WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

'Tumbal' Orde Baru

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

'Tumbal' Orde Baru
Budiman Sudjatmiko | TICOM IMAGES | Hotsan

Ia mulai dikenal secara luas pada tahun 1996 saat mendeklarasikan Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah partai politik berhaluan sosialis-demokrat yang terang-terangan menyerang pemerintahan Orde Baru. Setelah sempat mendekam dalam penjara, menyelesaikan studi di Inggris, kini ia bergabung dengan partai nasionalis, PDI-Perjuangan dan menjadi anggota DPR periode 2009-2014.

Anggota DPR (2009-2014) dari PDI-P
Lihat Curriculum Vitae (CV) Budiman Sudjatmiko

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Budiman Sudjatmiko

QR Code Halaman Biografi Budiman Sudjatmiko
Bio Lain
Click to view full article
Dimmy Haryanto
Click to view full article
Adnan Buyung Nasution
Click to view full article
Sutiyoso
Click to view full article
Tjetjep Muchtar Soleh
Click to view full article
Hoegeng
Click to view full article
Samanhudi, KH
Click to view full article
Cut Nyak Meutia
BERITA TERBARU

Budiman Sudjatmiko, pria kelahiran Cilacap 10 Maret 1970 ini mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa sejak duduk di bangku kuliah. Selama 4 tahun ia menjadi community organizer yang bertugas melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Budiman di dalam melakukan kegiatannya sering secara gerilya karena tingginya resistensi dan tekanan dari pihak militer dan pemerintah. Ketika Budiman menjalankan kegiatan organisasi bawah tanahnya, ia masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sejak awal, PRD mengambil sikap oposisi terhadap pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
. Karena kegiatannya yang sering membahayakan posisi pemerintah, putra sulung pasangan Warsono dan Sri Sulastri ini pernah dianggap sebagai "the most dangerous person in this country" dan memperoleh stigma sebagai "the public enemy number one". Sejak saat itu, banyak anggota PRD dan orang-orang yang berafiliasi dengannya menerima teror dan tekanan. Tidak sedikit pula dari mereka yang ditahan tanpa alasan yang jelas. Bahkan disebut, ada yang diculik dan disiksa secara fisik dan diteror secara mental.

Tanggal 22 Juli 1996, PRD mengeluarkan manifesto perlawanan terhadap kekuatan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
. Manifesto perlawanan 22 Juli 1996 tersebut di antaranya secara tajam menyerang dan mengkritik kondisi politik dan kondisi sosial-ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
. Kondisi politik yang dikritik adalah model pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
yang jauh dari sistem demokratis. Sementara kondisi sosial-ekonomi yang dikritik adalah kesenjangan sosial akibat kebijakan berorientasi pertumbuhan, dengan melupakan pemerataan dan distribusi yang adil.

Di samping itu, Manifesto ini juga menyinggung-nyinggung masalah korupsi dan kolusi yang menjamur di birokrasi pemerintahan. Di usia awalnya itu pula, partai ini mulai membela dan mengadvokasi petani-petani pedesaan dalam membela hak atas tanah. Urusan ini, secara umum ditangani oleh STN (Serikat Tani Nasional), underbouw PRD. Mobilisasi massa untuk demonstrasi dan protes pun tak jarang terjadi, yang tak hanya melibatkan petani, tetapi juga buruh, LSM, dan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
dari organisasi lain.

Di samping mengadvokasi dan mengorganisasi petani dan buruh, salah satu tindakan PRD yang membuat pemerintah Orde Baru semakin kebakaran jenggot adalah pernyataan dukungan PRD yang diberikan pada gerakan kemerdekaan Timor Timur.

Nama Anggota DPR (2009-2014) dari PDI-P
Anggota DPR (2009-2014) dari PDI-P
Budiman Sudjatmiko
mulai dikenal secara luas oleh publik pada tahun 1996, saat ia mendeklarasikan Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah partai politik yang berhaluan sosialis-demokrat. Oleh sebab itu, partai ini juga sering disebut sebagai partai yang mengusung gerakan komunis. Pendirian PRD diprakarsai oleh sejumlah intelektual dan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
muda termasuk mahasiswa. Di organisasi ini, Budiman Sujatmiko terpilih sebagai ketua.

Sejak 1997, karena popularitas PRD yang semakin meningkat, dan juga kondisi sosial-ekonomi serta politik yang mulai tidak stabil, rezim Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
mulai melakukan penindasan terhadap berbagai gerakan politis yang dianggap subversif, apalagi yang dianggap kekiri-kirian atau komunis. Salah satu korbannya termasuk PRD.

Ketika terjadi insiden perebutan paksa kantor DPP PDI di jalan Ulama, Pejuang perang paderi
Ulama, Pejuang perang paderi
Imam Bonjol
, Jakarta pada 27 Juli 1996 antara kubu PDI Pro Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Megawati Soekarnoputri
dengan kubu Soerjadi, nama Budiman Sujatmiko sebagai ketua PRD saat itu ikut terseret. Ia merupakan orang pertama yang dicari pemerintah atas tuduhan sebagai aktor intelektual di balik peristiwa berdarah itu. PRD dan Soedjatmiko juga dihujat berbagai organisasi sebagai dalang kerusuhan dan dituduh menerapkan cara-cara PKI.

Organisasi seperti Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
ICMI
) tak ketinggalan menelurkan pernyataan sehari setelah Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
menjelaskan soal 27 Juli di Istana Negara. Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
ICMI
secara tegas menyatakan menolak konsep dan tindakan PRD dan semua pendukungnya. Atas tuduhan tersebut, Budiman dijadikan tersangka karena dinilai bertanggung jawab dalam insiden yang kemudian dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli itu. Oleh penguasa Orde Baru, pria berkacamata itu dijatuhi vonis 13 tahun penjara dan mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Ketika di penjara, ia sempat satu penjara dengan Xanana Gusmao, pemimpin gerakan pro-kemerdekaan Timor Timur yang pernah menjadi Presiden Timor Leste dan Perdana Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Timor Leste.

Pasca-lengsernya Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
dan kemudian digantikan oleh Habibie, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan tanpa syarat para tahanan politik yang ditahan. Ia dan para tersangka lain dari Peristiwa 27 Juli diberi ampunan dan dibebaskan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 10 Desember 1999. Sementara, untuk kasus itu sendiri hingga saat ini tidak pernah diusut secara tuntas.

Setelah menghirup udara kebebasan, ia pun melanjutkan kepemimpinannya di PRD hingga tahun 2001. Namun kegiatan Budiman dalam bidang politik tak sebanyak pada masa Orde Baru. Pada tahun 2002, Budiman memutuskan untuk meninggalkan PRD dan lebih tertarik untuk melanjutkan studinya. Universitas Cambridge di Inggris menjadi kampus tujuan Budiman untuk menimba ilmu tentang hubungan internasional. Budiman menyandang gelar master hubungan internasional setelah sebelumnya merampungkan tesis yang mengupas masalah politik luar negeri China.

Dalam perjalanan politik Budiman selanjutnya, ia kemudian semakin dekat dengan PDI Perjuangan. Persinggungan Budiman Sujatmiko dengan PDI Perjuangan diawali ketika dia bersama 52 Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
lainnya mendeklarasikan Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem), 3 Februari 2004. Sejarah Repdem berawal menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 putaran II. Pada waktu itu, salah seorang akivis PDI-Perjuangan menilai Megawati sebagai representasi sipil yang berkompetisi dengan SBY sebagai simbol militer. Meskipun hubungan Anggota DPR (2009-2014) dari PDI-P
Anggota DPR (2009-2014) dari PDI-P
Budiman Sudjatmiko
dengan Megawati dalam politik bukanlah hal baru.

Pada 1996, Megawati pernah menjadi saksi mengenai keterlibatan Budiman dalam kasus tuduhan makar dan penyebaran paham komunisme. Budiman juga dianggap sebagai "tumbal" yang membuka gerbang pertama bagi Megawati untuk duduk di pucuk pimpinan partai berlambang banteng setelah sebelumnya tidak direstui pemerintah.

Budiman Sujatmiko memiliki alasan mengapa dirinya memilih bergabung dengan PDI-Perjuangan. Menurutnya, selain adanya kesamaan platform dan ideologi antara PDI-Perjuangan dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yaitu sama-sama membela masyarakat kecil, Budiman juga memandang bahwa sudah saatnya dirinya berjuang di jalur partai besar agar tujuan yang dikehendakinya mudah direalisasikan.

Pada Pemilu 2009, Budiman dipercaya duduk sebagai anggota Badan Pemenangan Presiden PDI-P yang diketuai oleh Theo Syafei. Beredar isu bahwa, Budiman Sujatmiko ini merupakan "anak emas" Megawati yang digadang untuk membesarkan partai tersebut. Masuknya Budiman ke PDI-Perjuangan juga diharapkan memperkuat citra PDI-Perjuangan sebagai partainya "wong" cilik, karena ideologi sosdem (sosial demokrat) banyak diperjuangkan Budiman semasih aktif di PRD.

Budiman yang dalam struktur kepengurusan PDI Perjuangan menjabat sebagai Ketua Departemen Pemuda PDI-Perjuangan dicalonkan sebagai anggota legislatif untuk Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Tengah VIII. Dalam pemilu legislatif tersebut, Budiman memperoleh suara terbanyak melebihi ambang batas Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yang disyaratkan KPU sehingga dia terpilih mewakili PDI-Perjuangan untuk dapil tersebut.

Sejak ia terpilih sebagai anggota DPR periode 2009-2014, tak banyak yang berubah dari pria yang pada Juli 2005 mengakhiri masa lajangnya dengan memperistri Kesi Yovana, seorang aktivis Imparsial. Ia tetap sebagai sosok yang bersahaja. Karena itu, ketika ada rencana kenaikan gaji petinggi negara, termasuk anggota Dewan, hal itu menjadi sorotan khusus bagi Budiman. Menurutnya, program itu bukanlah prioritas. "Kita berpikir bahwa itu bukan prioritas kita dalam berbangsa dan bernegara lima tahun ke depan," jelas Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
eksekutif Res Publica Institute ini.

Berbeda dengan wakil rakyat lain, untuk menunjang mobilitas dan memenuhi agenda kegiatannya yang padat, Budiman memilih naik ojek. "Saya masih biasa makan di pinggir jalan," ucap ayah satu anak ini. Ia juga masih tinggal di rumah sederhana di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Dengan duduk di kursi DPR, Budiman bertekad tetap dengan prinsip lamanya, yakni berjuang membela rakyat.

Prinsip Budiman untuk terus membaktikan diri sepenuhnya demi kepentingan rakyat direalisasikannya dengan mendirikan rumah aspirasi yang bekerja secara optimal melaksanakan pendidikan politik bagi rakyat. Dengan menempati rumah kontrakan di Bumi Arca Estate, Purwokerto, Jawa Tengah, rumah inspirasi itu telah berhasil menyelesaikan kasus-kasus tanah yang selama ini menjadi polemik di kalangan petani di Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah.

Bahkan untuk menjalankan seluruh tugas dari rumah aspirasi yang dibangunnya, Budiman Sujatmiko rela menggunakan dana pribadinya hingga Rp 20 juta per bulan untuk operasional kegiatannya. Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Rumah Aspirasi Budiman, Jarot Setyoko, seperti dikutip dari situs metrotvnews.com mengatakan, rumah aspirasi Budiman merupakan kontrak politik Budiman Sujatmiko dengan konstituennya agar aspirasi warga tidak terputus.

Tolak Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
Award
Budiman sempat direncanakan akan diberikan penghargaan pemimpin muda bersama 99 pemuda lainnya oleh Partai Keadilan Sejahtera. Namun, Budiman menolak namanya diikutsertakan dalam peraih penghargaan itu. Salah satu yang diketahui menjadi alasan Budiman adalah karena Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
mengiklankan mantan penguasa Orde Baru Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
sebagai Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
guru bangsa
saat peringatan Hari Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
tahun 2008. Menurut Budiman, tidak ada masalah penggunaan Soeharto dalam iklan tersebut, tapi yang menjadi masalah adalah, penguasa Orde Baru itu disebut sebagai Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
guru bangsa
. Padahal Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
guru bangsa
menurut Budiman jauh memiliki makna, di mana perilakunya harus menjadi inspirasi moral bagi setiap anak bangsa.

"Jangan lupakan korupsinya, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pada masa kekuasaannya. Masa yang tadinya dijelek-jelekkan tiba-tiba dijadikan malaikat. Jadikan saja manusia biasa," kata Budiman dalam diskusi "Iklan Politik, Tokoh Nasional Milik Siapa?" di DPR, Jumat (14/11/2008).

Di samping alasan itu, ia juga mempertanyakan kriteria Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
yang menempatkan dirinya sebagai salah satu pemimpin muda. "Saya sendiri belum tahu sampai sekarang PKS akan memberikan award kepada saya. Saya juga tidak tahu kriterianya seperti apa. Saya juga tidak bisa berkomentar tentang pemberian award ini. Saya hanya mendapatkan undangan untuk bisa menghadiri acara itu. Saya memang memimpin (Repdem), organisasi sayap PDI-P, tapi kalau dikatakan pemimpin muda secara level nasional, saya rasa tidaklah pantas," tutur Budiman seperti dikutip dari situs persda network.

Budiman menilai, untuk menjadi pemimpin nasional dibutuhkan syarat-syarat tertentu, seperti memiliki komitmen, integritas, pengorbanan, kapasitas dan misi jangka panjang. "Nah, saya sendiri merasa belum sepenuhnya bisa menenuhi kriteria yang saya maksudkan itu. Saya berterima kasih pada PKS atas keinginannya memberikan award kepada saya. Tapi, sekali lagi saya katakan, belumlah pantas mendapatkannya," lanjut Budiman. e-ti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 13 Jan 2011  -  Pembaharuan terakhir 02 Jul 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: