WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Produser Film Bertangan Dingin

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Produser Film Bertangan Dingin
Mira Lesmana | e-ti | kapanlagi.com

Karirnya sebagai produser dan sutradara mulai mencuat pada era kebangkitan film nasional sekitar awal tahun 2000-an. Berbenderakan Miles Productions, sejumlah film lahir lewat tangan dinginnya seperti Anak Seribu Pulau, Kuldesak, Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Gie, Garasi, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi.

Produser dan sutradara film
Lihat Curriculum Vitae (CV) Mira Lesmana

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Mira Lesmana

QR Code Halaman Biografi Mira Lesmana
Bio Lain
Click to view full article
Rudjito
Click to view full article
Dino Patti Djalal
Click to view full article
Achmad Zen Umar Purba
Click to view full article
Harmoko
Click to view full article
Kristina
Click to view full article
Deddy Mizwar
Click to view full article
Imam Prasodjo
BERITA TERBARU

Mira lahir di Jakarta 8 Agustus 1964 dari pasangan musisi Lihat Daftar Tokoh Jazz
Lihat Daftar Tokoh Jazz
jazz
almarhum Jack dan Nien Lesmana. Pemilik nama lengkap Produser dan sutradara film
Produser dan sutradara film
Mira Lesmana
wati ini di masa kecilnya sempat berniat untuk mengikuti jejak sang ayah di dunia musik. Oleh karena itu, sejak kecil ia getol mengikuti les privat piano namun Mira tak kunjung menunjukkan perkembangan yang berarti. "Setelah bertahun-tahun belajar tidak pintar-pintar juga, aku pun jadi mulai berpikir bahwa aku tak berbakat," keluh Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yang juga akrab disapa Mia ini. Hingga akhirnya ia benar-benar berhenti total belajar piano setelah mendapati sang adik yang kini dikenal sebagai musisi, Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
, tengah asyik bermain piano tanpa belajar.

Setelah gagal menjadi pemusik, Mira kemudian mengeksplorasi bakatnya di bidang lain. Memasuki usia remaja, Mira yang gemar menulis puisi sering dimintai bantuannya oleh Indra untuk menulis lirik lagu. Sejak saat itu kakak beradik ini saling bekerja sama dalam dunia musik, Indra menciptakan melodinya dan Mira membuatkan liriknya.

Menurut Mira, bakat menulisnya didapat lantaran sejak kecil ia senang mendengarkan dongeng dari guru SD-nya. Mira kecil yang tergolong tak bisa diam seketika duduk manis tatkala sang guru mulai mendongeng. Sejak itulah daya imajinasi Mira mulai terasah, yang di kemudian hari amat mempengaruhi kemampuan menulisnya di masa remaja.

Setamat SMP, Mira dan keluarganya hijrah ke Australia guna menemani Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
yang mendapat beasiswa di salah satu sekolah musik di negeri Kangguru itu, Brooksfield Music Academy. Mira kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah negeri setempat. Untuk bisa masuk ke sekolah yang semuanya Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
itu, tidak mudah. Mira harus lulus tes bahasa Inggris. Kalau tidak lulus, ia harus masuk ke sekolah bahasa Inggris dulu. Beruntung, ia berhasil lulus menjalani tes itu karena sejak masih duduk di bangku SD, ia sudah mulai bisa berbicara bahasa Inggris.

Yang menarik, kemampuannya dalam berbahasa Inggris tidak didapat dari sekolah atau di tempat kursus. "Aku bisa berbahasa Inggris karena melihat tamu-tamu Ayah. Saat itu terpikir olehku, betapa asyiknya kalau aku bisa berbahasa Inggris sehingga aku bisa berdialog dengan mereka!" ujarnya. Dari situ, ia mulai menggemari buku-buku cerita berbahasa Inggris dan kamus. Tentu saja hal itu sangat membahagiakan kedua orang tuanya, yang langsung membelikan buku-buku cerita bahasa Inggris, dari yang paling sederhana bahasanya sampai yang agak sulit.

Bakat menulis Mira didapat lantaran sejak kecil ia senang mendengarkan dongeng dari guru SD-nya. Mira kecil yang tergolong tak bisa diam seketika duduk manis tatkala sang guru mulai mendongeng. Sejak itulah daya imajinasi Mira mulai terasah, yang di kemudian hari amat mempengaruhi kemampuan menulisnya.

Selain dari buku, bahasa Inggris juga dipelajarinya lewat film. Kedua orang tua Mira memang sangat hobi nonton film. Selain nonton di bioskop, mereka juga sering nonton video di rumah. Sebagian besar film-film dalam pita video itu mereka dapat dari teman-teman yang bermukim di luar negeri sehingga tidak ada terjemahannya. Film-film ini pula yang kian menggugah minat Mira untuk segera mendalami bahasa Inggris. Tanpa disadari, sejak saat itu pula Mira mulai jatuh cinta pada film.

Menurut cerita sang ibu, hampir setiap hari, sepulang sekolah Mira menghabiskan waktunya menonton di bioskop. Kalau kemalaman, ia menelepon ayahnya minta dijemput di stasiun kereta api. "Saya sering tonton apa aja, ya drama, ya komedi, yang penting ceritanya bagus," kata Mira. Tapi ia tak sekadar menonton. Ia juga tertarik mengetahui siapa orang-orang di belakang pembuatan filmnya. Sejak itu ia pun lantas punya semacam cita-cita menjadi pembuat film. "Saya bilang ke orang tua bahwa kalau saya selesai sekolah, saya mau jadi pembuat film. Mereka mengizinkan lalu menyuruh saya sekolah film," ujar pengagum Martin Scorsese, Steven Spielberg, Jiang Jin Woo, dan Winn Landers ini.

Setelah lulus SMA, Mira berencana mengambil kuliah film di Australia. Tapi, belum sempat mendaftar, keluarganya sudah memutuskan untuk segera kembali ke tanah air. Setelah menunggu legalisasi ijazah yang sangat lama dan berbelit di Departemen Pendidikan Nasional saat itu, Mira akhirnya masuk ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Penyutradaraan. Setamatnya dari IKJ, Mira bekerja pada sebuah perusahaan periklanan, Citra Lintas.

Mira mengakhiri masa lajangnya dengan menerima pinangan aktor Aktor, Sutradara
Aktor, Sutradara
Mathias Muchus
. Pernikahan keduanya dilangsungkan pada 14 Februari 1990, sehari sebelum ulang tahun Aktor, Sutradara
Aktor, Sutradara
Mathias Muchus
yang ke-33. Sayangnya sang ayah tidak sempat menjadi wali nikahnya karena sudah lebih dulu dipanggil Tuhan di tahun 1988. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang putra, Galih dan Kafka.

Sementara itu, karir Mira di Citra Lintas terus berkembang. Setelah 4 tahun menjadi asisten produser, empat tahun kemudian ia diangkat sebagai produser. Beberapa iklan besar berhasil ia buat, antara lain Close Up dan Bir Bintang. Pada 1992, Mira mengundurkan diri dari perusahaan periklanan papan atas itu dan langsung direkrut perusahaan periklanan Katena. Di sini, ia banyak bekerja sama dengan ahli periklanan dari luar negeri seperti Amerika, Inggris, dan Australia. Dua tahun sebagai produser, ratusan karya berhasil dirampungkannya. Di antara karya-karya itu terselip videoklip Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Musisi Jazz, pengarang lagu, produser musik
Indra Lesmana
-Sophia Latjuba, sebagai kado perkawinan adiknya itu.

Di Katena, Mira hanya bekerja selama dua tahun, meski begitu ia mengaku banyak menyerap ilmu tentang seluk beluk Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
periklanan. Hingga pada akhirnya, panggilan untuk terjun ke dunia film dan televisi sesuai latar belakang pendidikannya muncul. Mira kemudian membangun sebuah rumah produksi bernama Miles Film Productions. Karya perdananya adalah film TV dokumenter bertajuk Anak Seribu Pulau.

Dalam penggarapan film tersebut, Mira menggandeng Riri Riza, Nan Triveni Achnas, Noto Bagaskoro, Srikaton, Arturo G.P, Edison Sinaro, Robert Chappell, dan Gary L. Hayes. Yang lebih membanggakan, film produksi pertamanya itu ternyata bisa ditayangkan di lima stasiun TV swasta sekaligus, yaitu RCTI, TPI, SCTV, Indosiar, dan ANTV.

Dari film televisi, Mira kemudian mulai berpikir untuk membuat film layar lebar. Padahal di masa itu, industri film Tanah Air tengah mengalami mati suri. Kenyataan ini makin memacu Mira untuk menghasilkan film berkualitas karya anak negeri. Dengan menggaet Riri Riza, Rizal Manthovani, dan Nan T. Achnas, Mira berusaha membangkitkan film nasional. Dari kerjasama antara empat sineas muda itu lahirlah film Kuldesak yang rilis Oktober 1998.

Dalam menghasilkan film tersebut, mereka memulai semuanya dari nol, modalnya hanya satu, nekat. Namun siapa sangka dari kenekatan itu justru membuahkan prestasi berupa penghargaan dari Forum Film Bandung (1999) dan Festival Film Kine Club (2000).

Seiring berjalannya waktu, nama Mira kian berkibar. Miles Film Productions yang dikomandaninya terus melahirkan film-film menarik yang mampu menggaet ribuan bahkan jutaan penonton. Untuk layar TV, selain Anak Seribu Pulau, Mira memproduksi Enam Langkah, sebuah sinetron yang disutradarai Noto Bagaskoro sebanyak 13 episode untuk RCTI. Disusul kemudian Buku Catatanku, Kembang Untuk Nur, Pilot Mata Ketiga, Bumiku, dan beberapa film dokumenter yang didanai pihak asing.

Untuk layar lebar, Mira kemudian memproduksi film kedua berjudul Petualangan Sherina di tahun 2000. Film musikal yang juga dibintangi sang suami, Aktor, Sutradara
Aktor, Sutradara
Mathias Muchus
itu berhasil menyedot jutaan penonton. Film tersebut sekaligus menandai kebangkitan Sutradara
Sutradara
film Indonesia
. Nama Mira pun semakin mengorbit sebagai produser film berkualitas. Sukses terus berlanjut saat ia membuat film remaja berjudul Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) yang disutradarai Rudy Soedjarwo. Film yang dibintangi oleh Dian Sastro dan Nicholas Saputra itu meledak di pasaran dengan raihan 1,6 juta penonton. Selain itu AADC juga berhasil terpilih sebagai film terpuji oleh Forum Film Bandung.

Setelah itu, Mira terus membuat karya-karya berkualitas, diantaranya, Eliana, Eliana yang berhasil penghargaan untuk kategori skenario terbaik Festival Sutradara
Sutradara
film Indonesia
tahun 2004. Kemudian Rumah Ketujuh, Gie, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi. eti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 17 Feb 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Berharap Musik Jazz Di Dpd Titiek Dari Biologi Ke Warta Loji

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Berbagai persoalan bangsa dan khususnya TNI diulas - masalah integritas bangsa, proses reformasi, demokratisasi yang bergulir hampir tanpa kawalan nilai-nilai keindonesiaan, serta jatidiiri dan profesionalisme TNI.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: