WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Perjuangan Suster Apung

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Perjuangan Suster Apung
Andi Rabiah | e-ti | blogdetik.com

Suster puskesmas di pulau-pulau terpencil di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini melayani pasien tanpa kenal lelah. Dalam bertugas, ia kerap menembus badai dan tidak memperhitungkan waktu. Ia juga kerap berperan ganda sebagai perawat, bidan, bahkan dokter.

Suster Puskesmas
Lihat Curriculum Vitae (CV) Andi Rabiah

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Andi Rabiah

QR Code Halaman Biografi Andi Rabiah
Bio Lain
Click to view full article
Paul Budi Kleden
Click to view full article
Wajidi
Click to view full article
Surisman Marah
Click to view full article
Marwan Jafar
Click to view full article
Prof. Hembing
Click to view full article
Lilis Suryani
Click to view full article
Teras Narang
BERITA TERBARU

Sesungguhnya seorang Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
bukan hanya orang yang membela negara dengan mengangkat senjata. Seseorang yang membaktikan diri pada kepentingan orang banyak juga layak disebut Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
. Di alam Indonesia yang merdeka ini, nyatanya masih ada segelintir Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
yang tengah berjuang. Tidak seperti para pejabat yang selalu menggembar-gemborkan keberhasilan mereka, perjuangan pahlawan yang mengabdi dalam diam ini dilakukan tanpa sorotan media.

Salah satunya adalah Andi Rabiah. Setelah tampil dalam sebuah acara televisi, julukan "Suster Apung" mulai melekat pada figur Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
berkerudung ini. Dipanggil Suster Apung karena profesi Rabiah sebagai seorang perawat yang hampir setiap hari menerjang ombak dengan perahu dari satu pulau ke pulau lain untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Rabiah bekerja sebagai tenaga medis di sepuluh pulau kecil di antara 25 pulau yang tersebar di Perairan Flores sejak 10 Agustus 1978. Sehari-hari ia berkantor di Puskesmas Liukang Tangaya di Pulau Sapuka, Kabupaten Pangkep, Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan
. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di sana, kualitas penanganan kesehatan penduduk sangat memprihatinkan. Jangankan dokter, bidan pun tak ada. Kenyataan itu membuat Rabiah harus berperan ganda sebagai perawat, bidan, bahkan dokter.

Sebagai seorang petugas medis yang baik, ia selalu siap mengabdi di mana dan kapan pun. Gemerlap kota dengan segala fasilitasnya tak sedikit pun membuat Rabiah tergoda.

Ia akan lebih merasa berarti sebagai seorang manusia bila dapat membantu lebih banyak orang, terlebih mereka yang tak berdaya. "Jika saya bertugas di darat atau di kota, mungkin saja tenaga dan keahlian saya tidak banyak dibutuhkan masyarakat karena di sana banyak tenaga medis. Oleh karena itu, saya ingin tetap bertugas di pulau," tambah ibu empat anak itu.

Di masa awal pengabdiannya, Rabiah sempat mengalami sedikit kesulitan. Dalam masyarakat yang tinggal di daerah yang belum tersentuh pembangunan, arus informasi menjadi terhambat sehingga menjadikan pola pikir mereka tertinggal jauh dengan masyarakat di perkotaan. Hal ini berdampak pada urusan kesehatan dimana sebagian besar dari mereka lebih mempercayai dukun, bahkan untuk menangani persalinan sekalipun. Kenyataan itu yang membuat Rabiah kerap kali mengalami penolakan. Meski demikian, penolakan para penduduk tak serta merta mematahkan semangatnya. Dengan penuh kesabaran, ia terus memperkenalkan diri sambil memberikan pengertian kepada masyarakat. Kesabaran itu pun akhirnya berbuah manis, masyarakat mulai sadar pentingnya pengobatan medis.

Seiring diperolehnya kepercayaan masyarakat, tugas Rabiah si Suster Apung kian berat. Panggilan pasien yang tak kenal waktu mengharuskannya siaga 24 jam. Dalam menangani pasiennya, Rabiah selalu berupaya semaksimal mungkin. Bahkan jika memang benar-benar diperlukan, ia rela menginap selama berhari-hari di rumah pasiennya. "Karena bagi saya tidak ada artinya saya datang jauh-jauh kalau tidak ada hasilnya," katanya.

Puluhan tahun menjadi seorang perawat, membuatnya 'akrab' dengan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit kulit ringan hingga penyakit dalam yang kronis. Medan yang sulit menjadikan Andi sebagai satu sosok perawat luar biasa. Tangisan pilu dari bayi penderita gizi buruk, derita orang sekarat yang tengah meregang nyawa, rintihan para penderita TBC, erangan kesakitan dari pasien patah tulang, hingga jerit histeris dari para ibu yang tengah berjuang melahirkan bayinya merupakan hal lumrah yang kerap mewarnai hari-hari Andi Rabiah.

Andi yang lahir di Kabupaten Pangkep pada 29 Juni 1957 ini mengenal dunia medis dari sang nenek. Sejak itulah Andi mulai memupuk cita-citanya menjadi seorang tenaga medis. Untuk mewujudkan impiannya, setamat SMP pada tahun 1975, ia melanjutkan pendidikannya ke Penjenang Kesehatan (PK) sekolah kesehatan setingkat SMU. Pada tahun 1977, setelah dua tahun menimba ilmu di PK, Andi diangkat menjadi pegawai negeri sipil di Puskesmas Liukang Tangaya, Pulau Saputan, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep. Sejak tahun 1990, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
bersahaja ini menyandang status janda karena kepergian sang suami tercinta. Almarhum suaminya bekerja sebagai kepala puskesmas di Pulau Sapuka.

Karena letaknya yang terpencil, pulau-pulau dimana Rabiah mengabdi masih minim fasilitas penunjang kesehatan. Hal itu menyulitkan Rabiah dalam menjalankan tugasnya. Bahkan untuk memperoleh obat saja, ia harus menempuh perjalanan berat melintasi pulau demi pulau. Pernah suatu ketika Rabiah berada di posisi yang dilematis. Waktu itu diare tengah mewabah di Pulau Sapuka. Masalah berawal ketika seorang pasien didapatinya dalam keadaan kritis akibat dehidrasi. Untuk menolong si pasien sekarat itu, tak ada jalan lain selain memberikannya cairan infus, namun stok infus yang dimiliki Puskesmas ternyata sudah habis, yang tersisa hanya cairan infus yang telah kadaluarsa. Seketika itu Rabiah dilanda kebimbangan, di satu sisi pasien harus segera diselamatkan namun di sisi lain memberikan cairan infus yang telah kadaluarsa malah bisa membahayakan nyawa si pasien.

Namun Rabiah memberanikan diri untuk mengambil risiko berat. Dengan seizin keluarga pasien, ia pun tetap memberikan cairan infus itu. Tapi lagi-lagi kemurahan hati Sang Pencipta menolong Rabiah. Si pasien dapat melewati masa kritisnya hingga akhirnya sembuh.

Tiga dasawarsa sudah Rabiah bergelut dengan ganasnya laut Flores demi menyambangi para pasiennya yang tersebar di puluhan pulau. Berbagai pengalaman telah dikecapnya. Beraneka peristiwa pun telah dialaminya. Bahkan baru delapan bulan masa pengabdiannya, Rabiah sudah harus mengalami kejadian buruk. Peristiwa itu terjadi pada 6 Maret 1979, saat itu kapal yang ditumpanginya hancur berkeping-keping akibat hantaman ombak. Rabiah dan penumpang lainnya pun terdampar selama tujuh hari tujuh malam di sebuah pulau tak berpenghuni. Rabiah harus menjatah satu liter beras untuk 14 orang. Persediaan makanan yang kian menipis membuat beberapa orang dari mereka dilanda rasa putus asa. Bantuan baru datang ketika mereka mengirim pesan lewat kulit penyu. Kulit penyu memang sering dipakai korban kapal karam untuk meminta pertolongan.

Sebagai perawat yang bekerja dari pulau satu ke pulau lain, perahu memang menjadi alat transportasi andalannya. Selain terpaan badai dan ombak besar, bocornya perahu juga kerap mewarnai keseharian Rabiah. Namun hal itu tak menyurutkan langkah dan memadamkan semangat pengabdiannya. Panggilan hati untuk terus menolong mengalahkan segala risiko bahkan yang terburuk sekalipun.

Salah satu tantangan berat yang dihadapinya adalah ketika ada panggilan untuk menolong pasien gawat. Perjuangan terasa kian berat dengan kondisi laut yang tidak bersahabat. Karena keadaan pasien yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke Puskesmas Sapuka atau sarana kesehatan lainnya, mau tak mau Andi pun menerjang amukan ombak. Kerasnya hantaman ombak ditambah dengan kondisi kapal yang tak cukup layak membuat Andi tak henti berdoa seraya memohon keselamatan.

Kondisi alam yang masih liar itu juga yang membuat keluarganya khawatir dan tidak menyetujui keputusan Andi untuk menetap di Pulau Sapuka dalam waktu lama. Apalagi mereka menduga, mendiang suami Andi meninggal karena ilmu hitam di sana. Namun tekadnya sudah bulat, ia seakan tak menghiraukan kekhawatiran orang-orang terdekat dan tetap melanjutkan masa pengabdiannya.

Pengorbanannya yang kerap berhadapan dengan maut seakan terbayar ketika pasiennya sembuh dari penyakitnya. Tak heran jika kehadirannya selalu dirindukan oleh mereka yang membutuhkan jasanya. Kedekatan itu membuat hubungan Suster Rabiah dan masyarakat sekitar layaknya keluarga.

Panggilan tugas yang datang tak menentu, membuat Rabiah terpaksa menitipkan anak bungsunya sejak masih berusia delapan bulan. Tiga bahkan hingga enam bulan lamanya Rabiah menahan kerinduan kepada buah hatinya tercinta. Statusnya sebagai orang tua tunggal yang menjadi ibu sekaligus ayah bagi keempat anaknya memang bukan hal mudah. Kerja keras dan keringat Rabiah dihargai 1,7 juta rupiah per bulannya. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Kebutuhannya sendiri sudah tercukupi dari hasil bekerja sebagai perawat. Bahkan ia telah dua kali menunaikan ibadah haji. Rabiah pertama kali menginjakkan kakinya di tanah suci Mekah pada tahun 1993. Setahun kemudian, ia kembali mendapatkan kesempatan yang sama ketika ia menjadi petugas kesehatan untuk jemaah haji.

Meski pun begitu, ia memendam harapan, kelak suatu saat ada secuil perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memberikan insentif pada paramedis di daerah terpencil. Bantuan itu dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Rasanya harapan sederhana itu tak berlebihan, mengingat hanya segelintir orang yang terpanggil untuk mengabdi di tempat-tempat terpencil yang minim fasilitas. Perjuangan Andi Rabiah tidak akan mengalami kemajuan berarti jika tanpa dukungan dari pemerintah. Penduduk daerah terpencil juga tak bisa selamanya menggantungkan harapan pada Rabiah seorang.

Setelah kisahnya banyak diangkat media, pengabdian dan perjuangan Suster Apung Andi Rabiah mulai mendapat perhatian. Salah satunya dari mantan wapres Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Jusuf Kalla
. Kalla yang waktu itu masih menjabat sebagai wapres menyaksikan kisah Rabiah di televisi. Tayangan itu membuat pintu hatinya terketuk untuk membantu perjuangan Rabiah. Kalla kemudian memberikan bantuan dana untuk pembuatan kapal motor yang telah lama diidamkan Rabiah. Sejak saat itu kapal motor bantuan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Jusuf Kalla
menjadi tulang punggung Suster Rabiah dalam menjalankan tugas mulianya sebagai perawat di daerah terpencil. e-ti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 03 Jan 2011  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Gugur Di Usia Muda Wagub Dki Jakarta 2007 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Cameragenic atau Auragenic? Temukan jawabannya dalam Camera Branding!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: