertama kali ditulisnya berjudul "Allah yang Palsu". Cerita yang ditulis pada tahun 1919 itu ditujukan untuk mengecam orang yang gila harta, termasuk orang yang menikah demi kekayaan dan mereka yang gemar mengundi peruntungannya di meja judi. Sejak itu, KTH semakin rajin menelurkan karya-karyanya.

Selain berasal dari idenya sendiri, karya-karyanya juga diilhami oleh karya sastrawan lain. Salah satunya pujangga ternama William Shakespare. Karya Shakespare yang berjudul A Midsummer's Night Dream menginspirasi KTH dalam penulisan drama berjudul Bunga Roos dari Cikembang. Agar lebih mudah diterima, cerita itu digubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan latar belakang Indonesia.

Sementara untuk drama ciptaannya sendiri berjudul Korbannya Yi Yong Toan. Drama enam babak ini dibuat pada tahun 1928 yang mengkritik mereka yang mengumpulkan pemuda-pemuda untuk dikirim ke Tiongkok menjadi tentara melawan Jepang. Drama ini kemudian dipentaskan dimana ia membimbing sendiri para pemain. Seiring berjalannya waktu, keakraban KTH dengan para bintang pentas itu mulai terjalin. Pengalaman, cerita menarik, serta suka duka para pemain kemudian dimuat dalam buku berjudul Penghidupan Seorang Sri Panggung. Terbitnya buku itu dimaksudkan untuk memperbaiki citra para pemain Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
yang pada masa itu disamakan dengan pelacur.

Karya-karyanya juga banyak terinspirasi dari kisah nyata. Seperti dari peristiwa pemberontakan PKI terhadap pemerintah Belanda yang dituangkan dalam cerita berjudul Drama di Boven Digul. Drama di Boven Digoel berkisah tentang kehidupan seorang pemimpin PKI dan putrinya. Lewat karya ini, ia berhasil membuat cerita yang memukau dan realistis namun sarat nilai kebatinan. Awalnya cerita ini dimuat secara berseri dalam majalah Panorama, kemudian dicetak dalam bentuk buku karena respon yang positif dari pembaca.

Peristiwa alam seperti bencana juga memberikannya ide dalam menulis. Seperti Drama dari Merapi, novel yang berkisah seputar meletusnya Gunung Merapi tahun 1930. Karyanya yang sejenis adalah Drama dari Krakatau. Bedanya, novel yang bercerita tentang peristiwa meletusnya Gunung Krakatau ini turut diilhami dari novel The Last Days of Pompei yang memuat kisah meletusnya Gunung Vesuvius di Itali. Baik Drama dari Merapi maupun Drama dari Krakatau sama-sama dikaitkan dengan reinkarnasi, suatu konsep ajaran Buddha yang mempercayai kehidupan kembali manusia setelah meninggal.

Penyair yang rajin menulis catatan harian ini juga dikenal sebagai sosok yang religius. Kemampuan menulisnya digunakan untuk menerjemahkan buku-buku agama terkenal. Seperti Rubayat Omar Khayyam, Hikayat Khong Hu Cu, Agama Buddha di Jawa pada Zaman Kuno, Bhagawad Gita, Keterangan Ringkas tentang Agama Islam, dan lain sebagainya.

Dari buku-buku di atas, memang tidak secara jelas menggambarkan kepercayaan yang dianutnya. Ia lebih cenderung mengadakan pendekatan komparatif, humanistis dan historis. Boleh dibilang, orientasi spiritualnya adalah teosofi, suatu gerakan yang diprakarsai oleh Madame Blavatsky pada tahun 1875. Prinsip utama kaum teofis adalah kesatuan segala agama. Semua berasal dari sumber yang sama dan mengungkapkan kebenaran yang pada dasarnya sama. Hanya "bentuk" dan sifat lahiriahnya yang berbeda sebagai akibat adaptasi agama-agama itu terhadap zaman serta kebudayaan tempat ia belajar dan berkembang.

Perkembangan zaman yang mempengaruhi masyarakat peranakan Tionghoa membuat mereka mengalami krisis identitas kebudayaan dan agama. KTH kemudian berusaha mengembalikan kebudayaan leluhurnya dengan menulis tentang "Agama Tionghoa" yang merupakan gabungan dari tiga agama yakni Konfusianisme, Buddisme, dan Daoisme (Taoisme). Pemikirannya tentang tiga agama itu kemudian dimuat dalam majalah Sam Kauw Gwat Po.

Sebagai akibat dari perkembangan zaman kala itu, banyak dari peranakan Tionghoa yang menjadi pemeluk Kristen. Kritikan pedasnya kepada mereka yang berpindah keyakinan itu dituangkan dalam sebentuk novel berjudul Pengalaman sebuah Bunga Anyelir. Hal itu sangat ia sayangkan karena mereka tak hanya meninggalkan agama tapi juga kebudayaan orang Tionghoa. Misalnya dengan membuang meja abu yang sering disalahartikan sebagai sarana untuk memuja dewa-dewi.

Arus modernisasi juga kerap berdampak buruk, salah satunya bagi kaum perempuan yang meniru gaya Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
Barat. Mulai dari cara berpakaian, belajar dansa hingga beberapa dari mereka tak sungkan menjadi istri muda orang kaya. Tapi harapan untuk kembali bangkit setelah terjatuh selalu terbuka. KTH dengan senang hati memberikan bantuan sekecil apapun bagi mereka yang telah menyadari kekhilafannya. Seperti dalam bukunya yang berjudul "Surat-surat dari Pauline". Dalam buku itu, KTH membela seorang mantan pelacur yang telah insaf. Tak hanya berhenti menjajakan tubuhnya, ia juga mengajak rekan-rekan seprofesinya untuk meninggalkan pekerjaan hina itu dengan membekali diri dengan keterampilan yang dapat dipergunakan untuk mencari nafkah yang halal.

Pelacuran adalah salah satu konsep tentang keperempuanan yang ia tulis dalam buku itu. Pandangan KTH sebenarnya tergolong konservatif. Misalnya ia memperingatkan para Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
tua agar menerima takdir saat rambut sudah beruban, kulit sudah keriput dan perubahan fisik lainnya. Jangan memaksakan diri untuk tampil muda kembali dengan meniru gaya dan penampilan anak-anak muda.

Novel yang terakhir ia tulis berjudul Itu Nona yang Bertopeng Biru. Novel yang dimuat secara berseri di majalah Mustika Roman mulai dari tahun 1940 hingga 1941 itu bercerita tentang seseorang yang tak mau lagi merayakan Cap Go Meh yang merupakan hari raya Tionghoa.

Pasca Perang Dunia II, ia lebih banyak menulis buku filsafat dan agama baik terjemahan maupun karya asli. Sesudah itu, ia lebih banyak berkutat pada kegiatan keagamaan terutama Buddha Tridarma, yang menurutnya adalah agama Tionghoa murni yang terdiri atas Konghucu, Lao Tse (Tao), dan Buddha. Beragam pembaruan pun dilakukan untuk menarik minat calon penganut. Mulai dari merubah tata cara peribadatan dengan mengadakan kebaktian hingga menyanyikan lagu di sela-sela acara ibadah.

Konon ia lebih mendalami agama setelah diramalkan akan meninggal pada tahun 1949 di usia 64 tahun. Sejak saat itu, ia bekerja tanpa lelah demi menuntaskan tugasnya sebelum ajal menjemput. Di sela kesibukannya menulis, ia juga masih menyempatkan diri untuk mengurus percetakan dan penjilidan buku miliknya. Namun karena usahanya itu tidak terlalu memberikan keuntungan, ia pun membuka pabrik tapioka sebagai tambahan penghasilan.

Pada tahun 1940, Cicurug tempat dimana ia tinggal sedang tidak aman karena diganggu gerombolan Kartosuwiryo. Meski demikian, KTH tak mau meninggalkan daerah yang sejuk itu karena di sana ia merasa lebih produktif. Sesekali ia pergi ke Batavia untuk memasarkan majalah dan buku serta menghadiri rapat perkumpulan keagamaan.

Seiring bertambanya usia, KTH menyadari bahwa dirinya semakin dekat dengan kematian. Ia pun aktif di perkumpulan kematian Sham San Bumi yang bertujuan ingin menerapkan tradisi Buddhis di Indonesia yang padat penduduknya yaitu mengkremasi jenazah untuk menghemat tanah. Pendirian Krematorium di Pluit Muara Karang adalah hasil gagasannya.

Pada 4 Juli 1951, Kwee Tek Hoay menghembuskan nafas terakhir setelah dianiaya perampok yang menyatroni rumahnya. Ia sekaligus menjadi orang pertama yang dikremasi di krematorium yang didirikan atas insiatifnya itu. Keesokan harinya, abu sastrawan besar peranakan Tionghoa itu ditaburkan di Teluk Jakarta. eti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 04 Mar 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Gitaris Blues Kawakan Generasi Kedua Gudang Garam

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Jusuf Kalla

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

PAKET EKSPEDISI KOMPAS (Laporan Jurnalistik): Bengawan Solo, Anjer-Panaroekan, Ciliwung, Tanah Papua

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: