WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Penulis Berdarah Seni

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Penulis Berdarah Seni
Njoo Cheong Seng | e-ti | jakarta.go.id

Njoo Cheong Seng (NCS), penggiat seni keturunan Tionghoa yang produktif menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel serta menjadi sutradara dan aktor pada periode sebelum perang. Dalam menulis, ia kerap menggunakan beberapa nama pena, antara lain Munzil Anwar, Monsieur Amor, Monsieur D'Amor, N.C.S., atau N.Ch.S.

Penulis novel
Lihat Curriculum Vitae (CV) Njoo Cheong Seng

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Njoo Cheong Seng

QR Code Halaman Biografi Njoo Cheong Seng
Bio Lain
Click to view full article
Teras Narang
Click to view full article
Huriah Adam
Click to view full article
Rustandi Kartakusuma
Click to view full article
AE Manihuruk
Click to view full article
Angelina Sondakh
Click to view full article
Mahfud MD
Click to view full article
Jusuf Wanandi

Bakat menulis pria kelahiran Bangkalan, 6 November 1902 ini sudah terlihat sejak remaja. Pada tahun 1919, atau di saat usia NCS masih baru menginjak 17, ia telah memulai karirnya sebagai novelis. Bekerjasama dengan So Chuan Hong, ia menerbitkan novel yang berjudul Cerita Penghidupan Manusia.

Selain menulis novel, NCS juga kerap menulis di beberapa suratkabar China peranakan. Di antaranya pada tahun 1921, dia menulis di harian Sin Po. Setahun kemudian ia menjadi kontributor untuk majalah Hoa Po pimpinan Lie Sim Gwee dan Pek Pang Eng.

Khusus dalam hal menulis, NCS mengaku sangat berterima kasih kepada So Chuan Hong karena telah mendidiknya menjadi penulis. Dalam sebuah artikelnya di Tjantik, majalah sastra terbitan Bandung, ia bahkan memanggil So Chuan Hong dengan sebutan guru.

Selanjutnya pada tahun 1923, setelah novel pertamanya lahir, NCS pindah ke Surabaya dan mulai berkarir di dunia jurnalistik dengan menjadi editor utama majalah bulanan Interocean. Ia menggantikan Kwee Hing Tjoe yang pindah ke Eropa.

Interocean merupakan majalah yang banyak berkonsentrasi pada masalah politik dan ekonomi. Tapi di bawah kepemimpinannya, ia mulai memasukkan unsur kesusastraan yang menjadi spesialisasinya. Seperti dengan memuat cerita cinta dalam bahasa Inggris dan Tionghoa. Namun ia tetap mempertahankan sisi politik, misalnya dengan memasukkan polemik mengenai seorang jurnalis yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda karena menentang pemerintah.

Masih di media yang sama, NCS juga menerbitkan karyanya sendiri seperti "Liesje". Dalam kata pengantarnya untuk cerpen itu, ia menulis bahwa ia lebih suka menulis tentang kehidupan nyata seperti yang terjadi pada dirinya maupun orang-orang yang dia kenal. Selain Liesje, ia juga menulis "Menikah dalam kuburan" maupun drama berjudul "Korban".

Pada tahun 1925, ia menulis novel berjudul Nona Olanda sebagai istri Tionghoa, cerita mengenai gadis Belanda yang menikah dengan seorang Tionghoa. Pada masa itu, periodenya memang periode cerita-cerita sedih yang melodramatis. Banyak di antaranya mengenai pernikahan campuran.

Dalam bidang kesenian, aktivitasnya bukan hanya tulis menulis. Seni peran dalam dunia Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
juga dia geluti. Di awal 1920-an, ia tercatat sebagai anggota sebuah organisasi pemain sandiwara amatir bernama Soen Thian Gie Hie. Selain berperan sebagai pemain, ia juga menulis naskah. Naskah pertamanya berjudul Lady Yen Mei yang ditujukan untuk mengkritik orang kaya yang pelit.

Pada tahun 1926, ia bergabung dengan kelompok Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
di Batavia bernama Miss Riboet's Orion setelah sebelumnya meninggalkan profesinya sebagai Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
. Bersama TD Tio Jr, ia melakukan langkah pembaruan dengan mengubah teknik akting dan cara kerja sutradara. Sebagai mantan Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
, koneksinya dengan media massa yang luas dimanfaatkannya untuk kepentingan publisitas pertunjukan kelompok Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
nya.

Setelah delapan tahun berkiprah di Orion, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan Moonlight Cyrstal Follies. Di sana ia bertemu dengan Nonnie Tan Kiem Lion seorang Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
kelahiran Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
berdarah campuran Prancis-Tionghoa.

Keduanya pun menikah pada tahun 1927. Menurut Huang Lin, istri keempat NCS, Nonnie adalah istri kedua suaminya. Sebelumnya ia telah menikah dan mempunyai dua anak laki-laki bernama Armand dan Jackie. Semasa hidup, NCS diketahui empat kali menikah.

Perkawinan NCS dan Nonnie dikarunia lima orang anak. Dua diantaranya meninggal. Si putri sulung, Sally, mengikuti jejak kedua orangtuanya dengan menjadi pemain sandiwara. Pada tahun 1948, Sally meninggalkan dunia seni peran dan menikah. Setelah menikah, Sally dan suaminya menetap di Solo, mereka dikaruniai empat orang anak laki-laki. Salah satunya Gunawan mantan pePemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis
Indonesia.

Nonnie Tan Kiem Nio kemudian dikenal dengan nama Fifi Young, seorang artis yang muncul pertama kali pada 29 April 1933. Karena kecantikannya, Fifi sangat populer kala itu terutama di Malaysia.

Pasangan suami-istri itu kemudian saling mendukung karirnya satu sama lain. Sebagai sutradara, NCS menciptakan peran khusus untuk sang istri. Nama Fifi sebagai aktris pun semakin terkenal. Selain berakting, Fifi juga dikenal pandai menari. Beragam tarian baik Barat dan Timur dibawakannya dengan sempurna.

Tahun berikutnya, mereka meninggalkan Crystal Follied dan kembali ke Batavia. Oleh seorang tokoh politik bernama Nyonya Datuk Tumenggung, mereka diperkenalkan kepada kelompok Dardanella pimpinan seorang penari terkenal, Dewi Dja. Mereka kemudian berkeliling Asia. Karena ada urusan keluarga, NCS dan Fifi memutuskan untuk kembali ke Jawa. Di sana keduanya mendirikan Fifi Young's Pagoda bersama Henry L Duarte.

Pada tahun 1940, Fifi bermain dalam film Kris Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
untuk pertama kalinya. Naskah film itu ditulis oleh NCS. Akting Fifi yang alami, membuat film ini sukses.

Selama pendudukan Jepang, pasangan suami istri itu tergabung dalam Sandiwara Bintang Soerabaja. Setelah Indonesia merdeka, NCS mendirikan kelompok baru bernama Sandiwara Pantjawarna. Dalam proses pencarian calon aktris untuk kelompok baru ini, ia kemudian mengenal Mipi Malenka yang kemudian menjadi istri ketiga NCS, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari istri keduanya, Fifi. Mipi dan NCS kemudian tinggal di Jakarta. Tidak berapa lama, Mipi kemudian berhenti berakting. Keduanya memutuskan untuk membuka restoran. Dari pernikahan mereka lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Johnny. Kehidupan perkawinan mereka berjalan harmonis sampai akhirnya Fifi Young, istri kedua NCS ikut tinggal bersama mereka. Sejak itu, perselisihan mulai mewarnai rumah tangga itu.

Karena sudah tidak kuat menanggung derita, Mipi pergi meninggalkan rumah dengan membawa anak semata wayangnya. NCS sangat menyesali kejadian itu. Dalam novelnya yang berjudul Sjorga bukan Sjorga tidak dengan Melinda ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bertanggung jawab atas kegagalan pernikahannya. Dalam kesedihannya, ia kemudian menjual kelompok sandiwaranya kepada Produser film
Produser film
Djamaluddin Malik
dan pergi ke Makassar untuk mencari istri dan anaknya. Sesampainya di sana, ia tak berhasil menemukan Mipi dan Johnny. Tapi ia bertemu dengan banyak teman baru, salah satunya Hoo Eng Djie.

Selajutnya, NCS akhirnya menetap di Malang, dimana ia menemukan suasana intelektual yang paling cocok. Ia kemudian bergabung dalam sebuah komunitas peranakan Tionghoa benama Tsing Fung Hsieh.

Beberapa lama kemudian, ia pun bertemu dengan Huang Lin, seorang janda muda yang bekerja sebagai guru dan aktris amatir. Huang Lin berperan sebagai ibu dalam sandiwara berjudul Malang Mignon. Tak lama setelah pertemuan itu, mereka pun menikah. Keduanya hidup bahagia, Huang Lin memberi NCS suatu kehidupan yang tenang, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

NCS dan Huang Lin kemudian membuka usaha toko bunga yang diberi nama Malang Mignon. Untuk setiap pemesanan bunga, NCS memberikan sepotong syair yang pantas. Para pelanggan sangat senang dengan syair yang dibuatnya.

NCS berkali-kali meminta istrinya itu untuk berhenti mengajar, tapi Huang Lin tak mengindahkannya. Tapi pada tahun 1960, Huang Lin akhirnya berhenti bekerja. Sementara itu, kesehatan NCS mulai menurun karena sakit lever. Pada 2 November 1962, NCS merayakan ulang tahunnya yang ke 60. Hari pertambahan usianya itu dirayakannya dengan makan ala vegetarian. Rupanya, itu adalah ulang tahunnya yang terakhir. Dua minggu setelah perayaan hari lahirnya, ia jatuh sakit dan akhirnya menghadap sang Ilahi pada 30 November 1962.

Setelah NCS meninggal, Huang Lin selalu mengenang mendiang suaminya itu sebagai pribadi yang baik. Di matanya, NCS adalah pria pekerja keras. Ia sering melihat suaminya terjaga hingga larut malam bila ada ilham untuk menulis. Waktu itu, ia kebanyakan menulis cerpen untuk harian Star Weekly dan Liberty serta adaptasi cerita-ceritanya untuk film.

Kepada Huang Lin, sebelumnya NCS pernah mengutarakan keinginanya untuk membuat otobiografinya tetapi setelah dicari di barang-barang peninggalannya, ternyata tidak ada.

Bicara tentang NCS, yang sangat menarik perhatian dari seluruh karyanya adalah, ia menulis begitu banyak tempat di luar maupun di Indonesia. Bahasa Melayunya sangat baik. Dan sesudah 1945, ia menulis dengan bahasa Indonesia yang baik pada masa itu. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pergaulannya yang luas.

Karyanya yang paling fenomenal adalah serial cerita berjudul Gagaklodra. Keistimewaan Gagaklodra adalah cara NCS mengadaptasi setiap cerita menurut daerah di mana si tokoh berada. NCS memberi informasi kepada para pembacanya mengenai kebiasaan di suatu daerah. Pada tahun 1953 Gagaklodra diterbitkan sebagai buku, kumpulan cerita selama 22 tahun eksistensinya.

Sekitar tahun 1948, novel karya NCS dimuat secara berseri pada majalah Tjilik Roman's. Pada majalah itu, ia juga menuangkan pengalaman pribadinya, salah satunya dengan istri ketiganya Mipi Malenka.

Selain membuat novelnya sendiri, ia juga menerjemahkan karya Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
lain seperti Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
Makassar peranakan Tionghoa, Hoo Eng Djie, hingga pujangga ternama dunia seperti Shakespare, Goethe, Li Tai Bo, dan Omar Khayyam. Di samping itu, NCS juga membuat pantun untuk keperluan pementasan teater.

Seperti kebanyakan Penyair Legendaris Indonesia
Penyair Legendaris Indonesia
penyair
pada masa itu, NCS juga prihatin pada kebiasaan kaum hawa kala itu yang mulai meninggalkan adat-adat Timur, terlebih cara berpakaian. Pandangan ini memang merupakan pandangan mayoritas penulis peranakan yang merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan prinsip-prinsip Konfusius pada pembacanya. Mereka mengingatkan kaum Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
agar tidak menjadi terlalu modern dan meninggalkan tradisi leluhur, serta senantiasa berhati-hati pada bujukan laki-laki tak bermoral. Karena menurut NCS, hanya Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
yang dibesarkan dengan cara tradisional yang mempunyai pertahanan cukup kuat untuk menangkal bahaya modernisasi.

NCS juga menunjukkan keprihatinannya pada kaumnya, terutama kegemaran berjudi sebagian laki-laki. Uang hasil judi kemudian digunakan untuk berfoya-foya. Ia berpendapat bahwa kaum lelaki harus mengembangkan intelektualitas mereka untuk mencapai kehidupan spiritual. e-ti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 20 Jan 2011  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Sutradara Horor Kontemporer Tak Henti Kritik Polisi

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Ahok-Djarot

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini memuat delapan cerita rakyat yang berasal dari negara-negara Arab. Cara penyajiannya menarik dan sederhana sehingga dinikmati tak hanya anak-anak tetapi guru dan orang tua.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: